----- Forwarded Message ----
From: Hewez Hewezzz <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, May 21, 2010 8:48:40 AM
Subject: [Alumni Margoyudan123] MENCOBA BERPISAH DARI SRI MULYANI (oleh Gunawan 
Mohamad)

  
(maaf kalo ini sudah terposting sebelum ini, saya baru
membacanya, siapa tahu yang lain belum membaca, kalau sudah ya di “del”
saja. Cuman iseng-iseng aja membaca postingan seperti ini, sambil menunggu
dagelan yang lebih lunyu…eh lutju (lucu banget).
 
MENCOBA BERPISAH DARI SRI MULYANI 
  
Goenawan Mohamad, pada acara perpisahan dengan Sri
Mulyani, Jakarta, 19 Mei 2010.
 
 
Malam ini kita mencoba berpisah dari Sri Mulyani. 
 
Saya katakan “mencoba”. Sebab sering kali,
dan terutama malam ini, kita
menyadari: orang bisa hanya sebentar mengucapkan
“hallo”, tapi tak pernah bisa cuma sebentar mengucapkan
“selamat berpisah”.
 
Mungkin karena kita tak tahu apa sebenarnya arti
“berpisah”. 
 
Terutama dalam hal Sri Mulyani. Kita mengerti, ia akan
pergi ke Washington DC untuk sebuah jabatan baru di Bank Dunia; tapi itu tak
berarti ia akan berpisah dari kita di tanah air. Tentu saja ia akan sibuk di
sana, sebagaimana kita akan sibuk di sini. Tapi kita bisa yakin ia akan tak
putus-putusnya memikirkan kita – bukan “kita” sebagai teman-temannya,
tapi “kita” sebagai bagian dari “Indonesia.” Dan begitu
pula sebaliknya: kita tak akan bisa melupakan dia. 
 
Lagipula, “berpisah” mengandung kesedihan,
sementara peristiwa ini tak seluruhnya sebuah kesedihan. Saya melihat Sri
Mulyani menerima jabatannya yang baru ini dengan gembira. Mungkin lega. Satu
hal yang bisa dimaklumi.
 
Sebab sejak Oktober 2009, ia sudah jadi sasaran tembak.
Berbulan-bulan ia jadi target dari premanisme politik . Yang saya maksud dengan
“premanisme” di sini tak jauh berbeda dengan kebrutalan yang kita
saksikan di jalan-jalan – sebuah metode yang dipakai oleh sebuah kekuatan
untuk menguasai satu posisi. 
 
Metode premanisme itu adalah metode tiga jurus, dalam
tiga fase. 
 
Mula-mula gangguan terus menerus, yang makin lama makin
meningkat. 
Mula-mula ancaman yang membayang dari gangguan itu. Fase
berikutnya adalah sebuah tawaran untuk “berdamai” kepada pihak yang
diganggu. Dan akhirnya, pada fase yang ketiga, tatkala pihak yang diganggu tak
tahan lagi, akan ada imbalan yang dibayarkan agar gangguan itu berhenti. Juga
akan ada janji bahwa pihak yang diganggu akan selanjutnya diproteksi. 
 
Sudah tentu, antara sang penganggu dan sang protektor
(yang kadang-kadang bersikap santun) ada kerja sama. Bahkan bukan mustahil sang
protektor itulah yang menggerakkan para penggangu. Makin sengit gangguannya,
makin besar yang dipertaruhkan – dan akan makin besar pula imbalan yang
diminta dan didapat. 
 
Bila premanisme di jalanan akan menghasilkan imbalan uang
atau protection money, imbalan dalam premanisme politik adalah naiknya posisi
kekuasaan.
 
Demikianlah yang terjadi dengan kasus Bank Century.
Imbalan yang harus diserahkan adalah mundurnya Sri Mulyani dari jabatan Menteri
Keuangan. Segala cara dipakai, segala daya dibayar. Politisi Senayan tak
henti-hentinya membentak dan menggedor-gedor. Melalui media yang dikuasai dengan
baik, kampanye anti Sri Mulyani (dan Boediono) digencarkan. Demonstrasi-
demonstrasi yang brisik dan agresif muncul. Sri Mulyani diboikot di sidang DPR,
meskipun ia oleh pimpinan DPR diundang dengan resmi sebagai Menteri Keuangan.
Boediono dikesankan akan dimakzulkan dari posisinya sebagai wakil presiden.
 
Akhirnya semua kita tahu: Sri Mulyani dipaksa berubah
dari sebuah asset menjadi sebuah liability bagi Pemerintahan SBY. Ia tidak bisa
bertahan lagi. Ia tidak dipertahankan lagi oleh Presiden, yang barangkali
merasa bahwa pemerintahannya akan habis enersi karena direcoki terus menerus. 
 
Akhirnya semua kita tahu, hanya beberapa jam setelah Sri
Mulyani dinyatakan turun dari jabatannya, konstelasi politik berubah. Akhirnya
semua kita tahu, apa dan siapa yang mendapatkan kekuasaan yang lebih besar
setelah itu. Dan akirnya kita menyaksikan, pengrecokan dan kebrisikan yang
berlangsung berbulan-bulan itu dengan segera berhenti. Medan politik sepi
kembali. 
Stabilitas tampak terjamin. Presiden lega. 
 
Saya kira, Sri Mulyani juga lega: kini ia terbebas dari
posisi sebagai bulan-bulanan kampanye buruk. Seperti sudah saya katakan di
atas, kita semua maklum jika ia merasa lega. Kita semua merasa ikut senang
karena dua hal: 
pertama, kini ia mendapatkan “masa libur”
dari sebuah pekerjaan berat -- beban yang makin lama makin terasa seperti
dipanggulnya sendirian. Kedua, karena ia meninggalkan jabatannya dengan tak
meninggalkan cacat. Bahkan, seperti diucapkannya dalam kuliah umumnya tadi
malam, ia merasa menang, dan ia berhasil. 
Ia merasa menang dan berhasil karena ia tetap “tak
bisa didikte” hingga meninggalkan prinsip hidupnya, hati nuraninya, dan
kehormatan dirinya.
 
Dalam hal itu, perpisahan malam ini merupakan penglepasan
yang rela dan senang hati untuk seseorang yang kita sayangi.
 
Tapi saya akan berbohong jika mengatakan, perpisahan ini
bebas dari rasa risau. 
 
Kita risau bukan karena Sri Mulyani turun; kita risau
karena merasakan bahwa sebuah harapan telah jadi oleng, terguncang -- harapan
untuk mempunyai Indonesia yang lebih bersih. Kita risau karena kita jadi ragu,
masih mungkinkah tumbuhnya kehidupan politik yang adil dan tak curang di tanah
air kita. 
 
Mampukah kita membebaskan diri dari premanisme politik?
Bisakah berkurang kekuatan uang di parlemen, hukum dan media dalam demokrasi
kita? Sanggupkah kita membersihkan kehidupan bernegara kita dari jual-beli
dukungan, jual-beli kedudukan, jual-beli keputusan – bagian yang paling
gawat dalam koreng besar yang bernama “korupsi” itu?
 
Pemerintahan SBY-Boediono punya janji yang seharusnya
dianggap suci – yakni membangun sebuah pemerintahan yang bersih, melalui
reformasi birokrasi, melalui pembrantasan korupsi. Semula kita punya keyakinan
besar, janji itu akan jadi sikap yang teguh, dan sikap itu akan jadi program,
dan program itu konsisten dijalankan. Tapi kini saya tak bisa mengatakan bahwa
keyakinan itu masih sekuat dulu. 
 
Tentu saja kita masih bisa percaya, pemerintah ini tetap
ingin melanjutkan usaha ke arah Indonesia yang bebas dari korupsi; namun
persoalannya, masih mampukah dia?
 
Tak perlu diulangi panjang-lebar lagi, Sri Mulyani dengan
berani dan bersungguh-sungguh memulai reformasi birokrasi di tempatnya bekerja.
Selama bertahun-tahun, kementerian keuangan – terutama di bagian pajak
dan bea cukai -- jadi tempat yang sangat korup. Dalam sejarah Indonesia,
mungkin baru Sri Mulyani-lah menteri keuangan yang dengan tangguh mencoba
membersihkan aparatnya – sebuah langkah awal dari sebuah kerja yang
panjang, yang mungkin baru akan selesai satu dua generasi lagi.
 
Tapi kini pemerintahan SBY-Boediono telah kehilangan
menteri keuangan yang tangguh itu.
 
Tentu saja Sri Mulyani bisa digantikan. Tak seorang pun seharusnya
dianggap indespensable. Pengganti Sri Mulyani tidak dengan sendirinya seorang
yang lemah. 
 
Tetapi beban jadi bertambah berat. Untuk membuat rakyat
kembali yakin bahwa pemerintah ini masih ingin membangun sebuah republik yang
bersih, Presiden SBY harus melipat-gandakan ikhtiar. Pemerintahan ini akan
kehilangan kepercayaan rakyat jika ia tak mampu mengusahakan, dengan serius,
paling sedikit lima hal: 
 
Pertama, lahirnya sebuah KPK yang kuat, bersih, dan
mandiri. Kedua, berfungsinya Tim Anti-Mafia Pengadilan yang efektif. Ketiga,
tumbuhnya kepercayaan masyarakat kepada aparat perpajakan dan bea cukai.
Keempat, mulai bersihnya kepolisian, kejaksaan dan kehakiman. Kelima,
berlakunya legislasi yang tidak kompromistis terhadap korupsi.
 
Tapi mungkinkah kelima hal itu dapat terlaksana sekarang? 
 
 
Kini politisi Senayan semakin merasa kuat dan semakin
angkuh; mereka telah berhasil membuat Presiden berkompromi dan menyudutkan Sri
Mulyani hingga jadi beban politik bagi Pemerintah. Pada saat yang sama kita
lihat juga bagaimana politisi Senayan -- terutama para pencari dan penadah suap
-- mencoba membuat KPK lemah dan Tim Anti-Mafia Pengadilan tak bergigi.
Premanisme politik yang menang memang tidak mudah dijinakkan. 
 
