BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®

-----Original Message-----
From: uya yudhie <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 18 Jun 2010 04:29:25 
To: kpii australia<[email protected]>; pengajian 
akhwat<[email protected]>; cahaya 
Islam<[email protected]>; iqro' 
found.<[email protected]>; Pengajian 
Usyd<[email protected]>; tpa kpii<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Cahaya Islam] Mencetak Anak Berprestasi

BismiLlaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu'alaikum wr wb

Sharing tentang mencetak anak berprestasi dari apa yang di sampaikan oleh 
psikolog Rahmi Dahnan, yang uya' dapat dari sini:

http://niezagraha.blogspot.com/2004/09/mencetak-anak-berprestasi.html

Semoga bermanfaat

wassalaam
-uya'-

MENCETAK ANAK BERPRESTASI

Bangganya bila melihat buah hati kita termasuk dalam deretan sepuluh 
besar di kelasnya. Rasanya berhasil mendidik anak. Sebaliknya, yang 
putranya tak masuk ranking, rasanya gagal sebagai orangtua. Kok sulit 
sekali si kecil mendapat prestasi di sekolahnya. Bagaimana sih cara-cara
 mencetak anak agar berprestasi?



Semua orangtua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang, 
cerdas dan menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya. Yakni, 
nilai-nilai pelajarannya oke, dan setiap tahun meraih ranking 1 minimal 
ranking 3. Jika tidak. Rasa-rasanya si kecil tercinta kok biasa-biasa 
saja atau malah cenderung bodoh ya. Cap demikian tak hanya diberikan 
orangtua lho, bahkan guru atau pendidik pun masih banyak yang mencap 
siswanya bodoh hanya karena mereka tak terlihat menonjol di kelas. 



Menurut psikolog Kita & Buah Hati, Rahmi Dahnan S.Psi, itu 
pandangan yang sudah out of date. Dalam konteks perkembangan anak, 
prestasi tak cuma tercermin dari nilai akademik di sekolah. Tapi, setiap
 langkah positif yang mengarah pada peningkatan dan kemampuan juga 
disebut prestasi. Sayang sekali, bila orangtua masa kini masih 
beranggapan, bahwa anak yang berprestasi adalah anak yang mampu meraih 
nilai tinggi dan duduk di peringkat tertentu, lalu kecewa bila buaha 
hatinya ternyata tak demikian.



Setiap anak, jelas Rahmi, punya kemampuan dan potensi yang berbeda. 
Sehingga tak bisa dipastikan bila prestasi akademik anak jeblok maka ia 
disebut tidak berprestasi di sekolahnya. Jadi, para orangtua, jangan mau
 terjebak dalam stigma lama. Sebab, berkutat dengan pandangan tersebut, 
membuat Anda jadi jatuh percaya kalau si kecilnya bodoh karena mungkin 
Anda--ayah ibunya--pun tak pintar-pintar amat.



Yang perlu disamakan adalah persepsi orangtua terhadap prestasi. 
Kata Rahmi, prestasi itu bisa ada di berbagai bidang, bukan cuma nilai 
pelajaran sekolah saja. Karena itu, disinilah tugas orangtua 
mengembangkan potensi dan bakat anak dengan berbagai cara dan usaha. 
Banyak lho anak yang nilai pelajarannya biasa-biasa saja, tapi ia pandai
 menari, orangtua mendukungnya les menari, eh di masa remajanya sampai 
dewasanya, ia berkeliling berbagai negara membawakan tari-tarian. Pada 
akhirnya, kecerdasan kognitif (intelektual) anak pun terdongkrak karena 
pengalaman-pengalaman hidupnya serta pergaulannya di masa remaja dan 
dewasa.



Jadi, menurut Rahmi, yang terpenting adalah mendukung anak di 
berbagai bidangnya. Apakah itu pelajaran sekolahnya, dengan mendorong 
gairah belajar, tetapi juga menemukan bakat dan potensi anak. Dengan 
cara demikian, banyak bukti lho, nilai-nilai pelajaran anak oke dan 
duduk di ranking teratas, tetapi juga punya prestasi di bidang lain 
misalnya, juara tari, biola, lukis, dsb. Bila pun prestasinya di bidang 
kreativitas saja, bukan pada bidang akademik, tak perlu kecewa. Si kecil
 tetap bisa sukses di masa dewasanya kelak melalui bakat yang ditekuni 
dan didukung lingkungannya.



Untuk mendongkrak prestasi anak, komunikasi antara orangtua dengan 
guru juga harus ditingkatkan. Selain membicarakan tentang pencapaian si 
kecil di sekolahnya, orangtua pun harus menginformasikan 
'kelebihan-kelebihan' si kecil lainnya, sambil masukkan pesan untuk tak 
terlalu 'menekan' si kecil mencapai nilai tinggi. Artinya, orangtua 
seharusnya satu sampai dua langkah lebih maju dari guru, sehingga bisa 
memberi masukan, pesan-pesan, untuk kualitas sekolah sekaligus kualitas 
muridnya, putra-putri Anda sendiri.



Mendongkrak Prestasi Anak

Perhatikan Bakat Anak

Keinginan orangtua mencetak anaknya jadi berprestasi wajar saja. 
Apalagi jika sikecil punya kemampuan untuk itu. Misalnya senang membaca,
 suka olahraga, seni, IPA, dll. Namun, untuk mecetak anak berprestasi, 
orangtua harus melihat apa bakat anak. Jika anak tak berprestasi di 
bidang akademik tak perlu ngotot. Memaksakan anak berprestasi sesuai 
dengan keinginan orangtua dapat membuat anak stress. Prestasinya malah 
bisa semakin menurun. "Cobalah bersifat arif dengan mengembangkan bakat 
yang dikuasai oleh anak. Sehingga bakat yang dipunya tidak mubazir," 
kata Rahmi. Caranya?



Ajaklah anak bicara apa saja yang disukainya di luar mata pelajaran 
wajib. "kalau les tari kamu suka enggak, atau les musik, atau les 
melukis, mana yang kamu sukai?" Setelah bicara, ANda pun harus konsisten
 dengan menyediakan kebutuhannya untuk mengembangkat minatnya. "Jika 
setiap anak difasilitasi kebutuhan dan keinginannya, bakat dan 
kecerdasan intelektualnya dapat berkembang bersama. Karena, anak yang 
memiliki bakat akan melakukan pekerjaannya dengan kreatifitas yang 
berbeda dibanding anak lain," ucapnya.



Pacu Gairah Belajar

Nilai tinggi yang diperoleh pada setiap bidang studi memang penting.
 Namun bila orangtua menekankan nilai tinggi atau peringkat sebagai 
tujuan, anak akan mati-matian mencapai nilai tinggi, tanpa menghiraukan 
proses pencarian nilai tersbut. Sehingga ia berani mencontek demi 
mendapat nilai bagus.



Sebaiknya, kata Rahmi, lebih positif memacu agar anak mau 
berprestasi dengan menanamkan manfaat sekolah. "Sehingga akan tertancap 
di hati anak tentang pentingnya sekolah, dan akhirnya menyadari untuk 
bertanggungjawab." Tanamkan pentingnya sekolah sedini mungkin. Caranya, 
saran Rahmi, bisa dengan metode pemerian pilihan. Metode pilihan 
membiasakan anak berhadapan pada pilihan, sehingga merangsang anak untuk
 melakukan analisa sebelum menentukan pilihannya. Misalnya Rahmi 
mencontohkan,tentang hal yang menarik yang bisa membangkitkan semangat 
belajar. "Dek, kalau mau jadi penerbang seperti papa, harus rajin 
belajar. Jadi pilot bisa berkunjung ke berbagai negara lho." Cara ini 
menurut Rahmi bisa memacu semangat berprestasi anak.



Selain gambaran mengenai profesi yang menjadi kesenangan anak, sikap
 orangtua yang suka memberi penghargaan pada setiap prestasi anak, akan 
menumbuhkan rasa pede untuk terus berprestasi. Namun Rahmi menekankan, 
dalam memberikan penghargaan orangtua harus proporsional."Sebaiknya 
tidak memberikan reward dalam bentuk materi. Tepukan bahu, belaian atau 
pelukan saat anak mendapat prestasi tetap membuat anak senang dan pede, 
karena merasa dihargai," jelas Rahmi.





Sediakan Sarana & Rajin Berkomunikasi

Lingkungan rumah juga memberi andil pada pencapaian prestasi anak. 
Dengan memberi dukungan, perhatian, dan menyediakan sarana untuk memacu 
mereka terus berprestasi sesuai bidang yang diminatinya."Lingkungan dan 
budaya keluarga yang berpendidikan baik bisa mendorong anak untuk 
berprestasi baik pula. Dengan melihat sekelilingnya, si kecil bisa 
terpengaruh untuk berprestasi bagus."



"Perhatian orangtua ketika anak belajar akan membuat anak merasa 
nyaman dan percaya diri," Rahmi mengingatkan. Perhatian dalam pelajaran 
tidak harus bersifat mendikte. Dengan duduk di dekat anak, dan 
menunjukkan sikap antusias saat anak bertanya akan membuatnya semangat 
belajar. Perhatian lainnya pun ikut mendorng semangat anak. Yakni dengan
 memfasilitasi dan melengkapi keperluan sekolah, akan membuat anak 
terpacu untuk berprestasi.



