--- On Mon, 8/4/08, lukman zaaidi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: lukman zaaidi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Alumni Margoyudan123] Paten To: "Iman Santoso" <[EMAIL PROTECTED]> Cc: "indo nextbetter" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Monday, August 4, 2008, 3:35 PM
Ass Ww, Nderek tepang, beberapa waktu yang lalu mengenai hak Paten (yang diurus dalam negri "Indonesia " , sepertinya sangat lamban, dan pemerintah cQ Dep. Kehakiman yang bertanggung Jawab mengenai hal tsb rupanya tak mengetahui betapa strategisnya badan dibawah organisasinya, selama bertahun tak pernah ada kreativitas ,innovasi untuk percepatan keluarnya hak paten indonesia, baru2 ini Penemuan anak bangsa yang sangat kreativ dari teman2 Fakultas Teknik Sipil dan geologi Gajah Mada mengenai alat pendeteksi tanah longsor, yang sudah bisa bekerja dg baik, dan pernah dipamerkan awal tahun ini di pameran Ilmiah di Fak. teknik Gajah Mada, karena hak paten dari dep. kehakiman yang 2, 3thn diajukan belum juga keluar ( ada apakah ?), Dicuri oleh negara maju dan langsung dipatenkan dan tiba2 sudah diproduksi dalam skala dunia, Langkah2 apakah yang perlu dikerjakan untk pembenaha dep. tsb, kalau perlu KPK turun jangan2 ada "pengchianat bangsa " yang menjual hasil karya Brilliant dari anak bangsa tsb, Saya dan partner, ada beberapa paten, yang bagus tapi traumatis melihat hal2 tsb, mohon teman2 semua disiplin yang terkait masalah Paten agar ada Revolusi dibidang Perpatenan . Wass W Lukman Z --- On Thu, 7/31/08, Iman Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Iman Santoso <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Alumni Margoyudan123] Paten To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "Aminarto Aminarto" <[EMAIL PROTECTED]> Cc: "fauzie yasin" <[EMAIL PROTECTED]>, "Soerjono Soeroso" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "djoko widodo" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "Nindia Satiman" <[EMAIL PROTECTED]>, "endang sayekti" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date: Thursday, July 31, 2008, 3:18 AM Mas Rahardjo, yg baik, saya belum kenal pribadi dg penjenengan, tapi tulisan mengenai paten ini sangat menggugah saya. 1) Jadikan Solo - City (nama dalam dunia Penerbangan) atau Surakarta sbg nama resmi atau Sala sbg colloquil name (nama lokal). Atau Surakarta Hadiningrat sbg nama Budaya adhi luhung nya. Jadikan SOLO -City sbg CAPITAL of INDONESIAN CREATIVES. Ini masih berhubungan dg 'paten' tadi, saat ini saya sedang diajak jalan oleh istri saya ke Livepool 3 minggu. Dimana-mana saya baca 'Liverpool, Capital of European Culture'.Bukan hanya karena ini kampungnya Beatles, tapi ternyata pelabuhan kapas yg menyebabkan revolusi industri di Manchester adalah disini, dll segudang claimnya. Waktu saya berangkat di Cengkarang saya lihat sekilas di TV bu Menteri perdagangan ngomong 'hasil industri kreatif kita meningkat'. Saya belajar dari berita itu, ini benar juga ya, kata kunci nya 'kreatif' Saya jalan terus, pirso sendiri kan ini musim panas di Eropa, meski mata tua daripada nonton sinetron artis2 indo, lebih aktuil cari angin di City Center Liverpool. Tapi matanya kadang2 lihat poster diatas '..Capital of European Culture', terus saya plesetkan sendiri ' Solo City, Capital of Indonesian Creatives'. Bukankah capital of batik itu memang Solo capital of Keris juga Solo (dipakai Singapore Airlines, KRIS Lounge), ekspor alat olah raga & alat musik (tanpa merek) juga dari Solo, seragam militer negara lain juga konveksi Solo, Ketawang Puspowarno satu2nya musicethnic Nusantara yg di bawa terbang oleh missi Apollo(?) utk ngajari Allien nyanyi juga dari Solo dll industri creatives yg mestinya kita konsolidasikan (istilah jaman orla). 2) Pucuk di cinta Ulam tiba (istilah buku Bahasaku kls 5 SR/SD), Solo mem paten kan motif batik. Mas biar gini saya dulu pernah ketiban sampur jadi pejabat yg pernah dipinjam Departemen Perindustrian RI masih hebat dulu (sekarang makin hebat) dan Direksi BUMN besar juga, tapi bukan itu pointnya, jadi selama itu saya berhubungan terus dg masalah paten2 an ini (bukan mati2an tapi hak patent). Pertama, di Deprind saya ikut2an nyiapkan Pasar Bebas ASEAN dan juga 'Uruguay Round" dan 'WTO' (persis nya disuruh ikut2an ngurusi, karena nggak ada nama saya, hanya sebagai bolo dupakan, yg umyek dibelakang). Lalu saya tahu bedanya, kalau 'putaran Uruguay' yg diseponsori negara berkembang itu yg namanya produk hanya 'barang' (goods). Sedangkan kalau WTO karena disponsori negara maju, pikirannya juga lebih maju, mereka membuat definisi yg menguntungkan merekatentunya, yaitu yg namanya 'Produk" adalah :BARANG, JASA(termasuk tenaga kerja dan professi), MODAL, dan (ini dia) HAK CIPTA. Padahal kita anggota WTO, dan AFTA (pasar bebas ASEAN) menggunakan standarad WTO. Persoalannya, banyak yg nggak sadari hak cipta ini adalah produk dlm pengertian WTO, sehingga Indonesia tidak menata "pabrik" penghasil produk yg bernama hak cipta (patent) itu. 2) Dimana "Pabrik Patent" Indonesia Berlokasi? Pabrik Patent adalah Dirjend Patent Kementrian Kum Ham (dh Kehakiman), kantor Patent. Letaknya di Daan Mogot Jakarta, arah ke Tangerang, macetnya minta ampun. Saya kenal mantan Dirjendnya, pak Nico Kancil yg mantan Deprind dan mantan Komisaris BUMN tempat saya kerja. Beliau juga cerita bhw masalah pelayanan Patent ini juga harus di benahi. Apakah para pemimpin kita di Jakarta sdar hali ini,apakah para pegawai di kantor patent sadar bhw kantornya adalah satu2nya pabrik patent yg bertugas memproduksi Produk nasional yg bernama "hak cipta?". Kalau pak Walikota memberi dukungan bagi proses patent ini bagus sekali. Apalagi kalau bisa mengusahakan kantor Patent cabang SOLO, jadi orang Solo yg kreatif ini tidak perlu ngusrus ke Daan Mogot Jakarta, dan nanti keluarnya baru setahun dua tahun kemudian, biayanya ya nggak sedikit. Jadi nggak heran kalau 240 juta rakyat Indonesia yg kreatif ini karena sush ngurus patent di satu2 nyakantor patent di Indonesia di Jl Daan Mogot Jakarta, lalu timbul kreativitas baru mem patenkan ke Malaysia yg lebih cepat dan murah (Batik di patenkan oleh orang kita sendiri asal Pekalongan, ke Malaysia dan lalu jadi WN Malaysia, kawan saya doctor apoteker berusaha patenkan dJkt susah dan mahal lalu patenkan di Malaysia bukan salah dia toh, kroncong yg asli musik kita sendiri kita lebih suka bilang asal dari Portugis-Spanyol mana ada kroncong disana, lagu rasa sayange nggak kita piara lalu diopeni Malysia terus kita ribut salah kita sendiri). Mudah2an pak Walikota Joko Wi sempat baca artikel ini (Ge eR). Masih baca hal paten yg bis kita bincangkan dan lakukan mas Rahardjo (penjenengan lulusan thn berapa ya, kok hebat dari tulisan2 nya saya tahu). Iman Santoso Notodisuryo (lengkapnya), Kawan2 panggil Tjok, dikantor pakai singkatan IMS. Lain2: mengenai industri kretif kalau panjenengan tindak airport Surabaya, ada lima counter Brunei Airlines. Kenapa? Karena orang Brunei setiap hari belanja produk kreatif di Surabaya. Kalau kita ke Bali lihat patung Bali dari batu kali itu bkan bikinan Bali, itu bikinan sini, karena orang Bali bikin patung dari batu cadas. Point saya bukan mau ngebut pasarnya Surabaya dan Bali, tapi lihat kenyataan landasan airport kita itu bisa utk MD 11 jadi nggak kalah sama Surabaya dan DenPasar, lha mari apa yg bisa kita manfaatkan dari situ dalam rangka mewujudkan "SOLO CITY, CAPITAL of INDONESIAN CREATIVES" ----- Original Message ---- From: S. Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; Aminarto Aminarto <[EMAIL PROTECTED]> Cc: fauzie yasin <[EMAIL PROTECTED]>; Soerjono Soeroso <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; djoko widodo <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Nindia Satiman <[EMAIL PROTECTED]>; endang sayekti <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, July 30, 2008 12:09:39 Subject: [Alumni Margoyudan123] Paten Jawa Tengah Solo Patenkan 215 Motif Batik Kuno Rabu, 06 Oktober 2004 | 22:09 WIB TEMPO Interaktif, Solo:Sebanyak 215 motif batik yang berkembang di Kota Solo akan diajukan hak patennya. Saat ini Pemerintah Kota Solo tengah menyusun deskripsi masing-masing motif yang akan diajukan hak patennya tersebut. Semua motif batik yang akan didaftarkan hak patennya adalah motif batik kuno yang merupakan warisan atau dikembangkan dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Pengajuan hak paten atas 215 motif itu sebagai langkah awal. Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Depperindag dan Industri Pemkot Solo, Zaenal Musthofa, Rabu (6/10). "Untuk sementara yang akan dipatenkan baru sebanyak itu. Nantinya akan kita seleksi lagi. Karena dari penelitian yang dilakukan pakar batik, motif batik dari Solo sangat kaya, yakni ada 6.000 lebih motif batik yang berasal dari Keraton Surakarta," papar Zaenal. Zaenal mengakui, untuk mendeskripsikan satu per satu motif batik yang akan dipatenkan itu, pihaknya cukup mengalami kesulitan. Untuk itu Zaenal meminta bantuan Keraton Surakarta untuk membantu mendeskripsikan motif tersebut. "Kendalanya memang pada deskripsi motif ini sehingga pengajuannya ke Departemen Kehakiman tertunda-tunda. Kita benar-benar teliti jangan sampai misalnya motif yang kita patenkan ternyata sama dengan motif batik Cirebon atau daerah lain," ungkapnya. Langkah Pemerintah Kota Solo ini semata-mata dimaksudkan untuk melindungi motif batik Solo dari tindakan orang asing yang melakukan penjiplakan dan kemudian mendaftarkan hak patennya. Anas Syahirul - Tempo Pasak Bumi dipatenkan Malaysia Numpang lewat. Rekans, - Beberapa hari yang lalu, saya ketemu teman yang aktif mendalami tanaman obat. Namanya Evrizal Amzu, yang juga ada di milis ini. Dia bilang , dia sedang prihatin, pasak bumi, yang banyak tumbuh di hutan Sumatera dan Kaliamntan sekarang ini sudah dipatenkan oleh Malaysaia. Sehingga kalau kita ingin menggunakan nama pasak bumi sebagai obat, harus membayar fee ke Malaysia. - Dia bersama dengan dosen UGM sedang mempunyai rencana besar menerbitkan buku tentang tanaman obat di Indonesia. Lebih prihatinnya lagi, banyak penerbit yang menolak untuk menerbitkan buku tersebut. Saat ini sedang diusahakan oleh Yayasan Wana Jaya (?). - Dalam keseharian dia sudah menerapkan hanya minum obat yang berasal tanaman obat alami tersebut dan juga sedang berjuang mempatenkan bbrp obat alami tersebut. - Sumber daya yang melimpah tersedia, orang yang mendalami sudah ada, ide besar sudah ada. Apanya sih yang kurang di kita, untuk membuat kita bisa memproklamirkan diri sebagai pusat dan sumber obat yang berasal dari tanaman obat, serta menjadi basis pendapatan masyarakat dan negara, seperti di China? - Apa kita hanya menunggu dan jadi penonton sampai laos, kencur, kunyit, jahe, dll diaku oleh negara lain? __._,_.___ Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar Saling percaya, Margoyudan maju bersama membangun bangsa. Untuk bergabung, ketik email kosong ditujukan ke : [EMAIL PROTECTED] Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Visit Your Group Discover Tips on healthy living and healthy eating on Yahoo! Groups. Everyday Wellness on Yahoo! Groups Find groups that will help you stay fit. All-Bran 10 Day Challenge Join the club and feel the benefits. . __,_._,___ Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
