lha ,
mungkin lupa fungsi kontinuitas :-) (kalkulus) ...

bahwa pabrik butuh pasokan bahan baku ...
lha bahan baku nya belum dibuat , pabrik nya udah berdiri ...
koekoet lah :-))

yang perlu adalah dipikirkan proses dari hulu sd hilir
dalam proses tersebut akan terdapat juga , riset riset apa saja yang harus dilakukan baik itu parsial maupun integral , istilah keren nya harus ada
'road map' ...nah road map ini yang tidak ada

Di Indonesia itu , yang paling susah adalah koordinasi
kata kata yang gampang diucapkan tapi sangat sulit dilakukan :-)

-bsd-


On Mon, 9 Jun 2008, yuti ariani wrote:

Tahun 2005-2007, merupakan tahun bio energi khususnya jarak. Mulai
dari deklarasi yang melibatkan beberapa Menteri untuk mengembangkan
jarak sebagai bagian dari gerakan penanggulangan kemiskinan,
keterlibatan beragam aktor: BUMN, bank, petani, perguruan tinggi dalam
mengembangkan bio energi, kehadiran Aprobi, hingga akhirnya tahun 2008
belasan pabrik biodiesel tutup.

Belakangan ini muncul alternatif energi lainnya. Padahal sebelum
listrik masuk desa yang merupakan gerakan terpusat dari pemerintah,
beberapa daerah telah mengembangkan teknologi energinya sendiri dengan
menggunakan kincir air.

Hal yang menjadi pertanyaan saya: hal apa yang menyebabkan alternatif
energi di Indonesia masih terbatas: teknologi, regulasi, kebiasaan?
Apakah teknologi energi membutuhkan sistem terpusat, sebagaimana yang
dilakukan dengan listrik masuk desa atau semcam revolusi hijau yang
menggunakan bibit seragam? Atau untuk sektor energi sebenarnya mungkin
untuk dikembangkan dalam skala kecil? Seperti biogas pada peternak?


--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke