Dear  all,

Dari uraian tentang Isra Mikraj di bawah, terdapat hal esensi yang tidak
pernah terungkapkan sebelumnya. Hal tersebut adalah kronologis tentang
peristiwa itu terjadi menurut kronologis turunnya surah-surah yang
menceriterakan kedua peristiwa itu terjadi.

Peristiwa Isra diceriterakan dalam S Al Isra, yang menurut para ahli tafsir
diturunkan di Mekkah pada tahun kesebelas atau kedua belas kenabian
(beberapa saat sebelum Hijrah dari Mekkah ke Medinah yang terjadi tahun
kedua belas kenabian). Sementara itu peristiwa Mi'raj diceriterakan dalam
Alquran melalui S An Najm yang diketahui diturunkan pada tahun kelima
kenabian setelah Hijrah ke Abesenia. Jadi melihat urutan kronologis kejadian
kedua peristiwa itu, Isra dan Mi'raj terjadi tidak secara sekuensian, tapi
terjadi berlainan waktu, terpisah dengan bentang waktu sekitar tujuh tahun.
bahkan Mi'raj terjadi lebih dahulu dibanding peristiwa Isra. dalam S An najm
Mi'raj terjadi sampai dua kali.

Bukti sejarah lain adalah Hadits-hadits yang menceriterakan kedua peristiwa
itu terjadi, tidak ada yang menceriterakan kedua-duanya terjadi dalam satu
malam. Bukti lain dapat kita temukan al. (a) Peristiwa Mi'raj hanya kita
temukan dalam S An Najm, tanpa sedikitpun mengaitkan dengan peristiwa Isra.
Sedangkan peristiwa Isra hanya diceriterakan dalam S Al Isra, tanpa
sedikitpun mengaitkan dengan peristiwa Mi'raj. (b) Dalam peristiwa Isra
diceriterakan Rasulullah saw bertemu dengan para Nabi terdahulu, yang juga
ditemui Rasulullah saw di "langit" dalam peristiwa Mi'raj. Akan tetapi tidak
pernah diceriterakan bagaimana para Nabi tersebut "naik" nya lagi ke langit,
ssetelah bertemu Rasulullah saw (shalat bersama dengan Rasulullah saw). (c)
Ketika peristiwa Isra, diriwayatkan Rasulullah sedang menginap di rumah Ummi
Hani (sepupu beliau saw), dan Ummi Hani tidak hanya berceritera tentang
perjalanan ke Masjidil Aqsa saja (tanpa tambahan ceritera kenaikan beliau
saw ke langit). Sementara pada peristiwa Mi'raj, diriwayatkan Rasulullah saw
sedang berada di masjidil Haram.

Jadi rupanya telah terjadi pencampuradukan sejarah terhadap kedua kejadian,
yang sebenarnya berbeda waktu dan tempat menurut runtutan kronologis
turunnya ayat-ayat Alquran yang menceriterakan kedua peristiwa tsb.

Demikian untuk bahan telahan.

Regards,
-yadi-




2010/7/12 muhammad arif <[email protected]>

> Hasil Copy Paste Buku "Al Quran dan Ilmu pengetahuan Kealaman" - Prof.
> Achmad Baiquni, Msc. Phd - Penerbit Dana Bhakti Prima Yasa
>
> Semoga bermanfaat...Wassalam
>
> MA-MS86
>
> *PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ*
>
> * *
>
> *Peristiwa-Peristiwa Yang Terjadi***
>
>
>
> Menurut penuturan Ummu Hani malam itu Rasulullah s.a.w. menginap dirumahnya
> dan sesudah shalat malam beliau tidur. Sebelum fajar Rasululloh s.a.w.
> membangunkan sepupunya itu dan sesudah sholat jama’ah bercerita bahwa beliau
> setelah sholat malam pergi ke Bait Al Maqdis dan beliau sholat lagi di sana.
