Dari milis sebelah ...
_________
From: Moko Darjatmoko <[email protected]>
Subject: [IA-ITB] The Tragedy of the Commons [2]
Wow ... biasanya kalau nulis subject seperti ini aku merasa
sedang melakukan "soliloquy" (ngomong sorangan). Thank
you... thank you ... thank you, Radja!
Aku sependapat, karena itulah aku selalu menyebut ToC yang
diungkapkan Hardin (versi 1.0) itu adalah "fenomena" --
bukan konsep, apalagi solusi. Dengan memahami bahwa suatu masalah
membutuhkan pendekatan dan cara penanganan "yang lain"
(bukan melulu teknikal), maka kita ini tidak main asal tubruk atau
pakai jurus tambal sulam.
Dunia juga telah melihat bahwa "cold war" (nuclear arm
race) jamannya Hardin ternyata tidak berakhir dengan pemusnahan mutual
(lucky us!). Kedua pemain utama juga akhirnya "came to their
senses" dan mau mendengarkan rekomendasi para ilmuwannya. Kuharap
hal semacam terjadi pada issue climate change / global warming (ini
malah lebih kompleks ketimbang cold war ... tidak mudah menentukan
siapa musuh yang sesungguhnya?).
Aku juga sependapat dengan Ostrom tentang "what citizens can
do and the importance of real involvement." Sebagai contoh,
ketika nelpon 'someone dear' di Madison untuk mengucapkan 'happy
fourth' [of july], dia bilang bahwa ada celebration lain,
"tomorrow morning we're going to wake up to a smoke-free state."
Yes, July 5th, 2010 is the day that Wisconsin goes smoke-free!
Perjuangan belasan tahun, terutama untuk anak-anak seperti si Abigail
yang baru saja memenangkan kontes video "Wisconsin is Better
Smoke-Free" [to watch this video, click here
http://www.youtube.com/watch?v=ybb8-w8ZrBs ]
Kota Madison sendiri sudah smoke-free 5 tahun yang lalu [artinya,
absolutely no-smoking in all public places]. Selama 5 tahun ini
penduduk Madison jadi lebih gembira, lebih sehat dan lebih smart.
Terimakasih buat teman-temanku pejuang yang gigih di "SmokeFree
Wisconsin" dan "Campaign for Tobacco-Free Kids."
Tragedy Gentong-Malangbong-Nagrek yang kulukiskan itu bisa
diatasi segera (mungkin persisnya dikurangi) dengan management yang
benar -- sementara menunggu kemampuan teknologi (juga berarti
"dana") yang barangkali masih memerlukan waktu yang lama.
Ini cukup dilakukan dengan enforcement peraturan yang sudah
ada (bisa dilakukan saat ini) tentang batas muatan, kir kendaraan,
aturan lalulintas (pakai jalur kiri saja!).
Enforcement kutulis dengan huruf tebal karena inilah yang
tidak kita lakukan di negeri kita selama ini. Ini butuh pemimpin yang
tegas, bukan bupati yang diduga korupsi 21,8 M itu. Atau kalau
bupatinya kayak begitu ya rakyatnya, kita-kita ini, yang ngributin
(tulis dikoran, put public presure, permalukan pejabat yang tak
berguna ... ini yang dilakukan rakyat Madison). Bis yang nyodok, kalau
polisinya nggak mau menggunting SIM-nya, kita-kitalah yang telpon ke
perusahannnya, tulis dikoran, boikot rame-rame (kasus Prita bisa jadi
contoh).
Coba kalau dipikir-pikir, itu sebetulnya kan untuk kebaikan kita
sendiri. Bukankah kita sendirilah yang punya kepentingan (keselamatan
diri dan keluarga kalau pakai jalur tersebut). Disini sekaligus kita
mendidik masyarakat untuk menghargai kepentingan dan keselamatan umum
diatas self-interest karepe dhewe-dhewe seperti yang digambarkan
Hardin itu.
Moko/
+++++++++++
At 7/6/10, Irendra R wrote:
Bos Moko yang baik,
Terimakasih banyak ceritanya, jadi menarik banget apa yang ditulis Hardin.
Sedikit tambahan saja bos, Elinor (Lin) Ostrom yang mendapatkan Nobel Ekonomi tahun 2009 kemarin merupakan salah satu orang yang berangkat dari "kegelisahan" dia terhadap konsep "tragedy of the common" nya Hardin ini, dan Ostrom berhasil membuktikan (melalui riset lapangan di berbagai lokasi di dunia selama 30an tahun) bahwa konsep "tragedy of the common" ini tidaklah terlalu tepat. Apa yang bisa diambil dari studi Ostrom ini adalah: "...bahwa pemanfaat sumberdaya di tingkat lokal ( kasus yang Ostrom studi adalah hutan, lahan, perikanan dsb)memiliki perspektif jangka panjang kemampuan untuk saling memonitor dan membangun "aturan" yang mendasari perilaku, di mana hal ini adalah ranah yang tidak banyak dipelajari oleh teori-teori pasar yang standar".
Ostrom mengatakan " what we have ignored is what citizens can do and the importance of real involvement". Saya kira di sini hasil-hasil riset dari Robert Axelrod seorang Ilmuwan Politik tentang "Kerjasama dan Kompetisi" juga menjadi relevan karena dapat membongkar prinsip-prinsip penting dalam kerjasama antar manusia. Juga sebetulnya ranah ilmu kompleksitas dapat memberikan beberapa masukan menarik, karena kemudian memperkaya ranah ini dari beberapa disiplin ilmu lain.
Implikasi yang juga penting dari elaborasi diskursus ini (dariadalah munculnya sintesis bahwa privatisasi bukanlah jawaban dari segalanya (karena salah satu artikulasi dari "tragedy of the common" adalah privatisasi).
Salah satu yang juga memberikan masukan berarti buat ranah ilmu dan ranah praktis yang berangkat dari "kegelisahan"nya terhadap orang-orang yang menggunakan begitu saja konsep "Tragedy of the common" dalam diskursus hak kepemilikan dan juga privatisasi adalah Joseph Stiglitz, guru besar di Columbia dan juga Pemenang Nobel Ekonomi tahun 2001 (kalau tidak salah). Beliau mendukung diskursus yang dilemparkan oleh Lin Ostrom.
Bahkan Hardin sendiri merevisi konsep ini menjadi "Tragedy of the Unmanaged Common".
Yang menarik buat saya adalah bukan salah atau benarnya konsep ini, tetapi proses dialektika yang terjadi antar ilmuwan-ilmuwan tersebut, bagaimana sebuah konsep lahir dan kemudian muncul anti-thesisnya (dalam kasus ini dilahirkan dari studi lapangan yang sangat mendalam) dan kemudian muncul sintesisnya. Semata-mata karena sistem hidup ini yang terus berubah. Semoga kita bisa mengambil yang terbaik dari proses ini dan syukur-syukur menyumbangkan sesuatu bagi peradaban manusia, sebagai sebuah bangsa yang besar dan beragam.
Salam,
Radja-- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
