Mas Dodo,
Paling gampang memang menjadi komentator atau pengamat. Ibarat permainan
bola, mereka tidak merasakan
bagaimana perjuangan pemain di lapangan dalam membuat gol. Kondisi di
negeri kita sungguh memprihatinkan
buat industri. Jangankan membuat gol, mempertahankan gawang sendiri agar
tidak kebobolan saja susahnya
bukan main.
Teori itu hanya bisa berjalan di negara yang pemerintahnya memang punya
concern yang besar terhadap industri
lokal. Atau paling tidak di negara yang pemerintahnya sudah bersih yang
oknumnya punya komitmen terhadap negara.
Di negara kita dari sekian juta pegawai atau pejabat publik, paling
cuman kurang dari 1% yang benar benar
bersih dan mempunyai komitment.
Ada segudang masalah yang sedang dihadapi oleh industri kita. Mulai dari
akses finansial yang sulit, suku bunga yang
tinggi, banyaknya preman, pungli, susah dan mahalnya perijinan sampai ke
masalah barang penyelundupan. Hanya ada beberapa
segmen industri yang bisa tumbuh secara baik (dengan teori mas Dodo
diatas). Saya ambil contoh, industri makanan,
obat obatan, toiletries dan dapur. Industri ini bisa tumbuh dengan baik
karena memang adanya barier kultur.
Misalnya saja, masyarakat enggan menkonsumsi makanan import langsung
(misalnya yang ada tulisan Chinanya) dll.
Atau harga import yang mahal, seperti pada industri obat generik. Itu
contoh barier non teknis yang dimanfaatkan secara
baik oleh industri lokal kita, sehingga mereka mampu menjadi raja di
negara sendiri.
Sedang kalau kita bicara barang yang tanpa barier diatas, mislanya saja
pakaian, baja, sepatu dll. mana ada konsumen
yang peduli itu produk import atau lokal. Pertandingan di sektor ini
akan menjadi persaingan "head to head". Siapa yang paling
kompetitif dia yang akan merebut pasar. Padahal kondisi domestik kita
masih penuh masalah, yang sebagian besar
disebabkan oleh sikap pemerintah yang saya nilai tidak mempunyai
komitmen dan leadership. Orang pemerintah saya kira
tahu semua penyebab mengapa industri kita tidak kompetitif. Tetapi toh
mereka enggan menyingsingkan lengan segera membenahi
semua itu. Bahkan mereka lebih suka uangnya dipakai membeli mobil dinas,
rumah dinas, mengadakan rapat akhir tahun
(dalam rangka menghabiskan anggaran) di tempat wisata dll. Saya tidak
melihat adanya kesungguhan dan grand strategi
dari pemerintah dalam membangun industri lokal yang handal. Sulit kita
berharap. Yang hanya bisa kita lakukan "save your own life"
saja.
Salam.
achadiat asiandi wrote:
Industri kita tidak mampu bersaing?
Pasar begitu luas, jadi pembeli dengan kebutuhan yang spesifik pasti
ada. Tinggal penjual harus bisa mendeteksi kebutuhan pasar ini supaya
teknologi bisa digunakan untuk memenuhi permintaan itu.
Pointnya ada tiga:
1. Menyediakan barang yang memang diinginkan/dibutuhkan dan ada
kesesuaian harga dan mutunya.
2. Punya akses untuk mengadakan material dengan harga yang murah,
karena profit dibuat pada saat kita beli, bukan pada saat kita jual.
3. Menguasai prosesnya agar mampu mengendalikan biaya dan mutunya.
Pernah dicoba? Kita tidak mampu? ah masa sih, coba lihat lagi secara
lebih spesifik. Perlu kesediaan untuk masuk ke wilayah rumit, mau
basah dan berani nyelem kalo mau belajar berenang.
Salam,
Dodo.
