Nikmati kisahnya.salam LZ


----- Forwarded Message ----
From: S Rahardjo <[email protected]>
To: Indrato Prodjo Sujitno <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; tiarto <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; Soeharto Ss 
<[email protected]>; Siti Lastari Lastari <[email protected]>; 
soerjono soeroso <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Thu, April 1, 2010 9:10:17 AM
Subject: [Alumni Margoyudan123] Jeritan Bagong

  

Bukan Cerpen

Jerit Hati Bagong:  si Detektif Pajak

karya : Usdek Emka J.S.

Karena lulus dengan nilai bagus, Bagong, panggilan alumnus Sekolah Teknik
Akuntansi Negeri itu ditempatkan di Ibukota Kerajaan Amarta, sebagai
pemeriksa pajak. Perusahaan yang diperiksa bukan perusahaan ecek-ecek, tapi
PMA, atau setidaknya PMD yang besar dan bonafid.

Tiap kali ngobrol via telpon dengan kakaknya, Bagong selalu ngeluh: "Aduh
mas, aku mengko yen mati masuk neroko."

"Lho memangnya kenapa?" tanya Gareng keheranan

Bagong pun bercerita panjang lebar tentang mekanisme pemeriksaan. Katanya,
sebagai pemeriksa pajak, kadang harus jadi detektif untuk mengungkap
sebenarnya berapa banyak pajak yang harus dibayar perusahaan itu. Dan, tim
pemeriksa tidak mau disuap, karena mereka tidak ingin kehilangan muka di
depan wajib pajak. Kami sering menyingkatnya WP.

"Lha itu kan bagus. Tim pemeriksa ndak mau deal dengan WP," sahut Gareng

"Aku belum selesai, mas."

"Sori. Teruskan."

"Karena tidak bisa menyuap tim pemeriksa, WP tidak lagi macem-macem. Semua
data yang kami tanyakan diberikan. Nah, dari situ kami tahu kalau perusahaan
itu akan kena pajak sekian juta. Plus hutang dan denda pajak sekian tahun,
maka WP akan kena sekian M. Misalkan saja 14 M. Ini misalnya saja, biar kamu
mudah memahaminya. "

"Trus, masalahnya di mana?"

"Masalahnya di cerita berikutnya ini mas. WP yang tahu akan kena pajak
sebesar itu tentu saja kalang kabut. Mereka juga panik karena tim pemeriksa
tidak bisa disuap."

"Aku ndak ngerti arah ceritamu."

"Itu mas,  14 Milyar," sahut Bagong.

"Ya apa artinya 14 M?"

"Ketua tim akan menekan WP supaya membayar semua pajak itu. Tapi WP pasti
akan keberatan dan merengek-rengek untuk bisa dikurangi pajaknya."

"Oke. Itu wajar kalau WP minta keringanan. Lalu?"

"Ketua tim biasanya tidak akan mau deal. Tetap menekan kepada WP untuk tanda
tangan berita acara pemeriksaan dengan kewajiban membayar 14 M. Kalau sudah
begitu, WP akan seperti cacing kepanasan. Lalu, merengek-rengek dan menawar
separuhnya saja."

"Trus...?"

"Ketua tim akan melihat apakah nilai itu sudah melebihi kuota yang dipatok
kantor. Kalau belum, permintaan WP akan ditolak."

"Lha kalau sudah melebihi target?"

"Misal target dari kantor hanya 5M. Berarti aman. Tapi, ketua tim akan jual
mahal. Bilang ndak bisa, ndak bisa, sampai akhirnya WP menawarkan jalan
damai. WP. Biasanya WP akan bilang begini 'Kalau bapak membantu perusahaan
kami, separuhnya saja pajak yang kami bayar, silahkan bapak ambil yang 1M'."

"Wah ini menjadi menarik."

"Ketua tim itu orang pintar mas. Ndak mau disuap. 'Jangan coba-coba nyuap
kami, pak. Kami sudah mendapat gaji yang besar dari negara'. Nah, kalimat
itu yang biasanya disampaikan. Ini akan membuat WP semakin kalang kabut. WP
pun menaikkan tawaran, hingga akhirnya sampai ke angka 2M."

"Gila. Yang bener?"

"Iya mas. Kalau sudah begitu, ketua tim akan bilang 'yach, pada dasarnya
saya bukan orang yang kejam dan tidak tahu berterima kasih. Saya hanya tidak
mau disuap'."

"Saya tidak bermaksud menyuap, pak. Sungguh. Ini hanya ucapan terima kasih,
itupun jika bapak-bapak mau menerimanya. "

""Baiklah. Karena Anda tidak menyuap. Dan, ini juga hanya ucapan terima
kasih. Kami tidak akan keberatan menerimanya. Dengan demikian perusahaan
bapak akan kena bapak 5.5 M'. Nah, gitu mas."

"Masak sih?"

"Iya begitu mainnya. Target kantor tercapai. Ini malah dapat melebihi
target. WP senang, pajaknya berkurang. Dan, pemeriksa juga mendapat ucapan
terima kasih."

"Wow...wow.. ..wow.... , rupanya begitu to."

"Uang ucapan terima kasih itu dibagi ke semua anggota tim secara
proporsional. Aku juga kebagian. Itulah sebabnya, aku takut sekali, mas.
Nanti kalau mati aku masuk neroko."

