Kalau nggak salah ada dosen Planologi yg disertasinya 3D spatial analysis dr 
Geography, UI Urbana.

Salam,

-Irsal
The true sign of intelligence is not knowledge, but imagination.
#Albert Einstein

-----Original Message-----
From: CHPStar <[email protected]>
Date: Wed, 21 Apr 2010 20:02:14 
To: <[email protected]>
Cc: <[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Pendapat Kang Maman dan Bagaimana ITB soal Plagiarisme?

Perlu diketahui semua pihak, topik seperti 3D Spacial Analysis tersebut adalah 
masalah strategis (bikin susah). Sudah saatnya ITB dapat dan akan melihat mana 
yang:

Public Intellectual PropertyCooperative Intellectual Property (dahulu leaky 
intellectual property)
Private Intellectual Property
Back to the future ITB 2020

Salam, Tjahjokartiko
http://icaexpo.coop

--- On Wed, 4/21/10, Cardiyan HIS <[email protected]> wrote:

From: Cardiyan HIS <[email protected]>
Subject: [indonesia] Pendapat Kang Maman dan Bagaimana ITB soal Plagiarisme?
To: [email protected]
Date: Wednesday, April 21, 2010, 10:02 PM

Pendapat Kang Maman dan Bagaimana ITB soal Plagiarisme? 
Oleh Cardiyan HIS 
   
Untung ada Kang Maman. Si Akang yang nama lengkapnya adalah Prof.DR. Maman 
Abdurachman Djauhari  memang sudah pensiun dari Matematika ITB tetapi 
pemikirannya tak terputus dari almamaternya meski sekarang sedang menjadi 
periset di manca negara. Sebagaimana diketahui Kang Maman ini pernah menjadi 
Ketua Majelis Guru Besar ITB periode 2007-2008. Kita beruntung telah membaca 
surat Kang Maman di mailist IA ITB (21 April  2010 jam 07:05 postingan seorang 
alumnus ITB Tsulusun ArRoyan) yang merupakan forward dari mailist “Tertutup 
Dosen ITB” berjudul “Plagiarism versus Marwah ITB”.  
Selama berhari-hari dan belum berakhir hingga sekarang, para alumni ITB memang 
merasa sangat terpukul.  Ulah plagiarisme Mochammad Zuliansyah (MZ) alumnus S-2 
dan S-3 STEI ITB telah mencederai nilai-nilai kejujuran dan integritas, yang 
sepanjang 90 tahun telah menjadi kebajikan umum di ITB. Nilai-nilai kejuangan, 
nilai kejujuran yang tak tersentuhkan yang “sakral” sejak seleksi masuk S-1 ITB 
dan selama proses menuntut ilmu di ITB yang tak bisa dipertukarkan dengan uang 
berapa pun nilainya, begitu mudahnya dicampakkan MZ.  
“Majelis Guru Besar ITB sebagai penjaga nilai-nilai telah kecolongan,” tulis 
surat Kang Maman. Rektor ITB sampai dosen muda ITB hendaknya tidak defensif dan 
jangan membela orang. Harus rasional untuk tetap berintegritas akademik.  
Maknanya sungguh mendalam bahwa yang harus dibela adalah nilai-nilai BUKAN 
orang per orang. Kita semua sudah tahu bahwa tulisan termasuk tulisan plagiat 
adalah tanggungjawab semua pengarang. Penjelasan ITB sementara ini tentang 
siapa penulis utama dan bagaimana peran ketiga penulis lainnya sungguh sebagai 
alasan yang sangat sulit diterima.    Oleh
 karena itu ungkap Kang Maman, ITB harus segera membuat NORMATIVE STATEMENT, 
sebelum masyarakat kampus internasional bahkan masyarakat luas memandang 
sebelah mata ITB karena tak memiliki lagi sikap tegas, tak memiliki integritas 
dalam menjunjung  dan membela nilai-nilai kebenaran.  
Kang Maman tak hanya mengungkapkan sikap tegasnya kepada ITB. Tetapi juga ia 
menyarankan dengan mengingatkan ITB agar para profesornya disuruh kembali ke 
laboratorium saja, tak usah urus yang macam-macam. Profesor itu harus 
dikelilingi para mahasiswa untuk memproduksi ilmu baru  yang kemudian 
diterbitkan ke dalam jurnal internasional untuk mendapatkan pengakuan dari 
“international peers”. Bukankah profesor adalah sebuah “klub internasional”?   
Saya sangat setuju dengan pendapat kang Maman ini karena senada dengan tulisan 
saya sebelumnya “Saatnya Rektor Menegur Profesor” (mailist IA-ITB, 16 Februari 
2010) yang antara lain mengupas ternyata masih ada profesor di ITB yang 
