Sahabats cerita menyentuh mengenai cinta.


----- Forwarded Message ----
From: Hewez Hewezzz <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Sun, April 25, 2010 6:56:10 AM
Subject: [Alumni Margoyudan123] Fw : Cinta dan persahabatan

  
Cerita kecil dari milis sebelah :
 
Istriku berkata kepadaku yang sedang baca koran. Berapa
lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu 
tersayang
untuk makan. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya
Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi
berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang
manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak
suka makan curd rice ini.
Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau
makan curd rice ada “cooling effect”.
 
Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi
ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu
akan teriak2 sama ayah.
 
Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang
punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia  menghapus air mata dengan tangannya,
dan berkata “boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya
beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta”
agak ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua
nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”
 
Aku menjawab “oh pasti, sayang.”
 
Sindu tanya sekali lagi, “betul nih ayah ?”
 
“Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang
kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.”
 
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,
istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji
kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta
komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya
uang.”
 
Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tidak minta
barang2 mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan  kelihatannya
sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam
hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu
yang tidak disukainya.
 
Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku
dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku)
tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotaki n pada hari
Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin,
tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia
terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.
 
Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang
lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya,
tidak ada yah, tak ada keinginan lain, kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu
: tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.
 
Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana
menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah
sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa
ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah
mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap 
seseorang
apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala)
untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa
anaknya sendiri.
 
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku
: janji kita harus ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah
aku sudah gila? Tidak, jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak
akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu
akan kami penuhi. Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak
bundar dan matanya besar dan  bagus.
 
Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku
melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku.
Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.
 
Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil
berteriak : Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak
laki2 itu botak.
 
Aku berpikir mungkin”botak” model jaman
sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata: “anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan
bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker 
leukemia.”
Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish
tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak
jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya.
Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk 
mengatasi
ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau
mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan
sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
 
Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku,
tolong ajarkanku tentang cinta dan persahabatan.
__._,_.___
Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
Messages in this topic (1) 
Recent Activity:  
Visit Your Group 
Saling percaya, Margoyudan maju bersama membangun bangsa.

Untuk bergabung, ketik email kosong ditujukan ke : 
[email protected] 

MARKETPLACE
Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the 
Yahoo! Toolbar now. 

________________________________
 
Welcome to Mom Connection! Share stories, news and more with moms like you. 

________________________________
 
Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new 
interests. 
 
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
. 

__,_._,___ 


      

Kirim email ke