Kalau ente salah makan...
Ane sudah sedia obat...

Kalau ente salah telan...
Ane sudah dokter...

Kalau lalu ente jadi pingsan...
Ane siap beli...

2010/1/19 S Rahardjo <[email protected]>

>
> Artikel menarik dari Dahlan Iskan yg saat ini sudah menjadi Dirut PLN dari
> milist tetangga. SR
>
> http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828
> <http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828>
> http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940
> <http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940>
>
>
> [ Selasa, 17 November 2009 ]
> Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (1)
> Cari Payung yang Berhemat Rp 10 Triliun Per Tahun
>
> DIREKTUR utama PLN harus melakukan ini.
> Terutama kalau semua orang menghendaki kelistrikan Indonesia
> bisa baik.
> Tapi, semua direktur utama PLN, baik yang lalu, yang sekarang,
> maupun yang akan datang tidak akan bisa melakukan ini.
>
> Bayangkan.
> PLN memiliki banyak sekali pembangkit listrik raksasa yang
> mestinya dijalankan dengan gas, kini harus diberi makan solar.
> PLTG "salah makan" ini meliputi sekitar 5.000 MW!
> Yang 740 MW dua buah ada di dekat Jakarta.
> Yang 1.000 MW ada di Gresik.
> Yang 750 MW ada di Pasuruan.
> Dan di beberapa tempat lagi di Jawa ini.
>
> PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) itu tentu didesain untuk
> diberi "makan" gas.
> Namun, PLN tidak bisa mendapatkan gas.
> Bukankah negeri ini punya banyak gas?
> Juga dikenal sebagai pengekspor gas?
> Ya. Itu benar.
> Tapi, untuk PLN terlalu banyak persoalannya.
> Kalau saya uraikan di sini bisa menghabiskan seluruh halaman
> surat kabar ini.
>
> Yang jelas, akibat tidak bisa mendapatkan gas,
> PLTG-PLTG tersebut diberi makan solar.
> Memang desain mesinnya memungkinkan untuk itu,
> meski kapasitasnya berkurang sampai 15 persen.
> Maka PLTG itu sudah sepantasnya kini disebut PLTS
> (Pembangkit Listrik Tenaga Solar).
>
> PLTG "salah makan" inilah salah satu penyebab utama kesulitan
> PLN dan sekaligus kesulitan menteri keuangan.
> PLTG "salah makan" inilah yang menjadi salah satu penyebab
> direksi PLN beserta seluruh staf dan karyawannya telah menjadi
> bangsa pengemis.
> Tiap bulan PLN harus mengemis ke menteri keuangan untuk bisa
> mendapatkan subsidi.
> Pada 2008 saja, subsidi itu mencapai Rp 60 triliun setahun.
> Baca: Rp 60.000.000.000.000.
>
> Mengapa?
>
> Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas, biaya produksi listriknya
> bisa lebih murah.
> Tinggal hampir separonya.
> Harga gas kini sekitar USD 7 dolar/ton ekuivalen.
> Padahal, harga solar USD 16 dolar/ton ekuivalen.
>
> Solar itulah "makanan" PLTG yang harganya lebih mahal,
> tapi rasanya lebih pahit.
> Kapasitas PLTG-nya turun 15 persen.
> Dengan menggunakan solar itu, asapnya begitu hitam.
> Kalau saja Anda melewati tol dari Bandara Cengkareng ke arah
> Tanjung Priok (Jakarta), menengoklah ke utara.
> Anda akan melihat di arah pantai dekat Ancol sana banyak
> cerobong yang mengeluarkan asap hitam.
> Itulah bukti nyata kasus PLTG "salah makan".
> Cerobong yang mengeluarkan asap hitam itu pertanda PLTG
> tersebut lagi diberi makanan yang salah dan karena itu kentutnya
> yang mestinya tidak kelihatan menjadi jelas berwarna hitam.
>
> Kalau saja 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut diberi makanan
> yang benar, PLN akan menghemat sedikitnya Rp 10 triliun.
> Itu per tahun!
> Pasti menteri keuangan yang cantik itu akan kelihatan semakin
> cantik karena mulai bisa tersenyum.
> Sang menteri barangkali selama ini kesal juga karena setiap bulan
> harus melayani pengemis subsidi dengan nilai yang begitu
> menggemaskan.
>
> Ada lagi yang lebih menggemaskan.
> Sebagai orang swasta yang kalau melakukan investasi
> menggunakan 10 kalkulator (agar bisa berhemat),
> saya sangat gemas akan keputusan investasi seperti itu di
> masa lalu.
> Untuk investasi 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut,
> menurut perkiraan saya, telah menghabiskan uang sekitar
> Rp 100 triliun.
> Mayoritas dilakukan waktu Orde Baru.
>
> Anehnya, masih juga diizinkan pembangunan PLTG baru
> 740 MW di dekat Jakarta.
> PLTG ini memang milik swasta.
> Tidak memberatkan keuangan PLN.
> Tapi, ketika mulai membangun dulu, si swasta minta jaminan
> pemerintah bahwa pemerintah pasti bisa memberikan gas
> kepadanya.
>
> PLTG baru itu akhirnya selesai dibangun.
> Masih gres.
> Baru sekitar dua bulan lalu selesai dan mulai beroperasi.
> PLTG ini memerlukan gas kira-kira 230 MMBTU
> (Million Metric British Thermal Unit).
> Seperti sudah bisa diduga, pemerintah tidak bisa menyediakan gas
> dari sumber yang baru untuk memenuhi janjinya itu.
>
> Akibatnya, sangat parah.
> Baik secara fisik maupun secara akal sehat.
> Pemerintah dengan mudah memutuskan mengalihkan gas yang
> selama ini untuk jatah PLTG milik PLN ke PLTG baru milik
> swasta itu.
> Agar janjinya kepada swasta asing terpenuhi.
> Saya tidak sampai hati menuliskan akibat fisik yang ditimbulkan
> oleh kebijaksanaan ini.
>
> Lalu, bagaimana bisa mengatasi persoalan PLTG
> "salah makan" ini?
> Mengapa membangun PLTG kalau sudah tahu tidak akan bisa
> mendapatkan gas?
> Mengapa membangun PLTG kalau setelah dijalankan
> mengakibatkan PLN/negara harus menderita kerugian
> Rp 10 triliun/tahun?
>
> Dirut PLN harus mengubah itu semua.
> Tapi, Dirut PLN, yang sekarang maupun yang akan datang,
> tidak akan mampu mengubahnya.
> Kecuali diberi payung hukum untuk boleh mengatasinya.
> Inilah payung yang sekali diberikan bisa menghasilkan
> penghematan Rp 10 triliun per tahun.
>
> Payung, begitu sederhana barangnya.
> Puluhan triliun rupiah manfaatnya. (bersambung)
>
>  Rabu, 18 November 2009 ]
> Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (2-Habis)
> Pilihan Realistis atau Yang Radikal
>
> PERTANYAAN: Indonesia begitu kaya gas.
> Mengapa PLN sampai tidak bisa mendapatkan gas?
> Sehingga sebagian pembangkitnya, sekitar 5.000 MW,
> harus diberi "minum" solar yang dalam setahun menghabiskan
> uang PLN Rp 80 triliun?
>
> Urusan ini rumitnya bukan main.
> Memang yang berhak mengatur perdagangan gas
> adalah pemerintah.
> Mestinya pemerintah bisa mengaturnya lebih baik.
> Tapi, saya masih belum tahu siapa yang disebut pemerintah itu.
> Yang jelas, pemilik-pemilik ladang gas adalah perusahaan swasta.
> Asing maupun domestik.
>
> Para pemilik ladang gas tentu ingin menjual gasnya dengan
> harga terbaik.
> Sebab, investasi untuk menemukan ladang gas tidak sedikit.
> Maka, PLN harus bersaing dengan pembeli-pembeli lain:
> pedagang luar negeri maupun pedagang dalam negeri,
> seperti Perusahaan Gas Negara (PGN).
>
> Keinginan lain para pemilik ladang gas adalah ini:
> pembeli harus mengambil semua gas yang dihasilkan suatu sumur,
> berapa pun jumlahnya.
> Di sini PLN ditakdirkan kurang bisa fleksibel.
> Sebuah pembangkit listrik tentu sudah didesain memerlukan gas
> sekian MMBTU (Million Metric British Thermal Unit).
> Sedangkan produksi sebuah sumur gas kadang kurang dari
> kebutuhan itu dan kadang sedikit kelebihan.
>
> Dalam hal produksi sebuah sumur gas kelebihan,
> katakanlah 15 persen, dari kebutuhan sebuah pembangkit listrik,
> dilema muncul: dibeli semua PLN rugi, tidak dibeli semua pemilik
> sumur gas rugi.
>
> Maka, mestinya, tidak ada jalan lain kecuali ada kerja sama yang
> sangat khusus antara PLN dan PGN.
> Kalau PLN mendapatkan sumur gas yang produksinya kelebihan,
> kelebihan itu bisa disalurkan ke PGN.
> Sebaliknya, kalau produksi sebuah sumur gas kurang dari jumlah
> yang diinginkan PLN, PGN yang harus menambahnya.
>
> Sampai sekarang kerja sama seperti itu rasanya belum ada.
> Egoisme setiap perusahaan masih sangat menonjol.
> Padahal, dua-duanya milik pemerintah.
>
> Memang itu saja belum cukup.
> PGN juga sebuah perusahaan yang harus berlaba.
> Apalagi, sekarang sudah menjadi perusahaan publik.
> PGN sendiri kekurangan gas untuk melayani pelanggannya.
> Baik pelanggan rumahan dan terutama pelanggan industri.
> Maka, terjadilah persaingan ketat antara PLN dan PGN sebagai
> sama-sama pembeli gas dari ladang migas.
> Persaingan ini yang sampai sekarang belum mendapatkan
> jalan keluar.
>
> Tentu ada yang berdoa agar kedua perusahaan itu
> jangan cepat-cepat rukun.
> Para pedagang solar (di dalam maupun di luar negeri) yang setiap
> tahun mengeruk uang PLN sampai Rp 80 triliun akan kehilangan
> bisnis yang mengilap dari pedagangan solar.
> Bahwa itu membuat PLN dan pemerintah sulit, yang kurang pintar
> kan PLN dan pemerintah sendiri.
>
> Tentu ide yang paling realistis adalah membangun
> LNG-gasifikasi terminal.
> PLN atau investor yang bekerja sama dengan PLN diminta
> membangun terminal LNG-gasifikasi.
> PLN atau investor bisa membeli LNG (Liquefied Natural Gas atau
> gas alam cair) dari mana saja dalam jumlah yang pas untuk
> kepentingan PLN.
> Bisa dari Tangguh di Papua, bisa dari Senoro di Luwuk (Sulteng)
> bisa juga dari Qatar atau Iran.
> Atau dari tempat lainnya.
>
> LNG itulah yang kemudian diubah menjadi gas di sebuah terminal
> LNG-gasifikasi.
> Terminal ini bisa dibangun di sekitar Cilegon.
> Bahkan, sudah pula ada teknolgi baru: terminalnya dibuat terapung
> di lepas pantai Jakarta.
> Agar dekat dengan "PLTG salah makan" yang sekarang membuat
> masalah itu.
>
> Saya tidak melihat jalan lain.
> Hanya dua itulah jalan keluarnya: kerja sama yang baik dengan
> PGN atau membangun terminal LNG-gasifikasi.
> Yang pertama harus difasilitasi pemerintah dan yang kedua harus
> difasilitasi pemerintah.
>
> Memang masih ada jalan lain.
> Tapi, terlalu radikal.
> Lelang saja PLTG-PLTG itu!
> Daripada bikin penyakit yang mengisap darah
> keuangan pemerintah.
> Hasil lelang barang bekas itu untuk dibelikan PLTU bekas yang
> direkondisi seperti baru.
>
> Jalan "gila" itu bisa menyelamatkan uang negara setidak-tidaknya
> Rp 10 triliun/setahun.
> Baca: 10.000.000.000.000/setahun.
> Kalau saja di swasta dan saya yang menjadi pemiliknya, saya akan
> lakukan yang terakhir ini.
>
> Masih ada penghematan lain yang juga triliunan rupiah.
> Tapi, dua seri tulisan ini saja sudah bisa menggambarkan mengapa
> PLN mengalami kesulitan selama ini.
> Dan mengapa sulit pula dipecahkan. (*)
>
>
>
>
>
>
>
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>

Kirim email ke