Setuju. Dosen saya yg tamatan MIT pernah bilang bahwa dia sebagai ketua jurusan selalu mengikuti cara MIT mengucapkan selamat kepada wisudawan PhD baru dg nasehat bahwa tamat S3 bukan akhir suatu proses utk belajar..akan tetapi sebaliknya tamat S3 adalah proses utk mulai belajar.
Salam, -Irsal Coming up soon, http://www.dokterkita.net and http://www.kongkow.net -----Original Message----- From: Adi Indrayanto <[email protected]> Date: Mon, 15 Mar 2010 12:47:02 To: <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Bls: Bls: Re: S3? Siapa takut ? Mungkin perlu diluruskan sedikit mengenai program S3. Menjadi S3 tidak serta merta langsung menjadi "ilmuwan hebat" bukan. Pendidikan S3 itu hanya program untuk melatih seseorang menjadi "independent researcher". Semacam "sertifikat" agar mampu dan diakui untuk melakukan sebuah penelitian mandiri. Hanya itu sebenarnya. Masalahnya, karena setiap akhir jenjang pendidikan ada "gelar" yg mengikuti, hal itu menjadikan seolah-olah sebuah "prestasi". Padahal justru prestasinya itu nanti diharapkan setelah lepas dari sebuah jenjang pendidikan. Menjadi S3 kalau tidak meneruskan proses penelitian, ya tidak ada gunanya sebenarnya. Masalahnya, di negara berkembang seperti Indonesia ini, gelar itu identik dgn status sosial. Dari gelar Raden, Tengku, Haji, Insinyur, SH, sampai gelar sertifikasi CSEE, CICA, dsbnya. Nah, apakah pendidikan S3 nya yg ingin dipelajari, agar menjadi seorang peneliti. Atau kebanggan menggunakan gelar2 itu yg dicari? Beberapa kondisi salah kaprah sudah terjadi untuk jenjang karir di birokrasi. Utk yg bergelar S3 lebih mudah menjadi posisi strategis eselon 1 misalnya. Padahal, saat orang bergelar itu menjadi posisi birokrasi, habis juga karir menjadi penelitinya. Lalu untuk apa gelar S3 dicari? salam, -ai- 2010/3/15 Agus Rusmantoro <[email protected]>: > Dear all, > > Kalau aku, pertama kali yang aku lakukan adalah mendidik anak menjadi > yang saleh. > > Sehingga dalam perjalanannya anakku pernah menjadi rangking pertama dan > ranking terakhir, sekolah di perguruan tinggi terlambat 1 tahun. Disisi > lain dia mencoba mengatasi permasalahan ketika harus sholat (wanita) di > negri jauh, dia mempunyai skill sudah pada tahapan menjadi guru piano. > Sudah 10 negara dia jelajahi atas usahanya sendiri (bea siswa, pertemuan > mahasiswa, ikut temannya dsb). > > Aku mengajarkan bahwa kehidupan itu banyak dan tidak hanya dari sekolah. > Targetku adalah bahwa bila terjadi sesuatu terhadap orangtuanya dia bisa > survive dalam kehidupan. > > Sambil kuliah dia sudah mencari uang sebagai guru piano, kesempatan > bermain-main memang kurang, tetapi teman-temanya banyak karena kreatif > mengelola milis sendiri. > > Aku mengajarkan agar selalu bersyukur, sholat dan bersemangat untuk > berkompetisi. Dan tentu saja sering gagal, yang penting tidak patah > semangat. > > Saat ini dia mengikuti paduan suara sambil mengarangement lagu-lagu > daerah. Selain itu sambil persiapan untuk belajar S2 di Australia karena > memperoleh beasiswa. > > Jadi kehidupan itu luas, sekolah sampai S3 boleh, menjadi ibu rumah tangga > juga boleh, yang utama adalah punya skill untuk dia bisa hidup > dimasyarakat ... > > Wassalam, > >> >> Ide dasarnya sangat inspiratif dan tidak ada yang salah dalam cerita >> itu,. >> >> Bila kita memiliki berbagai argument,(istri kita tidak sekolah dan >> anak-anaknya berhasil dan seterusnya,... seterusnya) bukan berarti boleh >> untuk mematahkan semangat belajar mahasiswi tersebut,.. >> Indah sekali,. cerita ini.. mahasiswi tersebut bertekad untuk tidak >> mengulangi dirinya yang hanya belajar dari manusia lulusan S-3 saat >> diperguruan tinggi,.. dan kelak anaknya akan bertemu dan dididik oleh >> manusia lulusan S-3 semenjak dalam rahim nya,.. >> >> Kita berharap,.. kelak nanti anaknya akan banyak melahirkan >> generasi-generasi yang S-3 dan berakhlak mulia,.serta rahmatan lil >> alamain,.. >> >> AMieennn,.. >> >> Salam,. >> >> --- Pada Sen, 15/3/10, Heddy Darmawan <[email protected]> menulis: >> >> Dari: Heddy Darmawan <[email protected]> >> Judul: [indonesia] Bls: Re: S3? Siapa takut ? >> Kepada: [email protected] >> Tanggal: Senin, 15 Maret, 2010, 2:33 AM >> >> Saya setuju dg Pak Joefrizal dan Pak Achmad, >> istri saya hanya berpendidikan SLTA tapi anak laki2 saya pertama lulus S1 >> Mesin ITB Cum Laude, Anak perempuan kedua saya lulus S1 >> informatika  Cumlaude ( IP : 3.65 )dan S2 MBA ITB Cumlaude ( IP : 3.79 >> )  dan Anak laki2 saya ketiga Lulus S1 Hukum Sangat Memuaskan ( IP : 3.4 >> ). >>  >> Jadi yang diperlukan adalah cara mendidik yang tegas saya dan istri selalu >> menekankan penting nya belajar memberi petunjuk kepada anak akan kesulitan >> mereka alhamdulilah mereka berhasil. Dismaping usaha tidak kalah >> pentingnya adalah doa ayah dan ibu kepada Allah swt untuk keberhasilan >> anak anak nya. >>  >> Semoga bernanfaat >> Heddy EL 76 ITB >> 081318914114 >> >> >> >> >> >> Dari: joefrizal joefrizal <[email protected]> >> Kepada: [email protected] >> Terkirim: Sen, 15 Maret, 2010 09:07:47 >> Judul: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ? >> >> >> >> >> >> >> Kalau boleh saya ingin juga berpendapat. >>  >> Semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka akan semakin terbuka matanya >> dan hal ini sangat baik sekali untuk mendidik anaknya. Tentunya hal ini >> dengan assumsi sang ibu meluangkan waktu cukup untuk mendidik anaknya dan >> tidak tenggelam dalam pekerjaan lain yang biasanya menumpuk. >>  >> Hakikat pendidikan itu adalah untuk memajukan manusia oleh karena itu >> apabila seorang ibu sudah maju, maka akan sangat besar kemungkinannya >> anak-anaknya menjadi maju. >>  >> Kalau melihat situasi di Indonesia, maka mungkin saja seorang ibu yang >> tidak mengecap pendidikan tinggi juga menghasilkan anak yang mengecap >> pendidikan tinggi. >>  >> Berangkat bahwa pendidikan itu adalah proses seumur hidup, maka S3 itu >> khan hanyalah pendidikan formal yang diberi gelar. >>  >> Wassallam >>  >>  >> Joefrizal >> >> --- On Sun, 3/14/10, Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> wrote: >> >> >> From: Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> >> Subject: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ? >> To: [email protected] >> Date: Sunday, March 14, 2010, 8:41 PM >> >> >> Idealnya begitu. Tetapi, tidak selalu menjadi jaminan dan ada korelasi >> bahwa seorang ibu yang >> berpendidikan S3 mampu dan bisa meluangkan waktu untuk mendidik anak >> secara baik. Bahkan >> umumnya bidang yang dia geluti di S3 tsb. tidak berhubungan langsung >> dengan pendidikan anak, >> terutama di masa dini. Pendidikan anak tidak sekedar berupa memberikan >> pengetahuan saja. >> Tetapi, lebih dari itu yang terpenting adalah pembangunan akhlaq, karakter >> dan kepribadian. >> Di dunia ini banyak sekali orang besar yang terlahir dari didikan seorang >> ibu yang tidak mempunyai >> gelar di pendidikan formal sekalipun. Dan di Indonesia, tidak jarang anak >> yang terlahir dari seorang >> ibu berpendidikan S3, yang hanya mengecap pendidikan dari pembantu mereka. >> Saya kira ini tidak lebih dari sebuah opsi saja, bukan sebuah justifikasi. >> >> >> Wassalam. >> >> [email protected] wrote: >> Assalamu'alaikum wr wb, >> >> Sekedar meneruskan, semoga bermanfaat. >> >> Wassalamu'alaikum wr wb, >> CA >> >> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone >> >> >> From: "seismic_yuni" <[email protected]> >> Date: Wed, 10 Mar 2010 06:07:06 -0000 >> To: <[email protected]> >> Subject: [daarut-tauhiid] S3 Siapa takut ? >> >>  >> >> >> >> ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan seorang >> dosen pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami... >> >> Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang >> dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, >> "Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja >> kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari >> wajahnya... mengingat di luar sana berjuta - juta orang memimpikan >> pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk >> dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup >> yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek." >> >> Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga >> S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, >> tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan >> beasiswa ini.... Tapi pak, >> saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya >> tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal >> baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan >> suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan >> semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua >> menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya >> jalani." >> >> Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang >> sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . >> Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka >> hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini... >> >> Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen >> berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah >> kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan >> pendidikan ini hingga >> puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun >> dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar >> ... yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. >> "Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan >> dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , >> Pak." Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, >> saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya >> kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau >> memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah >> seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah >> seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing >> dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah >> engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau >> lahirkan nanti." Dan itulah >> jawaban Allah SWT melalui pak dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari >> konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya >> menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya >> kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan >> pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya." >> >> Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang >> nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi >> kebahagiaan yang hakiki,. >> >> Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics Engineering, >> ITB . >> This article was originally published in forum thread: kisah inspiratif >> (terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original post >> >> >>__._,_.___ >> >> Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic >> Messages in this topic (1) >> Recent Activity: >> >> New Members 18 >> Visit Your Group >> ==================================================== >> Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam >> ==================================================== >> Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar >> ==================================================== >>       website: http://dtjakarta.or.id/ >> ==================================================== >> >> Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use >> >> >> . >> >>__,_._,___ >> >> >> >> >> >> >> Berselancar lebih cepat. >> Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 >> halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di >> sini! (Gratis) >> >> >> Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan >> mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! >> http://id.messenger.yahoo.com/invite/ > > > > > PT.CITRA SARI MAKMUR > SATELLITE & TERRESTRIAL NETWORK > > Connecting the distance - anytime, anywhere, any content > http://www.csmcom.com > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
