Asssl WW para elite yang bertanggung jawab mungkin berdalih , makan jagung 
lebih sehat ,toh kandungan carbo hydratnya sama, mungkin pola lama masyarakat 
Irian, dan mungkin sebagian Maluku yang dulu makanan pokoknya sagu dikembalikan 
ke pola lama. agar para elit bisa bertepuk dada sudah bisa swa sembada beras 
dan bisa di eksport , padahal surplusnya karena sebagian besar rakyat miskin 
tak mampu membelinya.ww LZ




________________________________
From: Harlizon MBAu <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Mon, February 8, 2010 3:12:21 PM
Subject: [indonesia] Masyarakat yang Tak Bisa Makan Nasi Makin Banyak



http://www.tribun-timur.com/read/artikel/76452
 
Sekarang, Masyarakat yang Tak Bisa Makan Nasi Makin Banyak
Laporan: Kompas.com
abgorganik.files.wordpress.com
 
Minggu, 7 Februari 2010 | 23:45 WITA
PASURUHAN, TRIBUN -- Harga beras kualitas terendah yang melonjak hingga mencapai
Rp 6.500 per kg menjadikan pola makan sebagian warga di kawasan Gunung Bromo,
Pasuruan, Jawa Timur, berubah dari beras ke jagung.
Suhariyono (45), warga Puspo yang ditemui di Pasar Pasrepan, Minggu,
menyebutkan, harga beras kualitas terendah telah mencapai Rp 6.500 per kg.

Dengan demikian, Suhariyono mengaku sudah sekitar dua bulan ini terpaksa
mengubah pola makannya dari beras ke jagung. 

Suhariyono yang mengaku mempunyai enam anggota keluarga merasa berat jika harus
mengonsumsi beras yang harganya melonjak tajam. Ia terpaksa mengubah pola makan
dari beras ke jagung yang dicampur beras dengan jumlah lebih sedikit.

Ia memberikan gambaran, untuk memberikan konsumsi keluarganya, biasanya setiap
harinya menghabiskan beras 2 kg. Namun, untuk konsumsi jagung setiap harinya
cukup menggunakan 20 tongkol jagung, dicampur beras sekitar 0,25 kg.

Disebutkan, harga beras kualitas terendah di Puspo mencapai Rp 6.500. Sedangkan
jagung Rp 9.000 per pocong, berisi 20 tongkol.

Jika anggota yang mengonsumsi berjumlah 6 jiwa, dibutuhkan sedikitnya 3 kg
beras. Sedangkan jika mengonsumsi jagung cukup sepocong (20 tongkol) jagung
yang jika telah menjadi berasan bobotnya sekitar 3 kg, plus beras 0,25 kg per
hari.

Jaenah (35), seorang penjual jagung kering di Pasar Pasrepan, menyebutkan,
sudah sekitar dua bulan belakangan ini pembeli jagung meningkat. Jaenah
menyebutkan, jagung jualannya sebanyak 200 pocong ludes hanya dua hari, padahal
sebelumnya baru habis sekitar sepekan.

Disebutkan, para pembeli jagung untuk konsumsi ini terbanyak warga dari
desa-desa di kawasan Gunung Bromo yang meliputi wilayah Pasrepan, Puspo, dan
Tosari.(*)
Tribun Timur, Selalu
yang Pertama 

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di
081.625.2233
email: [email protected] 

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) :
081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555)


      

Kirim email ke