Temans, Menurut saya perlu dibentuk semacam KPPU atau lembaga yang mengawasi -persaingan usaha yang berlaku untuk tingkat international yang dimotori oleh PBB dengan usulan Indonesia sehingga bisa mengurangi karel kartel tingkat dunia yang cenderung mengatur suply dunia dengan hanya dikendalikan oleh beberapa orangs aja secar terpusat :-(
Salam, Zaenal On 6/1/08, Adi Indrayanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mungkin karena kita dulu belajar pradigmanya Darwin ... "survival of > the fittest" (natural selection). Itu jelas2 paradigma kompetisi ;-) > Dan diambil dari fenomena alam. Di alam ... keduanya ada ... baik > kompetisi maupun kooperasi. Tinggal permasalahan "boundary" ... . > Pada batas mana masih berkooperasi, diluar batas itu sudah menjadi > kompetisi. > > Dalam fenomena alam ... sperma yang jutaan itu saling "berkompetisi" > memperebutkan sel telur. Tapi, setelah satu sperm yang menang membuahi > sel telur, proses di dalamnya menjadi "kooperasi" ... dimana sel2 > tersebut berkooperasi membentuk seorang bayi (fetus) ... > > Di dalam sebuah perusahaan ... pegawainya bisa jadi saling > berkompetisi mencapai jenjang karier tertinggi dalam perusahan > tersebut. Tapi mereka musti berkooperasi saat perusahaan sedang > berkompetisi dgn perusahaan lain. > > Di dalam sebuah negara masing2 perusahaan saling berkompetisi untuk > mendapatkan pasar dan resource. Tapi mereka musti berkooperasi saat > negara sedang berkompetisi dgn negara lain. > > Jad ... kunci dari paradigma "kooperasi" ini adalah ... perlu dibangun > semangat "kompetisi" terhadap "pihak lain". Isu2 nasionalisme, atau > sosialisme, atau localisme versus globalisme ... itu akan membentuk > kedua hal tersebut ... kooperasi "ke dalam" ... dan kompetisi "ke > luar". > > Kondisi kooperasi tidak mungkin terjadi tanpa adanya kondisi kompetisi > ... demikian sebaliknya. Saat seorang manusia sedang berkompetisi dgn > manusia lain ... seluruh sel tubuhnya harus berkooperasi dgn baik ... > kalau mau menang ;-) > > Nah ... ajakan anda untuk berkooperasi itu ... sebenarnya kita ini > sedang mau .. berkompetisi dgn siapa ? ;-) > > > salam, > > -ai- > > > > 2008/5/31 Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]>: >> Kuncinya ada di "KERJASAMA (untuk BERSAMA)" Pak Bango Samparan. Bahasa >> ke kiniannya "COOPERATION". >> Semua alam yang tumbuh di compose oleh Yang Maha Pencipta dengan >> konsep "COOPERATION" ini... >> Sila perhatikan alam sekeliling anda, bahkan tubuh anda sendiri... >> Tidak ada yang FULL LIBERAL di alam ini... Kalau ada yang bilang >> begitu, sepertinya itu cuma tipuan saja... >> Atau akalnya nga nyampe... >> >> Kerjasama yang solid tidak bisa terjadi jika menganggap orang lain >> bukan bahagian dari KELUARGA (besar) KITA. >> Karena merasa satu keluarga orang bisa saling membantu... >> Dengan itu masalah bersama dapat diatasi dengan lebih mudah... >> >> Kalau tidak salah, salah satu tokoh kita yang memperjuangkan >> konsep-konsep PERTUMBUHAN BERKESINAMBUNGAN diatas adalah Bp Mohammad >> Hatta... >> Kok sepertinya sangat sedikit atau hampir tidak ada pengikut beliau >> yang memperjuangkannya di zaman kompetisi sekarang... >> Anak-anak beliau yang saya kenal sekilaspun kok sepertinya tidak >> begitu terlihat memperjuangkannya... >> Sekolah-sekolah dan perguruan tinggipun mempromosikan kompetisi..., >> yakni kebalikan dari COOPERATION... >> Mereka tidak mengerti bahwa itu MENGHANCURKAN DIRINYA SENDIRI... >> >> Salam Z >> >> 2008/5/31 Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]>: >> >>> Di dalam ilmu ekonomi sebetulnya tidak ada yang dinamakan pasar bebas, >>> yang ada adalah pasar persaingan sempurna. >>> >>> Asumsi pasar persaingan sempurna sendiri bermuara pada kesimpulan >>> "semua pelaku ekonomi memiliki kekuatan yang sama." Sebabnya, >>> ketidaksamaan kekuatan pelaku ekonomi pasti akan membuat persaingannya >>> menjadi tidak sempurna. >>> >>> Pasar bebas, merupakan doktrin baru, yang diusung oleh pelaku-pelaku >>> ekonomi kuat. Gambarannya: kambing dan singa harus masuk ke satu arena >>> atau kurungan yang sama, untuk bertarung. Nah, kecuali ada keajaiban, >>> pastilah si kambing yang koyak-koyak. >>> >>> Negeri ini memang aneh, hakekatnya kambing tetapi suka sekali >>> ditandingkan dengan singa:-) Siapa yang salah? >>> >>> Tapi, kadang saya juga pusing, harus mulai dari mana memperbaiki negeri >>> ini. >>> >>> Salam >>> B. Samparan >> >> 2008/5/30 A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>: >>> Kenapa Pasar Komoditas lebih mahal dan turun naik tidak karuan ketimbang >>> pasar tradisional? >>> >>> Ini gambarannya: >>> Pasar Tradisional: >>> Produsen->Distributor->Pengecer->Pembeli >>> >>> Pasar Komoditas: >>> >>> B U R S A K O M O D I T A S >>> Produsen->Spekulan->Spekulan->Spekulan->Spekulan...(tidak terhingga >>> sampai >>> jatuh tempo)->Distributor->Pengecer->Pembeli >>> >>> Harusnya Pasar Komoditas dilarang memperjual-belikan Sembako dan BBM agar >>> harganya tidak dipermainkan spekulan. >>> >>> === >>> >>> Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS >>> Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau >>> http://syiarislam.wordpress.com >>> >>> --- On Thu, 5/29/08, Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>> From: Sang <[EMAIL PROTECTED]> >>> Subject: [ekonomi-nasional] Sistemnya Pasar Bebas, kok Harga tetap naik? >>> To: [EMAIL PROTECTED] >>> Date: Thursday, May 29, 2008, 3:26 AM >>> >>> Ini yg saya malah makin bingung sekarang-sekarang ini.... >>> Liberalisasi segalanya sepertinya bukannya bikin harga makin murah, >>> makin efisiensi dari segi produksi, bukannya makin efektif >>> distribusi barang... tapi kok segalanya makin tidak karu-karuan. .. >>> >>> Mulai dari terigu, gula, beras, minyak sayur dll >>> >>> Minyak bumi yg dikonversi jadi BBM kok bisa jadi naik melambung >>> tinggi dipasaran global? padahal sekarang sistem laissez faire >>> liberalisasi perdagayang yg semestinya makin efisien dalam hal cost >>> produksi, makin efektif dll... >>> >>> Kok jadinya terbalik kearah sebaliknya.. . harga bukannya jadi rendah >>> karena persaingan bebas.. bukannya makin mampu dijangkau semua >>> kalangan, malah makin menggila bergerak ke 150$ dollar... dan yg >>> untung malahan investor , penanam modal dan pedagang besar.. >>> >>> Dan yg menderita pasti orang-orang kecil dgn penghasilan pas-pasann.. >>> >>> Kenapa dgn sistem kapitalistik liberalisasi sekarang harga malahan >>> bukannya makin efisien malah makin menggila? >>> jawaban utama saya yakin bukan tersebab kelangkaan dan permintaan >>> tinggi....produk global cukup kok! >>> >>> Mohon penjelasan bagi ahli kita yg punya pengetahuan soal ini... >>> >>> Sang >> >> -- >> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta >> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan >> akhirat. >> >> Info pengelolaan milis Indonesia next better : >> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt >> > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
