Insinyur dkk Cari Duit, Sri Mulyani “Buang Duit”
Oleh Cardiyan HIS
 
Kepala BP Migas Ir. R. Priyono pusing tujuh keliling. Mau libur panjang kok 
pusing mas Pri? Ya, Priyono (alumnus ITB angkatan masuk 1976)  pusing karena 
terus-terusan ditilpun Menteri Keuangan Sri Mulyani soal lifting. Sri Mulyani, 
SE, PhD tentu lebih pusing lagi karena utang RI sudah melampaui Rp. 1.200 
triliun dan banyak  yang mau jatuh tempo lagi. Sri Mulyani tambah pusing karena 
“buang duit”  Rp. 4,126 triliun /tahun untuk “Reformasi Birokrasi” yang 
dibangga-banggakannya ternyata jeblog dibobolin oleh ulah anak buahnya sendiri.
Berita berupa running text di sebuah statsiun TV kemarin ini seperti luput dari 
perhatian para insinyur dan sarjana lainnya yang tengah jungkir balik bekerja  
karena kalah dengan berita artis hot Jupe yang akan menjadi calon Bupati 
Pacitan. Padahal ini sangat mendasar bagi Pemerintah RI dan 
pertanggungjawabannya kepada rakyat Indonesia. Dan kalau mau dikorek-korek 
lebih jauh lagi secara emosional dan sentimen profesi bisa saja; memang 
terbukti ini merupakan perseturuan abadi antara insinyur yang cari duit jungkir 
balik di laut dan di hutan dan sarjana ekonomi keuangan yang buang duit seenak 
udel di kursi empuk.
R. Priyono sebagai Kepala BP Migas memang bertanggungjawab; bagaimana harus 
terus menerus mengoptimalkan para insinyur dkk yang bekerja siang malam  di 
lapangan minyak gas di offshore berbagai laut Indonesia  maupun di hutan-hutan 
agar proses produksi migas berjalan aman agar lifting bisa meningkat. Tak hanya 
Ir. R. Priyono, para insinyur di tambang batubara dan mineral lainnya di 
hutan-hutan siang malam terus bekerja keras agar sumberdaya alam berhasil 
diangkat menjadi pemasukan negara melalui pajak dan royalti. Begitu pula 
insinyur pertanian, perikanan, peternakan  dan kehutanan dkk bekerja keras di 
hutan produksi dan perkebunan agar mampu mencetak produksi maksimal agar pajak 
yang masuk ke negara juga tinggi. Belum terhitung insinyur dan insunyur periset 
di dunia industri manufaktur.
Pajak dijadikan andalan untuk  menjadi pemasukan negara RI agar tidak bangkrut. 
Tetapi Menteri Keuangan RI Sri Mulyani tidak mengelolanya dengan baik. Dengan 
dalih untuk Reformasi Birokrasi dia dengan seenaknya menaikkan remunerasi 
pegawai di lingkungan kementriannya sembilan kali lebih banyak dari kementrian 
lain dari Kabinet SBY. Ini bukan saja tidak efektif menghasilkan kinerja anak 
buahnya yang tetap saja korupsi gila-gilaan seperti terbukti kasus pegawai 
rendahan pajak Gayus Tambunan. Tetapi tindakan Sri Mulyani ini juga bisa 
menimbulkan kecemburuan pada profesi yang lain yang nota bene berperan besar 
dalam menghasilkan duit dan mencegah duit tidak dirampok. Para insinyur dkk 
jelas berada di garis depan dalam menghasilkan duit. Tetapi tidak hanya 
insinyur tetapi juga ada para prajurit di daerah terpencil masih setia menjaga 
dan menangkap para penyelundup, yang kalau saja lolos bukan hanya bisa 
merugikan ekonomi negara tetapi juga kedaulatan negara
 RI dikangkangi. Belum aktivitas para aktivis LSM yang terus mengawasi 
perusahaan-perusahaan pengeruk SDA agar bekerja sesuai aturan.    
Sebagai Menteri Keuangan RI Sri Mulyani terlalu getol mencari utang dengan 
bunga sangat tinggi. Contohnya untuk menerbitkan Obligasi RI  dengan bunga 
tinggi 13% per tahun padahal perusahaan tambang batubara PT. Adaro Energy Tbk 
dengan mudah menerbitkan obligasi US$ 800 juta selama 10 tahun dengan suku 
bunga tetap 7,625%/tahun (HU “Kompas”  17 Oktober 2009). Tentu saja Sri Mulyani 
dipuji-puji jaringan neolib  sebagai salah seorang “Menteri Keuangan Terbaik di 
Dunia” karena memberi ekstra bunga luar biasa. Dan jumlah utangan yang 
diraihnya pun selalu lebih besar dari realisasinya sehingga RI kena penalti 
tinggi rentenir asing. Belum amburadulnya realisasi belanja APBN yang selalu 
ditumpuk di akhir tahun. Ini jelas membuat semua pihak  yang terlibat dan 
bekerja atas sumber APBN jungkir balik sejak sebenarnya bekerja sejak awal 
tahun APBN; yang sudah menjadi rahasia umum sangat rawan terhadap terjadinya 
rekayasa pertanggungjawaban belanja negara.
 Belum cara dia membelanjai kemewahan untuk kalangan pejabat.
Kita percaya 1.000.000% bahwa Sri Mulyani sebagai pribadi tidak pernah 
memperkaya diri tetapi dia harus bertanggungjawab bukan soal dia tidak korupsi. 
Tetapi dia harus bertanggungjawab atas amanah dia menjabat sebagai Menteri 
Keuangan RI kepada rakyat Indonesia termasuk kepada rakyat insinyur, para 
prajurit dan profesi lainnya dalam  mengelola keuangan negara termasuk dalam 
“membuang duit”.
Http: cardiyanhis.blogspot.com
 
 


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke