Mengingat ospek memang mempunyai kenangan tersendiri. Kalau sekarang ada konotasi negatif mungkin perlu juga meninjau kembali metodologinya supaya lebih aman tanpa mengurangi tujuannya. BTW kalau memang ada penelitiannya kok gak disebarin aja hasilnya? wass
--- On Fri, 2/20/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> Subject: [indonesia] Dugaan Saya Salah, Ospek Itu Perlu! To: [email protected] Date: Friday, February 20, 2009, 9:20 AM Rekan-rekan, Mohon maaf sebelumnya, dugaan saya yang cenderung negatif tentang Ospek dua minggu yang lalu ternyata salah besar. Menurut salah satu senior saya di Sipil yang saya kutip di bawah ini, Ospek ternyata telah diteliti secara empiris (baca: bukan teoretis mengambang yang tidak beraplikasi) manfaatnya bagi stakeholders terdekat (baca: "Trias Politica" ITB: mahasiswa, alumni, dan rektorat) khususnya, dan masyarakat Indonesia secara luas, pada umumnya. Dengan demikian, Ospek is definitely our way of life. Mari kita lestarikan! Berikut hasil observasi rekan saya tersebut... terima kasih, Bang, sudah membangunkan saya! ---begins--- OS atau kaderisasi itu perlu sekali untuk membentuk jati diri bangsa, agar generasi muda mampu beradaptasi mandiri dengan segala tantangan zaman, sejahtera maupun dikala derita. Kegiatan dengan ekses negatif dan selalu disorot orang sebetulnya hanya sebagian kecil dari banyaknya kegiatan positif lain. Kegiatan membangun rasa persaudaraan dan toleransi, mengedepankan kinerja dan pencapaian, dan membangun hubungan baik dengan dunia luar kampus banyak sekali tersedia. Tanpa OS, yang telah berlangsung puluhan tahun, tidak mungkin bangsa kita sekarang berada di posisi terhormat dunia, dari sisi moral, etika, teknologi dan pencapaian luhur kemanusiaan, dan menjadi contoh dunia sebagai bangsa dengan angka kemiskinan terendah, berteknologi tinggi, bebas korupsi, menjunjung tinggi kesetaraan ras, suku, agama, dan jender, dan menjadi tonggak nyata bagi peradaban yang penuh perdamaian. ..kemudian tercium bau makanan. Dengan lembut pramugari membangunkan saya. "Bapak mau makan apa…??" ---ends--- :-) Salam, Andri 2009/2/17 Mohammad Andri Budiman <[email protected]>: > Saya melihat, dulu dan sekarang, masalah utama dalam Ospek ITB adalah > komunikasi. Bagaimana "breaking the ice", bersimpati, berempati, duduk > sama rendah, berdiri sama tinggi antara "Trias Politica" kampus: > rektorat, mahasiswa (lama dan baru), dan alumni. (Stake/shareholders > lain: masyarakat, terutama orang tua mahasiswa, are actually heard, > but sadly, not listened to). > > Bila ego, ketuaan, kepintaran, "keduluan ada di ITB", keberjasaan, > kedermawanan (menyumbang sepuluh juta perak lebih banyak ke ITB), > kepakaran, sikap "holier-than-thou", masih dikedepankan masing-masing > pihak dengan menampilkan diri lebih penting dari yang lainnya -- dengan > nama wahid "independensi", pihak lain jangan ikut campur -- > maka kondisi untuk mengubah Ospek (and any other intra/extracurricula, > so to speak) menjadi sesuatu yang betul-betul bermanfaat akan menjadi sulit. > Apalagi, maaf, di era '90-an, manfaat memang lebih terasa bagi senioren, > puas berteriak dan memukul, yang mungkin adalah sebentuk > kompensasi atas "kegagalan" di bidang lainnya. > > Bila satu pihak dari "Trias Politica Campus" tadi menawarkan solusi, > pihak lain akan resistens, dan mengatakan, itu kan versi Anda, kami > lebih tahu. Situasi ini mirip dengan debat antar partai politik di TV, > yang sekalipun ada moderator, nyaris tak ada solusi, malah masalahnya > semakin divergen, dan sinisme publik pun bertambah (yang "ditutupi" > oleh tepuk tangan setelah acara, seolah-olah pemirsa "puas"). > Terbukti, bila ada survei di koran dengan pertanyaan "Apakah Anda > percaya bahwa ..." maka mayoritas responden akan bersuara negatif. > > The fact is, no man is an island. And another fact is, there is a kind > of leadership where opinions are freely spoken to generate > (brainstorm) ideas. Colin Powell, umpamanya, memang "sengaja" > mengembangkan paradigma yang mentoleransi "para pembangkang" untuk > dapat dengan bebas (dan sopan) mengatakan kepada maharaja (Powell > himself) kalau ia (Powell) tidak mengenakan pakaian. > > Powell menyatakan bahwa di dalam organisasi yang mapan, akan ada > orang-orang yang mengatakan, we know what we're doing and you guys > just cannot piss us off. Ini disebut inersia institusional: > kecenderungan untuk tetap berada dalam status quo (Harari 2003). > > ITB adalah organisasi yang mapan itu. Dengan demikian, inersia dari > entitas -entitas yang ada di ITB akan sangat tinggi. Sangat > disayangkan apabila inersia bertransformasi menjadi sikap keras kepala > masing-masing entitas, dan keras kepala berubah menjadi arogansi. Dan > ketika timbul korban, semua berucap, "Itu salah kalian!" Bagaimana > bisa dibilang salah pihak lain, kalau memang tidak pernah ada kata > sepakat para stakeholders dalam Ospek? > > Tadi kita berbicara soal Colin Powell. Dia militer, left-brain > oriented, should've been process-oriented rather than people oriented, > namun tahu betul bahwa rencana, senjata, dan peta tidak menyelesaikan > pekerjaan. Manusialah yang menyelesaikan semua pekerjaan itu. > > Kita mungkin tidak sependapat dengan politik Powell sewaktu menjadi US > Secretary of State era G. W. Bush, maupun sebagai Kepala Staf > Gabungan Militer AS. Namun ada yang kita patut untuk belajar darinya, > yakni menciptakan komunikasi yang membangun optimisme sehingga > tercipta "trust" antara entitas yang berbeda bahwa "kita sama-sama > bekerja untuk suatu tujuan yang kita sepakati dan kita menerima > tanggung jawab untuk itu." Dan itu termasuk berani dengan sopan > mengatakan kepada pimpinan, "Pak, sepertinya Anda tidak mengenakan > pakaian sama sekali." > > Dan tentu saja, yang lebih sulit lagi adalah mengakui bahwa kita pun > tidak sedang memakai pakaian. > > Salam, > Andri > SI/HMS/UKSU ITB'93 > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
