Menurut saya berita ini berlebihan. Coba kita lihat yang sebenarnya;
1. Penjualan Freeport setahun hanya berkisar 2-5 Milyar dolar, bagaimana dengan 
Google, Mc donal, aple, IBM, Industri senjata dsb. dsb.

2. Hasil royaltinya Freeport Plus Pajak dan ditambah dengan tambang2 lain tidak 
pernah melebihi separo dari cukai rokok (Hidup petani tembakau dan tukang 
lintingnya)

Kita memang melebih2kan tentang Freeport dan Rakyat Papua juga berfikir bahwa 
yang menikmati adanya Freeport hanya orang yang di Jawa, kenyataan yang ada 
orang Papua mendapat 2% gross hibah dari penjualan Freeport.

Kondisi itu tidak berarti tidak penting cuma kita tidak bisa memanfaatkan 
secuil(bongkahan kali) sumberdaya alam kita dengan bijak. Apaitu?
1. Nilai tambah tidak pernah dinikmati, (seumur2 freeport mengolah 
konsentratnya diluar negeri dan di Gresik hanya sebagian saja); seharusnya 
perpanjangan kontrak harus mensyaratkan 100% diolah di dalam negeri. (setiap 
nilai tambah akan menimbulkan lapangan kerja baru dan pendapatakan pemerintah)
2. Transaksi hasil penjualan tidak diam di negeri ini, uang cuma mampir dan 
transfer pricing bisa dilakukan. Bayangkan duwit Freeport ngendap 6 bulan di 
Indonesia, berapa manfaat ekonominya. Malasia bisa memaksa investor menyimpan 
uangnya di dalam negeri. Indonesia (bebas devisa)?

3. Kontraktor asing dan produk asing masih dominan , beli telur aja harus ke 
Australia.

4. Orang Indonesia masih dibayar "Nasional Rate" rather than "expate rate", 
kita masih jadi budak.

5. Banyak manfaat secondarynya tidak bisa dirasakan oleh orang Indonesia (gain 
saham, pengembangan teknologi dan kompetensi2 dsb2)

6. Kita (mungkin pejabatnya masih seneng kalau jadi budak bule, banyak protes2 
engineer Indonesia untuk pengembangan kepentingan Nasional tapi malah 
berhadapan dengan Militer dengan atas nama aset strategis nasional).

Kelly Kwalik, seorang guru yang berjuang menjadi tentara, sama kayak Bapak2 
kita dulu yang melawan Belanda. Harusnya kita bersahabat dengan mereka untuk 
mengangkat harkat bangsa ini bukan malah menindas bangsa sendiri.

Think Again

Disan







--- On Wed, 3/10/10, Muhammad Ari Mukhlason <[email protected]> wrote:

> From: Muhammad Ari Mukhlason <[email protected]>
> Subject: [indonesia] Freeprot : posted @ detik.com
> To: "IA-ITB" <[email protected]>, [email protected], 
> [email protected], "QB-Milis" <[email protected]>
> Date: Wednesday, March 10, 2010, 12:34 AM
> source : www.detik.com
> rabu, 10 maret 2010 jam 12.08 WIB
> --
> Catatan : Saya ingin tahu, bagaimana respon teman2 yang
> sudah sedikit banyak diuntungkan dengan keberadaannya, baik
> dengan bekerja di sana atau kemitraan2 lain. Dan bagaimana
> pula benefit yang sudah diperoleh Indonesia, serta mengapa
> di awal reformasi, revisi kontrak karya tidak membuat hasil
> yang memuaskan rakyat ?
> 
> 
> Jadi, menurut saya, wajar sekali reaksi saudara2 kita yang
> asli papua memperjuangkan kemerdekaan bilamana hal seperti
> ini terus berlangsung. Sebutlah nama Kelly Kwalik, saya
> pikir itu adalah pahlawan asli papua. 
> ---
> 
> 
> 
> 
> NEGARA
> AMERIKA SERIKAT DIBANGUN DARI EMAS PAPUA
> 
> Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun
> termurah
> dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan
> kemegahan Amerika
> sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka atas
> gunung emas di
> Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir
> pejabat negeri
> ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa
> menikmati
> hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa
> ini. Mereka
> ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!
> Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease
> yang dimuat
> dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam
> National Archive
> di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK,
> Indonesia, CIA
> and Freeport.”
> 
> Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua
> dimulai sejak
> tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai
> beberapa tahun
> sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan
> jika
> Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya,
> nyaris bangrut
> berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di
> Kuba tahun 1959.
> 
> Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim
> diktator Batista.
> Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu
> dinasionalisasikan.
> Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan
> nikel
> produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi.
> Menurut Lisa
> Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya
> pembunuhan
> terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui
> kegagalan.
> 
> Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus
> 1959,
> Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport
> Sulphur melakukan
> pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company,
> Jan van
> Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya
> menemukan
> sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung
> Tembaga) di Irian
> Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya,
> laporan itu
> sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan
> selama
> bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van
> Gruisen
> tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu
> dan
> membacanya.
> 
> Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin
> Freeport
> Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan
> alamnya, Jean
> Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang
> begitu melimpah.
> Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka
> kandungan biji
> tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu
> terhampar di atas
> permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah.
> Mendengar hal
> itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan
> ke Irian
> Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam
> benaknya, jika
> kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa
> bangkit kembali
> dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
> 
> Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey
> dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah
> sekitarnya. Penelitiannya
> ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The
> Conquest of Cooper
> Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta
> karun terbesar
> yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena
> semua harta
> karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara,
> tanah
> disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar
> matahari.
> 
> Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya
> gila. Karena
> selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata
> juga dipenuhi
> bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung
> tersebut
> diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai
> seorang pakar
> pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan
> untung besar
> dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan
> Freeport Sulphur
> ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960,
> Freeport Sulphur
> meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk
> mengeksplorasi
> gunung tersebut.
> 
> Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan
> yang hampir
> sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan
> eskalasi politik
> atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia
> dan Belanda
> telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan
> pasukannya di Irian
> Barat.
> 
> Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS
> John
> Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun
> ironisnya, JFK
> malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam
> Belanda, akan
> menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot
> mempertahankan Irian
> Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar
> untuk
> membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran
> akibat Perang
> Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
> 
> Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung
> Ersberg
> sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab
> jika saja
> Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan
> Marshall Plan
> yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding
> nilai emas yang
> ada di gunung tersebut.
> 
> Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat
> menyebabkan
> perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah
> kembali. Para
> pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar
> Kennedy akan
> menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar
> 11 juta AS
> dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus
> dihentikan!
> 
> Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika
> Presiden
> Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak
> kalangan
> menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi
> besar
> menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak
> mempertahankan
> hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.
> 
> Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil
> sikap yang
> bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah
> mengurangi bantuan
> ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah
> seorang
> tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam
> kampanye
> pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long,
> salah seorang
> anggota dewan direksi Freeport.
> 
> Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas
> Indonesia.
> Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin
> Texaco, yang
> membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of
> California). Soekarno
> pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak
> perminyakan yang
> mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah
> Indonesia.
> Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di
> Indonesia
> jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.
> 
> Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat
> berkepentingan
> agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu
> kebetulan yang
> ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital
> di NY
> dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962).
> Sudah bukan
> rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu
> simpul pertemuan
> tokoh CIA.
> 
> Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan
> tokoh ini.
> Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara
> sebagai pemimpin
> Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu
> yang di
> Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.
> 
> Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus
> C.Long
> terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu
> perusahaan
> Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota
> dewan
> penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar
> negeri. Badan
> ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi
> rahasia AS
> di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh
> yang
> merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS
> dengan
> menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang
> disebutnya sebagai
> Our Local Army Friend.
> 
> Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21
> Januari
> 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral
> Suharto akan
> mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa
> menunggu
> Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee
> juga pernah
> bersaksi jika hal itu benar adanya.
> 
> Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi
> terbunuhnya sejumlah
> perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon
> dari Ketua
> Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang
> menanyakan apakah
> Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian
> Barat. Wilson
> jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden
> Indonesia
> bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung
> emas di Irian
> Barat akan jatuh ke tangan Freeport?
> 
> Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi
> Freeport ternyata
> sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam
> lingkaran elit
> Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan
> Perminyakan Ibnu
> Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan
> sebagai
> penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu
> Soetowo sendiri
> sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah
> yang menutup
> seluruh anggaran operasional mereka.
> 
> Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman
> Modal Asing
> (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang
> didektekan
> Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing
> pertama yang
> kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah
> kali pertama
> kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman
> Soekarno
> kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu
> menguntungkan Indonesia,
> maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu
> malah
> merugikan Indonesia.
> 
> Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu,
> Freeport
> mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan
> pentolan
> CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel,
> sedangkan
> mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai
> konsultan
> internasional di tahun 1978.
> 
> Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim
> Bob” Moffet dan
> menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5
> miliar
> dollar AS pertahun.
> 
> Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George
> A.Maley,
> menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384
> halaman dan
> memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki
> deposit
> terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya
> menempati urutan
> ketiga terbesar didunia.
> 
> Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal
> ini
> tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar
> AS dan
> masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya,
> Maley dengan
> bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan
> tembaga
> terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan
> yang termurah
> di dunia!!
> 
> Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan
> salah.
> Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung
> emas, walau
> juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga
> terserak di
> permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan
> kemudian baru
> menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak
> mau
> kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan
> kuat dari
> Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung
> menuju ke Laut
> Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan
> mengangkut
> emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh
> perampokan besar
> yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai
> sekarang!!!
> 
> Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput
> areal tambang
> emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput
> gunung emas
> tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah
> yang dalam.
> Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut
> telah dibawa
> kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang
> mencemari
> sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik
> ini masih
> saja hidup bagai di zaman batu.
> 
> Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat
> negeri ini,
> yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang,
> tambang
> emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka
> untuk
> memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran
> sendiri telah
> menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat
> besar bagi
> kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba
> dari tambang
> itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri,
> sektor inilah
> yang harus dibereskan terlebih dahulu.
> 
> 
> -- 
> m ari mukhlason
> --
> e/GM/FB : [email protected]
> YM : [email protected]
> blog1 : http://mukhlason.wordpress.com
> 
> blog2 : http://aerospaceitb.wordpress.com
> p1 : 0818-223-062
> 
> 
> 
>





--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke