Semoga terusan berikut bermanfaat.

Wassalam,
Andri

Source: http://dhammacitta.org/perpustakaan/ember-bocor-yang-merasa-sedih/

--begins--
Ember Bocor yang Merasa Sedih

oleh: Willy Yanto Wijaya

Udara dingin pegunungan menyusup di sela deraian daun. Kemilau jingga keemasan 
mentari senja tampak memantul berganti-gantian di permukaan air yang beriak 
dalam dua ember yang dipikul seorang petani. Sebuah rutinitas yang tampaknya 
dijalani dengan keriangan hati.

Dalam hempasan nafas lelah yang panjang, tersirat binar kepuasan dalam raut 
wajah sang petani pembawa ember air tersebut. Akan tetapi, suatu kala terjadi 
sesuatu di antara dua ember yang dipikul petani tersebut. Salah satu ember 
berujar kepada ember yang lain, “Hei, cobalah lihat dirimu ember bocor, 
bercerminlah. Sadarkah engkau setiap hari membuang setengah dari air yang 
terisi penuh?” Ember bocor kaget dan menyadari ada sebuah lubang halus pada 
dirinya. Sepanjang perjalanan, air yang dibawanya perlahan menetes keluar dan 
tersisa setengahnya ketika sampai di tujuan.

Kesedihan mulai mengaduk-aduk perasaan ember bocor. Ia mulai merasa dirinya 
ember yang tidak berguna. Ia tidak dapat memberikan yang terbaik kepada sang 
petani. Setiap hari ia hanya merasa menjadi beban, merugikan petani setengah 
dari kapasitas yang mestinya bisa ia bawa. Hari demi hari, batin ember bocor 
terasa semakin hampa dan tersiksa.

Suatu hari, petani menyadari ember bocor yang sedang menangis. Petani 
menanyakan alasan mengapa ember bocor merasa sedih. Setelah memahami semuanya, 
petani tersenyum sambil memandang hamparan langit biru kemudian berujar, 
“Tahukah engkau kenapa aku bahagia memilikimu? Meskipun sepanjang perjalanan 
engkau meneteskan separuh air yang dibawa…”

Ember bocor terperanjat dan bergumam, “Ke-ke-kenapa??” Petani melanjutkan, 
“Lihatlah hamparan jalan yang kita lalui setiap hari. Salah satu sisi jalan 
ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah bukan? Tahukah engkau bunga-bunga itu 
tumbuh karena tetesan air yang jatuh darimu? Karena ‘ketidaksempurnaan’ yang 
engkau milikilah, bunga-bunga indah tersebut tumbuh berkembang.”

Suatu perasaan ringan spontan menggelora dalam diri ember bocor. Ya, dalam 
segenap kekurangan dan keburukan, ternyata masih ada keindahan yang dapat 
tumbuh. Keindahan yang mengalir bersama kuntum-kuntum bunga yang tersenyum.
--ends--
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Kirim email ke