Pada saat yang sama kita pun layak ragu, bisakah kabinet
menjalankan kebijakan yang merugikan kepentingan bisnis – ketika, Abu
Rizal Bakrie, tokoh bisnis, politik dan penguasa media itu, berada dalam posisi
yang sangat kuat di dekat kabinet dan DPR sekaligus. 
 
Kita juga patut waswas, bahwa parang yang akan membabat
korupsi akan tumpul, jika tampak kesan, pemerintah hanya “tebang
pilih” dalam kebijakan dan perundang-undangan. Parang itu akan majal,
jika terasa ada perlakukan yang berbeda dalam tindakan anti korupsi dan
manipulasi pajak. 
 
Sesuatu yang serius akan terjadi, jika pemerintahan
SBY-Boediono gagal menjawab rasa waswas dan keraguan tadi. Bukan, bukan
kekalahan Partai Demokrat di tahun 2014 nanti, tapi hilangnya sebuah momentum.
Yakni momentum gerakan nasional melawan korupsi – panggilan perjuangan
terpenting dalam sejarah Indonesia sekarang. 
 
Sekali momentum itu hilang, susah benar untuk
mendapatkannya lagi. Sekali momentum itu hilang, kita akan hidup dengan korupsi
yang tak habis-habis. Tentu, Indonesia tak akan segera runtuh. Bahkan negeri
ini akan mungkin berjalan dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan, 6% atau 7%.
Tapi, ketika gereget anti korupsi melemah, ada sesuatu yang agaknya tak bisa
diperbaiki lagi -- yakni terkikisnya “modal sosial”, runtuhnya
sikap saling percaya dalam masyarakat. 
 
Sebab yang dirampok oleh para koruptor dari masyarakat
bukan cuma uang, tapi juga kepercayaan dan harapan. Korupsi yang kita alami
tiap hari akan membuat kita selamanya curiga kepada orang lain yang berhubungan
dengan kita dalam bisnis dan politik. Korupsi yang kita alami tiap hari akan
membuat kita hidup dengan sinisme – dengan keyakinan bahwa semua orang
dapat dibeli.
 
Sinisme ini racun. Terutama ketika sebuah republik harus
bisa membangun kerja sama buat kepentingan umum – misalnya dalam
mengatasi lingkungan hidup yang rusak. Terkikisnya “modal sosial”
akan membuat sebuah negeri setengah lumpuh dan menyerah.
 
Tapi baiklah. Saya tak ingin membuat acara kita berpisah
dari Sri Mulyani ini hanya diisi dengan deretan kecemasan. Kita tak mungkin
membiarkan Indonesia lumpuh dan menyerah; kita tak ingin pelan-pelan bunuh
diri. Sebab itu, kita harus sanggup menanamkan kembali harapan, kita harus
mampu menangkal sinisme. Tanpa ilusi.
 
Sejarah Indonesia menunjukkan, ilusi itu mungkin bukan
sesuatu yang menyesatkan. Harapan itu tak pernah padam. Kita memang sering
kecewa; kita memang tahu sejak 1945 Indonesia dibangun oleh potongan-potongan
pendek optimisme. Tapi sejak 1945 pula Indonesia selalu bangkit kembali. Bangsa
ini selalu berangkat kerja kembali, mengangkut batu berat cita-cita itu lagi,
biarpun berkali-kali tangan patah, tubuh jatuh, dan semangat guyah. 
 
Setidaknya makin lama kita makin arif: kita memang tidak
akan bisa mencapai apa yang kita cita-citakan secara penuh. Tapi kita tahu dan
merasakan bahwa Indonesia adalah sebuah amanah – sebuah tugas takdir dan
sejarah. Kita tak bisa melepaskan diri dari komitmen kita buat Indonesia.
Selama kita ada.
 
Perpisahan kita dari Sri Mulyani malam ini justru
merupakan penegasan komitmen itu. “Jangan berhenti mencintai
Indonesia”, itulah kata-kata Sri Mulyani kepada jajaran pejabat
kementerian keuangan yang harus ditinggalkannya, agar melanjutkan reformasi. 
 
Pada titik ini baiklah kita ucapkan: kita akan
melanjutkan reformasi itu, Ani. Jika malam ini kita ucapkan “selamat
jalan”, kita sekaligus juga mengucapkan: “You shall return”.  
 
__._,_.___
Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
Messages in this topic (1) 
Recent Activity:  
Visit Your Group 
Saling percaya, Margoyudan maju bersama membangun bangsa.

Untuk bergabung, ketik email kosong ditujukan ke : 
[email protected] 

MARKETPLACE
Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the 
Yahoo! Toolbar now. 

________________________________
 
Get great advice about dogs and cats.  Visit the Dog & Cat Answers Center. 

________________________________
 
Hobbies & Activities Zone: Find others who share your passions! Explore new 
interests. 
 
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
. 

__,_._,___ 


      

Kirim email ke