Karenanya, lingkungan rumahpun harus senyaman mungkin. Sebab 
hubungan ayah dan ibu bisa mempengaruhi prestasi anak. "Orangtua yang 
sering bertengkar, membuat anak stres, dan akhirnya tak bisa konsentrasi
 belajar."



Ikutkan Kursus

Adakalanya anak yang biasanya pretasinya bagus, pada waktu tertentu 
menurun drastis. Menurut Rahmi, menurunnya prestasi anak biasanya 
dipengaruhi faktor emosi anak. Orangtua harus mencari penyebabnya. 
Mungkin ada situasi yang membuatnya tertekan, misalnya perlakuan negatif
 dari orang lain, minimnya komunikasi dengan orangtua, di antaranya 
menjadi penyebab prestasi anak menurun drastis.



Bila penyebabnya sudah diketahu, orangtua harus bisa segera 
mengatasinya. Setelah itu, mendorong lagi motivasinya untuk kembali 
semangat belajar. "Motivasi terutama dimaksudkan untuk meningkatakan 
kepercayaan diri dan membuat anak merasa nyaman saat belajar." Mengatasi
 emosi anak, kata Rahmi juga bisa dengan mengikutkan anak pada kegiatan 
ekstra. Misalnya diikutkan kursus menari, menyanyi, olahraga. "Kegiatan 
tersebut membuat anak melupakan hal-hal yang mengganggu emosinya.



Komunikasi dengan Guru

Komunikasi dengan guru harus ditingkatkan. Jika biasanya orangtua 
berkomunikasi dengan guru hanya saat menerima rapor saja. Ada baiknya 
orangtua perlu secara berkala mengunjungi guru, paling tidak satu bulan 
sekali. Guru akan sangat menghargai orangtua yang rutin menanyakan 
perkembangan anaknya di sekolah. "Kalau orangtua proaktif, guru juga 
tertular semanagat unuk menginformasikan perkembangan anak di sekolah. 
Dengan begitu, berbagai persoalan yang menyebakan maju mundurnya 
prestasi belajar anak bisa teramati." 



Tanggulangi Turunnya Prestasi Belajar



Orangtua harus mengintrospeksi dirinya, bisa saja penyebabnya kurang
 perhatian Anda.



Ajaklah anak berdiskusi dengan menyelami perasaan anak agar anak 
terbuka mengemukakan perasaanya.



Lakukan komunikasi yang memadai dengan anak.



Ingatkan kembali anak akan manfaat sekolah.



Berikan reward yang proposional pada anak sesuai dengan prestasi 
yang diraihnya



Guru harus menimbulkan rasa cinta belajar pada muridnya dengan 
menciptakan metode belajar yang menyenangkan murid



Tanamkan disiplin dalam pelajaran dan sekolah pada anak



8 Trik Mencetak Anak Berprestasi



Sediakan peralatan yang mendorong anak belajar.

Misalnya bahan permainan yang merangsang rasa ingin tahu anak, 
seperti puzzel, alat lukis, lego, komputer,dll.



Ciptakan Kehidupan Teratur Dalam Keluarga

Rumah tangga yang harmonis, dengan kasih sayang yang rata pada 
seluruh anggota keluarga sangat mendukung perkembangan kemampuan anak.



Bacakan Cerita

Mendongeng bisa mendorong kemampuan membaca anakdan kosa kata anak 
serta pengalaman mereka.



Ciptakan Suasana Gemar Membaca

Dengan mempunyai kesukaan membaca, anak belajar menyerap pelajaran 
dan memperluas pengetahuan.



Dampingi Anak Saat Mengerjakan PR

Menndampingi anak mengerjakan PR adalah saaat yang tepat untuk 
mengajari mereka cara mengerjakan soal yang baik, bagaimana memahami 
pertanyaan, mana yang harus dikerjakan dulu, dllnya. 



Berkolaborasi Dengan Guru di Sekolah

Menjalin hubungan yang baik dengan guru disekolah punya banyak 
keuntungan. Diantaranya kita bisa memperoleh informasi perkembangan 
anak, dan mendorong anak bersikap baik di sekolah. 



Masukkan Anak ke sekolah yang baik

Keberhasilan anak disekolah ditentukan oleh standar keberhasilan di 
sekolah. Standar yang tinggi bisa memacu anak untuk mencetak prestasi 
lebih baik. Tapi standar tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik
 anak. 



Ajari Disiplin

Ajari anak disiplin. Ini sangat penting dengan mengajarkan disiplin 
mereka mengerti mengatur waktu kapan belajar. Jangan lupa bantu anak 
untuk berkonsentrasi dan mengingatkan waktu disiplinnya. (Esi/ sumber: 
Edy Gustian, S.Psi, anakcerdas dengan prestasi rendah)

Sumber: Tabloid Ibu & Anak

cyberwoman



      

Kirim email ke