Mas Uge dan Rekans,
Namanya pasar, harus ada titik temu antara buyer dan seller baik
dengan harga maupun volume serta harus terjadi transaksi jual beli
yang sesungguhnya.
Apakah di Indonesia belum ada yang mampu melaksanakan hal seperti
diatas ? jika belum ada, apakah tidak mampu dicreate dengan website
dan database potensial buyer, seller dari seluruh dunia? dengan harga
dunia dan mampu melaksanakan transaksi transaksinya ?
Salam,
Zaenal
At 00:25 30/06/2008, uge basar wrote:
Saya dengar dari seorang teman, ahli keuangan yang cukup terkenal di
Asia, Kelemahan kita sebetulnya kita tidak bisa membuat pasar,
seperti Timah, kita produsen terbesar timah tapi tidak membangun
pasar timah, demikian pula Palm Oil, Gas, Batubara dll. Petani Jarak
akan memproduksi Minyak Jarak tanpa disuruh kalau ada pasarnya,
Pasar Palm Oil adanya di Malaysia, Minyak dan Timah adanya di
Singapore, Cina akan membuat pasar Batubara. padahal Cina pengimpor
Batubara terbesar. kenapa kita tidak bisa membangun pasar, padahal
Singapur bukan produsen minyak bumi bisa mendapat keuntungan dari
sana. dimana-mana juga yang kaya pedagang bukan petani. yang harus
direnungkan adalah kenapa Indonesia ga bisa bikin pasar tsb. toh
barang yang akan dijualnya ada. malah pasar Tembakau adanya di
Jerman ya, seharusnya pedagang Tembakau yang datang kesini. kita
juga tahu manfaat pasar bukan, bukan saja manfaat langsung, seperti
tenaga kerja, pajak dll. tapi juga manfaat tidak langsung.
diantaranya yaitu kekuatan/manfaat transaksi.
Salam,
Uge
----- Original Message ----
From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, June 29, 2008 3:33:22 PM
Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat
dari Minyak Tanah
Mas Djono,
Jika dengan harga rata rata biji jarak baik untuk bahan baku BBN
maupun untuk bibit Rp.1.500,-/kg siapa yang rugi ? hitungannya dari mana rugi ?
Jika masih rugi, lalu harga berapa rata rata biji jarak per kg yang
menguntungkan semua pihak dari hulu ke hilir?
Salam,
Zaenal
At 18:59 29/06/2008, Samali Djono wrote:
rekan-rekan Yth,
kalu menurut saya sih, dari hulu sampai ke hilir, semua pihak harus menikmati
manfaat. manfaat yang merata. kalu cuma sepihak saja, sedang pihak lain atau
beberapa pihak menderita, ndak bakalan langgeng deh .... (CMIIW)
Salam,
DjS
----- Original Message ----
From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] <http://co.id>co.id>
To: [EMAIL PROTECTED] <http://ups.com>ups.com
Sent: Sunday, 29 June, 2008 3:35:13 PM
Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat
dari Minyak Tanah
Mas Wisnu,
Kalau menurut pendapat saya, biang yang bikin tidak jalan adalah
para pedagang yang maunya jual biji jarak pagar 20rb sd 30rb,
padahal mesti dibedakan antara biji untuk bibit dan biji untuk BBN.
Gmana kalau dipatok saja untuk biji jarak pagar bahan baku BBN
maupun untuk bibit jarak pagar harganya Rp. 1.500/kg ?
Salam,
Zaenal
At 15:18 29/06/2008, Wisnu Martono wrote:
Kang Rovick kok "nyontek" pendapat saya sih, he..he....
Memang benul, petani sering dianggap bagian tidak penting dari
BBN. Pokoknya asal perhitungannya diangga murah, ya sudah.
Saya sudah dari awal berteriak soal ini, untuk kasus BBN
jarakpagar. Bahkan sejak awal saya sudah berani meramal, program
ambisius ini tidak akan jalan karena melupakan faktor petani. Dari
mulai tidak ada wakil petani (beneran) dalam Timnas BBN, sampai ke
perhitungannya yang simpilisistis. Bulan depan resmi masa kerja
Timnas BBN akan berakhir. Selain membuat Peta Jalan apakah program
andalan mereka, jarakpagar, menunjukkan hasil yang memuaskan?
Padahal, core keberadaan Timnas BBN adalah jarakpagar.
--- On Sun, 29/6/08, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat
dari Minyak Tanah
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Received: Sunday, 29 June, 2008, 8:06 AM
> Dengan dasar pemikiran nomer 3, saya pikir juga ethanol yang
dihasilkan akan
> lebih murah dari kerosene, walaupun nilai heating value hanya
sekitar 75%
> jika dibandingkan kerosene. Untuk desain kompor seperti tukang gorengan,
> saya pikir ITS sudah mencobanya.
Yang perlu diperhatikan adalah "berapa harga beli ketela tersebut
dari petani ?"
Jangan sampe terjadi alih energi murah dengan memberikan harga murah
pada "energi sang petani". Pemberdayaan perlu dilakukan. Atau
pengembang industri ini sendiri yang memiliki kebun ketela khusus
untuk "kebun energi".
Btw, untuk beli lahan luaaas Ini ijinnya menteri pertanian, menteri
energi atau menteri perindustrian ?
:)
RDP