Dear Pak Pekik,

It is very enlightened and true.

Even Edison (neeed to) made the 99 failures to invent the right bulb, wasn't He?

Pak, thank you for your guidance (was becoming my lecturer). It was exhausted 
honesrly, but I am proud (still) for making it myself (under your guidance for 
sure).
:-)

Even, I am not crafting my masterpiece in electrical. But, the way of working 
is contemplating.


A BIG thank you.
With Kindest Regards,
Nugroho Putra Susanto (o'o)
Aroes Koeat'95

Sent from my iPhone

On Apr 17, 2010, at 15:29, Pekik Dahono <[email protected]> wrote:

Ada cara mudah bagi seorang pembimbing menghindari plagiat yang dilakukan 
mahasiswa:
1) Mempunyai topik penelitian yang jelas
2) Tidak menerima ide penelitian dari mahasiswa

Dengan mempunyai topik penelitian yang jelas, dia seharusnya tahu bener apa 
yang sudah dipublish dan apa yang tidak. Untuk bidang saya, saya tahu bener apa 
yang dikerjakan oleh temen2 di belahan dunia yang lain. 

Kenapa ide mahasiswa harus ditolak? Bukannya idenya jelek, kita tidak akan 
punya waktu untuk memeriksa apakah ide mahasiswa tersebut original apa tidak. 
Selain itu berdasarkan pengalaman saya, tidak ada ide yang turun dari langit. 
Ide baru akan keluar hanya setelah mendalami topik penelitian sekian lama. 
Ingat kata Einstein, Its not because I am so smart, Its because I stay with the 
problem longer. Mahasiswa yang bisa memahami dan mengembangkan ide saya, saya 
yakin cukup pantas menerima gelar master atau doktor.

Untuk S1: mahasiswa cukup dengan memahami ide saya.
Untuk S2: mahasiswa cukup dengan memahami ide saya dan memahami mengapa saya 
punya ide itu.
Untuk S3: mahasiswa cukup dengan memahami ide saya, memahami mengapa ide itu 
keluar, dan mengembangkan ide tersebut.

Itu kriteria yang selama ini saya pakai. So far, its work

Salam




--- On Sat, 4/17/10, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [indonesia] Plagiarisme Doktor ITB Hanya Salah Satu Dari 151 Kasus 
Plagiarisme di IEEE
To: "ITB" <[email protected]>, "Indonesia" <[email protected]>
Date: Saturday, April 17, 2010, 3:13 PM
Judul di atas bukan membela
almamater,  apalagi "memuja" plagiator ataupun mencoba
memaklumi kelalaian dosen pembimbing. Namun, kalau benar
pernyataan Pak Freddy yang dikutip detik berbunyi,
"Sepanjang tahun 1997-2010, ada sekitar 2,5 juta artikel
yang dipublikasikan lewat IEEE," maka ada baiknya dicari
solusi yang elegan untuk menghindari plagiarisme ini, dengan
topik yang cukup jelas: bagaimana caranya seorang dosen
pembimbing tahu bahwa penelitian itu sudah pernah dilakukan
di antara jutaan jurnal tersebut?

Apakah cukup dengan Google search? Apa semua jurnal bisa
di-Google? Apa seluruh departemen harus berlangganan semua
jurnal? 

Tapi mungkin jawabannya gampang saja: butuh penelitian
sendiri untuk memecahkan masalah ini dan kata kuncinya
adalah "data mining techniques". 

Salam,
CA

Source: 
http://m.detik.com/read/2010/04/16/110924/1339536/10/itb-hanya-satu-dari-151-kasus-plagiarisme-di-ieee

--begins--
Plagiarisme Doktor ITB

ITB Hanya Satu Dari 151 Kasus Plagiarisme di IEEE

Fitraya Ramadhanny : detikNews

detikcom - Jakarta, Rupanya kasus plagiarisme yang
dilakukan doktor dari ITB, bukan satu-satunya kasus
penjiplakan yang diungkap oleh Institute of Electrical and
Electronics Engineers (IEEE). IEEE sudah membongkar 151
kasus serupa yang dilakukan para ilmuwan dari berbagai
negara.

Kenapa harus IEEE? Menurut Sekjen Ikatan Alumni (IA) ITB
Freddy P Zen, IEEE adalah organisasi paling prestisius bagi
para ilmuwan teknik. Barangsiapa yang bisa mempublikasikan
tulisan ilmiah melalui IEEE, mereka akan sangat naik pamor.

"IEEE adalah organisasi ilmuwan tingkat dunia yang sangat
prestisius," kata Freddy dalam perbincangan telepon dengan
detikcom, Jumat (16/4/2010).

Namun sayangnya, demi gengsi tersebut, banyak ilmuwan yang
mengambil jalan pintas dengan menjiplak karya ilmuwan lain.
IEEE bukannya tidak tahu akan hal ini.

Sepanjang tahun 1997-2010, ada sekitar 2,5 juta artikel
yang dipublikasikan lewat IEEE. Artikel ini memang nantinya
bisa diunduh lewat perpustakaan digital IEEE yaitu
ieeexplore.ieee.org.

Dari sekian banyak makalah itu, ada juga yang ditemukan
menjiplak makalah lain yang terkadang bahkan sama-sama
dipublikasikan oleh IEEE. Saat detikcom, mencari data kasus
penjiplakan yang diungkap IEEE, ternyata ada 151 kasus
sejenis.

Para pelaku adalah ilmuwan dari berbagai belahan dunia,
sebut saja Malaysia, India, Kanada, dan Skotlandia. Tapi,
kebanyakan pelaku plagiat berasal dari China. Bahkan ada
juga satu ilmuwan dari Amerika Serikat yang ketahuan 47 kali
menjiplak, tapi rupanya tidak kapok-kapok. 

Nah, dari 151 kasus plagiat yang dibongkar, hanya satu
kasus dari Indonesia. Tepatnya riset dari Mochammad
Zuliansyah, yang saat itu masih menjadi mahasiswa S3. Para
pembimbingnya adalah Prof Dr Ir Suhono Harso Supangkat, M
Eng, Prof Dr Ir Carmadi Machbub dan Dr Ir Yoga Priyana.
Meskipun hanya satu kasus, tetap saja plagiarisme tidak
boleh dibiarkan.
--ends--
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry®
smartphoneêå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·




--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt






--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke