Indonesia Mendarahi Sukses Belanda ke Final Piala Dunia 2010
 
Oleh Cardiyan HIS
Semakin terbukti bahwa talenta anak Indonesia bermain sepakbola sebenarnya 
berkelas dunia. Anak-anak keturunan Indonesia turut mengantar kesebelasan 
nasional Belanda menembus final Piala Dunia 2010. Manajemen PSSI harus 
direformasi total dalam kompetisi sepakbola berbagai level sejak usia dini 
sampai senior. Kalau tidak, ambisi Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid membawa 
Indonesia ke pentas dunia sampai “Lebaran Kuda” pun tak akan pernah 
kesampaian.  
 
Cannon ball  berjarak 40 meter itu menembus telak pojok atas kiri gawang 
Uruguay. Sang penendang gol emas ini adalah kapten tim nasional Belanda, 
Giovanni van Bronckhorst. Mantan bek kiri klub Barcelona dan kini akan segera 
mundur dari klub Feyenoord pasca Piala Dunia 2010 ini, ternyata memiliki darah 
Indonesia. Ibu kandungnya adalah wanita berdarah Maluku dari fam Sapulete.  Tak 
mengherankan sosok “hanya” bertinggi badan 178 cm pada aura wajahnya masih 
sangat kuat terpancar Ambon manise.
Gol sang kapten pada menit ke 18 ini (merupakan salah satu nominasi gol terbaik 
Piala Dunia 2010) tentu membangkitkan moral timnas Belanda di pertandingan 
semifinal yang sangat krusial melawan satu-satunya tim tersisa asal Amerika 
Latin; Uruguay. Terlebih-lebih gol ini membangkitkan semangat  dan kebanggaan 
bagi 3 orang lagi sesama keturunan Indonesia yang bermain di semifinal; Johny 
Heitinga (bek tengah, pemain klub Everton, UK), Deny de Zeeuw (gelandang 
bertahan, Ajax, the Netherlands) dan Robin van Persie (penyerang, Arsenal, UK 
ini neneknya berdarah Jawa 100%). Sedangkan satu lagi keturunan Indonesia 
adalah gelandang bertahan; Nigel de Jong (Manchester City, UK) karena mendapat 
hukuman akumulasi kartu kuning tak bisa tampil  di semifinal. Dengan semua 5 
(lima) pemain keturunan Indonesia bebas dari hukuman akumulasi kartu sampai 
semifinal, maka kelimanya yang merupakan pemain inti kemungkinan besar akan 
dimainkan sepenuhnya oleh pelatih timnas
 Belanda, Bert van Marwijk melawan Spanyol di final 12 Juli 2010 jam 1.30 dini 
hari.
Cerita manis kiprah pemain nasional Belanda berdarah Indonesia sebenarnya bukan 
ceritera baru lagi. Malahan terjadi sejak jauh hari ketika timnas Indonesia 
asuhan pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacknik , melakukan Tour Eropa pertama 
pada awal 1965. Seorang pemain timnas Indonesia bernama Domingus asal 
Persipura, Jayapura, Irian Barat (kini Papua) membelot dari timnas Indonesia ke 
Belanda! Peristiwa yang sangat berbau politis ini, terjadi segera setelah 
pertandingan timnas Indonesia yang dikapteni Soetjipto “Gareng” Soentoro 
melawan Guus Hiddink, yang mengkapteni timnas Belanda. Bung Karno, Presiden RI 
marah besar dan semakin menguatkan tekadnya untuk membangun kesebelasan 
Indonesia yang kuat untuk event dunia Ganefo di Jakarta. Di event sebagai 
tandingan Olimpiade karena Indonesia memboikot Olimpiade Tokyo 1960,  di final 
kesebelasan Indonesia mengalahkan Mesir 1-0 melalui gol tunggal striker Komar, 
asal Persib Bandung.  Ketika itu Indonesia
 memang sedang mengalami masa-masa panas hubungan diplomatik dengan pemerintah 
Belanda pasca Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) oleh PBB yang akhirnya pada 
tahun 1962 membawa kembali Irian Barat dari cengkeraman penjajah Belanda ke 
pangkuan Ibu Pertiwi, Indonesia.
Setelah kejadian itu, baru muncul Simon Tahamata berdarah Indonesia Maluku  
sebagai  pemain inti tim nasional Belanda awal tahun 1980an. Bermain sebagai 
kiri luar yang sangat cemerlang di klub Ajax, membawa Simon Tahamata ke timnas 
Belanda. Simon mengakhiri karier internasionalnya di sebuah klub papan atas  
Belgia, Anderlecht. Nah yang menjadi menarik belakangan ini fenomena jumlah 
populasi pemain timnas Belanda ternyata semakin banyak dihuni oleh para pemain 
berdarah Indonesia. Timnas Belanda yang akan tampil  di final melawan Spanyol 
tanggal 12 Juli 2010 jam 1.30, dipastikan akan melibatkan 5 (lima) orang 
keturunan Indonesia!  
Dan masa depan para pemain keturunan Indonesia untuk bisa menembus pemain elite 
timnas Belanda pasca Piala Dunia 2010 ini pun masih sangat terbuka lebar. 
Karena masih sangat banyak pemain-pemain keturunan Indonesia yang terlibat 
dalam kompetisi divisi utama Belanda Eradivisie. Setelah salah seorang pemain 
