2009/2/16 Ismail Al Anshori <[email protected]>:
> Perbedaan persepsi ini yang harus diselesaikan dulu. Karena ITB adalah sebuah 
> komunitas, menurut saya, solusi yang paling baik adalah duduk bersama antara 
> mahasiswa dan
> rektorat (atau alumni juga boleh kalau mau ikut nimbrung). Berdiskusi
> dengan pikiran dan hati yang terbuka, tinggalkan ego dan sikap arogansi
> masing-masing. Dan, karena institusi pendidikan, maka setiap
> pendapat hendaknya mengikuti kaidah ilmiah, bukan debat kusir yang
> tidak mau mendengarkan orang lain. Rektor maunya gimana, mahasiswa
> maunya gimana.

Rekan Ismail, dkk. yth.,

Saya melihat, dulu dan sekarang, masalah utama dalam Ospek kita adalah
komunikasi. Bagaimana "breaking the ice", bersimpati, berempati, duduk
sama rendah, berdiri sama tinggi antara "Trias Politica" kampus:
rektorat, mahasiswa (lama dan baru), dan alumni. (Stake/shareholders
lain: masyarakat, terutama orang tua mahasiswa, are actually heard,
but not listened to).

Bila ego, ketuaan, kepintaran, "keduluan ada di ITB", keberjasaan,
kedermawanan (menyumbang sepuluh juta perak lebih banyak ke ITB),
kepakaran, sikap "holier-than-thou", masih dikedepankan masing-masing
pihak dengan menampilkan diri lebih penting dari yang lainnya, dengan
nama wahid "independensi" -- kondisi untuk mengubah Ospek (and any
other intra/extracurricula, so to speak) menjadi sesuatu yang
betul-betul bermanfaat akan menjadi sulit. Apalagi, maaf, di era
'90-an, manfaat memang lebih terasa bagi senioren, puas berteriak dan
memukul, yang mungkin adalah sebentuk kompensasi atas "kegagalan" di
bidang lainnya.

Bila satu pihak dari "Trias Politica Campus" tadi menawarkan solusi,
pihak lain akan resistens, dan mengatakan, itu kan versi Anda, kami
lebih tahu. Situasi ini mirip dengan debat antar partai politik di TV,
yang sekalipun ada moderator, nyaris tak ada solusi, malah masalahnya
semakin divergen, dan sinisme publik pun bertambah (yang "ditutupi"
oleh tepuk tangan setelah acara, seolah-olah pemirsa "puas").
Terbukti, bila ada survei di koran dengan pertanyaan "Apakah Anda
percaya bahwa ..." maka mayoritas responden akan bersuara negatif.

The fact is, no man is an island. And another fact is, there is a kind
of leadership where opinions are freely spoken to generate
(brainstorm) ideas. Colin Powell, umpamanya, memang "sengaja"
mengembangkan paradigma yang mentoleransi "para pembangkang" untuk
dapat dengan bebas (dan sopan) mengatakan kepada maharaja (Powell
himself) kalau ia (Powell) tidak mengenakan pakaian.

Powell menyatakan bahwa di dalam organisasi yang mapan, akan ada
orang-orang yang mengatakan, we know what we're doing and you guys
just cannot piss us off. Ini disebut inersia institusional:
kecenderungan untuk tetap berada dalam status quo (Harari 2003).

ITB adalah organisasi yang mapan itu. Dengan demikian, inersia dari
entitas -entitas yang ada di ITB akan sangat tinggi. Sangat
disayangkan apabila inersia bertransformasi menjadi sikap keras kepala
masing-masing entitas, dan keras kepala berubah menjadi arogansi. Dan
ketika timbul korban, semua berucap, "Itu salah kalian!" Bagaimana
bisa dibilang salah pihak lain, kalau memang tidak pernah ada kata
sepakat para stakeholders dalam Ospek?

Tadi kita berbicara soal Colin Powell. Dia militer, left-brain
oriented, should've been process-oriented rather than people oriented,
namun tahu betul bahwa rencana, senjata, dan peta tidak menyelesaikan
pekerjaan. Manusialah yang menyelesaikan semua pekerjaan itu.

Kita mungkin tidak sependapat dengan politik Powell sewaktu menjadi US
Secretary of State era  G. W. Bush, maupun sebagai Kepala Staf
Gabungan Militer AS. Namun ada yang kita patut untuk belajar darinya,
yakni menciptakan komunikasi yang membangun optimisme sehingga
tercipta "trust" antara entitas yang berbeda bahwa "kita sama-sama
bekerja untuk suatu tujuan yang kita sepakati dan kita menerima
tanggung jawab untuk itu." Dan itu termasuk berani dengan sopan
mengatakan kepada pimpinan, "Pak, sepertinya Anda tidak mengenakan
pakaian sama sekali."

Dan tentu saja, yang lebih sulit lagi adalah mengakui bahwa kita pun
tidak sedang memakai pakaian.

Salam,
Andri
HMS93

-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke