Ini buat para oknum Swasta Barbar sewaktu Ospek. Mohon diterima sajalah yang di bawah ini baik-baik.
Ada ungkapan kami di Medan, "Muka beruk, cermin ditumbuk." Tidak mengerti? Begini, Bung, bila ada di antara Anda, oknum Swasta, yang dulu pernah melakukan aksi kriminal sewaktu Ospek (seperti memukul kuya tidak bersalah dengan gulungan koran tanpa alasan dan tujuan yang masuk akal, misalnya) berarti Anda memang betul-betul mempunyai masalah kejiwaan serius. Hal itu boleh jadi karena dulu Anda sering dimarahi dosen pembimbing TA karena memang "idiot" (and for some unknown reasons bisa diterima di ITB), pernah ditolak dengan sukses oleh cewek AR/PL/TL yang tiga angkatan di bawahAnda, kasus sarmud di tahun ketujuh Anda di ITB, atau semata-mata memang mempunyai alat vital kecil yang tentu saja kinerjanya tidak bisa dibanggakan (I'm sorry, I was trying to be more euphemistic but failed karena terus-terang-Phillips-terang-terus teriakan-teriakan Anda waktu Ospek jauh lebih memuakkan). Jadi, "beruk muka, cermin dibelah", kuya muda yang Anda siksa. Bravo! Hebat! Jangan khawatir, kalau masih mengaku "tidak bersalah", "tidak menyesal", dan "tetap akan mendukung Ospek model serupa" mungkin bisa Anda bisa mencoba jus jeruk campur arsenik kalau tidak kuat membayar psikiater. Tapi ya, sebelum kebodohan itu Anda lakukan, baca dululah artikel ini, siapa tahu Anda bisa benar-benar berubah menjadi "manusia." Salam, Andri HMS93 UKSU93 ---forwarded message begins--- Ubah Proyektor Pikiran supaya Jiwa Sehat Sering kali tanpa sadar, kita berbuat hal yang merupakan proyeksi dari yang ada di pikiran sendiri, maka tidak heran kita akan menganggap orang lain berkelakuan buruk, padahal kita sendiri yang tidak mampu melihat kekurangan diri, kita melihat orang lain lebih bodoh, padahal kita sendiri yang kurang pengetahuan. Pepatah mengatakan "kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan" Kesalahan, keburukan dan kebodohan orang lain menjadi hal yang sangat besar di mata kita, padahal keburukan, kesalahan, dan kebodohan kita sendiri ternyata lebih besar dari apa yang kita tuduhkan kepada orang lain. Mengapa pula kita mampu berpikir orang lain lebih negatif daripada kita sendiri, para ahli jiwa meneliti dan mendapat kesimpulan bahwa dalam pribadi seseorang sangat dipengaruhi oleh dorongan-dorongan mendasar, dan di antaranya adalah dorongan ingin berkuasa untuk pembentukan sebuah harga diri seseorang. Jika dorongan ambisi ingin berkuasa dalam bentuk apa pun selalu tertekan atau terpendam, maka jiwa akan berkompromi untuk membentuk suatu cara sebagai kompensasinya, yaitu berekspresi untuk menutup kekurangan diri sendiri, sering melancarkan manipulasi emosi orang di sekelilingnya. Di sinilah kita mendapat kenyataan, banyak orang yang mempunyai kebiasaan mencemooh kekurangan orang lain, menepuk dada seolah dirinyalah yang paling hebat, padahal itu bentuk kekurangan yang diproyeksikan keluar. Bagi orang yang selalu berpikir negatif dan tidak bisa berpikir realistis atau berakal sehat, maka perasaan rendah diri yang sudah terbentuk akan semakin berat menekan harga dirinya, jika perasaan rendah diri ini terus menerus tidak mendapat saluran, akan menimbulkan rasa jengkel, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Akibatnya, lahirlah sikap iri hati, dengki, dan yang paling berbahaya suka menjadi orang yang sombong untuk menutupi kekurangannya dia bisa bertindak sok tahu, sok berani, sok ngatur, sok ngebos, sok jagoan, dan sebagainya. Hal ini juga akan menimbulkan juga kebencian dari lingkungannya sendiri. Sebab, biasanya orang yang dihinggapi perasaan rendah diri sering menjengkelkan bagi lingkungannya sendiri baik keluarga, teman, atau masyarakat pada umumnya. Ubah Proyektor Pepatah berkata "buruk muka, cermin dibelah", makna yang terkandung adalah, kita sering lupa pada keadaan sendiri, tapi senang menyalahkan orang lain. Kreativitas pikiran yang tertekan, bisa berakibatkan memunculkan sikap agresif. Manusia dari alamnya bersifat kreatif, maka jika kreatifnya di tekan dengan ego yang kuat, energi yang keluar akan mencari jalan yang destruktif, di mana inherent power, yaitu kekuatan dari manusia itu bisa memberikan proyeksi keadaan dirinya sendiri. Hati-hati dengan unsur kreativitas di pikiran kita, sering kita terkurung dalam alam pikiran sendiri, seolah menciptakan naskah skenario versi diri sendiri, dan terproyeksi keluar menjadi sikap- sikap agresif. Sikap agresif sangat bagus jika dalam konteks positif, tetapi sangat merugikan diri sendiri jika dilaksanakan dalam konteks negatif, sikap menyerang, mencaci dan mencemooh akan membalik jadi bumerang untuk citra diri sendiri. Sangat penting untuk mengubah kerja proyektor dalam diri kita, supaya proyeksi yang keluar mendukung untuk membangun citra diri agar positif, maka jangan bandingkan dengan apa yang orang lain sudah perbuat atau alami. Silakan tiru hal positif yang dia buat, tetapi jaga pikiran kita untuk tidak masuk dalam pikiran yang membanding-bandingkan, di mana jika kedapatan kita selalu kalah bersaing dalam bangunan citra diri dengannya, hal ini hanya akan menimbulkan cemoohan pada batin sendiri. Jika ditekan sedemikian rupa, proyeksi yang keluar adalah apa yang menjadi kekurangan atau kebodohan kita. Di sinilah penting sekali kita mengukur segalanya menurut tongkat yang realistis. Sebelumnya, buat tujuan yang bisa terjangkau, tujuan yang tidak realistis biasanya hanya menimbulkan kemarahan pada diri sendiri. Kita harus 'tahu diri' untuk mau becermin pada apa yang kita punya, yang kita alami, bukan berusaha menjadi orang dalam khayalan. Jika kita memang tidak mampu bersaing dengan orang yang membuat kita jengkel, karena dia memang lebih menarik, lebih pintar, lebih ramah, sementara kita selalu bersikap arogan, senang mencemooh. Sebab itu, kita harus sadar untuk menerima kenyataan yang ada pada diri sendiri. Komunikasi itu 'kendaraan' untuk bisa kerjasama. Dalam masyarakat proses pelajaran berarah belajar berkomunikasi, untuk sukses kita harus mengubah proyektor dalam diri sendiri, yaitu respek dengan diri sendiri dan kepada yang lain berarti; (1) Respek dengan lingkungan, (2) Respek dengan privacy pribadi orang lain, kebutuhan mereka pribadi dengan ruang fisik dan milik, (3) respek dengan berbagai pandangan, filsafat, kepercayaan orang, sekte, gaya hidup, etnik dan budaya, keyakinan dan kepribadian. 4) Resep dari kemungkinan dari fisik (seperti cacat) Tidak adanya respek, maka yang terjadi interaksi menuju ke konflik dan permusuhan. Jika kita tidak mau mengubah proyektor yang sudah berjalan dengan salah, maka jangan bingung jika proyeksi jiwa kita tidak pernah 'sehat', karena kita hidup dalam alam hayalan. Ilusi tentang seseorang yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri, kesan 'menggila' akan keluar dan terlihat oleh umum, tentu saja jika hal ini terjadi, citra diri kita hancur dengan ulah sendiri. Merubah mesin proyektor yang menghasilkan proyeksi diri, perlu sikap fleksibilitas berarti mempunyai kekuatan untuk menyesuaikan perubahan situasi dan menerimanya, dan juga menerima pendapat, tentang diri sendiri. Berubah termasuk di dalamnya, dan cara lain mengenal diri sendiri, kekuatan, dan kelemahan kita. Dari kekuatan yang kita punya jalankan untuk menolong kelemahan kita, dan belajar mengaku kelemahan dan bersiap dengan akibatnya. Itu cara belajar untuk menjadi jiwa fleksibel. Sumber: Ubah Proyektor Pikiran supaya Jiwa Sehat oleh Lianny Hendranata ---forwarded message ends---
