Indonesia Hancurkan Jepang 4-0
Oleh Cardiyan HIS
Kesebelasan nasional Jepang sejak awal memang diniatkan untuk belajar
kepada Indonesia sebagai “Brazil Asia”. Dan Ronny Patti dengan telak memberikan
pelajaran kepada Jepang; bagaimana cara bermain bola yang baik.
Sejarah itu penting
untuk menginspirasi. Termasuk sejarah kejayaan kesebelasan Indonesia atas
Jepang. Sayang Indonesia tidak berhasil memanfaatkan sejarah kejayaan sepakbola
Indonesia masa lalu kepada kemajuan sepakbola di masa sekarang. Malah Jepang
yang berhasil memanfaatkan “pelajaran sepakbola Indonesia” sampai kepada level
dunia dengan menjadi pelanggan Piala Dunia bersama Korea Selatan. Dan terakhir
bahkan lolos ke babak kedua dengan menghancurkan juara Eropa 1992, Denmark,
dengan skor telak 3-1.
Indonesia selalu
diundang sebagai satu-satunya tim Asia selain Jepang sebagai tuan rumah “Piala
Kirin” atau Piala Kaisar bersama klub yang mewakili satu benua Eropa dan satu
Amerika
(Amerika Latin). Meskipun tak pernah menjuarai Piala Kaisar, Indonesia tetap
menjadi prioritas tujuan uji coba timnas Jepang. Jepang pun belajar kepada
kompetisi sepakbola Galatama Indonesia
(dimulai tahun 1979 di era Ketua Umum PSSI, Ali Sadikin) ketika mempersiapkan
J-League yang diluncurkan lebih belakangan yakni pada tahun 1992.
Inilah yang terjadi
dengan timnas Jepang yang dipersiapkan untuk olimpiade ini melakukan ujicoba
pertama
ke Indonesia tahun 1981. Tim nasional Indonesia dikapteni Ronny Patti bersama
rekan pemain senior seperti Risdianto (striker), Simson Rumahpasal (belakang
kanan) membimbing pemain-pemain muda
penuh bakat seperti Purwono (kiper), Warta Kusumah, Nasir Salasa, Didik
Dharmadi, Berti Tutuarima (belakang), Herry Kiswanto, Rully Nere, Budi
Johanis, Metu
Duaramuri (gelandang), Hadi Ismanto (striker). Intinya pemain inti timnas
Indonesia berada pada poros Ronny Patti-Herry Kiswanto-Risdianto.
Memiliki wing back keren pada diri Simson
Rumahpasal (di kanan) dan Didik Dharmadi (di kiri), serangan Indonesia
berlangsung sangat indahnya. Dribble
maut keduanya kerap mengundang decak kagum karena melewati beberapa pemain
belakang Jepang dan mengiris sampai ke garis gawang mereka. Maka umpan tarik
Simson maupun Didik diselesaikan dengan indah pula oleh Risdianto dan Hadi
Ismanto. Sementara pasca serangan gagal timnas Jepang diselesaikan dengan cerdas
dan cepat oleh Ronny Patti mengumpan ke
Herry Kiswanto (gelandang bertahan) dan meneruskannya kepada Rully Nere atau
Metu Duaramuri atau juga Budi Johanis untuk main tik-tak yang menawan dengan
Risdianto/Hadi Ismanto di kotak penalti Jepang.
Ronny Patti yang “ditemukan”
oleh Wiel Coerver sebagai “libero baru Indonesia” bagai seorang dirigen sebuah
orchestra indah sepakbola Indonesia. Dan ini bisa dimainkannya dengan sempurna
karena Ronny memiliki visi permainan yang hebat, sangat cerdas dalam merancang
settpiece
bola mati bagi Indonesia, pandai mengantisipasi umpan terobosan lawan, pengumpan
dengan akurasi di atas 90% meskipun tanpa melihat rekannya berada jauh di depan.
Ronny beruntung didukung pula oleh pemain-pemain bertalenta luar biasa. Simson
dan Didik memiliki kemampuan dribble yang luar biasa cepat tetapi
bola tetap lengket melewati satu-dua bahkan tiga pemain Jepang. Warta dan Nasir
Salasa memiliki kemampuan bertahan dan merebut bola sangat baik. Gelandang
Indonesia pada diri Herry Kiswanto, Budi Johanis, Mettu Duaramuri dan Rully
Nere ibarat kuartet gelandang timnas Perancis era Michael Platini-Jean
Tigana-Alain
Giresse-Luiz Fernandez, yang menjuarai Piala Eropa pada tahun 1984. Rully Nere
bahkan dijuluki “Jean Tigana Asia”. Bagaimana Rully dapat merebut bola dengan
tackling sangat bersih dari belakang
berkat bimbingan pelatih Wiel Coerver. Mettu adalah “Mutiara Hitam” Persipura
yang
kalau berada di kompetisi Eropa adalah persis pemain timnas Perancis dan klub
Juventus, Lilian Thuram. “Si Akang” Herry Kiswanto, pemain asal Persib Bandung
ini adalah seorang breaker pasca
Nobon yang berkelas Asia bahkan Eropa seperti diakui Wiel Coerver atau
sedikitlah
di bawah Gatusso dari AC Milan. Dan Risdianto adalah pemain Indonesia pertama
yang dipuji habis oleh Pele (klub Santos) sebagai striker terbaik di Asia.
Risdianto membuat hattrick ketika Indonesia kalah 3-5 lawan klub Santos. Pele
kemudian ketemu lagi Risdianto ketika klub
terakhirnya Cosmos, New York melawan timnas Indonesia di Senayan.
Dengan komposisi
pemain seperti itu, Jepang kalah telak 0-4 dari timnas Indonesia. Ada settpiece
sangat indah dari satu gol
Indonesia ini. Ronny mengatur Risdianto agar berdiri pada pagar pemain-pemain
Jepang dan menyuruh Hadi Ismanto, pemain dengan kecepatan lari 10,5 detik/100
meter di pinggir kanan pagar pemain Jepang. Ronny dengan hebat mencungkil bola
melewati pagar pemain Jepang dan Hadi Ismanto berlari sangat cepat lolos dari
perangkap offside untuk berhadapan
langsung dengan kiper Jepang, Taguchi. Itulah kemenangan terakhir yang diraih
Indonesia
atas Jepang.
“Pelajaran Sepakbola Indonesia”
benar-benar sangat dimanfaatkan Jepang. Keunggulan pemain Indonesia dalam
sprint pendek dipelajari oleh mereka.
Kelenturan tubuh dalam membalikkan badan pada para pemain belakang Indonesia
dipelajari secara ilmiah. Karakter permainan Indonesia yang lebih mirip atau
lebih condong ke Brazil -----dan arena itu Indonesia dijuluki oleh President
FIFA, Sepp Blatter sebagai “Brazil Asia”----- benar-benar dipraktekkan Jepang
dengan mengundang para pemain Brazil dan pelatih Brazil ke J-League pada tahun
1992. Sebelum itu pada tahun 1989, pemain Indonesia Ricky Jacob diundang untuk
bermain di klub Matshushita Electric, Japan.
Jepang berhasil
mengelola kompetisi dengan baik karena para stake
holder bekerja secara professional; kemajuan dunia industrinya sangat
mendukung kompetisi level tertinggi di Asia ini sehingga baik pelatih maupun
pemain berkelas dunia mau merintis karier disini; pengurus “PSSI Jepang” bekerja
total untuk kemajuan organisasi dan bukan bekerja untuk mencari keuntungan di
organisasi; para “bobotoh” pun sangat sportif, tidak berperilaku anarkis dan
tak terus menuntut klub harus terus-terusan menang berbeda dengan para bobotoh
di Indonesia. Tak heran, bila timnas Jepang performanya sangat kece; jauh
dengan timnas PSSI yang dipimpin dua periode kepengurusn Nurdin Halid ini
terus-terusan
prestasinya memble.
www.cardiyanhis.blogspot.com