Rekans, Berikut komunikasi saya dengan Rekan Erwin (Hayati ITB) dan Pak Bambang Setyadji (dosen GD), beberapa hari sebelum tewasnya Sdr. Dwi Yanto, mahasiswa GD.
Ketika itu kami masih bicara ikhwal kekerasan di DPRD Sumut dan belum berbicara soal OS di GD (Dwi Yanto's death had not happened at that time). Mungkin baik untuk pertimbangan kita semua: Erwin:Sebulan yang lalu saya ketemu psycholog di KA Parahiyangan, dia menceritakan 60% mahasiswa itb punya masalah kejiwaan. Dalam hati saya bersyukur (sudah) bukan mahasiswa itb....:D Mohammad Andri Budiman: Fear, uncertainty, doubt? Bambang Setyadji: Tahun 2002 dulu pernah ada ceramah dari psikolog senior ... Dia bilang bahwa sebagian besar mahasiswa ITB memang punya kecenderungan masalah kejiwaan... dibandingkan mahasiswa Indonesia (yang seumur) pada umumnya... Dia contohkan bahwa dia pernah menemukan satu mahasiswa yang seperti bersenandung sambil berjalan sendiri... Setelah didekati, ternyata sedang menghafalkan rumus-2... Nah, menurut beliau, ini sudah satu tanda ada masalah kejiwaan... Saya pikir para psikolog ini ada benarnya. Jadi, perlu tes kejiwaan sebelum seseorang itu menjadi mahasiswa ITB dan ketika ybs. akan menjadi panitia atau swasta Ospek. Mengapa? Di antaranya karena kita ingin mengetahui mengapa para juara-juara kelas dan orang-orang yang termasuk pintar dan cerdas di sekolah menengah masing-masing tiba-tiba menjadi demikian brutal waktu meng-Ospek. Ada dua tipe kegilaan yang saya ingat, yaitu sbb. TIPE 1: SCHIZOPHRENIA Kalau di jalan kita ketemu ada orang bicara sendirian (padahal jelas dia tidak memakai bluetooth), maka orang itu disebut menderita schizophrenia. Subtipe-nya banyak, seperti paranoid (contoh: John Nash dalam "A Beautiful Mind" - dramatized, but still a true story), disorganized (contoh: orang yang distort in thinking, lack of spontaneous movement), dll. Kegilaan tipe ini kebanyakan tidak berbahaya -- kecuali "seseorang" di seputaran lampu merah Medan yang tanpa alasan apapun tiba-tiba sudah menendang kaca spion mobil saya ala bal chagi sambil terus ketawa-ketiwi. (Tentunya saya tidak membalas memberi kibon bal chagi ke dia, karena "siapa yang lebih gila daripada orang yang melawan orang gila", bukan?) TIPE 2: PSIKOPAT Bila ada orang yang melakukan suatu tindakan yang "politically/morally/logically incorrect" dan dia tidak merasa berdosa dengan itu dan malah merasa menemukan kebahagian dan kesenangan, maka dia dapat dikategorikan seorang psikopat. Contoh: beliau-beliau yang menerima gratifikasi sambil cengengesan di lobby-lobby hotel, sudah tahu itu uang haram E-e-eh dengan senang dan santai diembat juga. Contoh lain: mutilationist seperti Ryan. Lain lagi: Hannibal Lecter. Dengan demikian, jika mahasiswa angkatan atas (swasta) dan alumni (superswasta) yang melakukan kekerasan terhadap adik-adik kelasnya tanpa alasan yang bisa diterima akal sehat, dan justru tampak menikmati hal itu, maka mereka ini bisa dikategorikan sebagai para psikopat. Bedanya, bila terjadi kasus kriminal (seperti Ospek), pengindap schizophrenia tidak dapat dibawa ke muka pengadilan as they don't what they're doing, namun para psikopat bisa. Dan boleh jadi mereka perlu penjara maximum-security -- seperti Hannibal Lecter dalam "The Silence of the Lambs" yang terjaga demikian ketat pun tetap saja bisa lolos. Salam, Andri HMS93