"Lho apa kamu ndak bisa menolak?"

"Sudah mas. Pertama kutolak. Mereka ndak mempersoalkan. Bagianku diambil
ketua tim. Kedua kutolak lagi, mereka juga ndak masalah, bagianku ada yang
ambil. Tapi, aku dipaksa tanda tangani bukti penerimaan hadiah itu. Ketika
aku menolak untuk ketiga kalinya, ada teman yang berbisik 'Gong, kalau kali
ini kamu masih menolak, aku takut tiba-tiba perutmu nanti bocor'. Mbilung
yang bilang begitu padaku. Aku belum siap mati mas. Ya, kuterima uang itu.
Sampai sekarang.... makanya mas, gimana ini..."

Mendapat laporan seperti itu dari adik kesayangannya, Gareng tercenung.
Adiknya tengah menghadapi masalah serius. Ia benar-benar tak menyangka.
Dulu, seluruh keluarganya bangga ketika si Bontot Bagong diterima di Sekolah
Teknik Akuntansi Negeri. Kabar gembira itu disebar luas kemana-mana sampai
penguasa Amarta, Prabu Puntadewa mengadakan syukuran atas prestasi Bagong,
adiknya. 

Tapi, sekarang ia prihatin. Ia benar-benar tidak menyangka. Setelah tiga
tahun bekerja menjadi detektif pajak, Bagong mengeluh seperti itu. Gareng
bisa merasakan betapa perihnya jeritan hati Bagong. Karena, dulu Bagong
selalu bercerita bagaimana pembinaan aklaq dilakukan di tempat sekolahnya,
Sekolah Teknik Akuntansi Negeri, yang berkampus di pinggiran negeri Amarta. 

"Bagaimana kalau kamu keluar saja dari sana?"

"Trus mau kerja apa?"

"Jadi konsultan pajak atau mendirikan kantor akuntan umum?"

"Sama saja mas. Sama menjadi maling."

"Aku ndak tahu maksudmu?"

"Sekarang aku maling uang negara untuk meringankan WP. Kalau aku jadi
konsultan pajak, aku juga akan buat laporan supaya WP tidak bayar pajak yang
mahal. Padahal mestinya bayar mahal. Jadi sama malingnya. Ilmunya sama. Yang
satu digunakan untuk menarik pajak sebanyak mungkin dari WP, nanti dapat
deal, WP jadi mbayar murah. Kalau konsultan, mengakali aturan supaya WPnya
tidak mbayar mahal ke negara. Itu kan sama-sama menjadi maling, mas."

"Ooooo....begitu to. Ya sudah kalau begitu kabur saja supaya dipecat."

"Tidak akan terjadi itu mas. Aku sudah coba tidak masuk kantor empat minggu,
berharap supaya dipecat. Supaya terbebas dari api naraka itu. Tapi, nyatanya
aku ndak pernah dipecat."

"Alasannya?"

"Mereka takut aku ngoceh di luar. "

"Emmmm, ya aku faham. Berarti, keluar juga berbahaya. Jiwamu bisa terancam."

"Persis. Itu yang kumaksud. Diteruskan, bahan bakar untuk tubuhku di neraka
kelak semakin menumpuk. Kalau keluar, jiwaku terancam. Padahal sekarang ini
aku belum siap mati, mas."

"Bagaimana kalau minta dipindahkan saja. Ndak usah jadi penyidik. Minta
dipindahkan ke bagian lain yang tidak ada kaitannya langsung dengan WP."

"Itulah satu-satunya harapanku. Aku akan mencari tahu."

"Kira-kira apa yang akan dilakukan  ketua tim dan kawan-kawanmu kalau tahu
kamu mau pindah?"

"Tidak tahu mas. Tapi, mereka akan kutemui dulu. Saya akan yakinkan mereka
bahwa saya akan pura-pura tidak tahu, sepanjang saya juga tidak diganggu."

"Kira-kira peluangnya bagaimana?"

"Aku belum tahu. Tapi itulah satu-satunya harapanku. Aku akan mencobanya."

Pembicaraan itu dilakukan tiga bulan sebelum kasus Gayus muncul di
permukaan. Selama tiga bulan itu pula Gareng mengalami kesulitan menghubungi
Bagong. Dusun Karang Kadento sudah disisir oleh pasukan Amarta tapi Bagong
tetap tidak ditemukan, hingga suatu hari Gusti Putri Drupadi menjerit jatuh
pingsan menemukan potongan tubuh di tamansari. Ketika Gareng melihat apa
yang ditemukan di Tamansari, tubuhnya menggigil. Ia melihat potongan jari
Bagong sedang diambil petugas forensik Amarta  (Bengkulu, 30 Maret 2010).


__._,_.___
Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
Messages in this topic (1) 
Recent Activity:  
Visit Your Group 
Saling percaya, Margoyudan maju bersama membangun bangsa.

Untuk bergabung, ketik email kosong ditujukan ke : 
[email protected] 

MARKETPLACE
Do More for Dogs Group. Connect with other dog owners who do more. 

________________________________
 
Welcome to Mom Connection! Share stories, news and more with moms like you. 

________________________________
 
Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new 
interests. 
 
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
. 

__,_._,___ 


      

Kirim email ke