------------------------------------------------------------------------
*From:* Adi Indrayanto <[email protected]>
*To:* [email protected]
*Sent:* Sun, February 14, 2010 2:45:37 PM
*Subject:* Re: [IA-ITB] Re: Hatta Dorong Alumni ITB Masuki Dunia Politik
Menambahkan bang Irwan terkait dgn politik teknologi. Saat Free Trade
diterapkan, sudah tidak mungkin lagi industri Indonesia diproteksi dgn
tax barrier. Lalu bagaimana kita mau memberikan kesempatan industri
dalam negeri berkembang dgn menguasai teknologi mandiri?
Salah satu mekanisme yg digunakan adalah menentukan TKDN (Tingkat
Kandungan Dalam Negeri) atau local content untuk produk2 yg dibeli
oleh APBN/APBD atau produk2 untuk industri prospektif dan butuh ijin
dari pemerintah seperti di industri telekomunikasi.
Seandainya tidak ada strategi politik dalam hal teknologi, saya kira
lulusan ITB sudah tidak ada ruang untuk berkarya kecuali menjadi
salesmen dan operator saja, atau sekedar konsumen.
Itu sebabnya, selain berpolitik kekuasaan, juga perlu berpolitik
terhadap penguasaan teknologi mandiri yg nantinya akan berkontribusi
pada tingkat competitiveness bangsa yg ujungnya pada penguasaan
ekonomi. Yg ini sepertinya belum ada yg mumpuni di Indonesia .... .
Kebanyakan masih senang berpolitik merebut kekuasaan ...
salam,
-ai-
2010/2/14 Irwan Tampubolon <irwanta...@gmail. com
<mailto:[email protected]>>
Begini pak Ringgas, saya coba menjelaskan.
Teknologi tidak berdiri sendiri sebagai menara gading. Ia adalah
kendaraan (wahana) untuk produksi barang/jasa yg dijual. Menjual
produk industri untuk mengembangkan ekonomi. Ekonomi (via
added-value) untuk kesejahteraan. Ini adalah rantai
berkesinambungan. Dan dalam konteks globalisasi (ie. perang
ekonomi), rantai ini menentukan ujung akhir bangsa Indonesia:
survive atau extinct.
Sebaliknya kalau teknologi berhenti di laboratorium, itu namanya
Dolanan (istilah pa Habibie) atau Hasta Karya (istilah kak Tik).
Secara teknologi Indonesia dan Spanyol punya kemampuan sama untuk
produksi CN-235 Maritime Patrol (sudah jadi pesawat standar US
Coast Guard). Tapi secara praktek kemampuan kita menjual jauh
dibawah CASA/EADS. Menjual pesawat terbang (apalagi militer)
melibatkan financing dan lobby tingkat negara. Semuanya butuh
tekad politik yang keras.
Begitu juga sapi (anda). Di IPB, Unpad, Gama, banyak sekali pakar
dan hasil riset utk pemuliaan, breeding, integrated farming,
disease control. Dan 1 ha lahan tropis Indonesia menghasilkan
rumput jauh lebih banyak daripada 1 ha lahan Australia, AS, atau
Argentina. Tapi infrastruktur transportasi, kredit, dan tata-niaga
sapi sedmikian rupa sehingga yang berkuasa tetap sapi Australia.
Merubah ini butuh tekad politik yang keras.
Point saya adalah: urgensi masalah teknologi sekarang bukan di
hulu (more research), tapi di hilir. And it's highly political.
ITb
--- In ia-...@yahoogroups. com <mailto:IA-ITB%40yahoogroups.com>,
"Ringgas Hutagaol" <ringgas.hutagaol@ ...> wrote:
>
> Mohon bisa dijelaskan pengertian "Politik Teknologi". Kalau
Teknologi Indonesia sdh ketinggalan, apa harus dibela dan
dipertahankan ?
> Kalau kita terjajah secara teknologi, berarti teknologi kita sdh
usang. Kita harus meningkatkan kegiatan penelitian. Kirim
mahasiswa/alumni ITB sebanyak-banyaknya utk belajar ke Universitas
terbaik di luar negeri. Tingkatkan kerjasama ITB dgn Industri. Dan
masih banyak lagi yg bisa dilakukan. Kendala selama ini adalah
kekurangan dana.
> Saya jadi bingung kalau solusi yang ditawarkan malah mendorong
alumni ITB masuki dunia politik.
>
>
>
__._,_.___
Reply to sender
<mailto:[email protected]?subject=re:%20%5BIA-ITB%5D%20Re:%20Hatta%20Dorong%20Alumni%20ITB%20Masuki%20Dunia%20Politik>
| Reply to group
<mailto:[email protected]?subject=re:%20%5BIA-ITB%5D%20Re:%20Hatta%20Dorong%20Alumni%20ITB%20Masuki%20Dunia%20Politik>
Messages in this topic
<http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/message/56128;_ylc=X3oDMTM2cjhmaGJlBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzU2MTgwBHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTI2NjE2NDkwNgR0cGNJZAM1NjEyOA-->
(12)
Recent Activity:
* New Members
<http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/members;_ylc=X3oDMTJmcjNqYWRqBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZtYnJzBHN0aW1lAzEyNjYxNjQ5MDY-?o=6>
8
Visit Your Group
<http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB;_ylc=X3oDMTJlNW51NWhoBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwN2dGwEc2xrA3ZnaHAEc3RpbWUDMTI2NjE2NDkwNg-->
Start a New Topic
<http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/post;_ylc=X3oDMTJlNjZhdnZyBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA250cGMEc3RpbWUDMTI2NjE2NDkwNg-->
***
Ayo, ayo, ajak Alumni ITB lain ikut milis IA-ITB. Yukkk, buat kerjasama !
Manajemen email di milis IA-ITB ada di bawah. Selamat mencoba. Mudah
kok :)
Anggota: 6.215 Diperbarui: 1 Februari 2010
--------------------------------------------------------------------------
*** IA-ITB ***
- Kerjasama merajut Prestasi Dunia -
Persahabatan, Ide, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & Kerjasama
http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB
Managed by: IA-ITB & 99Venus International (http://99Venus.net )
http://www.IA-ITB.com http://IA-ITB.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Cihuyyy, sudah lebih 1.650 anggota Senyum-ITB Facebook. Hatur nuhun :-)
Tolong sebar terus ke jaringan Anda. Ajak masyarakat dan keluarga ikut ya
Komentar & lihat foto di http://facebook.com/pages/Senyum-ITB/100802856927
Manajemen email di milis IA-ITB yang lebih detil di blog IA-ITB :-)
Klik http://IA-ITB.blogspot.com/2009/07/manajemen-milis-ia-itb.html
Mengatur mode terima email dengan ganti-ganti 3 cara terima berikut :
1. [email protected] = email terima normal (individual emails)
2. [email protected] = email terima ringkasan (daily digest)
3. [email protected] = tidak terima email / libur sementara
Cara berlangganan / Ganti email :
1. [email protected] = email berlangganan milis IA-ITB
2. [email protected] = email berhenti dari milis IA-ITB
Milis IA-ITB di Facebook:
Ikut & lihat 928 wajah di http://Facebook.com/group.php?id=39676223082
Isi & lihat 1.156 profil di http://groups.yahoo.com/group/IA-ITB/database
Yahoo! Groups
<http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJkM2Nncmp2BF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzc2MTMxNTQEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBHNlYwNmdHIEc2xrA2dmcARzdGltZQMxMjY2MTY0OTA2>
Switch to: Text-Only
<mailto:[email protected]?subject=change%20delivery%20format:%20Traditional>,
Daily Digest
<mailto:[email protected]?subject=email%20delivery:%20Digest>
. Unsubscribe
<mailto:[email protected]?subject=unsubscribe> .
Terms of Use <http://docs.yahoo.com/info/terms/>
.
__,_._,___