Kita harus fokus kepada pokok permasahalahan yaitu penyerangan terhadap satu kelompok oleh kelompok lain. Dalam hal ini FPI adalah penyerang karena mereka tdk mempuyai acara lain datang kelokasi selain ingin menyerang. Masalah Ahmadiah adalah masalah lain, jangan dicampur adukkan seperti yang diinginkan oleh pihak tertentu sehingga timbul kesan bahwa umat Islam itu brutal, radikal dll. Apapun alasannya, agama Islam tidak membenarkan tindakan tsb. Dalam ajaran Islam, musuh yang tertawanpun tdk boleh disakiti, coba renungkan!. Satu hal yang perlu ketegasan dari MUI adalah mengatakan bahwa ajaran Ahmadiah adalah bukan Islam, karena kalau dikatakan sesat berati bisa diperbaiki. Nyata2 Ahmadiah tsb tdk sesuai dg ajaran Islam, mari katakan bahwa mereka bukan Islam. Dengan demikian masalahnya lebih jelas dan pemerintah kita minta memberlakukan UU mengenai Agama yg diakui oleh Negara. Mengenai kebebasan beragama dan berkeyakinan itu benar dan Islam pun mengharamkan kita utk memaksa orang lain utk masuk Islam. Salam
----- Original Message ---- From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, 6 June, 2008 7:42:25 AM Subject: [indonesia] Pers milik siapa ? peliputannya bagaimana ? tujuannya apa ? Koran Tempo Memfitnah Munarman? Ketua MUI: FPI dan AKKBB Sama-Sama Provokatifhttp://www.eramuslim.com/berita/nas/8602053647-ketua-mui-fpi-dan-akkbb-sama-sama-provokatif.htm?rel Senin, 2 Jun 08 07:34 WIB Menanggapi aksi rusuh di Silang Monas Jakarta, Ahad siang kemarin (1/6), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa membenarkan cara-cara kekerasan yang terjadi. Amidhan menyatakan telah menghimbau semua pihak agar tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi kelompok sesat seperti Ahmadiyah. “Kita menyayangkan terjadinya peristiwa di Monas itu, ” ujarnya pada wartawan. Namun Amidhan juga menyampaikan pandangannya bahwa apa yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) yang menyerbu massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), di Silang Monas, tersebut tidak serta merta kesalahan FPI saja. Amidhan menilai apa yang selama ini dilakukan AKKBB juga amat provokatif alias memancing-mancing kemarahan umat Islam. Salah satunya adalah tindakan AKKBB yang menyertakan wakil-wakil agama lain selain agama Islam untuk ikut-ikutan membela kelompok sesat Ahmadiyah. “Persoalan Ahmadiyah adalah urusan internal umat Islam, tapi Aliansi (AKKBB) mencantumkan dukungan dari pihak beragama lain selain Islam. Inilah yang kami pandang juga tindakan yang tidak benar. Masalah Ahmadiyah adalah masalah internal umat Islam. Agama lain di luar Islam jangan ikut campur, ” tegas Amidhan.(rz) __________________________________________________________________________________________________ http://www.gun84.co.cc/ 3 Juni, 2008 in Serba-Serbi Penyerangan FPI terhadap AKK-BB dapat dikatakan sebagai tindakan yang wajar. Asumsi ini disandarkan kepada siapa yang pertama kali yang meyulut api. Saat melakukan orasi anggota AKK-BB memancing kemarahan dengan mengatakan “FPI laskar setan” dan ucapan sarkasme lainnya. Selain itu kemarahan FPI semakin terbakar ketika anggota AKK-BB mengeluarkan senjata dan menembakkan ke udara. Kebanyakan media hanya mengekspos kejadian puncak, saat terjadi pemukulan yang dilakukan FPI. Rekaman itu disiarkan berulang-ulang di beberapa stasiun televisi. Tentu saja, reaksi yang muncul bertambah bencinya masyarakat atas aksi-aksi yang dilakukan FPI. Tulisan ini tidak hendak melakukan pembelaan terhadap FPI. Namun, sebagai manusia yang cerdas, kita mesti melihat persoalan secara komprehensif. Kita harus memilah suatu fakta dengan merujuk pada apa penyebabnya, kemudian harus ada penyampaian data dari berbagai versi beserta penyerahan bukti (FPI, AKK-BB dan saksi yang berada di dekat kejadian), kemudian proses penyesuain data dari masing-masing pihak, setelah itu barulah merujuk pada ideologi yang dibawa oleh masing-masing kelompok. Pengambilan kesimpulan yang serta merta langsung mengerucut kepada term “Islam tidak mengenal kekerasan”, adalah tindakan terburu-buru yang mereduksi fakta-fakta yang ada. Meskipun FPI mengusung simbol-simbol Islam, namun kita harus meletakkan kelompok ini sebagai komunitas massa objektif yang juga memiliki sifat marah jika diejek. Mungkin kita hanya tersenyum sinis ketika melihat ketidaksabaran yang berujung kepada tindakan anarkis. Namun, kita juga mesti memahami dalam kondisi yang emosional, di tengah terik semangat yang mengebu-gebu, seringkali kesabaran dan rasionalitas memudar. Hal inilah yang tidak diperhatikan oleh AKK-BB yang sengaja membangkitkan kemarahan FPI dengan tindakan arogan menggunakan senjata api. Jangankan FPI, seorang intelektual, anggota DPR bahkan Presidenpun ketika disulut emosinya, akan marah dan melakukan tindakan yang pada kondisi normal akan kita nilai sebagai tindakan yang berlebihan. So, marilh kita ikuti kelanjutan cerita ini dengan jernih… From: azhari musa <[EMAIL PROTECTED]> Date: Thu, 5 Jun 2008 12:40:08 -0700 (PDT) Sangat memprihatinkan, saudara-saudara kita se-iman di Tanah Air sedang dihadapi konflik yang bisa menyulut pergelutan antar sesama ummat Islam, dan lagi-lagi yang jadi korban adalah akar rumput=Muslimin=rakyat. Sedang pucuk2 Pimpinan mereka  dengan hidden agendanya hanya dengan modal cuap-cuap di hadapan Media dapat meraup aliran dana yang tidak sedikit. FPI (Front Pembela Islam) siapa yang membela FPI??? Tak perlu komentar panjang lebar deh, silakan saja antum baca dua topic yang saya cuplik dari eramuslim.com rubrik Ust. Mejawab, Mohon maaf bagi yang telah membaca tapi untuk mengingatkan kembali taka pa deh Allahuma arinal-haqqo haqqo, warzuqnat-tibaa’ah wa arinal-baathila baathila warzuqnaj tinaabah. Apa yang anda lihat tentang 'aksi-aksi anarkis' Front Pembela Islam (FPI) di media, tidak pernah lepas dari penilaian subjektif dan objektif media itu sendiri. Kalau kesannya aksi-aksi itu anarkis, memang liputanya memang dibuat sedemikian rupa, setidaknya kesan anarkis itu memang diekspose, entah tujuannya untuk memojokkan posisi FPI, atau untuk menggambarkan betapa umat Islam itu anarkis atau memang sekedar kerjaan insan media yang haus sensasi. Yang terakhir itu dimungkinkan karena karekteristik media, terutama televisi memang butuh liputan dan gambar yang sensasional. Gambar-gambar yang menampilkan proses awal di mana para anggota FPI sedang melakukan negosiasi kepada para pemilik tempat hiburan yang secara hukum memang melanggar peraturan resmi, nyaris tidak menarik untuk ditampilkan. Tetapi ketika pihak pengelola tempat hiburan melakukan pelemparan dan provokasi, lalu FPI mempertahankan diri atau balas menyerang, secara gambar memang merupakan momen yang cukup menarik. Gambar para aktifis merusak tempat hiburan itulah yang dinaikkan di layar kaca. Karena secara visual, gambar itu lebih menarik ketimbang gambar orang sedang diskusi yang terlihat hanya pasif dan itu-itu saja. Namun tidak tertutup kemungkinan ada unsur kesengajaan dalam penayangan gambar anarkisme yang terjadi. Sangat dimungkinkan bahwa pihak media dimanfaatkan oleh para cukong pemilik tempat hiburan yang bergelimang dengan harta itu untuk menampilkan kesan seolah-olah FPI itu tidak lebih dari segerombolan orang yang bertindak anarkis.  Tidak pernah diulas kenapa sampai terjadi tindakan itu. Media seolah-olah bagai macan ompong ketika harus bicara tentang para pengusaha tempat hiburan yang melanggar Perda dan perundangan. Yang dimunculkan selalu kesan bahwa FPI adalah pelaku tindak anarki. Namun pengusaha tempat maksiat yang jelas-jelas melanggar hukum negara dan sekaligus hukum agama, sama sekali tidak pernah diungkap Mengapa tidak pernah diungkap? Karena para cukong itu punya uang tak terhingga jumlahnya untuk bisa membuat para wartawan, jurnalis bahkan pemred media sekalipun untuk duduk manis dan tenang, tidak mengorek kesalahan para pengusaha maksiat. Sebaliknya, uang juga bisa membuat mereka lebih fasih untuk mengatakan bahwa biang keroknya adalah FPI.   At 07:29 04/06/2008, Mansyur Alkatiri wrote: Apapun alasannya, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh KLI atau FPI di Monas harus dikecam dan diproses secara hukum. Disinilah wibawa pemerintah dipertaruhkan. Tapi, yang menarik lagi, kampanye untuk "menyudutkan" FPI ini juga disertai oleh FITNAH TELANJANG oleh media massa, khususnya KORAN TEMPO. Surat kabar yang dimiliki oleh Gunawan Muhammad, salah satu tokoh dibalik AKK-BB, ini memajang foto sangat besar sebagai headline korannya, yang menampakkan MUNARMAN, komandan KLI, sedang mencekik seseorang. Dalam keterangan foto itu ditulis bahwa MUNARMAN sedang mencekik seorang peserta aksi AKK-BB. Padahal, yang sedang dicekik Munarman adalah anggota KLI/FPI sendiri, jadi anggotanya sendiri! Menurut Munarman, ia kesal dengan anggotanya itu karena melanggar larangan- nya untuk tidak berbuat anarkis! Sulit masuk dalam akal saya bila koran sekredibel KORAN TEMPO sampai melakukan KESALAHAN TOLOL seperti itu! Tapi, apakah itu juga fitnah yang disengaja terhadap Munarman? Singkatnya, Koran Tempo telah melakukan "kesalahan tolol" yang sangat mendasar dalam jurnalistik, atau telah melakukan fitnah secara sengaja? Hanya pimpinan Koran Tempo yang bisa menjawab! Mansyur __________________________________________________________ Sent from Yahoo! Mail. A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html
