.....mahasiswa S-3 Teknik Elektro ITB ? saya bisa memaklumi! karena obyek obyek 
penelitian tentang sistem sistem ekonomi/ energi di Indonesia masih tertutup 
rapat. Padahal apabila captive market yang banyak ada disepanjang Jawa Bali 
boleh dibuka bersama,......saya yakin ITB segera jadi World Class Research 
University.
Salam, Tjahjokartiko

http://icaexpo.coop

--- On Sun, 4/18/10, Cardiyan HIS <[email protected]> wrote:

From: Cardiyan HIS <[email protected]>
Subject: [indonesia] Mensiasati “Public Relations” ITB agar Kinclong
To: [email protected]
Date: Sunday, April 18, 2010, 9:37 PM

Mensiasati “Public Relations” ITB agar Kinclong 
Oleh Cardiyan HIS

ITB terkaget-kaget. Kasus plagiarisme seorang mahasiswa S-3 Teknik Elektro ITB 
telah merusak citra ITB. Memang lebih  sering berita buruk yang muncul ke media 
massa tentang ITB. Mulai dari gudang joki seleksi masuk PTN, meninggalnya untuk 
yang kedua kali mahasiswa baru,  serta  pabrik narsisus nomor 1. Padahal bila 
ITB pintar main “Public Relations” sudah sepatutnya mengangkat  sisi lain 
keberhasilan banyak civitas academica ITB tanpa harus menutup fakta lain yang 
memang tak boleh ditutup-tutupi. 
   
Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah India dan 
Amerika Serikat (AS). Indonesia adalah negara dengan kebebasan pers yang luar 
biasa terbuka bahkan mengalahkan dedengkotnya sendiri yakni Amerika Serikat, 
kecuali tentu saja dalam hal tidak boleh menerbitkan dan menyiarkan pornografi 
dan porno aksi. Mayoritas Rakyat Indonesia dengan demikian sudah menjadi 
masyarakat  informasional, setidaknya secara pasif , tetapi
 belum tentu menjadi masyarakat yang terbuka terhadap semua ide atau pemikiran 
yang berkembang.   
Civitas academica ITB yang merupakan bagian dari masyarakat informasional, 
tentu berada pada posisi yang lebih aktif dan lebih terbuka terhadap berbagai 
ide dan pemikiran yang berkembang pada arus globalisasi dunia ini. Namun ITB 
sebagai sebuah institusi sains teknologi dan seni, ternyata belum siap bahkan 
terkaget-kaget manakala harus menerima kenyataan  gelombang besar berbagai 
berita pahit ada civitas academica ITB yang melakukan tindakan menyimpang yang 
mencederai harga diri ITB dan civitas academicanya.  
Akar persoalannya menurut penulis karena ITB sebagai institusi memang tak 
memiliki strategi “Public Relations”  (“PR”) yang sistematis bahkan terkesan 
kurang memandang sangat penting dan strategis soal “PR” ini dalam menaikkan 
nilai tambah ITB pada peta Indonesia dan dunia. Bahwa memang betul ITB selalu 
memiliki Wakil Rektor Bidang Komunikasi dan Alumni pada struktur organisasinya 
pada berbagai Rektor yang memimpin ITB.  Tetapi ini lebih sebagai “tempelan” 
dari pada sebagai sebuah struktur yang sangat strategis dalam
 organisasi ITB  dan secara fungsional didesain untuk mengangkat nilai tambah 
ITB. ITB tak cukup hanya menempatkan seorang Wakil Rektor ITB (yang nota bene 
masih menangani tugas sehari-hari sebagai Guru Besar yang melakukan riset, 
mengajar dan membimbing riset para mahasiswa Pasca Sarjana, bahkan masih 
mengajar mahasiswa S-1)  yang menangani “PR” ini. Tetapi secara organisasi, ITB 
harus memiliki suatu tim “PR” tangguh yang direkrut melalui undangan terbuka 
iklan media massa dari kalangan profesional komunikasi massa yang diharapkan 
mampu memahami karakter ITB baik kekuatan dan kelemahannya; yang  hari demi 
hari bersikap aktif  mendesain ke-“PR”-an ITB untuk diinformasikan ke luar dan 
selalu sigap menangani suatu isyu negatif secara cepat dan menuntaskannya.      
  
   
“PR”Juga Menjadi Tanggungjawab Alumni ITB  
Ketika menjadi panelis Pemilihan Rektor ITB mewakili unsur alumni ITB, penulis 
sangat “gregeteun” dengan presentasi salah seorang calon Rektor ITB. Dia aneh 
lebih mengangkat keberhasilan UI menjadi ranking 201 dan UGM ranking 250  dan 
mengekspose ranking 351 yang diraih ITB. Dari segi “PR” ITB ini adalah suatu 
tindakan sangat bodoh, sangat tidak taktis karena dia berbicara tentang 
kelemahan ITB pada suatu forum terbuka yang banyak diliput oleh media cetak dan 
elektronik dan juga masyarakat luas.  
Seorang ahli “PR” yang profesional (seandainya direkrut oleh ITB), dia pasti 
akan mengangkat  ITB nomor 80 di dunia (dari tahun sebelumnya yang nomor 90) 
untuk “Technology Area”,  sebuah bidang yang paling prestisius dan menjadi 
favorit mahasiswa. ITB dengan demikian menjadi satu-satunya PTN Indonesia yang 
masuk 100 Besar Dunia.  Sedangkan UI hanya terduduk lesu di ranking 198 dan UGM 
terpojok di sudut
 233. Seorang ahli “PR” profesional kemudian akan mengangkat lagi bahwa ITB 
meraih ranking 153 untuk “Natural Sciences Area” menewaskan UGM di ranking 198 
dan memojokkan UI terduduk lesu di ranking 242. Bahkan untuk “Life Sciences & 
Biomedicine Area”,  ITB yang tak memiliki Fakultas Kedokteran pun (hanya 
Sekolah Farmasi dan Sekolah Ilmu Teknologi Hayati) masih mendapat ranking 
lumayan di urutan 264 meski tentu saja kalah sama UGM di ranking 103, UI 
ranking 126 dan Unair ranking 224 karena ketiganya memang memiliki Fakultas 
Kedokteran, Fakultas Farmasi bahkan Fakultas Psikologi. Ini adalah sebuah 
ilustrasi saja dan BUKAN PROPAGANDA betapa “PR ITB” bisa menjungkir balikkan 
suatu citra yang kurang nyaman menjadi citra yang lebih baik, atau paling tidak 
masyarakat akan lebih memahaminya.  
Para ahli “PR” UI dan UGM benar-benar memanfaatkan ranking UI dan UGM tahun 
2009 versi The Times Higher Education Supplement-QS World University Ranking 
(UK) sebagai “PR” yang sangat ampuh untuk menaikkan kredibilitas kampus mereka 
.  Kepada media massa, bahkan tim “PR” UI dan UGM TERANG-TERANGAN MENOHOK ITB 
sebagai satu-satunya PTN yang menurun rankingnya dari semula 315 menjadi 351. 
Sedangkan  UI ranking 201 dari sebelumnya 287 (untuk overall score) dan UGM 
ranking 250 dari sebelumnya 316. Tim “PR” UI dan UGM by design tak akan pernah 
berbicara ranking berdasarkan apple to apple  karena jelas tindakan bodoh dari 
segi “PR”, kontra produktif  untuk pencitraan UI dan UGM. Contoh yang lain; 
bagaimana begitu “jeli”-nya Rektor UI memanfaatkan “fakta sejarah” seorang bule 
asli Belanda yang bernama  Christian EIJKMAN Pemenang Hadiah Nobel tahun 1926 
ke dalam jajaran alumni UI. Alasannya menurut Rektor UI, walau bagaimana pun
 Eijkman  adalah pernah menjadi mahasiswa dan lulus dari Stovia (Sekolah 
Kedokteran Hindia Belanda),  di
 jaman penjajahan Belanda dulu. Inilah yang akhirnya mampu mengatrol ranking UI 
karena merupakan kampus ke enam di Asia setelah Jepang, India, Pakistan, Cina 
dan Iran yang alumninya  memiliki Pemenang Hadiah Nobel. 
Kok ITB adem ayem saja? Padahal dari segi “PR” ini kesempatan untuk merilis 
keberhasilan ITB nomor 80 di dunia untuk bidang  “Technology Area” dengan dana 
riset hanya US$ 3,8 juta/tahun;  tetapi mampu mengalahkan banyak universitas  
papan atas Amerika Serikat seperti University of Chicago, University of  
Wisconsin at Urbana Champaign, Northwestern University, University of Southern 
California, Noth Carolina University, University of California at Davis, 
University of California at Irvine, Rice University, Brown University, 
University of  Washington, University of  Pennsylvania, Pennsylvania State 
University, Duke University, Boston University dan banyak lagi, yang memiliki 
dana riset ratusan juta dollar.  
Bagaimana dengan kiprah alumni ITB yang berprestasi di dunia? “PR ITB” akan 
semakin dimudahkan dengan fakta begitu banyak alumni ITB yang jumlahnya ribuan 
menjadi diaspora dan memiliki prestasi kelas dunia antara lain Herry Sutanto 
(Microsoft Inc.,, USA), Khoirul Anwar (JAIST, Japan), Anak Agung Julius 
(Renselaer Polytechnic Institute, USA), Stephen Prajna (California Institute of 
Technology, USA), Dina Shona Laila (Imperial College London, UK), Bayu 
Jayawardhana (University of Groningen, Belanda), Hendra Nurdin (ANU, 
Australia), Henricus Kusbiantoro (LANDOR Associates, USA),  Chris Lie (USA), 
Bambang Parmanto (University of Pittsburg, USA), Hansye (Michigan, USA),
 Satria Zulkarnaen (Tohoku University, Japan) disamping tentu saja alumni ITB 
yang menjadi dosen ITB antara lain Sri Widiyantoro, I  Gede Wenten, Benyamin 
Soenarko, Suwono, Djoko T. Iskandar, Wilson H. Wenas, Halim M, Noer AS, T. 
Gusdinar, Arismunandar, Hasanuddin ZA, Bambang Riyanto, Pekik Dahono,Trio 
Adiono, Adi Indrayanto. Belum alumni ITB yang berkiprah sebagai wirausaha 
antara lain Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Ciputra, TP Rachmat, Bambang 
Subianto. 
Dan jangan dilupakan, karena ITB mendapatkan masukan mahasiswa-mahasiswa baru 
terbaik dari tahun ke tahun sepanjang sejarah seleksi masuk PTN di Indonesia, 
yang juga diakui oleh dunia internasional sebagai Selektivitas Mahasiswa 
terketat dan terbaik di Asia Pasifik versi majalah “AsiaWeek” tahun 2000 (Cesar 
Bacani, Time of Ferment,  Hong Kong, June 30, 2000). Maka hasilnya pun sudah 
dipetik sebelum mereka lulus seperti terbukti mahasiswa ITB memenangi 
berturut-turut kompetisi kelas dunia antara lain Imagine Cup (Microsoft Inc.,) 
untuk
 tahun 2008 (Tim Antarmuka) dan tahun 2009 (Tim Big Bang); L’Oreal, Perancis 
tahun 2008 dan 2009; the XML Challenge Superstar IBM; LSI Design Contest 2008 
dan 2009 dari Japan Society of Information and Communication. 
   
Belajarlah “PR” kepada UI, UGM dan Unpad  
ITB memang harus belajar banyak soal “PR” ini kepada UI dan UGM dan juga 
tetangga terdekatnya Universitas Padjadjaran (Unpad). Pada forum “Temu Calon 
Rektor ITB dengan Masyarakat” itu, penulis ungkapkan kekecewaan yang sangat 
mendalam; bagaimana ITB yang nota bene menjadi perintis peluncuran Hak Atas 
Kekayaan Intelektual (HAKI) di Hotel Hilton Jakarta pada tahun 2001 ternyata di 
website: www.itb.ac.id tak pernah meng-update pencapaian HAKI-nya yang telah 
melampaui 100 buah paten, terdiri dari 5 paten telah berhasil dikomersialisasi, 
30 paten siap lisensi dan ini belum termasuk
 puluhan hak cipta setelah 8 tahun yang lalu!!!.  
Lebih kaget lagi, setelah penulis membaca data SCOPUS yang menjadi acuan 
tentang data jumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional, jumlah web dan 
jumlah paten. Tanya kenapa? Data Paten ITB ternyata tertulis di Scopus sebagai 
0 (diulang: nol !!!). Sedangkan UI yang terus menerus memperbarui content 
web-nya mencatatkan paten sebanyak 22, UGM 5 serta LIPI 2 paten. Di Scopus, ITB 
memang tercatat sebanyak 1.200 publikasi ilmiah di jurnal internasional, 
terbanyak di Indonesia, UI hanya 1.186, UGM 742, LIPI 527 dan IPB 518. Begitu 
pula ITB paling banyak memiliki web yakni 10 dibanding UI 3 web, UGM 2 web dan 
LIPI 2 web.
  
Sayang sekali dong, pencapaian ITB yang begitu bagus soal HAKI dan publikasi 
ilmiah di jurnal kelas dunia ternyata oleh pihak ITB sendiri tidak dirawat 
secara sepatutnya. “Cepat benahi, jangan-jangan diambil Malaysia”, kata seorang 
alumnus FK UI yang dokter sangat senior di jaman Menteri Kesehatan RI 
Soewardjono Suryaningrat, kepada penulis sambil ketawa.  Bagaimana ada investor 
kelas dunia yang mau membeli hasil invensi ITB kalau mengakses ke website ITB 
saja disuguhi data yang super kadaluarsa. Apalagi kalau tim Scopus atau tim 
pemeringkat universitas dunia The Time HE QS (UK)
 mau masuk ke website ITB, mereka akan bilang “ITB is very very KACIAN BANGET”. 
Ya ITB, sama saja tidak menghargai pencapaian sangat susah payah para dosen 
penelitinya yang merupakan kekuatan utama dari ITB dalam arti sesungguhnya 
disamping kehebatan talenta para mahasiswanya.  
Penulis ungkapkan pula bagaimana ITB tak memiliki konsep dalam mengembangkan 
mahasiswa-mahasiswa yang bertalenta sangat baik ini menjadi lulusan-lulusan ITB 
yang berkarakter kuat, berintegritas tinggi, berjiwa nasionalis, bermental 
tangguh dalam mengarungi perjalanannya setelah lulus dari ITB. Kenapa? Karena 
ITB tetap menganggap bahwa mengembangkan karakter mahasiswa adalah sebuah “cost 
center”, sebuah “wasting time”, buang-buang waktu saja dan tidak menganggapnya 
sebagai “human investment” yang memang “long term” sifatnya. Tak mengherankan 
bila hasilnya sekarang sudah menggejala, bagaimana mahasiswa ITB banyak yang 
menjadi pelaku kriminal menjadi joki seleksi masuk PTN; banyak lulusan dan 
dosen narsisus yang mengidap gejala penyakit yang berbau meta fisika tetapi tak 
mampu berbuat apa-apa bagi lingkungannya dan perilaku buruk lainnya seperti 
yang paling hot kasus plagiarisme yang dilakukan oleh mahasiswa S-3 Teknik 
Elektro ITB.  
Tetapi kalau ITB berhasil mengubah “mind-set” untuk bersedia mengembangkan 
mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan, maka insya Allah pada puluhan 
tahun mendatang akan terlahir manusia-manusia ITB yang berkarakter kuat, 
berintegritas tinggi dan berhasil pada bidangnya masing-masing berkelas dunia. 
Akan banyak manusia ITB yang menjadi “World Class Genuine Entrepreneur”, yang 
bukan saja hebat dalam skala usahanya tetapi yang terpenting menjalankan 
bisnisnya dengan cara-cara yang bermartabat. Akan banyak manusia ITB yang 
menjadi
 “World Class Stateman” yang berjiwa negarawan. Akan banyak dosen peneliti ITB 
yang menjadi “World Class Researcher” yang akan mengubah dunia menikmati 
peradabannya yang damai dengan berbasis ilmu-teknologi.  
Http: www.cardiyanhis.blogspot.com 
Http: www.ia-itb.blogspot.com 
  

       Lebih aman saat online. 
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!


      

Kirim email ke