2008/5/2 Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>:
>
>  Zon, Tribas dan Rekans,
>
>  polemik ini bisa dipcepahkan dengan 2 hal :
>
>  1. Bagaimana usaha untuk menyamakan gaji orang Indonesia dengan expat ?
> dengan skill dan kompetensi yang sama ?

Kalau saya tidak salah, masalah utamanya ada pada kita-kita sendiri
Mas, yakni "kurang/tidak menghargai saudara sebangsa sendiri" dan
"lebih menganggap (mengimani) yang dari luar selalu lebih hebat". Sila
perhatikan bagaimana "wong-wong deso yang baru keluar kampung" ketika
terlihat lagi ngomong dengan bule di lobby-lobby hotel atau
gedung-gedung perkantoran, gayanya terlihat "selangit". Jika didekati,
ketauan English nya masih bau pete dan kata-kata yang keluar dari
mulut mereka lebih banyak, "yes.. yes..!" atau "yes sir.. yes sir..!"
Yang agak keren jika ngomongnya sudah, "I see...!" atau "I know..!",
padahal dia tidak tahu dan tidak ngerti. Ketipu tuh si bule...
Sepertinya, akar masalahnya adalah paradigma "feodal" yang masih
banyak dihirup disini...

Masalah lain agaknya ada di Bapenas. Kalau tidak salah memang ada
aturannya bahwa gaji Julianto yang lahir di Blitar berbeda jauh dari
gaji Juliant yang berasal dari Baltimore. Kalo dilanggar, tentu bisa
masuk Kompleks Cipinang yang ada dekat kantor Mas Aza itu…

Barangkali banyak yang tidak suka menerima argument bahwa adanya
"permainan" global dalam hal ini, agar negara kaya ini bisa terus
menerus jadi "hidup segan matipun tak mau" seperti yang diungkap oleh
bung  Ibnu Utama dalam email pada topik lain sebelumnya, agar terus
menerus jadi budak meski diberi label-label keren yang membuat sang
budak lupa diri. Namun, jika melihat fakta bahwa "petani biasa di
Eropa" lebih kaya dari karyawan professionalnya karena basis berfikir
mereka "kebutuhan yang terpenting yang terlebih dahulu dihargai" atau
dengan bahasa lain mereka "BERFIKIR PADA KONTEKS"nya. Atau, dengan
kenyataan bahwa negara kaya yang gratis ini-itu dikasi Illah ini kok
makin hari jadi tambah sekarat, SDAnya makin habis dan tambah banyak
hutang pula. Atau dengan kenyataan bahwa biaya produksi (dan harga
jual) tomat di Eropa bisa 100 kali harga produksi tomat di Indonesia,
dan sampai sekarang mereka masih tetap menanam tomat di negaranya
(tanpa perlu membandingkan biayanya dengan nanam di Indonesia).
Agaknya jadi sulit menolak adanya "permainan" ini.

>  2. Pendidikan designer yang bayar kan bisa company atau person yang
> tertarik kerja di bidang design yang bisa untuk penuhi kebutuhan tenaga
> dalam dan luar negeri.

Kalau yang bayar adalah companynya, masih agak lumayan Mas… Kalo
personnya yang bayar "kasihan juga". Wong yang butuh sebetulnya adalah
"company-company" nya itu… Meski demikian, itupun harus dengan bayaran
pendidikan dan gaji yang cukup gede nantinya. Kalo nga, sama aja
dengan memeras person dan penyelenggara pendidikan, padahal companynya
yang butuh. Mereka minta kesini kan karena mereka tidak mampu
melakukan di negaranya sendiri atau merasa mahal. Harusnya hal ini
yang dijadikan salah satu point "bargaining" dengan mereka. Bukannya
udah seneng aja dicipoakin, "kami membuka peluang tenaga kerja untuk
negara anda" atau "ada peluang sekian milliar dollar pada bisnis ini
di negara kami, dan kami butuh banyak tenaga", padahal bisa jadi
peluang tersebut bukan untuk bayaran tenaga kerjanya, tapi adalah
total size dari bisnis di Industri yang akan di create mereka. Masa
nga ingat lagi sih cipoakan-2nya pengusaha. Apalagi kalo pengusahanya
sudah berkolaborasi dengan penguasanya…

Situasi bisa jadi tambah ruwet kalo mereka melakukan cipoakan yang
sama di negara-negara lain. Setelah desainernya banyak yang selesai
dididik oleh negara-negara tersebut, lalu mereka ngomong, "kami sangat
menghargai kualitas dan kompetisi sehat, hanya tenaga-tenaga yang
memenuhi standar kualitas dan remunerasi yang kompetitiflah yang bisa
lolos." Nah lho… akhirnya dikibulin setan juga…

Kalo mau dijadikan kuda tunggangan saja, ngapain kitanya yang
repot-repot, padahal mereka yang butuh ???

>      Tentu prioritas untuk dalam negeri, tetapi jika tenaga telah
> oversupplai yang untuk kerja diluar negeri juga tidak masalah dari pada
> ekspor TKI non skill terus ? :-(

Pertanyaannya, apa betul sedang ada atau sedang di create proyek yang
membutuhkan tenaga disainer tersebut disini???

Dalam konteks negara seperti Indonesia sebetulnya agak aneh jika ada
kata-kata "oversupply" untuk SDM. Saya kok melihat, jika sendainya
5-10 % dari Indonesia mau dibangun seperti "negara-2 maju" maka
meskipun seluruh potensi SDM Indonesia sekarang digunakan untuk itu,
50 tahun juga nga bakal selesai membangun yang 5-10 % ini. Dengan kata
lain, harusnya tidak ada kata "kerjaan habis" atau "tenaga oversupply"
di negara seperti ini.

Jika dirasa pemerintah tidak mampu melakukan semua hal ini, kenapa
tidak bisa dilakukan oleh innext-better atau kelompok profesional
lainnya? Bukankah Ciputra tidak harus jadi gubernur atau bupati dulu
untuk bisa membangun dan mengelola sebuah kota baru dengan lebih baik?
Bukankah Mittal tidak harus jadi presiden dulu untuk bisa ngatur
menteri atau ngaduk-aduk negara orang lain?

Jika seandainya semua argumentasi menjustifikasi uintuk ikut membantu
Australia dalam pengadaan tenaga desainer ini, kenapa tugas ini tidak
diserahkan kepada lembaga pendidikan yang lebih berkompeten untuk hal
ini, ITB misalnya. Moso mau dikemek semua… Rezeki ya harus dibagi-bagi
dong… Katanya mau "rahmatan lil alamin"…

Mungkin akan lebih baik untuk fokus pada kebutuhan Indonesia sendiri
Mas. Membantu dan mendidik petani barangkali lebih banyak manfaatnya
jika tidak mau antre beras dalam beberapa bulan/tahun mendatang… Jika
negara ini semaput (apalagi jika dunia semaput) karena kurang beras,
emang apa jaminannya meski punya ilmu teknologi dan harta selangit
untuk tidak akan ikut antre beras???

Salam Z

>  Salam,
>  Zaenal

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt

Kirim email ke