Dari milist sebelah rumah...
Salam,

Aziz

-----Original Message-----
From: Retno Kintoko <[email protected]>
Date: Thu, 6 May 2010 00:18:39 
To: The Wahana Dharma Nusa Center<[email protected]>; The 
Profec<[email protected]>; Trainers Club<[email protected]>; 
manajemen<[email protected]>; <[email protected]>; St 
Albertus Choir<[email protected]>; Daviar Thompkins - 
NIIT<[email protected]>; 
Widya_Bhakti<[email protected]>; <[email protected]>; 
Dullah Kartodimedjo<[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [PROFEC] RI Tanpa Sri Mulyani

============================================== 
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri Membangun Bangsa :   
"Membangun spirit, demokrasi, konservasi sumber daya, 
nasionalisme, kebangsaan dan pluralisme Indonesia."  
============================================== 
[Spiritualism, Nationalism, Resources, Democration & Pluralism Indonesia 
Quotient] 
Memasuki Tahun-tahun produktif, efisien dan efektif. 
"Belajar menyelamatkan sumberdaya negara untuk kebaikan rakyat Indonesia" 
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010  
Ekonomi RI Tanpa Sri Mulyani
Kamis, 6 Mei 2010 | 04:32 WIB
Oleh: Rhenald Kasali
Pada tahun 1961, David McClelland menulis buku terkenal yang berjudul Achieving 
Society. Di buku itu McClelland mengingatkan, suatu bangsa akan jatuh bila 
mengandalkan pemimpin-pemimpinnya (baca: menteri atau CEO) berdasarkan 
motif-motif afiliasi (baca: persekongkolan, kekerabatan, afiliasi politik) atau 
motif kekuasaan (bagi-bagi kuasa). Sebagai gantinya, bangsa-bangsa harus mulai 
berorientasi pada achievement (hasil/kinerja).
Riset yang dibukukan itu diterima luas di dunia dan diterapkan di negara-negara 
maju, mulai dari Amerika Serikat, Jerman, Inggris, sampai Malaysia, Thailand, 
dan Singapura. Sementara di Indonesia, orang- orang yang mengejar kinerja 
kehilangan rumah dan dibiarkan pergi. Itukah yang terjadi dengan Sri Mulyani? 
Bagaimana masa depan ekonomi Indonesia tanpa mereka?
Korban perubahan
Tak dapat disangkal bahwa negeri ini masih perlu banyak tokoh perubahan. Namun, 
perubahan selalu datang bersama sahabat-sahabatnya, yaitu resistensi, 
penyangkalan, dan kemarahan. Hasil yang dicapai para achiever selalu 
ditertawakan dan mereka diadili, dipersalahkan secara hukum, seperti yang 
dialami Nicolaus Copernicus di abad ke-16, Giordano Bruno (1600), dan Galilei 
Galileo (1633) saat memperjuangkan kebenaran.
Sebagian besar change maker diadili oleh bangsanya, dipenjarakan, dirajam, dan 
dibunuh, seperti Martin Luther King, Abraham Lincoln, Gandhi, dan Munir. 
Sementara itu di dunia ekonomi, di perusahaan-perusahaan, para pembuat 
perubahan dicari untuk diberhentikan, seperti yang dialami Rini Soewandi yang 
dianggap berhasil mengawal Astra Internasional dari krisis (1998). Ia 
diberhentikan secara tragis sebagai CEO oleh BPPN, padahal media masa 
memberikan penghargaan sebagai CEO terbaik (Kompas, 9/2/2000).
Pada tahun 2009, masalah serupa dihadapi Ari Soemarno setelah tiga tahun 
memimpin perubahan yang dianggap berhasil di Pertamina. Dan, tahun ini, kita 
menyaksikan umpatan-umpatan tidak sedap, bahkan tuntutan hukum terhadap Sri 
Mulyani. Padahal, di luar negeri ia dianggap sebagai menteri terbaik yang 
dimiliki dunia dan dalam pertimbangan saat memilihnya sebagai direktur 
pelaksana, Bank Dunia mengakui keberhasilannya dalam menangani krisis ekonomi, 
menerapkan reformasi, dan memperoleh respek dari kolega-koleganya dari berbagai 
penjuru dunia (www.worldbank.org).
Inilah saatnya bagi para politisi Indonesia untuk belajar menerima change maker 
dan achiever untuk meneruskan karya-karyanya dengan berhenti mengumpat dan 
mengadili apalagi mengedepankan motif-motif afiliasi dan kekuasaan. Kalau kita 
tidak bisa melakukannya, berhentilah menertawakan mereka. Janganlah kita 
menjadi sok kaya, dengan membuang baju bagus hanya karena satu benangnya 
terlepas lalu beranggapan seluruh jalinannya terburai.
Sebagai akademisi, sudah lama saya menyaksikan kejanggalan-kejanggalan yang 
terjadi di negeri ini. Orang berdebat dengan standar yang berbeda-beda dan 
begitu mudah marah bila kehendaknya tidak dipenuhi. Kita lebih sering menghujat 
dengan ukuran-ukuran yang tidak masuk akal.
Sudah sering pula disaksikan para ahli kita lebih dihargai di luar daripada di 
sini. Kita pun beranggapan politisi bisa lebih dipercaya daripada 
lembaga-lembaga internasional yang menghendaki kinerja. Persoalan yang dihadapi 
Sri Mulyani Indrawati adalah sama persis dengan anak-anak Indonesia yang gagal 
bersekolah di sini, tetapi berhasil di luar negeri. Saya sendiri mengalaminya, 
betapa sulit mendapat nilai bagus di sini, sementara di luar negeri kita sangat 
dihargai. Kita merasa bodoh di negeri sendiri bukan karena tidak mampu, 
melainkan karena betapa arogannya para pemimpin.
Ekonomi ke depan
Tentu saja di Indonesia ada banyak ekonom pintar yang siap menggantikan Sri 
Mulyani. Namun, untuk memimpin ekonomi Indonesia, diperlukan lebih dari sekadar 
orang pintar. Jujur, bersih, dipercaya dunia internasional, berpikir jauh ke 
depan, aktif bergerak dan responsif, berani melakukan perubahan dan diterima di 
dalam kementerian adalah syarat yang tidak mudah dipenuhi.
Indonesia butuh lebih dari sekadar pengumbar syahwat kebencian atau orang yang 
sekadar pintar bicara. Selama lebih dari sepuluh tahun proses reformasi 
berlangsung, ekonomi Indonesia telah menjadi pertaruhan berbagai kepentingan. 
Ekonomi yang seharusnya dibangun dengan fondasi makro-mikro yang seimbang 
selalu menjadi rebutan di kalangan politisi. Demikian pula kita butuh lebih 
dari sekadar birokrat yang hanya menjaga sistem. Kita perlu pengambil risiko 
yang berani menghadapi tantangan perubahan.
Ada kesan saat ini ekonom tengah diperlakukan sebagai orang yang tidak tahu 
apa-apa. Setelah dihujat sebagai neoliberal, ekonom tengah diuji untuk duduk 
manis di tepi ring dan membiarkan ekonomi diurus oleh para politisi. Saya tidak 
dapat membayangkan apa jadinya masa depan ekonomi Indonesia bila ia harus 
diurus oleh orang-orang yang taat pada maunya para politisi atau politisi yang 
berpura-pura menjadi ekonom.
Kita harus mulai menghentikan kriminalisasi terhadap para change maker agar 
orang-orang pintar yang punya keberanian mengawal perubahan dan memajukan 
perekonomian Indonesia dapat bekerja dengan tenang. Saya yakin Sri Mulyani 
bukan ”kabur” dari masalah. Seperti Sri Mulyani, banyak orang seperti itu yang 
saat ini berpikir untuk apa mengurus negara. Bukan karena mereka takut, 
melainkan semua berpikir, ”Untuk apa membuang-buang waktu percuma.” Ini hanya 
sebuah zero-sum game.
Tanpa Sri Mulyani, ekonomi Indonesia tentu akan tetap berjalan. Namun, sebuah 
kelumpuhan tengah terjadi karena orang-orang pintar memilih cari aman daripada 
memperjuangkan perubahan. Ekonomi Indonesia berjalan bak perahu kayu tanpa 
mesin yang mengarungi samudra luas. Tatkala kapal-kapal asing yang dilengkapi 
alat-alat navigasi modern menari di atas gelombang samudra dengan kekuatan 
pengetahuan, kita hanya mampu berputar di antara pusaran gelombang tanpa 
kepastian.
Sri, selamat bergabung di Bank Dunia. Tetaplah bantu negeri ini, seberapa pun 
perihnya cobaan yang kau alami; karena itulah hukumnya perubahan. Memang 
perubahan belum tentu menghasilkan pembaruan, tetapi tanpa perubahan tak akan 
pernah ada pembaruan.
Rhenald Kasali Guru Besar Manajemen Universitas Indonesia [Kompas, 06/05/10]
---------- 
Saya terus terang sangat kaget, Indonesia kehilangan seorang motor dan operator 
handal ekonomi Indonesia saat ini. Prestasi dan dedikasinya sebagai pembantu 
presiden RI telah dilakukan dengan maksimal, efisien dan efektif sebagai 
menteri keuangan/pj.menko.ekuin. Maka ketika banyak orang mencaci dan mencerca, 
ternyata hanya untuk ingin berebut jabatannya, atau di lain pihak ada yang 
berupaya keras agar yang bersangkutan seolah-olah benar-benar menjadi yang 
bersalah.. atau paling tidak sebagai usaha alih perhatian tetang siapakah yang 
sebenarnya bertanggung jawab bailout kampanye century itu. Maka ketika semuanya 
telah dilakukan melebihi akal sehat, nalar dan nurani, pasti ada kekuatan yang 
lebih tinggi lagi yang akan bertindak. Syukurlah kemudian Bank Dunia kembali 
menjadi perwujudan lembaga bergengsi dunia yang selalu melihat prestasi, 
kapabilitas dan dedikasi anak-anak bangsa di seluruh dunia. Termasuk kepada 
seorang Sri Mulyani Indrawati. Saya
 benar-benar bangga, ia telah mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. 
Andalah R.A Kartini masa kini, 2010! Proficiat...!! And see you 2014!
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.
Best Regards, 
Retno Kintoko
 
Alarm Gempa [ERDBEBEN Alarm] 
Sedia Bibit Ikan Patin 




 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke