Alhamdulillah, ada kang Ishom, sobat lama saya.
Saya sepakat, kang Ishom, bahwa Keppres 10/2006, apalagi Timnas BBN, sama
sekali tidak identik dengan jarakpagar. Keppres itupun tidak secuilpun
menyebut jarakpagar.
Akan tetapi, karena pemimpin Timnas nya adalah orang yang nyata-nyata pro
jarakpagar, bahkan saya menduga beliau terpilih karena konsep
jarakpagarnya, mau tidak mau orang mengkonotasikan Keppres ini (dan juga
Timnas BBN) amat condong (paling tidak, pada awal kelahirannya) ke arah
jarak pagar. Menjelang kelahiran Keppres 10/2006, amat mudah menemukan
pendapat (mereka yang nantinya menjadi tokoh kunci Timnas) bahwa
dibandingkan dengan apapun (sawit, tebu, singkong), jarakpagar paling baik
untuk mensejahterakan petani. Bahkan, lembaga terhormat seperti PT PNM
(Permodalan Madani Nasional), dengan bangganya mengitung keunggulan
jarakpagar sebagai pengentas kemiskinan. Belum lagi situs-situs resmi
pemerintah, sama saja.
Jadi, walaupun secara formal Keppres 10/2006 dan Timnas BBN bukan Keppres
atau Timnas jarakpagar, for all practical pusposes, mereka adalah
jarakpagar.
Saya pribadi ragu, apakah akan ada Keppres 10/2006 dan Timnas BBN, kalau
saja konsep pengentasan jarakpagar tidak didengungkan secara intensif
sejak awal?
Anyway, saya sepakat dengan permintaan kang RDP, mbok laporan Timnas BBN
jangan terkesan misterius. Hanya diberikan kepada pihak-pihak yang tidak
punya keinginan mengkritisi. Toh Timnas dibayari dengan uang rakyat.
Dan, saya kok ingin ikut hadir di dengar pendapat dengan DPR itu.
--- On Mon, 7/7/08, Faizul Ishom <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: Faizul Ishom <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: RE: [IndoEnergy] Percuma tidak ada wakil petani dan tidak tahu
harga Pertamina beli
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Received: Monday, 7 July, 2008, 9:55 AM
AWW,
Pak Wisnu dan teman-teman yang lain.
Mohon dapat dilihat lagi Keppres 10/2006.
Tugas Timnas BN adalah koordinasi kebijakan, blueprint dan rencana aksi.
Tugas Timnas BBN akan berakhir Juli 2008.
Alhamdulillah semua tugas yang di berikan sesuai dengan keppres sudah
dilaksasanakan dan tentunya sudah kami laporkan ke yang memberikan tugas.
Lapoaran pun bukan Asal Bapak Senang, tapi kita sesuaikan dengan kondisi
lapangan.
Timnas BBN bukan Timnas jarak pagar, sehingga di laporan tsb ada tebu,
sawit, singkong dll.
Walau sudah kita usahakan semaksimal kemampuan, tentunay amsih ada yang
kurang berkenan.
Insya Alloh Akhir bulan ini kami di undang ke DPR untuk Rapat Evaluasi.
Silahkan datang kalau ada waktu.
Terima kasih.
Ishom
pendamping Tim nas BBN
----------
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
From: wisnuam2003@ yahoo.com. au
Date: Sun, 6 Jul 2008 19:12:21 -0700
Subject: Re: [IndoEnergy] Percuma tidak ada wakil petani dan tidak tahu
harga Pertamina beli
mas Zaenal,
1. Dibutukan kepastian harga, walau itu juga belum menjamin petani mau.
Timnas BBN, dengan dasar tidak jelas (atau jelas, menguntungkan pemroses
minyak jarak) menetapkan harga biji Rp500/kg. Dan harga ini tidak pernah
direvisi Timnas BBN. Jadi, jangan salahkan kalau banyak pihak mengira
harga belinya ya ini.
2. Sampeyan boleh saja menawarkan harga Rp 1500/kg. Siapa yang njamin
kalau harga ini menjadi floor-price selamanya? Di lapangan malah, kadang,
ada yang berani menawarkan lebih. Tetap saja petani (CMIIW) tidak
tertarik. Kalau petani disuruh menanggung resiko (gak tahu apakah nanti
tetap ada yang mau beli, apalagi dengan harga bagus), apa sampeyan tidak
kasihan dengan mereka?
3. Subsidi BBM tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan petani. Hanya
karena (misalnya saja) subsidi BBM Rp7rb seliter, tidak dengan sendirinya
kita pantas menyuruh petani tanam jarak pagar dan merugi. Kalau mau, bayar
biji jarak dari petani sedemikian rupa sehingga harga biodieselnya sama
dengan solar non subsidi. Rp2000/kg nampaknya pantas, dengan asumsi yield
10ton/ha/th. Biasanya orang kota, apalagi politisi, lalu mencak-mencak.
4. Lebih bagus saya mengaku membela petani, walau hidup saya di kota,
daripada menjerumuskan petani dengan ikut menari dengan irama "gendang"
Timnas BBN karena saya mendapat keuntungan finansial. Itu lebih jahat mas.
5. Semua orang tahu lah, BBN itu tidak identik dengan biodiesel
jarakpagar. Ada lainnya.
Orang juga tahu, energi alternatif itu tidak cuma BBN. Jadi, kenapa
mesti memaksa jarakpagar jadi energi alternatif?
6. Keppres 10/2006, yang digunakan pendukung BBN untuk membenarkan
aktivitas mereka, bicara soal pengentasan kemiskinan. Sama sekali tidak
ada urusan dengan produksi bahanbakar nabati murah. Jadi, mestinya kita
semua bersuara sama: petani jangan dibikin lebih miskin.
Disitu Timnas BBN plin plan. Basisnya mengentaskan kemiskinan, tapi sama
sekali tidak memperhitungkan kesejahteraan petani. Hanya mengejar harga
BBN murah. Sampai kapanpun program mereka tidak akan jalan.
Dan saya sudah bicara ini sejak 2006 pak. Ketika semua orang sedang
terpesona oleh "pohon uang" ini. Dengan hitungan, tentu saja.
Salam,
--- On Mon, 7/7/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Subject: Re: [IndoEnergy] Percuma tidak ada wakil petani dan tidak tahu
harga Pertamina beli
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Received: Monday, 7 July, 2008, 7:22 AM
Mas Rosihan Anwar, Mas Wisnu dan Rekans,
Koq yang dipakai patokan Rp. 500,-/kg terus sih ? :-(
Saya kan sudah berani beli Rp. 1.500,-/kg untuk biji jarak bahan baku
biodiesel.
Untuk apa menyalahkan terus team Nas BBN ? seharusnya kita mencari
solusi/titik temu dengan :
1. Butuh informasi dari petani beneran bukan petani padi karena memang
tidak sama produktifitas padi dan jarak.
Bukan pula mengaku atau mewakili petani, karena biaya hidup petani
beneran dengan mengaku/membela petani tetapi hidupnya dikota berbeda :-(
2. Harga beli/biaya produksi solar dari Pertamina sebelum di subsidi,
3. Selain jarak pagar, apa lagi biji lain untuk bahan baku biodiesel dan
ethanol yang bisa dibudidaya dalam jumlah banyak yang tidak bisa digunakan
sabagai bahan makanan ?
Salam,
Zaenal
At 01:17 07/07/2008, Rosihan Anwar wrote:
bapak2 yth.
orangtua saya petani. walaupun petani padi bukannya petani jarakpagar.
namun mungkin problem keduanya tak jauh berbeda. bila ketemu saya, beliau
selalu mengeluhkan: harga & langkanya pupuk, harga & kualitas bibit, biaya
tanam dan harga beli gabah.
berkaitan dengan problem BBN, harga yang ditawarkan Timnas BBN untuk buah
jarakpagar sebesar Rp 500,-/kg kan pasti sudah memperhitungkan dengan
asumsi-asumsi harga bibit, pupuk, biaya tanam, biaya panen, jumlah
produksi/ha. tahun dsb yang sudah ditetapkan. namun apabila ternyata
kondisi di lapangan biaya-biaya untuk menghasilkan 1 (satu) kg buah
jarakpagar melenceng dari asumsi-asumsi yang ditetapkan Timnas, pastinya
harga Rp 500,-/kg pun sudah tidak menguntungkan lagi bagi petani. petani
mana yang mau jual hasil panennya < harga produksinya. ..
betul kata pak wisnu, jangan sampai misi BBN murah menebas kaum miskin
(petani). Dzolim lah. ya mestinya si penjahat lah yang harus ditebas.
penjahat pemalsu pupuk dan penjahat pemanipulasi bibit. dan memang kinerja
timnas BBN gak ada sama sekali keisep bau keringatnya. ternyata bukan
timnas bola saja yang jeblok timnas BBN juga gak jauh bedanya kali.
terimakasih
wassalam
----- Original Message ----
From: Wisnu Martono <wisnuam2003@ yahoo.com. au>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Sunday, July 6, 2008 6:51:21 AM
Subject: Re: [IndoEnergy] Percuma tidak ada wakil petani dan tidak tahu
harga Pertamina beli
Mas Zaenal,
Ada pepatah bule bunyinya, don't shoot the messenger just because he/she
bring bad news to you.
Saya hanya memprediksi, jauh ketika tidak ada orang yang percaya program
jarakpagar akan gagal. Tanpa ada prediksi saya pun, program jarakpagar
dengan struktur yang sekarang, akan gagal. Jadi, tidak ada kaitannya saya
tidak menanyakan petani terus saya keliru. Buktinya, sampai masa tugas
Timnas BBN mau selesai tanggal 24 Juli ini, tidak ada orang yang mengklaim
diuntungkan karena jualan biji jarak.
Yang diuntungkan adalah para penjual bibit jarak, yang jelas bukan petani.
Atau birokrat yang ketiban program pembuatan mesin pemeras.
Cukup banyak berita di koran, yang menyatakan petani tidak mau dibayar
Rp1000/kg. Berapa yang dimaui petani, juga tidak ada yang tahu. Yang
jelas, di Cilacap, petani menuntut Rp 5000/kg. Saya tidak perlu cek,
karena ada di koran. Kalau hitungan saya, petani hanya untung di atas
harga Rp 2000/kg. Tentu saja, saja tidak asal hitung.
Kalau anda search nama saya di google, dan kaitkan dengan jarakpagar, anda
akan ketemu tulisan saya.
Di situ anda akan tahu, siapa saya. Yang jelas, bukan baru sekali saya
dituduh sebagai kakitangan orang minyak. Repot mas, kalau setiap tanggapan
kritis lalu dikaitkan dengan tuduhan bernada "pembunuhan
karakter".Sebaiknya anda kenal saya dulu, sebelum menuduh seperti itu.
Saya gampang ditemui di google kok. Beruntung, saya diberi kemudahan
berfikir kritis karena pekerjaan saya sehari-hari memang menuntut saya
kritis.
Bagaimana kalau saya tuduh juga anda adalah rent seeker dari kebodohan
petani? Anda hanya akan untung kalau petani dibikin buntung? Persis
penjual bibit yang dapat revenue sampai 15kali lipat dalam tempo 3
bulan.Makanya sangat getol menjerumuskan petani untuk bertanam jarakpagar.
(Tentu saja, maaf kalau semua tuduhan saya salah. Saya hanya ingin
mengingatkan, jangan memfitnah hanya karena pendapat kita beda mas).
Saya tidak seburuk yang anda kira. (Saya adalah sobat mas RDP di milis
sebelah, walau pekerjaan saya amat jauh dari yang dikerjakan beliau. Jadi,
kalau mau cek saya orang minyak atau bukan, tanya beliau saja. Percuma
kalau saya membantah).
Kalau Pertamina diuntungkan dengan biodiesel pasti tidak mengubah B5
menjadi B2.5. Dan jangan minta saya membuktikan apa-apa, hanya karena saya
tahu B5 dirubah menjadi B2.5.
Sebenarnya gampang, membuktikan saya salah. Anda tanam sendiri saja
jarakpagar. Nanti akan tahu apakah policy Timnas BBN salah atau tidak.
(Jangan-jangan anda kakitangan Timnas BBN ya. Wah, kenapa saya jadi
suudzon begini).
--- On Sun, 6/7/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]
<http://co.id/>co.id> wrote:
From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Subject: [IndoEnergy] Percuma tidak ada wakil petani dan tidak tahu harga
Pertamina beli
To: [EMAIL PROTECTED] <http://ups.com/>ups.com
Cc: [EMAIL PROTECTED] <http://r.net/>r.net
Received: Sunday, 6 July, 2008, 4:31 AM
Mas Wisnu dan Rekans,
Maaf ya, kalau saya ambil kesimpulan (mudah2an salah) bahwa Mas Wisnu ini
hanya asal kontra saja terhadap BBN dan tidak ada usaha untuk menumbuhkan
BBN di Indonesia. :-(
Buktinya tidak pernah bertemu dengan petani tetapi seolah bertindak
sebagai petani yang maunya harga sangat tinggi Rp. 5.000,-/kg yang tidak
mungkin laku sebagai biodiesel di Indonesia untuk saat sekarang, tetapi
juga tidak tahu harga beli pertamina berapa serta tidak pernah coba
membeli dari para broker biji jarak berapa sehingga tidak tahu harga
broker berapa, padahal salah satu yang membuat tidak ketemu antara pembeli
dan penjual biji jarak adalah broker.
Dilain pihak Mas Wisnu juga tidak kasih sama sekali alternatif selain
jarak pagar apa saja....?
Jangan jangan karena Mas Wisnu dari salah satu Oil Company yang
mensponsori harga BBM fossil naik terus karena BBN tidak bisa dibuat murah
? :-(
Salam,
Zaenal
At 17:28 01/07/2008, Wisnu Martono wrote:
Mas Zaenal,
Saya memang tidak menghubungi petani.
Pertama, saya dasarkan hitungan saya, harga Rp 1500/kg hanya masuk kalau
yield di atas 10ton/ha/th.
Kedua, wong nyari petani yang mau nanam dan jual aja susah kok. Kalau pun
ada yang nanam, kebanyakan kok kegiatan proyek. Dan belum menghasilkan.
Ketiga, berita di koran, petani Cilacap hanya mau dibeli Rp5000/kg.
Keempat, lha kalau menurut anda harga segitu sudah bagus, sampeyan tanam
sendiri mas. Pasti lebih gede untungnya. Kalau anda hanya mau beli dengan
harga segitu, berarti anda sendiri tidak akan untung kalau lebih.
No.2 saya tidak tahu soal ini.
Apalagi nomer 3. Saya bukan orang Pertamina.
--- On Mon, 30/6/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]
co.id>
Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat dari
Minyak Tanah
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Received: Monday, 30 June, 2008, 11:42 PM
Mas Wisnu,
Koq jawabnya tidak lengkap ?
1. Apakah benar telah hubungi petani petaninya ? dengan harga
Rp.1.500,-/kg tidak mau ?
2. Bagaimana dengan teman teman yang maunya jual Rp. 10.000,- sd Rp.
30.000,-/kg terus ?
3. Berapa harga Pertamina produksi/beli BBM solar/liter ? dan berapa
ongkos produksi/beli BBM premium per liter ?
Salam,
Zaenal
At 22:51 30/06/2008, Wisnu Martono wrote:
Mas Zaenal,
Jangan salah menilai harga. Benar, harga Rp1500/kg itu sudah 3 kali harga
"mimpi kalee" Timnas BBN yang Rp500/kg. Tapi, berapa cost untuk
menghasilkan sekilo bjii jarak? Petani sebenarnya tidak mikir harga per
se, tapi mikir keuntungan. Boleh saja harga (suatu komoditas) cuma
Rp1000/kg (ibaratnya lho ya), kalau untungnya (ibaratnya lagi lho ya)
Rp500/kg, itu lebih bagus daripada harga Rp1500/kg, tapi rugi.
Jadi, sampeyan keliru kalau kebingungan, wong dikasih harga 3x lipat kok
masih ndak mau. Kesalahan yang sama dilakukan Timnas BBN. Hanya berfikir
soal harga, tapi tidak berfikir soal keuntungan (petani). Ya gak ada
petani yang sudi nanam.
Sebenarnya mudah saja kok, untuk menaksir berapa harga biji jarak yang
wajar dari sisi petani. Ada mas Tri dari PT Titan tuh, yang udah nanam.
Coba beli dari mas Tri, Rp500/kg. Ngamuk gak, dianya. (Sorry mas Tri, tak
rasani). Kalau mas Tri "ngamuk" ditawari harga segitu, memangnya petani
juga gak boleh ngamuk?
Tanya sama mas Tri, sampai harga berapa dia mau lepas biji jarak yang dia
tanam dengan membayar petani. Perasaan saya kok mengatakan, mas Tri paling
tidak minta dibayari Rp1500/kg keatas. Itupun kalau yieldnya 5 ton/ha/thn.
Kurang dari itu, mas Tri pasti minta dibayari lebih tinggi.
Pola pikir seperti ini yang jarang dipahami oleh "orang pinter" macam kita
yang berdiskusi di milis. Blunder Timnas BBN yang dipenuhi banyak orang
pinter juga ada di sini. Menyederhanakan masalah petani.
--- On Mon, 30/6/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Subject: Re: [IndoEnergy] "Minyak Gendruwo" Buatan ITS Lebih Hemat dari
Minyak Tanah
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Cc: [EMAIL PROTECTED] r.net
Received: Monday, 30 June, 2008, 7:45 PM
Mas Wisnu dan Rekans,
Apakah benar telah hubungi petani petaninya ? dengan harga Rp.1.500,-/kg
tidak mau ? (padahal sudah jauh lebih tinggi dibanding Teamnas BBN yang
Rp. 500,-/kg) yang berarti dengan assumsi per tahun 5 ton/ha sudah
mencapai penghasilan Rp.7.500.000, -/tahun/ha ? atau Rp. 625.000,-/ha/
bulan ? jangan jangan petani yang tidak mau karena biasa hidup dikota juga
yang overheadnya tinggi ? :-(
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kalau masih menganggap sama dengan biji
untuk bibit jarak pagar yang maunya dijual Rp. 10.000,- sd Rp. 30.000,-/kg
oleh pedagang? :-(
Koq tidak ada yang jawab ya berapa harga Pertamina produksi/beli BBM
solar/liter ? dan berapa ongkos produksi/beli BBM premium per liter ? :-(
Salam,
Zaenal
Get the name you always wanted with the
<http://au.rd.yahoo.com/mail/taglines/au/y7mail/default/*http://au.mail.yahoo.com/?p1=ni&p2=general&p3=tagline&p4=other>new
y7mail email address.
Get the name you always wanted with the
<http://au.rd.yahoo.com/mail/taglines/au/y7mail/default/*http://au.mail.yahoo.com/?p1=ni&p2=general&p3=tagline&p4=other>new
y7mail email address.
----------
Connect to the next generation of MSN Messenger
<http://imagine-msn.com/messenger/launch80/default.aspx?locale=en-us&source=wlmailtagline>Get
it now!
Get the name you always wanted with the
<http://au.rd.yahoo.com/mail/taglines/au/y7mail/default/*http://au.mail.yahoo.com/?p1=ni&p2=general&p3=tagline&p4=other>new
y7mail email address.