Barangkali ada yang tertarik, dari milis sebelah ...
Aku sudah lama tidak terima tayangan dari milis ini, entah pak moderatornya 
lupa ganti alamat atau salah pasang (yang lama mati, yang baru belum hidup)

Moko Darjatmoko <[email protected]>

++++++++

To: [email protected]
From: Moko Darjatmoko <[email protected]>
Subject: [IA-ITB] The Tragedy of the Commons

I'm back ...

Dalam email 2 minggu yang lalu, aku mempersoalkan bahwa "teknologi" saja tidak 
cukup sebagai pemecahan problem bangsa ini. Issue semacam ini sebetulnya bukan 
barang baru di dunia ini, tetapi masalahnya adalah banyak sekali "pakar-pakar" 
kita (termasuk insinyur lulusan i-te-be) yang masih asing dengan cara berpikir 
yang integral atau holistik dalam memecahkan satu masalah. Salah satu rujukan 
yang bagus adalah The Tragedy of the Commons, tulisan Garret Hardin di jounal 
Science yang sangat berpengaruh, (Science, 162(1968):1243-1248), dan kemudian 
menjadi klasik dan "bacaan wajib" di kalangan akademis maupun non-academia.

[Pada dasarnya paper Hardin ini mengupas "depletion or degradation of a 
resource, usually referred to as a common property resource, to which people 
have free and unmanaged access." Yang dulu belum pernah baca di sekolah, 
sekarang bisa nggogle arsipnya, salah satu ada di URL berikut: 
http://dieoff.com/page95.htm ]

The Tragedy of the Commons (ToC) ini sebetulnya sebuah konsep lama yang 
dicetuskan oleh matematikawan amatir William Forster Lloyd pada tahun 1833. 
Mulai dari masalah arm race (national security in a nuclear world) sampai 
dengan problem lingkungan hidup, kebanyakan problem yang kompleks seperti itu 
tidak mempunyai technical solution. [A technical solution may be defined as one 
that requires a change only in the techniques of the natural sciences, 
demanding little or nothing in the way of change in human values or ideas of 
morality.]

Secara sederhana ToC ini bisa digambarkan dengan metafor sekelompok peternak 
domba yang menggembalakan ternaknya di satu padang rumput [the common]. 
Katakanlah ini adalah satu komunitas yang adil, sama rata sama rasa, dan sistim 
padang kolektip ini dimulai dengan jumlah domba yang sama per gembala 
[kapasitas padang dibagi jumlah gembala]. So far so good, everybody's happy. 
Laju tumbuh rumput mengimbangi jumlah yang dimakan oleh domba-domba gembalaan 
(istilah keren pisan: sustainable grazing).

Satu saat ada satu gembala yang rada mbelis mikir begini: "Kalau aku nambah 
satu domba ... kan lumayan buat reunian berdomba-guling sama temen-temen 
alumni." "Disini ada ratusan domba, nambah satu aja masak terasa pengaruhnya 
sih?" tambahnya cari-cari rasionalisasi curang kecil-kecilan ini. Menurut 
pikirnya, rumput untuk domba-domba lain cuma kurang sepersekianratus dari jatah 
sehari-harinya, dan ini tidak terlalu salah. Tetapi, ... ada tetapinya!

Tetapi, repotnya peternak-peternak lain mulai yang merasa bahwa domba-dombanya 
mulai agak kurus --waktu dijual timbangannya kurang-- terus mikir "Ah, aku 
nambah satu lagi [buat nombokin hasil jual domba yang kurus-kurus itu] rasanya 
kan gak 'ngaruh." Ada juga yang ikutan alasan peternak pertama karena ada 
hajatan di keluarga atau justifikasi lainnya. Nah, dalam waktu singkat seakan 
ada perlombaan "nambah satu domba lagi" [gue nggak mau rugi dong] -- kapasitas 
tumbuh rumput tidak lagi bisa "mengejar setoran" yang dibutuhkan domba yang 
makin lama makin kelaparan. Akibatnya, dalam waktu singkat padang ini tidak 
berrumput lagi karena rumput tidak sempat tumbuh, belum sempat keluar daun 
sudah digigit sampai keakarnya. Tidak ada rumput berarti tidak ada domba 
(sumber penghasilan) bagi peternak-peternak "serakah" itu.

Itulah tragedinya. Dalam bahasa Garret Hardin, "Therein is the tragedy. Each 
man is locked into a system that compels him to increase his herd without limit 
-- in a world that is limited. Ruin is the destination toward which all men 
rush, each pursuing his own best interest in a society that believes in the 
freedom of the commons. Freedom in a commons brings ruin to all."

+++++

Kalau sudah ngomong tentang keterpurukan bangsa ini, seringkali aku dengar 
orang menyalahkan "penjajah" [wong londo], atau demokrasi bahkan reformasi yang 
katanya "jalan ditempat" ... bahkan sebaliknya orang tua-tua seperti generasi 
bapakku ada yang suka bernostalgia ke "jaman normaal" dulu (the goood old days) 
sebelum jaman "kiblik" (republik indsonesia). Ini sah-sah saja, tetapi repotnya 
biasanya ujung-ujungnya lalu pergi ke pencarian "kambing hitam" ketimbang 
mempelajari dan memahami permasalahan yang sesungguhnya ... looking for who did 
this to us instead of trying to understand "what went wrong" or "what we did 
wrong".

Mungkin ada benarnya pendapat kalangan sosial-political science bahwa demokrasi 
(self-governing) itu tidak selalu pas dengan level perkembangan masyarakat -- 
sebab demokrasi itu, kalau mau sukses, demokrasi harus didukung oleh masyarakat 
yang relative terdidik. Kalau tidak ya memang jadi chaotik, setiap orang mau 
jalan sendiri-sendiri ... Dan inilah yang sebetulnya esensi paper Hardin "The 
Tragedy of the Common" itu -- setiap orang mau memaksimalkan "gain" pribadi, 
tanpa melihat kepentingan yang lebih besar ... kepentingan kolektip, 
kepentingan survival bersama sebagai bangsa.

Di pagi buta hari Senin ini, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri 
bagaimana fenomena ToC itu terjadi di negeri ini:

Dalam perjalanan pulang jagong manten dari Muntilan ke Bandung via jalur 
selatan, romboganku terjebak dalam kemacetan paling mengerikan yang pernah 
kualami [Belum lihat kalau lebaran ... kata tetangga sebelah]. Kemacetan total 
ini terjadi sepanjang Gentong, Malangbong dan Nagrek. Asal mula kemacetan 
adalah beberapa truk yang mogok karena kelebihan muatan (dibandingkan kapasitas 
tarik mesinnya) yang harus menghadapi kombinasi tikungan tajam dan tanjakan 
berat (grade > 10%). Karena jalan ini sempit dan cuma 2 jalur untuk dua arah, 
maka hanya ada satu arah saja yang bisa jalan di tempat kejadian. Dalam upaya 
lewat bergantian yang diatur oleh "anak-anak tukang ganjal ban" [entahlah 
apakah memang sebenarnya ada polisi di negeri ini, kecuali yang selalu sibuk 
menimbun celengan berbentuk babi?] sewajarnya akan terbentuk antrian yang makin 
lama makin panjang karena lalulintas yang padat.

Yang membuat aku tidak tahu apakah musti menangis (from the tragedy) atau 
tertawa (from this plain stupidity) adalah ulah beberapa pengendara mobil 
pribadi dan terutama sopis bis antar-kota yang nyodok ... tidak mau antri 
seperti yang lain, tetapi mengambil jalur kanan yang diperuntukkan kendaraan 
dari arah berlawanan. Tentu saja dalam tempo singkat dimana-mana terbentuk 
titik-titik "gridlock" (dimana tidak ada yang bisa bergerak sama sekali), 
menjalar beberapa kilometer ke kedua arah dari titik awal kemacetan.

Setelah lebih dari 2 jam, kendaraan yang kutumpangi bisa lepas dari kegilaan 
ini (plus bonus kaca spion digesek oleh sopir bis kota yang sudah setengah gila 
... ya semua orang lelah dan ini sudah pagi buta, tetapi ... aku berpikir, 
seandainya semua orang mengikuti "comon sense", antri dan gantian jalan, 
kemacetan total semacam ini tidak perlu terjadi. Coba berapa waktu yang 
terbuang percuma, berapa bahan bakar yang hilang tanpa guna, berapa biaya untuk 
ganti rem dan kopling yang aus, mesin yang overheated (aku hitung dipinggir 
jalan lebih dari 2 losin mobil yang "tewas"). Apakah masalah ini bisa 
diselesaikan dengan "teknologi" (melebarkan jalan, misalnya)? Aku sangat yakin 
jawabannya tidak.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah kenyataan bahwa tragedy semacam ini terjadi 
hampir tiap hari, lebih dari 40 tahun (as long as I can remember) tanpa 
pemecahan yang berarti (Apa ada sih gunanya polisi dan pejabat pemerintah yang 
makan gaji itu ... aku tidak dapat mengindari bertanya-tanya). Pula, tragedy of 
the commons ini bukan melulu soal kemacetan lalulintas, tetapi juga dalam 
masalah lingkungan (polusi), masalah ekonomi, kesejahteraan, pendidikan, 
keadilan, politik, etcetera, etcetera tidak ada hentinya. Ini mengingatkan aku 
kepada Hanlon's Razor, sebuah adage populer yang dulu berkembang di lingkungan 
komputer:

        "Never attribute to malice that which can be adequately explained by 
stupidity."

Barangkali kata di akhir Hanlon's Razor diatas ini bisa melengkapi deskripsi 
Mochtar Lubis tentang "manusia indonesia" yang kemarin ditayangkan di milis 
alumni ini.


Tired and sleepy, but finally arrived safely at home ...
Moko <anthropolog...@large>


-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke