Salam,

Paijo

-----Original Message-----
From: Dadang Kadarusman <[email protected]>
Date: Sun, 18 Apr 2010 18:48:12 
To: <[email protected]>
Subject: [PROFEC] Artikel: Jangan-jangan Plagiat Itu Produk Lembaga Pendidikan

Artikel: Jangan-jangan Plagiat Itu Produk Lembaga Pendidikan
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Plagiat lagi. Kaum intelek lagi. Institusi pendidikan lagi. Kita sependapat 
untuk tidak memberi tempat kepada praktek-praktek plagiat, dan tidak memberi 
tempat kepada pelakunya. Bukan karena tidak menyukai orangnya, tapi 
perilakunya. Yang jelas, mereka kalah pintar dari para pencuri. Para pencuri 
memiliki naluri untuk sembunyi. Mereka menyembunyikan barang curinnya. Seorang 
plagiator malah memajang hasil plagiasinya. Seolah-olah dia tengah megumumkan; 
”ini hasil jiplakan saya loh...” Kita tidak tahu, apakah ini tindakan gagah 
berani, atau bodoh. Disisi lain, kita juga sering disuguhi fakta bahwa 
institusi sering mengelak  dari tanggungjawab. Seolah hendak bercuci tangan. 
Padahal, sudah saatnya bagi mereka untuk mengevaluasi; jangan-jangan plagiat 
itu merupakan salah satu produk lembaga pendidikan.
 
Sikap defensif institusi pendidikan terhadap kasus plagiat tidak akan bisa 
menyelesaikan masalah. ’Merasa kecolongan’, atau ’merasa ditipu’sama sekali 
bukanlah bentuk jawaban yang konstruktif. Sebaliknya, malah semakin menegaskan 
bahwa memang institusi pendidikan cenderung cuci tangan. Mereka tidak ingin 
nama baiknya tercemar, namun sesungguhnya mereka tidak memiliki sistim yang 
bisa diandalkan agar praktek plagiat semacam itu tidak terjadi di institusinya. 
Ini bukan soal institusinya apa. Sebab, disemua institusi pendidikan manapun 
mahasiswa S-1 yang sedang membuat tugas akhir mendapatkan akses tinggi terhadap 
makalah atau skiripsi yang dibuat oleh kakak kelasnya. Internet pun menyediakan 
banyak kemudahan. Namun, kita perlu mawas diri; apakah akses yang luas itu 
sudah diimbangi dengan pembekalan yang memadai tentang etika dalam penyusunan 
karya tulis? Padahal, jika untuk meraih gelar sarjana S-1 saja seseorang 
menjiplak, sangat mungkin untuk
 tesis pada jejang pendidikan S-2 dan S-3 melakukan tindakan serupa. 
 
Kalau ditelaah lebih jauh, sebenarnya penjiplakan itu sudah menjadi penyakit 
sistemik dalam sistem pendidikan di Indonesia. Buktinya, untuk lulus Ujian 
Nasional saja kita mencontek. Padahal, mencontek adalah salah satu bibit 
plagiat dikemudian hari. Jika seorang Menteri dan aparat kepolisian saja 
kelabakan mencegah pencotekan; bagaimana mungkin kita bisa yakin bahwa 
kasus-kasus plagiat itu terjadi hanya sedikit? Jangan-jangan kita hanya melihat 
permukaannya saja. Sedangkan akar masalah yang sesungguhnya tetap tersembunyi 
dibawah laut.
 
Institusi pendidikan boleh mengatakan ’mereka kecolongan’ jika mereka hanya 
berfokus kepada ’pengajaran teknis intelektualitas’ belaka di kampusnya. 
Padahal, pendidikan yang sesungguhnya bukanlah sekedar memenuhi otak anak didik 
dengan pengetahuan. Melainkan juga membangun jiwanya agar memiliki sikap mental 
yang baik. Kalau target proses pendidikan mereka sampai kepada titik ini, maka 
pasti mereka tidak akan cuci tangan. Sebaliknya mereka akan mengakui fakta itu 
sebagai salah satu titik lemah yang mesti dicarikan jalan keluarnya. Sayangnya, 
perguruan tinggi di negeri kita jarang bersikap demikian. Fokus utama mereka 
adalah; menyelamatkan muka dan citra belaka. Padahal, itu semakin menunjukkan 
bahwa perguruan tinggi tidak menjadikan ”character building” sebagai landasan 
pendidikan mereka.
 
Kita juga sering lupa pahwa mental plagiat itu menimbulkan ekses yang kompleks. 
Hal itu membentuk sebuah pola berantai seperti ini; saat ujian mereka 
mencontek, saat membuat skripsi mereka menjiplak, dan ketika terjun kedunia 
nyata mereka mencurangi hasil karya orang lain. Makanya, kita kehilangan 
generasi kreatif yang mempercayai bahwa dirinya memiliki keunikan. Sehingga 
mereka lebih suka meniru atau menggunakan tools ’copy paste’ dari karya-karya 
orang lain untuk kemudian memberikan label bahwa itu adalah hasil karyanya 
sendiri.
 
Dalam industri perbukuan juga demikian. Beberapa waktu lalu, seorang sahabat 
menceritakan tentang kecurangan yang lumrah terjadi di dunia penerbitan.  
Kurang dari tiga bulan setelah buku yang ditulisnya terbit; muncul buku lain 
yang sejenis. Dalam buku saingannya itu ada bagian-bagian yang ’plek ketiplek’ 
di copy paste dari bukunya. Bahkan, ada 20 halaman yang dijiplak hingga titik 
komanya pun sama. Modus lain yang sering digunakan para pengarang kacangan dan 
penerbit yang tidak beretika adalah; mengincar buku-buku bagus. Lalu, 
menerbitkan buku yang isinya hampir sama dengan buku itu. Anda juga bisa 
menemukan banyak buku yang tidak jelas siapa penulisnya. Padahal, salah satu 
cara untuk menguji kualitas sebuah karya tulis adalah; apakah penulisnya 
memiliki kesediaan dan kemampuan untuk mempertanggungjawabkan karya tulisnya 
dihadapan para pembaca? Dan di Indonesia, belum ada lembaga relugator yang 
menggawangi tantangan-tantangan seperti itu. Makanya,
 plagiatisme tumbuh subur dan menjamur.  
 
Keterkaitan antara sistem pendidikan, sistem pengawasan, dan keutuhan moral 
sang penulis jelas sekali kelihatan. Kalau salah satu dari ketiga komponen itu 
masih asyik dengan jurus lamanya untuk berlepas tangan, maka kasus-kasus 
penjiplakan akan terus berkembang. Jadi, kita memang tidak boleh menganggap 
remeh plagiatisme. Namun, penyelesaiannya sama sekali bukanlah dengan cara 
menunjuk hidung si pelaku belaka. Institusi pendidikan harus berani mengambil 
tanggungjawab. Pemerintah mesti mampu mengawasi. Industri dan penulis juga 
mesti tahu diri.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
http://www.bukudadang.com/  
Penulis Buku ” Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk”  
 
Catatan Kaki:
Mencotek hasil karya orang lain itu menggambarkan sikap mental pelakunya yang 
imitatif. Seperti kembang plastik, hasil karyanya terlihat indah. Tapi tidak 
memiliki nyawa.  
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
dapatkan di www.bukudadang.com 

--------------------------------
Buku terbaru Dadang Kadarusman "Melampaui keserakahan Seekor Nyamuk" sudah bisa 
dipesan di http://www.bukudadang.com/


      

Kirim email ke