timnas Belanda keturunan Indonesia bernama Hedwiges Maduro (juga mantan kapten 
timnas Belanda yang menjuarai Piala Eropa U-20 tahun 2005)  prestasinya mulai 
menurun dan tak dipanggil oleh pelatih timnas Belanda 2010, kini ada barisan 
panjang nama-nama keturunan Indonesia yang kualitasnya sangat menjanjikan 
antara lain Christian Sapusepa, Michael Timisela, Robert Timisela dan  Sven 
Taberima (Ajax, Amsterdam); Djilmal Lawansuka  (Feyenoord, Rotterdam); Raphael 
Tuanakotta dan Ignacio Tuhuteru (FC Groningen); Gaston Salasiwa (AZ Alkmaar); 
Marciano Kastirejo, Stefano Lilipaly dan Max Lohy (FC Utrech); Nelljoe 
Latumahina, Juan Hatumena, Petg Toisuta dan
 Domingus Lim-Duan (FC Zwolle).           
Melihat deretan nama tersebut, tak mengherankan bila Nurdin Halid, Ketua Umum 
PSSI sangat tergiur untuk secara instant merekrut pemain-pemain keturunan 
Indonesia ini menjadi pemain timnas PSSI, melalui proses naturalisasi terlebih 
dulu. Maka segera dia menyuruh Nugraha Besoes, Sekjen PSSI yang menjabat Sekjen 
terlama di dunia untuk menjajaginya. Tapi sebagian terbesar dari mereka 
ternyata tidak mau bermain untuk tim PSSI karena mereka menilai peluang untuk 
lolos ke Piala Dunia sangat tipis bagi timnas Indonesia dibandingkan kalau 
mereka membela timnas Belanda. Alasan lain penolakan mereka tentunya adalah 
masalah jaminan hidup pemain yang sangat diragukan karena kompetisi PSSI masih 
sangat ecek-ecek. Memang ada beberapa keturunan Indonesia yang mencoba 
peruntungan di kompetisi Indonesia Super League (ISL) seperti Irvan Bachdim, 
(ayahnya keturunan Minangkabau). Namun pemain yunior FC Groningen ini ditolak 
oleh Persib Bandung karena dinilai masih belum siap
 untuk mengarungi kompetisi ISL yang sangat keras. Ada lagi Sergio van Dijk, 
salah seorang top scorer liga Australia (A-League), tetapi beritanya tak 
kedengaran lagi, mungkin dia tahu Indonesia ditolak FIFA pada bidding 
keikutsertaannya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.  
PSSI kepengurusan Nurdin Halid kalau mau maju ke pentas dunia janganlah 
berpikir serba instant dong. Jangan agar bisa lolos ke Piala Dunia lalu mencoba 
merekayasa menjadi Tuan Rumah Piala Dunia. Ini namanya ingin tampil di Piala 
Dunia dengan tiket gratis! Jangan karena ingin lolos ke Piala Dunia lalu 
berpikir segera menaturalisasi para pemain bola internasional keturunan 
Indonesia. Benahi dulu dong, semua level kompetisi sejak usia dini, berjenjang 
beberapa tingkatan sampai ke kompetisi senior. Kompetisi yang berjalan bagus, 
kompetitip dan dijalankan secara fair itulah yang akan membawa pemain-pemain 
Indonesia berada pada level tinggi sebagai pemain sepakbola yang nantinya 
direkrut memperkuat timnas Indonesia. 
Datangkan ke Indonesia pelatih berkelas dunia sekelas Tony Pogacknik, yang 
didukung penuh oleh pemerintah di bawah Presiden RI, Ir. Soekarno; yang 
berhasil membawa timnas Indonesia lolos ke Olimpiade Melbourne, Australia 1956 
setelah di final Pra Olimpiade mengalahkan timnas Cina 5-3 dan kemudian di 
perempat final Olimpiade Melbourne  membuat kejutan dengan menahan 0-0 calon 
juara Olimpiade yang akhirnya memang juga menjuarai Olimpiade Melbourne; Uni 
Soviet (sekarang Rusia), melalui pertandingan sangat dramatik. Atau datangkan 
pelatih asal Belanda sekelas, Wiel Coerver, yang membawa Feyenoord memenangi 
piala Champions dan nyaris membawa timnas Indonesia lolos ke Olimpiade 
Montreal, Kanada 1976, hanya karena kalah adu penalti 5-6 melawan Korea Utara.  
Suruh pelatih timnas Indonesia ini keliling  Indonesia memantau pemain-pemain 
muda berbakat tanpa diintervensi pengurus PSSI. Suruh dia memantau 
pemain-pemain di kompetisi ISL dan terus berdiskusi dengan
 para pelatih klub anggota ISL. Suruh dia memberi kursus kepelatihan bagi calon 
pelatih Indonesia terutama yang berasal dari mantan pemain nasional.  
Ayo sebenar-benarnya Indonesia itu bisa ke Piala Dunia, hanya dengan usaha 
sungguh dan kesabaran!!!!!
Kepustakaan:
www.fifa.com
www.cardiyanhis.blogspot.com
Cardiyan HIS, “PSSI Tempo Doeloe Hebring”, Penerbit PT. Pustaka Dinamika 
Mediatama, Jakarta, 1988.
Cardiyan HIS dan Muhamad Kusnaeni, “Intinya Pemain Inti untuk PSSI”, Penerbit 
PT. Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta, 1988.
Cardiyan HIS, “Soetjipto ‘GARENG’ Soentoro Menggoreng Bola”, Penerbit PT. 
Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta, 1988.
 
  

Kirim email ke