menjelang pensiun tak memiliki tulisan yang dimuat di jurnal internasional 
kredibel selain disertasi doktornya saja  atau juga “Menulis atau Karier di 
Kampus Habis?” (mailist IA-ITB, 23 Agustus 2009) yang antara lain mengupas 
nasib tragis para dosen peneliti di kampus Amerika Serikat yang alih profesi 
menjadi supir taksi, pencuci piring di restoran
 atau loper koran dll sementara nasib profesor di Indonesia aman-aman saja 
meskipun tak menulis satu pun paper di jurnal internasional bahkan “hebat” ada 
yang menjadi selebritas sebagai pengamat di media cetak maupun elektronik. 
Arogansi Komunitas Mengancam ITB? 
Tim Investigasi yang dibentuk oleh Rektor ITB memang sedang melakukan 
investigasi dengan waktu tugas selama satu bulan.  Tetapi berbagai opini terus 
berkembang liar yang mengarah kepada bagaimana dengan ketiga pembimbing ITB. 
Karena pada banyak kasus pada hakekatnya  penelitian yang dikerjakan mahasiswa 
adalah   sebuah penelitian dosennya. Dalam kasus plagiarisme MZ pada tahun 2008 
saat dia masih mahasiswa S3 atas paper DR. Siyka Zlatanova berjudul “On 3 D 
Topological Relationship” yang sudah dipublikasikan  pada 11th International 
Workshop on Database and Expert System Applications, IEEE 2000; ternyata para 
pembimbing “terpukau” dengan cara MZ berpresentasi dan lancar menjawab 
pertanyaan.  
Menurut saya dan rekan-rekan profesi Geodesi dan Geomatika sebenarnya ada 
terungkap sisi lain telah terjadi “Pelanggaran Etika Akademik” pada para 
pembimbing yang tidak melibatkan profesi lain yang lebih berkompeten pada salah 
satu substansi penelitian. Coba kita lihat ketiga pembimbing MZ semua adalah 
dari disiplin Teknik Elektro. Mengapa tidak ada satu pun penguji atau 
setidaknya peer reviewer dari disiplin Ilmu Geodesi dan Geomatika kalau “tak 
boleh” salah satu menjadi co-promotor? Topik seperti itu merupakan makanan 
empuk sehari-hari para mahasiswa S-1 Geodesi dan Geomatika ITB.    
Sepintas melihat judulnya saja, jelas paper DR. Siyka Zlatanova ini “sangat 
berbau Geodesi dan Geomatika”. Sisi demikian nama panggilan akrab dari  Siyka 
Zlatanova ini adalah tak asing lagi di mata para alumni Geodesi ITB seperti 
DR.Ir. T. Lukman Azis, DR.Ir. Bobby Dipokusumo, DR. Ishak Hanafiah Ismullah, 
DR.Ir. Dudung Muhally Hakim, DR.Ir. Agus Suparman,   DR.Ir. Elly Rasdiani, 
sampai ke dosen muda DR. Ir. Deni Suwardhi.   Karena mereka adalah sama-sama 
alumni ITC at Enschede, the Netherland. Sisi kemudian memilih kariernya menjadi
 dosen di Department of  Geodesy, TU Delft, Belanda.   
Seorang teman saya, seorang dosen  Geodesi dan Geomatika ITB bahkan telah 
mendapat kehormatan diundang oleh Sisi pada bulan April 2005 untuk berbicara di 
TU Delft tentang peranan Geodesi dan Geomatika dalam mitigasi bencana Tsunami 
Aceh Desember 2004. Bahkan DR.Ir. Deni Suwardhi (GD ITB 1988)  masih intens 
berkomunikasi sebagai “sparring partner” dengan Sisi, sampai  kemudian seluruh 
alumni ITC asal ITB terkaget-kaget setelah terbongkar kasus plagiarisme oleh MZ 
itu. 
Nasi telah jadi bubur memang. Kasus plagiarisme telah merusak reputasi ITB yang 
telah dengan susah payah diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Dan sangat 
sulit untuk memulihkannya kembali kecuali dengan perjuangan berat para civitas 
academica ITB untuk selalu terus berkarya pada bidangnya masing-masing; baik 
untuk menghasilkan riset orisinal berkualitas tinggi maupun berbagai ide dan 
pemikiran serta kiprah pengabdian  yang berdampak besar bagi peradaban manusia. 
Kini saatnya Sidang Senat Akademik ITB harus mengambil sikap jernih, tegas 
dengan semangat  menjunjung tinggi nilai-nilai yang memandu peradaban, yang 
kemudian harus dijalankan oleh Rektor ITB dengan tegas pula. 
Http: www.cardiyanhis.blogspot.com




Kirim email ke