> Perjalanan malam ini disebut dalam ayat 1 surah Al Isra’:
>
>
>
> “Maha Suci Alloh yang telah memperjalankan hamba Nya pada suatu malam dari
> Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya
> untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia
> Maha Mendenngar lagi Maha Melihat”
>
>
>
> Peritiwa yang dikenal sebagai Isra’ ini, merupakan perjalanan panjang yang
> disusul dengan lawatan ke langit yang dinamakan Mi’raj. Ummu Hani tidak
> setuju kalau beliau menyampaikan cerita ini kepada orang lain, karena
> khawatir mereka akan mendustakan dan menggangu beliau lagi. Namun Rosululloh
> s.a.w. beketepan hati untuk menceritakan pengalaman malam itu kepada yang
> lain juga.
>
>
>
> Mengingat bahwa jarak antara Mekah dan Jerusalem cukup jauh, yaitu sama
> dengan perjalanan satu bulan bagi onta yang berlari, maka cerita tersebut
> tidak diterima oleh orang-orang kafir karena tidak rasional, tidak masuk
> akal; bahkan sebagian orang Islam menjadi bimbang dan tak mau mengimaninya.
> Apalagi perjalanan tersebut itu dilanjutkan dengan Mi’raj naik melewati
> tujuh langit sampai Sidratul Muntaha dan kembali setelah menerima perintah
> sholat lima waktu langsung dari Allah SWT. Marilah kita perhatikan surah An
> Najm ayat 13 sampai dengan 18:
>
>
>
> “ Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya asli)
> di saat yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal
> ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
> Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak pula
> melampauinya. Sesungguhnya ia telah melihat sebagian dari tanda tanda
> kebesaran dan kekuasaan Tuhannya yang paling besar”
>
>
>
> Namun bagi orang yang benar benar Mukmin masalah tersebut tak
> menggoncangkan hati mereka sedikit pun, sebagimana diperlihatkan oleh Abu
> Bakar Siddiq. Nyata bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini telah menyebabkan
> peritiwa kristalisasi di lingkungan umat yang menyingkirkan mereka yang tak
> bersungguh sungguh beriman dari barisan orang orang Mukmin, sehingga umat
> menjadi lebih tegar dalam menghadapi peristiiwa peristiwa sejarah yang akan
> menyusul kemudian.
>
>
>
> Meskipun demikian, pada dasarnya ada dua pandangan utama yang berbeda di
> kalangan umat; yaitu sebagian percaya bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan
> Rasululloh s.a.w. dengan ruh serta jasad, sedangkan sebagian yang lain
> mempercayai bahwa peristiwa itu dalami beliau dengan ruh saja. Mereka yang
> menyatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan dengan ruh dan jasad berpegangan
> pada penafsiran ayat dalam Al Quran bahwa yang dinamakan “hamba” (‘abd)
> adalah jasad dan ruhnya; lagipula yang dapat “dikasih lihat’ (linuriyahu)
> adalah mata yang merupakan bagian dari jasad itu. Sebaliknya para sahabat
> yang percaya bahwa Rosululloh s.a.w mengalami peristiwa itu dengan ruh saja
> berpegangan pada ucapan Ummu Hani’ dan Siti Aisyah yang menyatakan bahwa
> beliau semalaman tidur dan tubuhnya tetap saja ada di tempat. Bagi kita yang
> penting adalah mengimani bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj benar benar
> terjadi sebagaiman dinyatakan di dalam Al Quran tanpa mempersoalkan apa
> beliau menggunakan jasad dan ruh nya ataukah ruh nya saja. Namun dalam
> paragraf selanjutnya disajikan data data baru yang akan memberikan kejelasan
> kepada kita kemungkinan kemungkinan apa yang dialami Rasullullah dalam
> peristiwa tersebut.
>
>
>
> *Menanggapi Masalah Rasionalitas*
>
>
>
> Suatu peristiwa akan dinyatakan masuk akal atau rasional oleh seseorang,
> apabila pada dasarnya ia sesuai dengan pengalaman orang itu, misalnya
> jatuhnya sebuah benda yang terlepas dari tangan pemegangnya. Andaikan saya
> mengatakan dalam sebuah cerita kepada orang orang yang digolongkan sebagai
> aggota suku terasing, bahwa ketika benda yang dipegang si Fulan terlepas
> dari tangan nya ia tak jatuh melainkan membubung di udara, maka mereka tentu
> akan mengatakan bahwa saya membohong; sebab mereka belum pernah melihat
> benda yang “jatuh ke atas”. Tentu saja sikap mereka itu gigih dan kita tak
> perlu heran sebab tak seorang pun diantara mereka pernah melihat membelikan
> anaknya sebuah balon berisi gas seperti yang banyak dijual di kota
> metropolitan Jakarta semisalnya. Bagi mereka benda yang jatuh keatas itu
> tidak ada, tidak masuk akal; gejala semacam itu tidak rasional menurut
> mereka karena berlawanan dengan pengalaman mereka sehari hari, meskipun di
> Jakarta kejadian semacam itu sudah biasa.
>
>
>
> Begitu pula apabila saya mengatakan kepada beberapa orang berasal dari desa
> yang terkucil di pedalaman, bahwa jikalau saya memencet tombol kotak
> (televisi) yang saya keluarkan dari saku saya mereka akan melihat kota
> Jakarta dalam acara peringatan Hari Kemerdekaan, mereka akan mendustakan
> saya. Sebab bagi mereka hal itu tak masuk akal, dan bagaimana pun kita
> menerangkan kepada mereka itu mereka tidak dapat mengerti. Dari contoh di
> atas tampak bahwa kebenaran penilaian rasio seseorang itu terbatas hanya
> seluas pengalaman observasi atau ilmiahnya. Dan oleh karena itu, apabila
> seseorang hanya mengandalkan pada rasionya saja dan tidak mau mempercayai
> apapun kecuali yang dapat disesuaikan dengan pengalaman nya, maka ia akan
> terbentur pada kesulitan yang tak akan dapat diatasinya.
>
>
>
> Unsur kepercayaan ini sangat penting bagi kehidupan manusia. Seorang
> insinyur yang harus mengkonstruksikan sebuah jembatan akan menggunakan
> “daftar kekuatan material” dan daftar matematika dalam perhitungannya, dan
> ia percaya saja pada kebenaran daftar daftar tersebut. Seorang pilot akan
> menggunakan peta dalam penerbangannya dari Jakarta menuju Jeddah; dan ia
> percaya saja pada kebenaran dan ketetapan peta terbang yang dipergunakannya.
> Mengapa tidak percaya juga pada kebenaran Al Quran dalam perjalanan hidup
> menuju akhirat? Sudah barang tentu para penyanjung rasionalitas akan
> mengadakan perbandingan sebagai berikut; ya, para insinyur itu percaya pada
> kedua daftar yang dipergunakannya itu karena para pendahulu mereka juga
> memakai tabel tabel yang sama dan berhasil membangu gedung tinggi, jembatan
> panjang dan lain sebagainya, yang kini berdiri dengan megah, tahan cuaca,
> serta pembebanan oleh pemakainya. Begitu pula para pilot mempercayai
> kebenaran peta terbang yang ada, karena para senior mereka telah memakai
> peta yang sama serta mencapai tujuan yang sama dengan selamat.
>
>
>
> Karena orang orang yang meninggal dan mengalami masuk di alam barzakh tidak
> ada yang kembali untuk menceritakan pengalaman mereka, bagaimankah dapat
> diperlihatkan kebenaran Al Quran? Kita telaah saja ayat 6 surah Saba’:
>
>
>
> “Dan mereka yang diberi ilmu akan melihat bahwa apa yang diturunkan
> kepadamu dari Tuhanmu adalah yang benar serta menunjuk kepada jalan Tuhan
> Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi”
>
>
>
> Sebagai contoh bagi pentingnya ilmu pengetahuan bagi pemahaman dan
> kesadaran akan kebenaran Al Quran dapat dikemukakan dalam kaitan ini
> misalnya kandungan ayat 5 surah As Sajdah yang menyatakan bahwa satu hari
> bagi Malaikat yang bergerak amat cepat sama dengan seribu tahun kita.
> Pernyataan ini taka akan dipahami sarjana yang mana pun kalau ia tidak
> mempelajari fisika relativistik; apalagi orang awan. Sebab yang
> diperbandingkan adalah “waktu Malaikat” dengan waktu kita; bukan jarak yang
> ditempuhnya. Jadi kalau diukur dengan rasionalitas mereka yang terbatas itu
> mayoritas umat manusia akan membohongkan isi Al Quran itu. Padahal dalam
> relativitas khusus dapat dibuktikan bahwa kalau seseorang bergerak dengan
> kecepatan v km/detik maka bagi kita yang diam di bumi ini waktu seharinya
> akan sama dengan:
>
>
>
> H= 1 / (1 – (v/c)2) ½
>
>
>
> Dengan kecepatan cahaya c = 300 000 km/detik; jadi andaikan ada seseorang
> penerbang yang dapat melejit dengan kelajuan tinggi sebesar 298.000
> km/detik, maka 24 jam baginya akan tercatat oleh kita sebagai 1000 tahun.
>
>
>
> Namun kecepatan yang begitu besar itu jelas berada di luar jangkauan
> manusia. Roket roket raksasa yang melontarkan pesawat pesawat luar angkasa
> yang dimilikinya hanya dapat mendorong pesawat itu dengan kelajuan sekitar
> 15 km/detik saja. Di dalam Kitab Suci Umat Islam itu terdapat ayat lain yang
> melukiskan peristiwa lain yang berisi pernyataan bahwa Malaikat melesat
> dalam satu hari lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun; yaitu ayat 4
> surah Al ma’aarij. Namun hal ini tidak menunjukkan adanya inkonsistensi
> dalam Al Quran, sebab dilatasi waktu (mulurnya jangka waktu) tak hanya
> terjadi pada gerak yang sangat cepat, tetapi menurut relativitas umum juga
> apabila ada pengaruh dari massa yang sangat besar, misalnya pada bintang
> neutron; apalagi pada “black hole” gejala dilatasi waktu itu sangat
> menonjol.
>
>
>
> *Pengalaman Orang Yang Mati*
>
>
>
> Masalah pengalaman orang mati yang diharapkan dapat kita ketahui, seperti
> yang telah dipersoalkan di atas, dan perjalanan Isra’ dan Mi’raj’ Rasulullah
> s.a.w. yang menjadi tema bagi tulisan ini ssebenarnya adalah masalah yang
> menyangkut kegiatan dalam alam ruh; sedangkan di dalam Al Quran Allah SWT
> menyatakan dalam ayat 85 surah Al Isra’;
>
>
>
> “ Dan Mereka bertanya kepadamu mengenai ruh; katakanlah; ruh itu termasuk
> urusan Tuhanku, dan kalian tidak akan diberi pengetahuan mengenainya kecuali
> sedikit saja”
>
>
>
> Marilah sekarang kita mencoba mengorek info sedikit itu yang kini telah
> berada ditangan manusia dan dapat dikategorikan sebagai bagian ilmu
> pengetahuannya. Seorang dokter yang juga psikolog dari Amerika, Moody
> namanya, telah melakukan penelitian dengan mewancarai orang orang diberbagai
> kota serta berbeda beda latar belakang sosial, kelompok etnis dan agamanya,
> yang tercatat sebagai pasien yang pernah dinyatakan mati secara klinis oleh
> suatu tim medis, namun kemudian hidup kembali.
>
>
>
> Ia mengumpulkan informasi lebih dari seratus orang yang kebetulan
> diperkenankan “mengintip seberang sana” yang orang lain tak melihat,
> Kejadian semacam ini sebenarnya sama saja dengan mengumpulkan informasi dari
> para astronom yang kebetulan melihat meledaknya sebuah bintang supernova
> pada suatu malam dalam tahun 1987. Peristiwa yang mereka alami ini hanya
> terjadi sekali saja pada diri mereka, baik yang mengintip ke seberang sana
> maupun yang melihat supernova; namun informasi yang mereka kumpulkan ini
> sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Tetapi dapatkah kita
> mempercayai apa yang diungkapkan oleh mereka yang pernah mati dan hidup
> lagi? Kalau sumber informasi itu hanya satu orang saja tentu saja akan sukar
> bagi kiita untuk menentukannya. Tetapi sumber kita kali ini lebih dari
> seratus, tidak saling mengenal, dari berbagai latar belakang dan memberikan
> laporan yang boleh dikatakan sama secara garis besar.
>
>
>
> Ada variasi di sana sini dalam masing masing informasi mereka, misalnya ada
> yang melihat keluarganya menangisinya diluar kamar mati, ada yang bertemu
> dengan sanak saudaranya yang telah meninggal lebih dahulu, ada yang melihat
> temannya yang telah tiada mencoba coba bicara dengan anaknya, ada yang
> “terikat” dengan tempatnya sehingga tiap kali berusaha untuk beranjak dari
> tempat itu selalu gagal, dan sebagainya. Adapun garis besar pengalaman
> mereka adalah sebagai berikut;
>
>
>
>    1. Mereka merasa waktu itu keluar dari badan dan melihat tim dokter dan
>    juru rawat mencoba menghidupkan kembali; dan ketika dokter tidakberhasil
>    menolong mereka, mereka itu kemudian dinyatakan meninggal.
>    2. Mereka membumbung melalui ruang yang gelap serta mendengar berbagai
>    suara suara, sehingga akhirnya di ujung kegelapan mereka bertemu dengan
>    makhluk yang bercahaya dan secara kontak langsung tanpa bicara
>    memperlihatkan suatu catatan (lebih tepat suatu rekaman)
>    3. Mereka melihat rekaman riwayat hidup mereka sendiri di dunia dengan
>    segala detail dan setelah selesai mereka ditolak untuk melanjutkan
>    perjalanan dan diperintahkan dengan cara kontak langsung tanpa kata kata
>    agar mereka kembali.
>
>
>
> Semula waktu berada di seberang sana mereka merasa segala sesuatu, namun
> setelah mereka hidup kembali mereka kehilangan pengetahuan itu. Meskipun
> demikian mereka ternyata telah mengubah pola hidupnya denga hidup yang lebih
> religius.
>
>
>
> Apakah yang dapat kita petik dari pengalaman mereka itu? Ada paling sedikit
> tiga hal yang dapat kita kemukankan di sini yang dapat kia pergunakan
> sebagai bahan penolong bagi pemahaman peristiwa isra’ dan Mi’raj yaitu;
>
>    1. Bahwa ternyata penglihatan dan pendengaran seseorang tidak terikat
>    pada mata dan telinganya, sehingga pendapat para ulama kuno tentang peran
>    jasad Rasullullah s.a.w dalam Isra’ dan Mi’raj menjadi tidak relevan lagi
>    (tak merupakan alasan yang dianggap kuat)
>    2. Bahwa benar benar telah terbukti pernyataan dalam Al Quran pada ayat
>    18 surah Qaaf yang menyatakan:
>
> “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan kecuali Malaikat Raqub dan ‘Atid
> (yang mencatat segala ucapan dan tingkah laku manusia) berada di dekatnya”.
>
>    1. Bahwa Malaikat penjaga perbatasan antara alam yang satu dengan yang
>    lain seperti diungkapkan dalam peristiwa Isra’ dan mi’raj itu benar benar
>    ada.
>
>
>
> Hal ini memperkuat keyakinan kita akan kebenaran ajaran agama Islam. Dalam
> pengalaman Isra’ dan Mi’raj ruh Rasulullah s.a.w keluar dari jasad dan
> berada di alam yang tak terinderakan oleh panca indera kita; beliau melihat
> serta mendengar apa apa yang ada di alam kita; Menurut hasil penelitian
> Moody hal ini rasional. Perjalanan beliau yang berlangsung sangat cepat
> dapat terjadi karena dilakukan tanpa jasad sehingga tidak dikendalai oleh
> sunnatullah yang diberlakukan di alam kita. Ruh beliau yang berada di alam
> lain mengikuti sunnatullah yang berlaku di sana; jadi peristiwa ini juga
> rasional. Kemudian pada saat bermi’raj beliau diizinkan Malaikat penjaga
> masing masing perbatasan anatara tiap dua alam menjelajah ketujuh alam yang
> gaib; dan ini juga rasional.
>
>
>
> Mungkin kita bertanya pada diri sendiri; Peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini
> adalah salah satu mu’jizat yang diperlihatkan atau terjadi pada diri
> Rasulullah s.aw. bukan? Mengapa kita dapat memahaminya dan bahkan
> mengatakan bahwa peristiwa itu rasional? Hal ini disebabkan karena waktu
> Allah SWT menciptakan alam semesta, langit dan bumi ( ruang-waktu dan
> seluruh energi-materi yang mengisinya) berjanji akan mentaati apa saja yang
> dikehendaki Nya dan Allah SWT menjadikan tujuh alam serta mewahyukan
> peraturan peraturan Nya yang diberlakukan di masing masing alam tersebut.
> Dan karena sunnatullah ini dinyatakan Sang Pencipta tidak akan berubah dan
> dapat kita pelajari maka kitadapat memahami apa yang telah terjadi pada
> Isra’ dan Mi’raj itu dan menyatakannya sebagai peristiwa yang rasional. Jika
> suatu kejadian berlangsung dengan menggunakan sunnatullah di alam kita yang
> belum terungkap atau di alam lain yang ghaib yang sama sekali tidak kita
> ketahui, maka mu’jizat itu tidak dapat kita pahami secara rasional; kita
> beriman saja.
>
>
>
> *Alam Kembaran Kita Yang Ghaib*
>
>
>
> Sebelum melanjutkan pembahasan ini sebaiknya kembali kita telaah mengenai
> penciptaan alam semesta. Para ilmuwan kosmologi serta fisikawan
> energi-tinggi menemukan bahwa alam lahir dari ketiadaan ketika terjadi
> goncanga dalam vakum yang menyebabkan ruang-waktu dan energi-materi keluar
> dari singularitas fisi dengan kekuatan dahsyat (Al Anbiyaa 30) sehingga
> terjadi ekspansi eksponensial yang disusul dengan ekspansi yang terobservasi
> oleh Hubble (Adz Dzaariyat 47). Gejala inflasi yang mendahului ekspansi
> jagat raya inilah yeng menyebabkan terjadinya transisi fase yang memunculkan
> energi dalam bentuk materi (Fushshilat 9) yang dibarengi gerak pusaran yang
> merupakan tambatan kestabilan dan dikuantifikasikannya muatan muatan massa,
> listrik dan sebagainya (Fushshilat 10). Pada masa terjadinya materialisasi
> inilah diberlakukan hukum alam yang mengatur tingkah laku alam ini; dan
> ruang alam beserta isinya menyatakan akan tunduk dengan taat (Fushshilat
> 11). Bagi penciptaan alam ini para fisikawan maupun kosmolog mengatakan
> adanya kemungkinan terbentuk lebih dari satu alam, yang satu sama lain tidak
> berhubungan dan hukum alamnya tidak perlu sama, tetapi mereka tidak tahu
> berapa buah jumlahnya, andaikan saja hal itu terjadi. Al Quran mengatakan
> tujuh, yang satu adalah alam dunia (Fushshilat 12); sudah barang tentu alam
> yang lain ghaib.
>
>
>
> Kelihatannya agak aneh bahwa para astronom dan kosmolog yang bidang
> kajiannya meliputi benda benda yang amat besar seperti bintang, galaksi dan
> kosmos akhirnya bertemu dengan fisikawan energi-tinggi dan partikel-dasar,
> yang bidang kajiannya meliputi benda benda yang sangat renik. Namun
> pertemuan ini sebenarnya normal saja karena kelompok pertama ingin
> mengetahui perihal penciptaan alam semesta, yang kejadiannya melibatkan
> suasana suhu yang sangat panas pada ledakan yang amat dahsyat yang biasa
> disebut “Big Bang”, padahal di dalam suasana yang berciri energi yang sangat
> tinggi itu yang berinteraksi adalah partikel partikel elementer atau
> partikel-dasar yang merupakan bidang keahlian kelompok kedua.
>
>
>
> Dalam penelitian mereka terhadap keempat gaya yang kini berperan dalam
> pembentukan zarah zarah renik yang ada di alam kita ini, para fisikawan itu
> ingin mengungkapkan mekanisme apa yang bekerja anatra partikel partikel sub
> nuklir yang menyusun materi isi jagat raya. Kita mengetahui bahwa;
>
>    1. Gaya elektromagnetik bertanggung jawab atas terbentuknya atom atom,
>    molekul molekul dan benda benda.
>    2. Gaya nuklir-kuat membentuk nukleon nukleon, yaitu zarah proton dan
>    neutron di dalam semua ini atom.
>    3. Gaya nuklir-lemah yang berperan dalam gejala peluruhan radiaktivitas
>    beta pada inti atom tertentu.
>    4. Gaya gravitasi yang bekerja antara semua partikel dan benda benda
>    yang memiliki massa termasuk energi.
>
> Keempat gaya ini sebenarnya baru muncul setelah suhu alam turun menjadi
> sepuluh-ribu-trilyun derajat. Ketika suhu itu baru turun mencapai
> seribu-trilyun-trilyun derajat yang ada hanya gaya gravitasi, gaya
> nuklir-kuat dan gaya elektro-lemah. Pada suhu yang lebih tinggi lagi yakni
> sepuluh-ribu-trilyun-trilyun derajat baru ada gaya gravitasi dan gaya
> elektro-nuklir, sedangkan pada seper-juta-trilyun-trilyun-trilyun sekon
> ketika suhu alam setinggi seratus-juta-trilyun-trilyun derajat hanya ada
> satu gaya saja yang terdapat di alam ini yaitu gaya-super.
>
>
>
> Dalam perhitungan mereka mempergunakan matematika yang cukup rumit yang
> menggunakan sifat materi pada interaksi yang melibatkan gaya gaya yang
> ditilik. Mula mula simetri diperluas menjadi supersimetri, kemudian untuk
> menangani gravutasi diperluas menjadi supergraviti yang akhirnya menjurus
> kepada superstring. Dalam kerangka ini grup materi yang berlaku adalah SO
> (32) yang dapat berdekomposisi menjadi memberikan isyarat bahwa alam yang
> kita huni ini mempunyai “kembaran” yang hanya dapat dihubungi lewat medan
> gravitasi, tetapi Hukum Alamnya berbeda. Dalam kaitan ini kita dapat
> mengingat kembali kisah Isra’ dan Mi’raj, dimana tidak terdapat perbatasan
> antara alam kita ini dengan alam yang dimasuki dan dilewati Rasulullah
> s.a.w. ketika menjalankan Isra’ artinya tidak ada penjaga yang mencegat
> seperti pada perbatasan alam ini dengan yang ada di seberang sana.
>
>
>
> *RANGKUMAN*
>
>
>
> Telah dibahas peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang menjuruskan masyarakat Muslim
> pada proses kristalisasi dan membenahinya dengan kewajiban sholat lima
> waktu. Peristiwa Isra’ yang dilaksanakan dalam waktu kurang dari sepertiga
> malam pulang pergi itu tidak perlu dipermasalahkan karena pelaksanaannya
> dilakukan melalui alam yang berbeda dari alam yang kita huni ini, sehingga
> sunnatullah yang berperan di sana berbeda dari yang kita kenal di sini.
> Pernyataan orang orang yang pernah dinyatakan mati secara klinis, kemudian
> hidup kembali, merupakan kunci penjelasan bagi berfungsinya kemampuan
> mendengar dan melihat pada ruh yang keluar dari badan orang. Kecuali itu
> pernyataan tersebut juga merupakan pembenaran atas ajaran Islam tentang
> adanya pencatatan atau perekaman ucapan serta tingkah laku manusia semasa
> hidupnya, dan adanya penjaga-penjaga di perbatasan antara alam yang satu dan
> yang lain yang mengatur siapa boleh dan siapa tidak boleh melewati
> perbatasan yang dijaga itu.
>
>
>
> (From Al Quran dan Ilmu pengetahuan Kealaman - Prof. Achmad Baiquni, Msc.
> Phd - Penerbit Dana Bhakti Prima Yasa)
>
>
>


-- 
    YADI supriadi wendy
Mobile: +62 899 711 8089
Email: [email protected]
.:sent with love:.

Kirim email ke