Assalaumu'alaikum wr. wb.,

Semoga terusan berikut bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,
Andri

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: uya yudhie <[email protected]>
Date: Wed, 9 Dec 2009 22:28:06 
To: kpii australia<[email protected]>; pengajian 
pengajian<[email protected]>; pengajian 
akhwat<[email protected]>; Pengajian 
Usyd<[email protected]>; cahaya 
Islam<[email protected]>; iqro' 
found.<[email protected]>
Subject: [Cahaya Islam] Hindari Debat, Berbahasalah Yang Bijak

BismiLlaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu'alaikum wr wb

Sharing dari HidayatuLlah, semoga Allah memudahkan kita semua menjaga lisan, 
memiliki akhlak yang baik. aamiin

wassalam
-uya'-



                        Hindari Debat, Berbahasalah Yang Bijak  




        
                        
                        Friday, 13 November 2009 07:25          
                
                
                

                
                                                                
                        
                        
                                                
        
        




"Yang paling dibenci Nabi dan paling jauh jaraknya dari beliau pada hari Kiamat 
adalah para penceloteh yang banyak bicara."



Hidayatullah.com—Salah satu tontonan terbanyak di TV kita saat ini selain 
ghibah (gossip, red) adalah berdebat. Anggota DPR berdebat dengan LSM, Polisi 
berdebat dengan pengacara, dan beberapa pihal lain.

Akibat
berdebat, baru-baru ini seorang pengacara ternama hampir saja berduel.
Gara-gara berdebat pula, tahun 2003, Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Jacob Nuwa Wea “menyerang” dan memukul kepala koordinator
ICW Danang Widyoko di sebuah acara Today's Dialog di Metro TV. Tak hanya 
memukul, sang menteri  juga dinilai menghina Danang dengan kata-kata.

Islam mengenal istilah jidal.
Para ulama menafsirkannya dengan perdebatan dalam hal-hal yang tidak
berguna atau tidak bermanfaat. Jidal adalah termasuk dalam perdebatan
yang dilarang adalah semua perdebatan yang menyebabkan kegaduhan,
mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. Sementara 
perdebatan yang baik dan masih diperbolehkan adalah perdebatan untuk
menjelaskan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah
saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang
paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan 
Muslim [2668]). 

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah
saw .bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk
kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw.
membacakan ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu
melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum
yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu 
Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448]).

Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, dalam sebuah hadist lain, ia berkata, 
“Aku
duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah
kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah
saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas
ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” [HR Ahmad]

Kerap
dijumpai di tengah masyarakat, peristiwa  yang berakhir saling bunuh
atau saling membinasakan.  Jika ditelisik lebih jauh, kejadian tersebut
bermula dari cekcok dan salah paham. Ini menjadi indikasi bahwa lidah
memiliki bahaya besar bila tak dijaga.

Berikut beberapa adab
terkait dengan urusan lidah atau bercakap.Islam adalah agama yang
sangat rapi mengatur umatnya. Terhadap hal-hal sekecil apapun, Allah
SWT sudah mengatur. Dalam Islam, berbicara, berbahasa dan
bercakap-cakap harus punya adab dan sopan-santun nya. Di bawah ini
adalah adab-adab berbicara dalam Islam yang harus menjadi pegangan kita.

Adab Bercakap

1. Ucapan Bermanfaat

Dalam
kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap
dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau memilih diam.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda, "Barang siapa mengaku 
beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau 
memilih diam." (Riwayat al-Bukhari).

2. Bernilai Sedekah

"Setiap
tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya,
memberikan boncengan kepada orang lain di atas kendaraannya, membantu
mengangkatkan barang orang lain ke atas tunggangannya, atau sepotong
kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun." (Riwayat al-Bukhari).

3. Menjauhi Pembicaraan Sia-Sia

Sebaiknya menghindari pembicaraan berujung kepada kesia-siaan dan dosa semata. 
"Sesungguhnya
orang yang paling aku benci dan paling jauh jaraknya dariku pada hari
Kiamat adalah para penceloteh lagi banyak bicara." (Riwayat at-Tirmidzi) .

4. Tidak Terperangkap Ghibah

"…Dan
janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.
Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (al-Hujurat [49]: 12).

5. Tidak Mengadu Domba

Hudzaifah Radhiyallahu anhu (RA) meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah SAW 
bersabda, "Tak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (Riwayat 
al-Bukhari dan Muslim).

6. Tidak Berbohong

"Sesungguhnya
kejujuran itu mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu akan berujung
kepada surga. Dan orang yang senantiasa berbuat jujur niscaya tercatat
sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu mendatangkan
kejelekan, dan kejelekan itu hanya berujung kepada neraka. Dan orang
yang suka berbohong niscaya tercatat di sisi Allah sebagai seorang
pendusta." (Riwayat al-Bukhari).

7. Menghindari Perdebatan

Sedapat
mungkin menjauhi perdebatan dengan lawan bicara. Meskipun boleh jadi
kita berada di pihak yang benar. Sebab Rasulullah SAW telah menjamin
sebuah istana di surga bagi mereka yang mampu menahan diri. "Aku menjamin 
sebuah istana di halaman surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan 
meskipun ia berhak untuk itu." (Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani).

8. Tak Memotong Pembicaraan

Suatu
hari seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW, ia langsung
memotong pembicaraan beliau dan bertanya tentang hari Kiamat. Namun
Rasulullah tetap melanjutkan hingga selesai pembicaraannya. Setelah itu
baru beliau mencari si penanya tadi. (Riwayat al-Bukhari)

9. Hindari Mengolok dan Memanggil dengan Gelar yang buruk

"Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang
lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) itu lebih baik
dari mereka (yang mengolok-olok) . Dan jangan pula perempuan-perempuan
(mengolok-olok) perempuan yang lain. Karena boleh jadi perempuan (yang
diperolok-olok) itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok) itu.
Janganlah kamu saling mencela satu sama lain. Dan janganlah kamu saling
memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang
tak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (al-Hujurat [49]: 11).

10. Menjaga Rahasia

"Tiadalah seorang Muslim menutupi rahasia saudaranya di dunia kecuali Allah 
menutupi (pula) rahasianya pada hari Kiamat." (Riwayat Muslim).  
[Sahid/www.hidayatullah.com]

Kirim email ke