Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Anda tentu masih ingat nasihat untuk ’mengenakan sepatu orang lain’. Maksudnya, 
kita dihimbau untuk bersedia menyelami perasaan dan pikiran orang lain. Suatu 
sikap yang mendasari lahirnya empati, dan toleransi. Kita tahu tidaklah mudah 
untuk benar-benar mampu menyelami jiwa orang lain. Namun, tahukah anda 
bagaimana rasanya menggunakan sepatu yang tidak sesuai dengan ukuran kaki anda 
sendiri? 
 
Beberapa waktu lalu, saya bertugas memfasilitasi training tentang kepribadian 
selama 2 hari untuk sebuah perusahaan multinasional. Saya memutuskan membawa 
kendaraan sendiri, dan check-in sehari sebelumnya. LCD, sound system, setting 
ruangan, dan segala perlengkapan training untuk besok pagi sudah dipersiapkan 
semua. Sempurna. 
 
Keesokan harinya pagi-pagi sekali, saya sudah ’siap tempur’. Tinggal mengenakan 
sepatu. Sepatu? Oh, iya. Sepatu saya masih dimobil. Itu tidak masalah, karena 
kamar yang saya tinggali punya tempat parkir sendiri. Sebentar dulu. Dimana 
kunci mobil saya? Nah, ini baru masalah. Saya lupa dimana meletakkan kunci 
mobil. Segigih apapun saya mencarinya dengan bantuan petugas hotel, kunci itu 
tidak kunjung ketemu. Sepatu saya masih terperangkap didalam mobil. Sedangkan 
satu jam lagi acara akan dimulai. Sementara mengharapkan ada toko sepatu yang 
sudah buka dipagi buta seperti itu sungguh tidak realistis. Sebagai solusinya, 
saya meminta petugas hotel mencarikan sepatu ’menganggur’ milik staf hotel yang 
boleh saya pinjam. 
 
Saya tahu ini agak menggelikan. Tapi, layak dicoba. Walhasil, saya mendapatkan 
2 pasang sepatu yang ditawarkan. Hebatnya, tak satupun yang sesuai dengan 
ukuran kaki saya. Yang nomor 42 jelas kebesaran. Sedangkan yang nomor 39 pasti 
kekecilan. Mana yang harus saya kenakan? Kalau saya pakai nomor 42, bisa-bisa 
copot tanpa sengaja ketika saya sedang bicara. Tapi, kalau memilih nomor 39, 
sudah terbayang betapa sakitnya kaki ini nanti. Akhirnya, saya meyakinkan diri 
sendiri bahwa lebih baik menahan rasa sakit, daripada menanggung resiko sepatu 
yang saya kenakan melayang mengenai peserta pelatihan dikelas saya. Rasa sakit 
ini juga sekaligus sebagai pelajaran dari keteledoran yang telah saya lakukan.
 
Sungguh, peristiwa itu mempertegas pesan nasihat tentang ’menempatkan diri 
disepatu orang lain’ itu. Hari itu, saya merasakan betapa tidak nyamannya 
mengenakan sepatu orang lain. Tidak nyaman dalam pengertian yang sesungguhnya. 
Saat sepatu itu kebesaran, maupun saat kekecilan. Sungguh tidak mungkin untuk 
membesarkan ukuran kaki kita supaya cocok pada sepatu yang kebesaran. Atau 
mengecilkan kaki supaya pas pada sepatu yang kekecilan. Mustahil untuk 
dilakukan.
 
Untungnya, ungkapan ’menempatkan dirimu disepatu orang lain’ itu tidak bermakna 
’sepatu sesungguhnya’, dan bukan pula berarti ’kaki’ dalam pengertian fisikal. 
Melainkan bagaimana kita bisa menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki 
kepribadian yang berbeda dengan diri kita. Dengan penerimaan itu, kita tidak 
lantas menghakimi orang lain hanya karena perbedaan yang ada. Sebaliknya, kita 
lebih memahami dan bersedia mengerti. Maka, ketika ’sepatu’ orang lain itu 
kebesaran, kita bisa membesarkan hati ini supaya sesuai dengan mereka. 
Sebaliknya, ketika sepatu orang lain kekecilan, kita tidak keberatan untuk 
mengecilkan egosentrisme ini. Sehingga, kita bisa lebih mampu memahami keadaan 
orang lain untuk memberi ruang bagi lahirlah empati dan toleransi yang tinggi. 
 
Sebagai imbalannya, ketika kita bersedia menyesuaikan diri dengan orang lain, 
ada peluang untuk memperoleh ’penerimaan’ dari mereka. Penerimaan yang bukan 
dari keterpaksaan. Sebab, jika kita bersedia memahami keadaan orang lain, lalu  
menunjukkan empati dan bertoleransi kepadanya; tentu mereka merasa senang 
karenanya. Padahal, tidak ada orang yang lebih menyenangkan untuk berhubungan 
selain mereka yang bersedia memahami dan menerima kita apa adanya. Sehingga, 
kesediaan untuk berempati memiliki nilai yang sangat tinggi. 
 
Pertanyaannya adalah; apakah kita harus selalu ’berada dalam sepatu orang lain’ 
itu? Butuh waktu setengah hari bagi kurir untuk mengirimkan kunci cadangan dari 
rumah ke hotel itu. Begitu kunci cadangan tiba, saya segera mengambil sepatu 
dari mobil. Lalu, melepaskan sepatu pinjaman itu. Kemudian mengenakan sepatu 
saya sendiri. Sama seperti kepribadian. Kita tidak harus mengubah kepribadian 
untuk bisa menyesuaikan diri dengan orang lain. Karena, kita selalu bisa 
kembali kepada ’kepribadian kita’ yang sudah menjadi zona nyaman itu, kapan 
saja kita mau. 
 
Sungguh, saya merasakan betapa nyamannya kembali menggunakan sepatu sendiri. 
Seolah saya disadarkan bahwa nikmat mengenakan sepatu sendiri itu sangat jarang 
untuk disyukuri. Setiap hari kita mengenakan sepatu yang nyaman. Namun, tidak 
setiap hari kita mensyukurinya. Setiap hari kita menerima berjuta nikmat dalam 
hidup. Namun tidak setiap hari kita bersungguh-sungguh mengucapkan terimakasih 
pada yang memberinya. 
 
Seandainya Mas Joko sang pemilik sepatu yang saya pinjam itu mencoba memakai 
sepatu saya juga, mungkin saya bisa mengatakan bahwa dalam proses interaksi 
dengan orang lain; kita perlu ’saling bertukar sepatu’. Supaya kita bisa saling 
memahami satu sama lain. Dengan begitu, hubungan yang terbentuk menjadi 
seimbang. 
 
Mari kita perhatikan. Pertengkaran-pertengkaran yang kita alami sering 
bersumber kepada egoisme. Atau perasaan benar sendiri. Ketika kita bersikeras 
dengan argumen-argumen kita. Dan pada saat yang sama orang lain juga ngotot 
dengan pendiriannya mereka. Jurang lebar yang menganga memisahkan kita. 
Sehingga tidaklah mungkin bagi kita untuk saling berjabat tangan.  Bukti bahwa 
egoisme dan sikap mau menang sendiri memiliki sifat kontra produktif.
 
Mari kita perhatikan. Kerukunan dan perdamaian yang berhasil kita ciptakan 
adalah buah dari saling pengertian. Atau rasa hormat kepada pendapat orang 
lain. Ketika kita berbesar hati untuk memberi tempat kepada argumen orang 
lain.  Dan pada saat yang sama orang lain juga menghormati pendirian kita. 
Tiba-tiba saja jarak yang begitu jauh seolah menjadi dekat. Lalu kita berjabat 
tangan, bahkan bisa sampai berpelukan. Bukti, bahwa empati dan toleransi 
memiliki sifat produktif.
 
Dunia yang indah, hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang memiliki sikap 
dan perilaku yang indah. Karena, orang-orang yang berperilaku buruk tidak 
mungkin memberikan keindahan. Dunia yang bersih hanya bisa dihasilkan oleh 
orang-orang yang memiliki hati nurani yang bersih. Sebab, orang-orang yang hati 
nuraninya kotor, tidak mungkin bisa memberikan kebersihan. Sedangkan kebersihan 
hati, dan keindahan tingkah laku hanya bisa dimiliki oleh mereka yang bersedia 
menempatkan dirinya dalam sepatu orang lain. Karena dengan cara itu, kita bisa 
saling mengerti. Dan saling memahami.  Satu sama lain.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
 
Catatan Kaki: 
Saling pengertian adalah bentuk lain dari reaksi kimia yang membutuhkan 
kesetimbangan energi yang dikontribusikan oleh kedua belah pihak. 
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke