The Baseline: Demokrasi-Politik dan Demokrasi-Ekonomi
The Alternative: Demokrasi-Sosial 

Total: Optimal Design

Pertanyaan saya sendiri, dulu Bung Karno dan Bung Hatta kenapa tidak begitu 
akur ya?



Back-up email for: [EMAIL PROTECTED]


--- On Mon, 6/30/08, Administrasi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Administrasi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [IA-ITB] Demokrasi-Politik dan Demokrasi-Ekonomi
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, June 30, 2008, 11:42 PM










    
            From: "yanri" <[EMAIL PROTECTED] com>

To: <[EMAIL PROTECTED] com>

Sent: Tuesday, July 01, 2008 11:21 AM

Subject: DEMOKRASI POLITIK DAN DEMOKRASI EKONOMI



DEMOKRASI-POLITIK DAN DEMOKRASI-EKONOMI



Oleh Ir.Sukarno, 

dalam Fikiran Ra'jat, tahun 1932

 

Apakah demokrasi itu? Demokrasi adalah "pemerintahan rakjat". 

Tjara pemerintahan ini memberi hak kepada semua rakjat untuk ikut 

memerintah.

Tjara pemerintahan ini sekarang menjadi tjita-tjita semua 

partaI-partai nasionalis di Indonesia. Tetapi dalam mentjita-tjitakan 

faham dan tjara-pemerintahan demokrasi itu kaum Marhaen toch harus 

berhati-hati. Artinja : djangan meniru sahadja "demokrasi-demokras i" 

jang kini dipraktekkan dunia luaran.

Bagaimanakah prakteknja demokrasi didunia luaran itu?

Jang mebawa "demokrasi" mula-mula didunia Barat ialah 

pemberontakan Perantjis,- kurang lebih 100 a 125 tahun jang lalu. 

Sebelum ada pemberontakan Perantjis itu, tjara pemerintahan Eropah 

adalah otokrasi: kekuasaan pemerintahan adalah didalam tangan satu 

orang sahadja,jaitu ditangan Radja. Rakjat tak ikut bersuara. Rakjat 

harus menurut sahadja. Radja mengaku dirinja wakil Allah di dunia ini.

Salah seorang radja jang demikian itu pernah ditanja oleh 

salah seorang menterinja: " Ratu, Apakah jang dinamakan staat itu?" 

Radja menjawab : 

" Staat adalah aku sendiri ! L'Etat, c'est moi !" Memang radja ini 

adalah seorang otokrat jang tulen!

Didalam tjara pembentukan otokrasi itu,radja disokong oleh 

dua golongan. Pertama: golongan kaum ningrat, kedua:Golongan kaum 

penghulu agama. Kedua golongan ini menjadi bentengnja radja, 

bentengnja otokrasi. Djadi: radja + kaum ningrat + kaum penghulu 

agama adalah "gambarnja" kaum djempolan didalam masjarakat itu. 

Masjarakat jang demikian itu dinamakan masjarakat F E O D A L .

Tetapi lambat laun timbullah suatu golongan baru, suatu kelas 

baru, jang ingin mendapat kekuasaan pemerintahan. Golongan baru atau 

kelas baru ini adalah kelasnja kaum burdjuis. Meraka punja perusahaan-

perusahaan, mereka punja perniagaan, mereka punja pertukangan, mulai 

lahir dan timbul Untuk suburnja dan selamatnja mereka punja 

perusahaan, perniagaan dan pertukangan itu, perlulah mereka mendapat 

kekuasaan pemerintahan. Mereka sendirilah jang lebih tahu mana Undang-

undang, mana aturan-aturan, mana tjara pemerintahan jang paling baik 

buat kepentingan mereka,- dan bukan radja, bukan kaum ningrat, bukan 

kaum penghulu agama!

Tetapi kekuasaan masih ada ditangan radja,- dibentengi oleh 

kaum niNgrat dan kaum penghulu agama!

" welnu", kata kaum burdjuis, " kekuasaan itu harus direbut!" 

tetapi buat merebut orang harus mempunjai kekuatan! Padahal kaum 

burdjuis belum mempunyai kekuatan itu!

"Nah" kata kaum burdjuis sekali lagi, "kita memakai keKuatan 

rakjat-djelata! "

Dan begitulah maka rakjat djelata itu oleh kaum burdjuis lalu 

diadjak bergerak, diabui matanja, bahwa pergerakan itu ialah untuk 

mendatangkan "kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan" ! " 

Liberte,fraternite, egalite", adalah sembojannja tenaga burdjuis 

memakai tenaga rakjat itu.

