Zon, Tribas dan Rekans,
polemik ini bisa dipcepahkan dengan 2 hal :
1. Bagaimana usaha untuk menyamakan gaji orang Indonesia dengan expat
? dengan skill dan kompetensi yang sama ?
2. Pendidikan designer yang bayar kan bisa company atau person yang
tertarik kerja di bidang design yang bisa untuk penuhi kebutuhan
tenaga dalam dan luar negeri.
Tentu prioritas untuk dalam negeri, tetapi jika tenaga telah
oversupplai yang untuk kerja diluar negeri juga tidak masalah dari
pada ekspor TKI non skill terus ? :-(
Salam,
Zaenal
At 18:49 28/04/2008, Harlizon MBAu wrote:
Wah,
Kalau soal spirit macam-macam yang lain saya nga tau deh...
Tapi kalo konteksnya pada ekonomi & efforts Indonesia saja, agaknya
ini sangat berlebihan karena:
1. Disini sendiri sangat butuh banyak tenaga trampil/mampu.
2. Nyekolahin SDM sendiri saja effortnya sudah setengah mampus.
3. Sila tanya teman-teman anda yang kerja di luar negeri, hampir
selalu mereka dianggap sebagai SDM "negara ketiga" disana, tentu
gajinya juga mengikuti sebutan "negara ketiga" itu alias beda dengan
bule-bulenya.
4. Disinipun SDM Indonesia yang jauh lebih tahu situasi (mungkin
juga bisa lebih skillfull & berwawasan) dibanding expat tapi tetap
saja para expat dihargai jauh lebih dari SDM Indonesia sendiri
dimana mereka nyari makan. Ada kemungkinan expat proyek RekIn lebih
tinggi gajinya dari DirUt RekIn. Nah kenapa malah bukan ngebikin
situasi/mendidik tenaga yang menggantikan mereka-mereka ini dulu di
negeri sendiri? Apa nga pantas anda digaji kaya bule, padahal harga
minyak dllnya sama antara di negara mereka dengan disini.
Terus-terang saya nga ngerti mana yang lebih realistis nyari-nyari
kerjaan mendidik orang agar berbuat/menghasilkan bagi orang lain dan
dihargai lebih rendah dari pada untuk negara sendiri (apalagi jika
ditujukan untuk lebih dihargai)??? Kok kaya kurang kerjaan aja...???
Saya tidak menyalahkan anda karena bukan anda pengambil keputusannya...
Namun begitu, seberapapun masih "kurang pengalaman" atau "hijau"nya
pejabat yang mengambil keputusan tersebut, tetap saja keputusannya
dapat berdampak besar bagi jalannya negara...
Sila kasi pencerahan, duit yang USD 100 Milyard ini apa maksudnya
duit net yang masuk ke Indonesia, dan kapan kan masuknya???
Kesannya kok langsung dapat tahun depan atau setidaknya dalam 5
tahun... Jika tidak demikian atau sangat jauh dari yang demikian,
itukan namanya PENIPUAN PUBLIK...
Lebih malu-maluin kalau pejabat ybs dari ITB...
Salam Z
2008/4/28 Tri Basoeki Soelisvichyanto
<<mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]>:
Mas Harlizon,
Mungkin ada "spirit" yang lain yang sesungguhnya tidak kita pahami...
mungkin saja ada pejabat yg berfikir "kalau dulu malaysia belajar dr
kita, mungkin kita juga bisa belajar dari Australia", jadi tidak
semata2 bekerja to earn some money di negeri orang...ada "behind the
scene lah". walaupun mungkin untuk para pekerjanya yg penting "to
earn some money", realistsis lah..
sama saja kenapa kita mesti sekolah di luar negeri? yg kemudian
berkata" saya akan membangun bangsa saya (indonesia)" tetapi ketika
berinteraksi dengan orang sini dia bilang "eh gue lulusan negeri anu
loh.." (plus dada maju semeter). kecuali member milis ini tentunya,
itu hanya mungkin terjadi diluar milis ini. bener khan guys?
Kalo menurut saya, kirim TKI ke negeri orang gpp kok, asal terhormat saja.
Saya kenal dengan salah seorang alumni 77 yg kerja di Australia, dan
menurut saya... dia masih "Indonesia" sekali, walalupun sudah
berkeluarga disana...KTP tidak melunturkan identitas aslinya... (sepaham saya).
# tribas
2008/4/28 Harlizon MBAu <<mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]>:
Mas,
Ini mau ngebangun Indonesia atau ngebangun Australia???????
Ngedidik capek-capek tapi ngebangun di luar...
Apa nga malu-maluin para pemimpin disini karena tidak mampu create
job untuk warga sendiri...
Nga mutu ah...
Repot emang kalo pejabat nga ngerti masalah...
Z
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.5/1400 - Release Date:
27/04/2008 9:39