RIza Muhida itu alumni ITB he he . gak bisa jadi dosen di ITB karena ga ada pembukaan PNS.
gimana coba masak kampus harus nunggu pembukaan PNS baru bisa ambil dosen 2010/5/9 Mohammad Andri Budiman <[email protected]> > Bila kerja-keras, bakat, dan loyalitas para peneliti tidak di-endorse > secara layak di negeri sendiri (dan tak jarang hanya bisa dikritisi > oleh orang-orang yang menganggap dirinya "pintar" dan "patriotik" -- > "beliau-beliau" yang hanya mampu memberikan "stick" tapi bukan > "carrot"), maka cukup logis bila mereka mencari endorsement yang > sesuai di luar negeri. > > Salam, > CA > > Source: > http://www.detiknews.com/read/2010/05/08/053037/1353408/10/malaysia-jadi-tempat-mengabdi-ratusan-dosen-dan-peneliti-ri > > --begins-- > Malaysia Jadi Tempat Mengabdi Ratusan Dosen dan Peneliti RI > Ramdhan Muhaimin - detikNews > > Kuala Lumpur - Malaysia tidak saja menjadi tujuan menarik bagi banyak > wisatawan asing untuk berkunjung, tapi juga kaum akademis. Hampir 300 > dosen dan peneliti asal Indonesia mengabdikan keilmuannya di negeri > Petronas ini karena berbagai sebab. > > Bahkan tidak sedikit di antara dosen dan peneliti tersebut adalah yang > terbaik dimiliki Indonesia. > > "Dalam data kami yang tercatat memang baru hanya 80 orang saja. Tapi > melihat yang hadir sekarang dan informasi dari berbagai pihak, jumlah > dosen dan peneliti Indonesia di Malaysia hampir 300. Karena peneliti > ini tersebar," kata Ketua Indonesian Lecturer and Researcher > Association in Malaysia (ILRAM) DR Riza Muhida ketika > berbincang-bincang dengan detikcom di sela-sela Silaturahim KBRI Kuala > Lumpur dengan ILRAM, Jumat (7/5/2010). > > Menurut Riza, sedikitnya ada dua alasan yang menjadi motif banyaknya > dosen dan peneliti Indonesia yang lebih mengabdikan keilmuannya di > Malaysia. Pertama, lingkungan akademik dan penelitian yang lebih > kondusif dibandingkan di Tanah Air. Lingkungan kondusif yang dimaksud, > kata Riza, kebebasan untuk mengembangkan kemampuan akademik dan > penelitian karena ditunjang oleh fasilitas, akses jurnal yang luas, > dan dukungan dana yang cukup besar. > > Kedua, kenyamanan bagi diri sendiri dan keluarga. "Misalnya, kalau di > Jakarta kondisi kemacetan yang sudah cukup parah, kepadatan, > seringkali mempengaruhi jadwal kerja dan privasi kita untuk bisa > berkumpul dengan keluarga tepat waktu. Di sini saya bisa pergi dan > pulang > kerja tepat waktu, jadi hak keluarga untuk berkumpul bisa terpenuhi. > Dan gaji yang diperoleh dari pekerjaan sangat cukup, jadi tidak perlu > lagi cari sampingan," cetusnya. > > Alasan lain, sambung Riza, banyaknya sarjana dan peneliti Indonesia > yang sulit memperoleh pekerjaan sepulang mereka dari luar negeri. > Sementara tenaga mereka ternyata lebih dibutuhkan di negara lain. > > "Seperti saya, setelah tamat S2 dan S3 dari Jepang, saya pernah > mencoba masukkan banyak lamaran ke berbagai institusi di Indonesia > tapi sayangnya tidak ada satu pun respon. Saya lalu coba apply di > Malaysia, ternyata langsung direspon cepat," ujar Dosen Fakultas > Teknik di Universitas Islam Internasional Malaysia (UIIM) ini. > > Dia mengatakan, jumlah dosen asal Indonesia yang mengajar di Malaysia > cenderung meningkat, khususnya dalam 4 tahun terakhir. Dia > mencontohkan, sejak ILRAM berdiri pada Desember 2007, jumlah dosen > Indonesia yang mengajar di UIIM mencapai 30 orang. Kini telah > bertambah menjadi 40 orang. "Dan trennya setiap tahun ada > kecenderungan bertambah 4 sampai 5 orang," ujarnya. > > Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) di Malaysia ini juga > mengungkapkan, pada Kamis 6 Mei kemarin, seorang dosen Indonesia yang > mengajar di Univeristas Putra Malaysia (UPM), Dr Seca Gandaseca > terpilih menjadi dosen terbaik. Penghargaan langsung diberikan oleh > Sultan Selangor. > > IIUM juga memilih dosen Indonesia DR Irwandi Jaswir sebagai peneliti > terbaik tahun 2009. Irwandi mengalahkan kompetitor lain dari Malaysia > dan mancanegara di kampusnya. Tidak hanya itu, Irwandi juga memperoleh > award sebagai saintis muda se-Asia Pasifik mewakili IIUM dan Malaysia. > > Sementara itu Dubes RI untuk Malaysia Da'i Bachtiar mengatakan, > banyaknya dosen dan peneliti asal Indonesia di Malaysia menjadi satu > kebanggaan, bahwa tenaga intelektual Indonesia banyak diperlukan dan > tidak kalah dengan negara lain. Namun Da'i mengingatkan agar siapapun > yang bekerja di negara lain selalu menjaga semangat nasionalisme dan > cinta Tanah Air. > > Da'i juga berpesan, agar setiap warga negara Indonesia di Malaysia, > termasuk para dosen dan peneliti juga bisa berperan sebagai duta yang > mampu meluruskan setiap persepsi yang salah tentang Indonesia. > > "Untuk berbakti kepada bangsa dan negara tidak mesti harus di Tanah > Air, tapi dimana pun. Dari luar negeri pun bisa berbakti kepada > negara. Anda-anda adalah duta. Bangunlah, Kalau ada persepsi yang > tidak pas tentang Indonesia, luruskan," kata Da'i. > > (rmd/nwk) > --ends-- > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- Best Regards Tsulusun Ar Royan Be kind, for whenever kindness becomes part of something, it beautifies it. Whenever it is taken from something, it leaves it tarnished.
