Berita baik buat para blogger ...
http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/12/17202927/jurnalis.warga.belum.tentu.tak.profesional
*JAKARTA, SELASA *- Jangan pandang sebelah mata terhadap para jurnalis
warga yang saat ini mulai aktif berpartisipasi berbagi informasi melalui
berbagai bentuk media. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bidang
Multimedia, Priyambodo RH mengatakan, selama ini ada anggapan bahwa
jurnalis warga tidak profesional. Padahal, menurut dia, jurnalis warga
justru banyak dari kalangan profesional yang selama ini tak mempunyai
akses ke media.
"Satu hal yang harus kita sepakati bahwa jurnalisme itu adalah makna.
Dan jangan pernah berpikir bahwa jurnalis warga itu tidak profesional,
belum tentu. Contohnya, ada yang seorang dokter, geolog, dia kan
profesional. Pertama, karena tidak punya akses ke media dia bikin blog.
Kedua, bisa jadi karena kecewa dengan media. Dan ketiga, profesional
yang memakai gaya wartawan," ujar Priyambodo usai diskusi tentang
Jurnalisme Warga, di Jakarta, Selasa (12/8).
Hal terpenting yang harus dipegang oleh para jurnalis warga adalah
etika. Ketika memutuskan menjadi jurnalis online, maka harus memakai
etika jurnalistik. "Etikanya, jangan plagiat. Kemudian, jurnalis warga
lewat blog itu kan bisa jadi wartawan, editor, pemred juga, marketing
juga. Jadi harus hati-hati dalam menyebarkan berita. Jargon yang harus
dipahami jurnalis warga adalah "kata-kata dibalas dengan kata-kata".
Jangan sampai dituntut ke pengadilan, saya yakin akan susah dibanding
kalau kita balasnya dengan membuat blog tandingan," ujar wartawan senior
Antara itu.
Terkait semakin meleknya warga dengan media, satu terobosan yang mulai
dilakukan media mainstream adalah melakukan sinergi. Teknologi Web 2.0
dan 3.0 yang memungkinkan terjadinya interaksi, membuat proses sinergi
ini lebih mudah. Bagaimana media mengapresiasi keberadaan jurnalis warga
ini? "Idealnya memang diupah. Tapi ini perlu proses. Untuk
blogger-blogger, bisa bikin perusahaan, kenapa nggak. Sekarang sudah ada
kok yang berbisnis," kata Priyambodo.
http://cyberjournalism.wordpress.com/2008/08/15/dewan-pers-bahas-etika-jurnalisme-warga/
/“Mengapa di balik sosok kuat Superman ada Clark Kent yang berprofesi
sebagi jurnalis? Mengapa pula ada Peter Parker yang seorang fotografer
kreatif, namun kikuk, di sisi kehidupan lainnya ada sang pahlawan
bertopeng Spiderman?”/
Bisa jadi, Superman dan Spiderman adalah sosok pahlawan. Sedangkan,
Clark Kent dan Peter Parker “hanyalah” juru warta dan juru foto yang
berprofesi utama sebagai “sang pencatat sejarah”.
Dengan kata lain, Clark Kent dan Peter Parker selaku jurnalis bukanlah
pahlawan, namun “sekadar” pencatat sejarah. Tatkala mereka harus tampil
selaku invidu heroik, maka mereka pun harus menjadi “pahlawan bertopeng”.
Hal itu mempertegas bahwasanya:
/*“Wartawan bukanlah Pahlawan. Wartawan lebih tepat sebagai Sang
Pencatat Sejarah, yang dalam tugasnya seringkali mengabadikan kegiatan
dan sosok kepahlawanan.”*/
Sebagai profesi dalam /cyberjournalism/ (kewartawanan di dunia maya),
maka jurnalis sejatinya tetap “tak bertopeng”. Hal itu yang membedakan
dengan sebagian besar kalangan jurnalis warga yang sering kali tampil
bak “pahlawan bertopeng” dalam menuangkan karya-karyanya. Ada sejumlah
garis batas di antara keduanya. Namun, tak sedikit para jurnalis warga
yang benar-benar “tanpa topeng” lantaran mereka secara profesional
menuangkan gagasan layaknya jurnalis yang menyajikan fakta, data dan
nara sumber atas dasar kode perilaku dan kode etiknya.
Dalam kaitan mengamati “garis batas” tersebut, Dewan Pers -lembaga
independen yang dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun
1999 tentang Pers (UU Pers)- pada 12 Agustus 2008 membahas Etika
Jurnalisme Warga.
Dilatarbelakangi kenyataan bahwa di era media Internet dan teknologi
modern yang memungkinkan setiap orang secara praktis dapat menjalankan
fungsi sebagai jurnalis (wartawan/pewarta/reporter) dan mengelola media
sendiri, maka Dewan Pers menyelenggarakan acara tersebut.
Dengan hadirnya mailing list, website, blog, youtube, termasuk produk
telepon seluler (ponsel) kelas cerdas (smartphone) dan teknologi
sejenisnya, maka setiap individu juga dmungkinkan melakukan kegiatan 6M
alias Menengumpulkan, Memiliki, Mengolah, dan Menyebarkan informasi
layaknya tugas jurnalis di multimedia massa mainstream atau yang
terorganisir secara sistematis. Itulah yang digarisbawahi Dewan Pers
sebagai kecenderungan Citizen Journalism (CiJo) atau Jurnalisme Warga.
Dewan Pers menilai bahwa gejala jurnalisme warga bisa menimbulkan
persoalan tersendisi, mengingat pada umumnya warga yang menerapkan CiJo
memerankan diri selaku jurnalis, yang sebagian besar tidak (atau belum)
dibekali pengetahuan dan etika tentang jurnalisme (dunia kewartawanan),
sehingga berpotensi melahirkan informasi yang tidak berkualitas atau
merugikan pihak lain.
Dalam diskusi tersebut ada tiga pembicara, yakni:
1. Bambang Harimurti, Anggota Dewan Pers yang juga /Chief Executive
Officer (CEO)/ Tempo Media Grup, menyampaikan perspektifnya mengenai
jurnalisme warga,
2. Suryopratomo, /Corporate Advisor/ Media Group, yang mengetengahkan
topik “Citizen Journalism Sebuah Kenyataan”,
3. Priyambodo RH, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Bidang
Multimedia, Pengajar Cyberjournalism di Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS)
<http://www.lpds.or.id>, Cyberjournalist di ANTARA Multimedia Gateway,
dan Blogger di http://cyberjournalism.wordpress.com mengetengahkan
makalah “Sinergi Multimedia Massa dengan Blog”.
Tujuan Dewan Pers menyelenggarakan acara tersebut adalah:
-. Menyediakan forum wacana publik tentang munculnya fenomena jurnalisme
warga, dan memberikan pemahaman tentang relevansinya bagi kebebasan pers,
-. Mendefinisikan batas-batas dan definisi menyangkut jurnalisme warga,
-. Merumuskan sejumlah persoalan menyangkut etika praktik jurnalisme warga.
Dewan Pers melalui wakil ketuanya, Leo Sabam Batubara, mengemukakan
bahwa bersedia membuka wacana dengan kalangan jurnalis warga, pengelola
blog, dan pengguna Internet bermuatan isi pesan mengandung unsur-unsur
jurnalistik. (*)
Kliping Makalah//Paper/:
-. “Sinergi Multimedia Massa dengan Blog”
<http://cyberjournalism.files.wordpress.com/2008/08/sinergijurnalismeonline-warga1.pdf>
-. “Tatkala Multimedia Massa Kian Dekat ke Publiknya”
<http://cyberjournalism.files.wordpress.com/2008/08/wajah_cybermedia.pdf>.
Kliping Berita Terkait:
-. Kompas
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/12/17202927/jurnalis.warga.belum.tentu.tak.profesional>
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt