Berikut dua tanggapan sporadis mengenai Ospek dari Bapak Dr. Ir. Dradjat
Hoedajanto, M.Sc. (64 tahun) dosen senior SI-ITB, mantan aktivis HMS, mantan
Presiden Student Union di AIT, dan mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Indonesia
di Illinois).
Sebagai mantan aktivis organisasi kemahasiswaan dan dosen yang dekat dengan
mahasiswa yang juga pernah menelaah korelasi antara Ospek dengan kegiatan
akademis, tanggapan beliau tentu layak untuk direnungkan.

Semoga berkenan.

Salam,
Andri

---begins---

Kuya/i lain Ysh.

Email saya bukan mau bilang kaderisasi ga penting. Sebagai orang yg aktif
sejak HMS, jadi President Student Union di AIT, jadi Ketua Himpunan
Mahasiswa Indonesia di Illinois, dan sejak medio 80-an sampai sekarang masih
aktif jadi pengurus HAKI khususnya sekarang dibidang sertifikasi profesi,
saya ngerti banget manfaat dari "OS" atau apapun namanya, hanya saja saya
perhatikan, lately banyak kegiatan OS yang miss dari target. Banyak yg jadi
kegiatan gagah2an, utk menunjukkan bahwa "angkatan" muda ga semua setuju dg
angkatan tua.
Itu yg saya sedihkan. Berbagai cara sdh dikerjakan dalam batas legal, tapi
masih juga berkelit sana sini.
Bukti yg paling mudah utk saya adalah melihat IP mahasiswa selama ikut OS.
Jauh turun, kenapa, karena kecapean, OS jadi setahun. Sekarang ga tahu lagi
bgmn yg dikerjakan. Tapi pointnya, apa begini yg namanya kaderisasi?
Apa kaderisasi diidentikkan dengan recruitment para "template" yg cool abis,
dan dimanfaatkan sbg "template" yg "berguna" bagi rekan seangkatan yg
anggota himpunan utk mengamalkan teori "copy and paste"?

Kita bisa beda pendapat, dan dalam hal ini saya tdk sependapat dg apa yg
masih banyak terjadi di kampus.

Seperti juga saya ga sependapat dg kinerja LPJKN maupun LPJKD yg hanya
mengedepankan kemudahan dapat sertifikat agar bisa ikut lelang dg lancar dan
ontime. Prakteknya berdampak banyak asosiasi baru yg bisnis utamanya hanya
"jualan" sertifikat. Mau sertifikat Ahli Utama, hmm, gampang sedia saja 15 -
25 jt. How about that?

Itu inti dari apa yg saya sampaikan. Bangsa kita lagi punya masalah berat,
yaitu masalah moral. Dan itu tanggung jawab kita bersama. Baik terkait dg
korupsi langsung dan tidak langsung ataupun dalam bentuk lainnya. Nah
disinilah harusnya "OS" tadi bertarget. Rasanya yg sekarang masih belum,
masih mengedepankan "kegagahan" dan "keistimewaan" kelompok.

Di ITB juga jadi rame. Nanti saya foward komen dari Ibu Mega atas komen
saya. Mari coba kita renungkan, mau apa kita.

Mudah2an berkenan.
Wass.
Dradjat

---ends---


---begins---

Rekan Kuya/i Ysc.

Saya hanya ingin share, apa yg saya amati sebagai wali utk adik2 kita
tingkat 4.

Secara keseluruhan adik kuya/i kita dapat dikelompokkan dalam 2 bagian,
yaitu:
1) Top 15% (+-), mereka ini sangat rajin nilai baik, tepat waktu dan tanggap
lingkungan. Baik terkait kuliah, maupun kebutuhan masa depan mereka. No
complain
about them, bahkan membanggakan, dg IP biasanya di atas 3.3, ada beberapa yg
hampir 4. Mereka (sebagian?) juga dari pengamatan saya anggota HMS.
2) The rest of the class. Ini yg masalah. Mereka terlalu santai, kelabakan
kalau
sudah tingkat 4 karena baru sadar mau ngejar IP min 3.0. Macam2 yg mereka
kerjakan, antara lain upaya perbaikan nilai dg mengulang m. kuliah. Untung
masih
dibolehkan oleh sistem. Kalau saya ga setuju dg sistem perbaikan yg begini.
Ga
mendidik. Utk saya, semua record harus resmi tercatat dan ikut di rata2kan.

Nah yg saya amati, banyak (at least dari mahasiswa yg datang ke saya)
pengurus
HMS yg masuk kelompok ini. Ada beberapa yg sangat marginal, tingkat 4 hampir
habis IP dibawah 2.5. Gimana mungkin jadi minimum 3.0?

Masalahnya, katanya dia terlalu sibuk dg non kurikulernya ???

Masalahnya lagi, negara kita ini aneh. Keluar saja aturan bahwa utk diterima
jadi PNS, IP min harus 3.0. Ga perduli dari sekolah mana. Di sinilah ITB
kalah,
karena masih mencoba mempertahankan kalau nilai B itu ya harus begini
dstnya.
ITB tidak/belum mampu menembus tabir budaya lingkungan yg dijadikan rule of
thumb masyarakat bahwa IP 2.5 dari ITB itu baik dan mungkin lebih baik dari
IP
3.5 dari Universitas atau institut antah berantah.

Nah itu yg belum ada. Susah kan? Jaman saya melamar ke US dulu, mereka tahu
C
dari ITB lebih dihargai dari A institut lain. Lha yg di US saja bisa gitu,
kita
ga/belum bisa.

Kegiatan himpunan like it or not, terutama utk pengurus, tampaknya sangat
menguras waktu. Penghargaan masyarakat masih sangat kurang. Di US, lagi2,
setahu
saya BSc dengan nilai C sudah dihargai baik. Kalau dia Ketua Himpunan
Mahasiswa, hal itu dihargai lagi, karena menunjukkan leadership.

Jadi banyak "budaya" kita yg perlu dibenahi dan di tata. Harus kita mulai
sedikit demi sedikit, ya harus dimulai dari diri kita. Kalau OS ga
bermanfaat,
itu menurut saya perlu ditinjau. Ga perlu harus dibuang, tapi minimal harus
dirombak. Ikhlas ga yg jadi senior? Itu masalahnya.

Wass.
Dradjat

---ends---

Kirim email ke