Udah ahh, lama2 gue bosen bahas ini melulu :(

FPI, Ahmadiyah, AKKBB, terserah mau ngapain, cuma milis ini jangan dipake untuk 
membahas detail agama...

Ganti topik !!!








----- Original Message ----
From: YADI supriadi wendy <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, June 10, 2008 12:18:28 PM
Subject: [indonesia] [Fwd:Tulisan Victor Silaen di Sinar Harapan] - Pasca Monas


fyi.............
 

Telah dimuat pada Harian Sinar Harapan,
9 Juni 2008
 
Rizieq, Munarman, dan Negara Kalah
Oleh Victor Silaen
 
     Pascainsiden Monas, Minggu
siang 1 Juni lalu, Presiden Yudhoyono mengecam aksi kekerasan dan
pelaku kekerasan yang membuat jatuhnya korban di negara berlandaskan
hukum ini. Karena itu, Presiden minta hukum ditegakkan dengan memberi
sanksi secara tepat. "Negara tidak boleh kalah dengan perilaku
kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk
kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya dalam jumpa pers di
Kantor Presiden (2/6/2008). Untuk itu Yudhoyono juga meminta agar
dicari solusi damai dengan mengedepankan aturan hukum dan bukan dengan
aksi kekerasan. Presiden juga minta pihak kepolisian meningkatkan
kinerja agar lebih siap, cepat dan profesional. 
 
     Sementara itu, Menteri
Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS dalam jumpa pers usai
rapat koordinasi yang dipimpin Presiden mengatakan, pemerintah akan
mengambil langkah tegas terhadap siapa pun dan organisasi
kemasyarakatan mana pun yang dinilai terlibat dan bertanggung jawab
atas kejadian itu. Terkait kemungkinan pembubaran ormas, pemerintah
beranggapan, langkah pembubaran hanya bisa dilakukan lewat proses
pengkajian secara hukum. "Saya kira terkait konteks pembubaran ormas
seperti itu akan terlebih dahulu dilakukan dengan melakukan pengkajian
oleh Departemen Dalam Negeri, terutama sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985
tentang Ormas. Namun dipastikan tetap akan ada langkah hukum tegas bagi
siapa pun pelakunya," ujar Widodo.
 
     Seakan
meresponi pernyataan pihak pemerintah, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly
Asshiddiqie meminta agar pemerintah bertindak tegas dan menunjukkan
bahwa negara mampu melindungi setiap warga negaranya. Jimly mengaku
prihatin dengan penyerangan oleh massa, yang sebagian mengenakan
atribut Front Pembela Islam (FPI), terhadap anggota Aliansi Kebangsaan
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Akan halnya Ketua
Badan Pengurus Setara Institute Hendardi mengatakan, Presiden Yudhoyono
harus bisa membuktikan pernyataannya bahwa negara tidak boleh kalah
dengan perilaku kekerasan. Sebab, pernyataan itu sudah beberapa kali
disampaikan, tetapi kekerasan seperti yang terjadi di Monas Minggu
siang itu berulang kali terjadi. "Jangan sampai pernyataan Presiden
menjadi rutinitas tanpa substansi," katanya.
 
     Sore
harinya, saya menyaksikan wawancara langsung antara TVOne dengan Habib Rizieq 
Shihab (Ketua Umum FPI) dan Maman Imanulhaq, anggota
Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa dan pengasuh Pondok Pesantren Al
Mizan, Cirebon, Jawa Barat. Maman adalah salah seorang korban
penyerangan massa beratribut FPI di Monas Minggu siang yang naas itu.
Sore itu, Rizieq yang berada di kantor pusat FPI di bilangan
Petamburan, Jakarta, nyerocos terus dan nampak sangat garang
(sementara Maman yang berada di sebuah tempat yang dijadikan studio TVOne 
nampak berupaya menahan diri). 
 
    Namun, bukan itu yang patut
dipersoalkan. Melainkan, ucapan-ucapan Rizieq yang sangat melukai hati
kita sebagai warga negara Indonesia. Saat itu Rizieq, antara lain,
mengatakan: "Gus Dur itu tahu apa? Dia kan buta... buta matanya, buta
hatinya." Lalu, di bagian lain dia juga berkata: "Jangankan satu Gus
Dur, satu juta Gus Dur pun akan saya hadapi." 
 
     Bukankah ucapan Rizieq
tersebut jelas-jelas sudah melecehkan Gus Dur? Relakah kita melihat
seorang mantan presiden dilecehkan seperti itu? Bahkan (almarhum)
Soeharto pun, yang diduga kuat sebagai koruptor dan dianggap sebagai
salah satu penyebab kebangkrutan Indonesia, tidak pernah dilecehkan
seperti itu setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai
presiden 21 Mei 1998. Kemungkinannya, pertama, karena negara memang
berkewajiban melindungi setiap mantan presiden. Kedua, inilah yang
patut kita syukuri, karena tidak seorang pun yang menyikapi Soeharto
secara tidak santun. Memang, jutaan orang tak pernah henti
mengkritiknya, namun tak satu pun yang melecehkannya  seperti
Rizieq melecehkan mantan presiden Gus Dur.
 
     Sementara Munarman, dalam
tayangan di stasiun televisi swasta MetroTV pascainsiden Monas,
antara lain mengatakan: "Kalau dalam satu dua hari ini Keppres untuk
pembubaran Ahmadiyah sudah dikeluarkan, saya akan menyerahkan diri.
Silakan tangkap saya, Munarman, sarjana hukum." Apa yang dapat kita
komentari dari ucapan Munarman itu? Pertama, Munarman telah memosisikan
negara sebagai pihak yang harus mengikuti keinginannya. Tentu saja ia
salah, karena negara -- yang dalam konteks ini diwakili oleh pemerintah
– hanya boleh mengeluarkan atau tidak mengeluarkan sebuah keputusan
berdasarkan pertimbangan- pertimbangan konstitusional dan rasional,
dan bukan karena desakan pihak-pihak tertentu. 
 
     Kedua, Munarman juga salah,
karena secara tidak langsung ia hendak mengatakan bahwa aksinya di
Monas dapat "dimaklumi" karena Ahmadiyah belum dibubarkan oleh
pemerintah. Bagi dia, Ahmadiyah itu "sesat", sehingga organisasi
keumatannya tidak boleh dibiarkan hidup di Indonesia. Karena pemerintah
belum juga membubarkan Ahmadiyah hingga Insiden Monas itu, maka dialah
selaku Panglima Komando Laskar Islam yang akan bertindak. Inilah yang
patut disesalkan. Sebagai seorang mantan ketua Yayasan Lembaga Bantuan
Hukum Indonesia, mestinya Munarman paham bahwa aksinya di Monas 1 Juni
itu merupakan tindak pidana. Dan tindak pidana tetaplah sebuah
kesalahan, meski di balik itu ia memiliki alasan atau motif tertentu. 
 
     Ketiga, mestinya Munarman
juga paham bahwa pemerintah secara konstitusional tidaklah dibenarkan
untuk mengintervensi domain keagamaan dan keberagamaan umat manapun di
negara republik dan negara hukum ini. Itu sebabnya, pihak-pihak yang
mendesak agar pemerintah segera mengeluarkan SKB tentang Ahmadiyah
sebenarnya secara tidak langsung berkeinginan menjerumuskan negara ke
jurang pelanggaran konstitusional. 
 
     Berdasarkan itulah maka
Presiden Yudhoyono bersama para pembantunya di kabinet serta aparat
hukum dan keamanannya harus bersikap dan bertindak tegas terhadap FPI
sebagai institusi, juga terhadap Rizieq dan Munarman sebagai warga
negara. Jika Yudhoyono mengatakan negara tidak boleh kalah, itu berarti
wibawa pemerintah harus ditegakkan. Para mantan presiden, seperti
halnya (amarhum) mantan presiden Soeharto, harus dilindungi dan dijaga
kehormatannya. Karena itulah maka orang-orang yang bersalah dalam
Insiden Monas harus dihukum, termasuk juga yang telah melecehkan mantan
presiden Gus Dur. 
 
     Presiden Yudhoyono juga
perlu memperhatikan bahwa pelbagai liputan media elektronik hari-hari
ini secara gamblang memperlihatkan bahwa jutaan rakyat Indonesia berada
di kubu yang sama dengan Jimly Asshiddiqie dan Hendardi. Bahwa kita
semua membutuhkan bukti dan bukan sekadar janji maupun pernyataan tanpa
tindak-lanjut yang konkret. Untuk itulah ke depan Presiden Yudhoyono
harus terus memantau tindak lanjut penuntasan Insiden Monas ini.
Indonesia adalah negara hukum, itu sebabnya negara harus menegakkan
semua peraturan yang berlaku secara konsisten. Jika tidak, kita patut
meragukan kalau-kalau para pemimpin negara ini cenderung mendukung
pelanggaran hukum seperti halnya FPI. 
 
     Kita tidak ingin Indonesia
menjadi negara kalah, yang tidak berdaya ketika berhadapan dengan
kelompok-kelompok massa berlabel agama yang telah berulangkali membuat
negeri ini seakan wilayah yang hampa-hukum (lawlessness situation).
Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang tidak mampu
menghalau rasa cemas masyarakat di saat kelompok-kelompok massa
berlabel agama itu beraksi. Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara
kalah, yang tidak mampu melaksanakan fungsinya melindungi dan memberi
rasa aman kepada masyarakat.
 
*
Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol. 
 

-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. 
Info pengelolaan milis Indonesia next better : 
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt 


      

Kirim email ke