Rakjat menurut,- ja, rakjat berkelahi mati-matian! Apakah 

sebabnja rakjat mau diajak bergerak? Sebabnja ialah bahwa nasibnja 

rakjat dibawah pemerintahan otokrasi itu adalah nasib jang sengsara 

sekali, dan bahwa rakjat itu masih kurang sadar jang ia hanja 

mendjadi perkakas burdjuis sahadja.

Pergerakan menang! Radja runtuh, kaum ningrat runtuh, kaum 

penghulu agama runtuh,- pendek kata: otokrasi runtuh,- diganti dengan 

tjara pemerintahan baru jang dinamakan "demokrasi". Dinegeri diadakan 

parlemen, dan "rakjat boleh mengirim utusan ke-parlemen itu"

Tjara pemerintahan inilah jang kini dipakai oleh semua negeri 

di Eropah Barat dan di Amerika.

Perantjis mempunjai parlemen, Inggeris mempunjai parlemen, 

Belanda mempunjai parlemen, Amerika Utara mempunjai parlemen,- semua 

negeri modern mempunjai parlemen. Disemua negeri modern itu 

adalah "demokrasi". .



*                      *                    *



Tetapi,.disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! 

Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja.Disemua negeri 

modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur, upah dan nasib kaum 

buruh adalah upah dan nasib kokoro,-disemua negeri modern itu rakjat 

tidak selamat, bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja.

Inikah hasilnja "demokrasi" jang dikeramatkan orang?

Amboi,-parlemen! Tiap-tiap kaum proletar kini dapat ikut 

memilih wakil kedalam parlemen itu, tiap-tiap kaum proletar kini 

bisa " ikut memerintah"! Ja, tiap-tiap kaum proletar kini, kalau dia 

mau, bisa memerintah"! Ja, tiap-tiap kaum proletar kini, kalau dia 

mau, bisa mengusir minister, mendjatuhkan minister itu terpelanting 

daripada kursinja. Teapi pada saat ia jang bisa menjadi "radja" 

diparlemen itu, pada saat itu djuga ia bisa diusir dari paberik 

dimana ia bisa bekerdja dengan upah kokoro,-dilemparkan diatas 

djalan, mendjadi orang pengangguran

Inikah "demokrasi" jang dikeramatkan itu?

Dengarkanlah pidatonya Jean Jaures,- bukan komunis-, 

mengeritik 

" demokrasi" itu:

"Kamu, kaum burdjuis, kamu mendirikan republik, dan itu 

adalah kehormatan jang besar. Kamu membikin republik itu teguh dan 

kuat tak dapat dirobah sedikitpun djua, tetapi karena itulah kamu 

telah mengadakan pertentangan antara susunan politik dan susunan 

ekonomi.

Karena Pemilihan Umum, kamu telah membikin semua penduduk 

berkumpul didalam rapat jang seolah rapatnja radja-radja. Mereka 

punja kemauan adalah sumbernja tiap undang-undang, tiap pemerintahan: 

mereka melepas mandataris, pembuat undang-undang dan menteri. Tetapi 

pada saat itu djuga jang siburuh mendjadi tuan didalam urusan 

politik, maka ia adalah mendjadi budak belian didalam urusan ekonomi.

Pada saat jang ia mendjatuhkan menteri-menteri, maka ia 

sendiri bisa diusir dari bingkil zonder ketentuan sedikit djuapun apa 

jang esok harinja akan dimakan. Tenaga-perekedjaann ja hanjalah suatu 

barang-belian, jang bisa dibeli atau ditampik oleh kaum madjikan. Ia 

bisa diusir dari bingkil, karena ia tak mempunjai hak ikut menentukan 

peraturan-peraturan bingkil, jang sehari-hari, zonder dia tetapi buat 

menindas dia, ditetapkan kaum madjikan sendiri!"

Sekali lagi: inikah "demokrasi" jang orang keramatkan itu?

Bukan,- ini bukan demokrasi jang harus kita tiru, bukan 

demokrasi untuk kita kaum Marhaen Indonesia! Sebab "demokrasi" jang 

begitu hanjalah demokrasi parlemen sahadja, jakni hanja demokrasi 

politik sahadja. Demokrasi ekonomi tidak ada.



*                      *                    *



Sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi

Didalam karangan saja jang lalu-lalu, saja terangkan dengan 

singkat bahwa demokrasi-politik sahadja, belum menjelamatkan rakjat. 

Bahkan dinegeri-negeri, sebagai negeri Inggeris, Nederland, 

Perantjis, Amerika, d l l, dimana "demokrasi" telah didjalankan, 

kapitalisme meradja-lela dan kaum Marhaen-nja papa-sengsara!

Kaum nasionalis Indonesia tidak boleh 

mengeramatkan "demokrasi" jang sedemikian itu. Nasionalisme kita 

haruslah nasionalisme jang tidak hanja mentjari "gebjarnja"  atau 

kilaunja negeri keluar sahadja, tetapi ia harus mentjari selamatnja 

semua manusia.

Banjak diantara kaum nasionalis Indonesia jang berangan-

angan : "Djempol sekali kalau negeri kita bisa seperti negeri Djepang 

atau negeri Amerika atau negeri Inggeris! Armadanja ditakuti dunia, 

kotanja haibat-haibat, bank-banknja meliputi dunia, benderanja 

kelihatan dimana-mana! "

Kaum nasionalis jang demikian itu lupa bahwa barang jang 

haibat-haibat itu adalah hasilnja kapitalisme, dan bahwa kaum Marhaen 

dinegeri-negeri itu adalah tertindas. Kaum nasionalis jang demikian 

itu adalah kaum nasionalis yang burgerlijk, jaitu kaum nasionalis 

burdjuis. Mereka bisa djuga revolusioner, tetapi revolusionernja 

adalah BURGERLIJK REVOLUTIONAIR. Mereka hanjalah ingin Indonesia-

Merdeka sahadja maksud djang penghabisan, dan tidak suatu masjarakat 

jang adil zonder ada kaum jang tertindas. Mereka lupa, bahwa 

Indonesia-Merdeka hanjalah suatu sjarat sahadja untuk memperbaiki 

masjarakat Indonesia jang sudah rusak itu. Mereka adalah burgerlijk 

revolutionair, dan tidak SOCIAAL REVOLUTIONAIR, tidak MARHAENISTIS 

REVOLUTIONAIR.

Nasionalisme kita tidak boleh nasionalisme jang demikian itu. 

Nasionalisme kita haruslah nasionalisme jang mentjari selamatnja peri-

kemanusiaan. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada 

menselijkheld. "Nasionalismeku adalah peri-kemanusiaan" , begitulah 

Gandhi berkata.

Nasionalisme kita, oleh karenanja, haruslah nasionalisme, 

jang dengan perkataan baru kami sebutkan : SOSIO-NASIONALISME. Dan 

demokrasi jang kita tjita-tjitakan haruslah djuga demokrasi jang kami 

sebutkan : SOSIO-DEMOKRASI.

Apakah sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi itu?

Dua perkataan ini adalah perkataan bikinan, kami punja 

bikinan. Sebagaimana perkataan Marhaen adalah tempo hari 

kami "bikinkan" buat menjebutkan kaum jang melarat-sengsara, maka 

perkataan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi adalah pula 

perkataan-bikinan untuk menjebutkan kita punja nasionalisme dan kita 

punja demokrasi.

Sosio adalah terambil dari perkataan jang berarti:masjarakat, 

pergaulan-hidup, hirup-kumbuh, siahwee.

Sosio-nasionalisme adalah dus : nasionalisme- masjarakat, dan 

sosio-demokrasi adalah demokrasi-masjaraka t.

Tetapi apakah nasionalisme- masjarakat dan demokrasi-

masjarakat itu?

Nasionalisme masjarakat adalah nasionalisme jang timbulnja 

tidak karena "rasa" sahadja, tidak karena "gevoel" sahadja, tidak 

karena `lyriek" sahadja,- tetapi ialah karena keadaan-keadaan jang 

njata didalam masjarakat. Nasionalisme- masjarakat, - sosio-

nasionalisme- , bukanlah nasionalisme "ngalamun", bukanlah 

naionalisme " kemenjan", bukanlah nasionalisme "melajang", tetapi 

ialah nasionalisme jang dengan dua-dua kakinja berdiri didalam 

masjarakat.

Memang, maksudnja sosio-nasionalisme ialah memperbaiki 

keadaan didalam masjarakat itu, sehingga keadaan jang kini pintjang 

itu mendjadi keadaan djang sempurna, tidak ada kaum jang tertindas, 

tidak ada kaum jang tjilaka, tidak ada kaum jang papa-sengsara.

Oleh karenanja, maka sosio-nasionalisme adalah nasionalisme 

Marhaen, dan menolah tiap tindak burdjuisme jang mendjadi sebabnja 

kepintjangan masjarakat itu. Djadi : sosio-nasionalisme adalah 

nasionalisme politik DAN ekonomi,- suatu nasionalisme jang bermaksud 

mentjari keberesan politik DAN keberesan ekonomi, keberesan negeri 

DAN  keberesan rezeki.

Dan demokrasi-masjaraka t? Demokrasi-masjaraka t, sosio-

demokrasi-, adalah timbul karena sosio-nasionalisme. Sosio-demokrasi 

adalah pula demokrasi jang berdiri dengan dua-dua kakinja didalam 

masjarakat. Sosio-demokrasi tidak ingin mengabdi kepentingan sesuatu 

gundukan ketjil sahadja, tetapi kepentingan masjarakat. Sosio-

demokrasi bukanlah demokrasi a la Revolusi Perantjis, bukan demokrasi 

a la Amerika, a la Inggeris, a la Nederland, a la Djerman d l l ,- 

tetapi ia adalah demokrasi sedjati yang mentjari keberesan politik 

DAN ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. Sosio-demokrasi 

adalah demokrasi-politik DAN demokrasi-ekonomi.

 

*                      *                    *



Komunis?

Sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi bukanlah angan-angan komunis. 

Pernah saja terangkan, bagaimana seorang pemimpin, Jean Jaures jang 

bukan komunis, djuga menghendaki demokrasi-politik dan demokrasi-

ekonomi. Dan didalam salah satu karangan saja dulu sudah dikatakan 

pula, bahwa djuga Dr.Sun Yat Sen mentjela "demokrasi" a la Revolusi 

Perantjis atau a la Inggeris, Nederland d.l.l itu. Pun pemimpin-

pemimpin lain seperti Gandhi, Nehru-muda,d. l.l, mentjela "demokrasi" 

jang demikian itu.

Memang orang tak usah mendjadi komunis, buat melihat bahwa 

didalam negeri-negeri "demokrasi" itu, sebagian dari kaum rakjat 

adalah tertindas oleh kapitalisme. Orang tak usah mendjadi komunis, 

buat melihat bahwa "demokrasi" negeri-negeri itu adalah demokrasi 

burdjuis sahadja.

Kontra angan-angan demokrasi burdjuis ini kaum Marhaen harus 

bertjita-tjita dan menghidup-hidupkan sosio-demokrasi, jakni 

demokrasi-politik dan demokrasi-ekonomi.

Dan kontra nasionalisme burdjuis kita taruhkan kita punja 

sosio-nasionalisme.

Bagaimana sosio-demokrasi, - demokrasi politik dan demokrasi 

ekonomi itu,- bisa didjalankan, akan saja gambarkan didalam garis-

garisnja jang besar didalam karangan saja jang akan datang.

Hiduplah sosio-nasionalisme!

Hiduplah sosio-demokrasi!



" Fikiran Ra'jat ",1932

DEMOKRASI-POLITIK DAN DEMOKRASI-EKONOMI

Oleh Ir.Sukarno




      

    
    __._,_.___
    
    
              
          
            Messages in this topic           (1)
        
        
          
            Reply           (via web post)
          | 
        
          Start a new topic        
           
    
    
    
                Messages  
        
        
        
        
        
        
        
      
    

                        
          


          ***



Siapa saja Alumni ITB yang hobby jepret Fotografi ?

Jawaban ada di Database, http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database 



Wowww, asyiknya kumpul di milis IA-ITB dan buat kerjasama berguna ;-)

[EMAIL PROTECTED] = email untuk ikut milis IA-ITB





Members: 4,945                                 Updated: 1 Jul 2008

----------------------------------------------------------------------

                     *** IA-ITB ***

            - Merajut komunitas alumni ITB -

 Persahabatan, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & Kesejahteraan

          http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB



Managed by: IA-ITB, ITB, & 99Venus International (http://99Venus.net )

----------------------------------------------------------------------



Tips: Bebas banjir email dengan ganti-ganti 2 cara terima berikut 

1. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima normal (individual emails)

2. [EMAIL PROTECTED] = untuk terima ringkasan (daily digest) 



          


        
      
                  
      MARKETPLACE
      
                  
             Special offer for Yahoo! Groups  from Blockbuster! Get a free 
1-month trial with  no late fees or due dates.          
                              
    
      
    
    
    
      
       

      Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 

      Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch 
format to Traditional 


      
        Visit Your Group 
       |
      
        Yahoo! Groups Terms of Use       |
      
        Unsubscribe       
         
   

  
  
  
  
    
    


     


            
            
                        Recent Activity
                
                        
       23
      New Members
    
  
                    
                    
                    
                    
                    
                
                      
                Visit Your Group              
             
                              
            
                          
              
                      Y! Messenger 
Quick file sharing 
Send up to 1GB of 
files in an IM.                  
                    
                      Search Ads 
Get new customers. 
List your web site 
in Yahoo! Search.                  
                    
                      Yahoo! Groups 
Join people over 40 
who are finding ways 
to stay in shape.                  
          
            
                  
          .
                           

        
        __,_._,___
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke