Assalamu'alaikum wr. wb.,

Tulisan yang menarik dan introspektif. Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,
CA

---------- Forwarded message ----------
From: Budi Youyastri <[email protected]>
Date: Sat, 17 Jul 2010 12:42:53 +0800 (SGT)
Subject: [AlumniMuslimITB] Apakah Kita Masih Menyukai Berhala Berhala
Kita  ?  Ya,

1. Tulisan menarik, jadi ingat seseorang. Atau lebih tepatnya beberapa
kumpulan orang.

2. Ada yang paham, tentang latar belakan penulisnya. Dan latar
belakang gerakan muslim di maroko.

3. Memang kita harus selalu berdiskusi atas apa yang pokok dan apa yang cabang.
kehidupan kita selalu demikian.

wassalam

Assalamu'alaikum wr,wb

Berhala-Berhala Gerakan Islam
Kamis, 08/07/2010 12:52 WIB | email | print | share

Ketika DR. Farid Anshari, seorang ulama dan aktivis gerakan Islam di
Maroko menerbitkan bukunya April 2007
 dengan judul : Enam Kekeliruan Gerakan Islam di Maroko, Penyimpangan
Pemberhalaan Pemikiran
 dan Praktek, sontak dunia pergerakan Islam di Maroko khususnya dan
Dunia Arab lainnya heboh.

Apa yang diangkat penulisnya dalam buku tersebut menjadi perbincangan
luas dan menimbulkan pro-kontra. Seakan sudah menjadi kebiasaan di
kalangan para aktivis gerakan Islam di seluruh dunia saat ini, apalagi
di Indonesia, untuk tidak siap dikritik.

Setiap ada kritik pasti ada saja pembelaan yang membabi buta dari para
pendukung serta qiyadahnya, kendati apa yang dikritik itu terang
benderang seperti melihat mata hari di siang hari dan yang melakukan
kritik itu adalah orang yang bertahun-tahun hidup di dalam gerakan
tersebut.

Sebagai seorang akademisi, aktivis dakwah, pendiri lembaga pengkajian
dan penulis, DR. Farid sebelumnya sudah meluncurkan beberapa buku
ilmiyahnya yang sangat bermutu seperti, Tauhid, Pertengahan Dalam
Tarbiyah Dakwah, Alfabetik Pembahasan Ilmu-Ilmu Syari’ah, Istilah
Ushuli Menurut Imam Syatibi dan Penjelasan
 Dakwah dan Fenomena Penggelembungan Politik.

Menarik untuk kita cermati bahwa dalam buku Enam Kekeliruan Gerakan
Islam di Maroko, Penyimpangan Pemberhalaan Pemikiran dan Praktek, DR.
Farid Anshari yang menduduki berbagai jabatan di perguruan tinggi di
Maroko dan juga dosen Ushul Fiqh dan Maqashid Syar’iyyah dan
bertahun-tahun bergabung dengan gerakan Islam khusunya Harokat
Attauhid Wal Ishlah dan keluar tahun 2000, menjelaskan fenomena yang
menakutkan yang terjadi dalam berbagai gerakan Islam, termasuk yang
menganut aliran tasawuf dan salafi.

Dalam buku tersebut, DR Farid Anshari mencatat enam bentuk
penyimpangan gerakan Islam, baik dalam bentuk pemikiran maupun
prakteknya. Yang menakutkan ialah, bahwa penyimpangan tersebut sudah
mengarah kepada “pemberhalaan” , sehingga mengalahkan nash shorih
(dalil syar’i yang disepakati ulama keabsahannya) .

Lalu beliau mengatakan, “Orang yang menyaksikan hiruk pikuk politik dan
 media menduga gerakan Islam sekarang sangat luar biasa dan mengalami
kemajuan dalam percaturan peradaban. Padahal yang terjadi adalah
sebaliknya.”

Gerakan Islam Telah Menyimpang dari Tujuannya

DR. Farid Anshari melihat semua gerakan Islam sekarang mengalami
setback di banding dengan sebelumnya. Kemundurannya sangat jauh.
Bahkan telah gagal total dalam memelihara kedudukan strategisnya yang
telah diraihnya dengan manhaj tarbiyah dan khitab (komunikasi) dakwah
dan ilmu.

Sesungguhnya gerakan Islam saat ini telah kehilangan semua itu dan
bahkan terusir dengan hina dari jati diri gerakan Islam itu sendiri.
Kemunculannya sangat telanjang dan mudah dibaca oleh musuh-musuh
ideoligisnya, sehingga mudah dilecut dengan cemeti yang akan mebuat
saf-safnya berantakan, tanpa sampai ke target-target dasarnya. Sungguh
gerakan Islam telah ditusuk oleh pisau-pisau hawa nafsu (syahwat
dunia) dan juga oleh pisau-pisau musuh sehinga terluka
 parah.

DR. Farid Anshari memastikan bahwa gerakan Islam di Maroko,
sebagaimana juga di kawasan dunia Islam lainnya, sesungguhnya sedang
mengalami krisis yang luar biasa. Sebab utamanya tak lain ialah karena
tidak memiliki kemampuan menunaikan tugas dan fungsi yang sebenarnya
dan menegakkan risalah robbaniyah di mana hal tersebutlah yang
mendasari berdirinya, menjadi syarat kelahirannya sehingga mendapatkan
dukungan yang luar biasa di awal-awal kelahirannya.

Pemberhalaan Manhaji

DR. Farid Anshari menilai bahwa orientasi gerakan Islam di Maroko
dengan nyata jatuh ke dalam ‘syirik khafi’ (syirik tersembunyi) atau
apa yang ia namakan dengan “pemberhalaan manhaji.” Yang demikian itu
terjadi karena gerakan Islam dalam memilih strategi besarnya terjadi
penyimpangan.

Penyimpangan tersebutlah yang akan menghambat gerakan Islam itu
sendiri untuk berada selalu di jalan orisinilitasnya sehingga berbagai
bentuk dan
 formalitas organisasi (tanzhim) telah menjadi dinding penghambat
untuk tidak mampu lagi melihat target atau tujuan ‘iqamatuddin’
(menegakkan Islam), dalam diri dan dalam masyarakat.

Dari hasil pengalamannya hidup dengan gerakan Islam, DR. Farid Anshari
menyimpulkan bahwa terdapat enam kekeliruan manhaji yang besar di mana
kekeliruan yang manhaji tersebutlah yang menjadi sumber semua
penyimpangan yang terjadi. Itu pulalah yang menjadi sebab dari semua
bentuk pemberhalaan yang sudah menyatu dengan kuat dalam pemikiran
para aktivis Islam dan dalam praktek organisasi mereka.

Hasilnya ialah, hati mereka sangat terpaut dengannya baik dalam
keadaan harap dan cemas, mensucikannya sehingga dijadikan thaghut dan
berhala yang membatasi hati dari ikhlasuddin lillah (ikhlas dalam
menjalankan Islam yang bersumber dari Allah).

Adapun enam kekeliruan (berhala) tersebut ialah :

Pemberhalaan Pilihan Politik.
Pemberhalaan
 Pemilihan Perkumpulan
Pemberhalaan Qiyadah/Pemimpin
Pemberhalaan Mekanisme Organisasi
Pemberhalaan Akal Muthi’iyyah
Pemberhalaan Mazhab Hambali Bagi Kalangan Salafi


Cover Buku 6 Kekeliruan Gerakan Islam

Pemberhalaan Pilihan Politik.

Dalam pandangan DR. Farid Anshari, yang memberikan contoh tentang
gerakan Islam di Aljazair, menyatakan, kesalahan terbesar yang
dilakukan gerakan Islam ialah partai politik, atau lebih tepatnya
mempolitisasi partai politik. Yang ia maksud di sini ialah Partai
Keadilan dan Pembangunan (PKP) yang dipimpin oleh DR. Sa’duddin
Ustmani (belakangan ini PKP pecah menjadi dua setelah peninggalan
syekh Mahfuz Nahnah). Dengan partai politik seperti itu, para aktivis
gerakan Islam beraktivitas dalam dunia syak (keraguan), di mana
sebelumnya mereka bekerja dan beraktivitas dalam keyakinan.

Dulu, sebelum berpartai, mereka lebih dekat ke ikhlas dalam beramal.
 Namun sekarang amal Islami sudah tercampur baur (keikhlasan dengan
riya’). Dengan demikian, mereka berpindah dari maqashidusy- syar’i
(tujuan-tujuan syariah) kepada maqashidul ‘adat (tujuan-tujuan adat
istiadat).

Lalu, masuklah ke dalam partai mereka orang-orang yang tidak jelas,
persis seperti yang Allah katakan, "Dan di antara manusia ada orang
yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak yakin), maka jika ia
memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia
ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di
dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata."
(QS.22 : 11).

Sesungguhnya menjadikan partai dalam amal Islami (versi partai politik
sekarang), mirip dengan cerita Bani Israil menjadikan anak lembu
sebagai sembahan.

Kemudian DR. Farid menjelaskan, sesungguhnya amal Islami di Maroko
sumbangan pertamanya adalah generasi yang membawa kebaikan dan
 keberkahan. Kemudian, muncullah partai politik. Lalu partai politik
itu menghancurkan semua sumbangan itu sebagaimana yang dilakukan
Samiri (pengikut nabi Musa) menghancurkan semua asset keimanan Bani
Israil, saat ditinggalkan Musa as.

Pemberhalaan partai seperti itu, menurut DR. Farid Anshari telah
menciptakan kebanyakan aktivis gerakan Islam sibuk dengan persoalan
duniawi saja, kemudian mereka menjadikan persolan tersebut menjadi
persolan mereka sendiri, dengan alasan ‘jatah’ atau mereka berhak
untuk itu.

Analisa DR. Farid terkait masalah partai politik gerakan Islam itu
sangat tajam sebagaimana yang ia katakan : Aktivis gerakan Islam telah
terjebak masuk ke dalam komunikasi materialis yang dijadikan sebagai
hal yang utama.

Mereka menganalisa krisis ekonomi, masalah pengangguran, atau
perlawanan politik terhadap kejahatan Yahudi (di Palestina) dan
sebagian fanatikus Nasrani, atau dari kaum Zindiq yang datang dari
kalangan
 Muslim sendiri melalui demonstrasi- demonstrasi. Pada sore harinya
mereka pulang dalam keadaan selamat dan dengan hati yang tenang karena
(meyakini) mereka sudah berhasil melakukan sebuah perjuangan yang akan
memberi syafaat bagi mereka nanti di hadapan Allah.

Sesungguhnya gerakan Islam di Maroko telah gagal total baik dalam
tinjauan syar’i maupun siyasi. Hal itu disebabkan karena mereka ingin
memetik buah sebelum matang. Sebab itu mereka menelan pahitnya buah
yang belum matang itu.

Sebagai alternatif partai politik, DR. Farid melihat bahwa gerakan
Islam di Maroko bisa sampai ke tujuan politiknya yang afdhal tanpa
harus melalui media partai, yakni melalui aktivitas dakwah yang
komprehensif.

Dengan demikian, gerakan Islam akan muncul dengan tokoh-tokoh dan
pemikiran yang dilahirkannya di tengah-tengah masyarakat dalam semua
lapangan kehidupan dan tersebar di berbagai sektor. Dari masjid sampai
ke pabrik, kemudian ke manajemen
 (pemerintahan) . Dari pendidikan, media sampai ke ekonomi.

Bahkan dengan demikian, gerakan Islam memungkinkan untuk mensuplai
berbagai partai politik dengan sdm handalnya sehinngga memungkinkannya
untuk menawarkan program politiknya, tanpa harus tergelincir ke syirik
konsumtif parsialisasi bagi kekuatannya.

Pemberhalaan Pemilihan Perkumpulan

DR. Farid menilai bahwa gerakan Islam memasuki eksperimen perkumpulan
tanpa persiapan dan tanpa filterisasi. Dengan modal akhlak dan sedikit
pengetahuan agama, para aktivis gerakan Islam megharungi gelombang
aktivitas yang masih menggunakan bahasa percaturan kelas sosial,
slogan-slogan marksisme dalam pemikiran ekonomi dan teori-teori
sosialisme dalam menangani persoalan dunia kerja dan buruh.

Dr Farid yakin bahwa gerakan Islam terlibat menyalakan api pemogokan
bekerja – dengan meniru cara organisasi-organisa si marksisme dan
partai-partai oportunis – untuk melakukan tekanan
 politik terhadap lembaga-lembaga tertentu untuk meloloskan
agenda-agenda lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan
perbaikan kerja dan buruh.

Dengan demikian, disadari atau tidak, gerakan Islam bersaham dalam
mentarbiyah para anggotanya untuk berbohong dan menipu, su-ul akhlak
(akhlak buruk) dalam berdebat dan berdiskusi. Sebagai gerakan Islam
tidak pantas berlomba dengan kelompok kiri dalam menuju kehancuran dan
amoral.

Demikian pula halnya dengan perkumpulan mahasiswa yang disetir gerakan
Islam. DR. Farid mengkritiknya, khususnya Persatuan Pelajar Maroko
yang menyingkat namanya dengan “OTOM” dan menyebutnya dengan “Berhala
OTOMI”.

Sebab, OTOM masuk ke dalam percaturan melawan ilmu dan akhlak (karena
kebanyakan berdemo sehingga nilai akademis mereka anjlok). Lalu mereka
kehilangan kepercayaan dari para mahasiswa, dosen, universitas dan
manusia lainnya.

Pemberhalaan Qiyadah/Pemimpin

Sesungguhnya
 fenomena pemberhalaan Qiyadah itu hampir terjadi di semua gerakan
Islam, baik yang menamakan dirinya gerakan Islam maupun tidak. DR.
Farid melihat bahwa fenomena pemberhalaan Qiyadah/Pemimpin itu terjadi
setelah kehilangan Qiyadah yang berilmu, konsisten dengan risalah
Robbaniyah (misi Allah) dan smart.

Lalu, tokoh yang kurang ilmunya dalam memimpin amal Islam ini sejak
dari yang tertinggi, menengah sampai ke tingkat paling bawah. Hal
tersebut menyebabkan munculnya pemberhalaan para Qiyadah sehingga
pentunjuk jalan harokah (amal dakwah) hanya berdasarkan kecenderungan
dan karakter mereka, bukan berdasarkan kaedah-kaedah Ilmu dan skala
prioritas syar’iyyah.

(Sering kita melihat di lapangan mereka mengatakan : ini sudah
berdasarkan skala prioritas, namun yang menentukan prioritasnya adalah
akal mereka, bukan Islam yang menentukannya) . Di antara fenomenanya,
egoistik (arogansi) organisasi dalam jamaah gerakan Islam semakin
membesar dan
 pada waktu yang sama terjadi pengagungan individu ( dan pemasungan
pemikiran besar –meminjam istilah DR. Qardhawi– dan pembunuhan
karakter anggota yang kritis dan berfikir sehat).

Pemberhalaan Mekanisme Organisasi

Apa yang dimaksudkan DR. Farid dengan mekanisme organisasi ialah uslub
manajemen organisasi yang dijadikan sandaran pembentukan struktur
organisasi dalam memenej amal Islami dan menjalankannya. Mekanisme
organisasi ini tengah menghadapi problem kepartaian (meniru gaya patai
umumnya) sehingga menyebabkan keputusan internal mencekik leher dan
tidak memberi peluang sama sekali kepada para anggota untuk bernafas
di luar partainya.

Dari sinilah DR. Farid Anshari mengkritik dengan apa yang ia namakan
dengan “Pemberhalaan Syahwat Demokrasi” di mana problem gerakan Islam
ialah ketika meletakkan demokrasi dengan berbagai mekanismenya pada
tempat yang keliru, seperti pemilihan tokohnya yang akan menjadi
anggota majlis syura
 (di Indonesia : legislatif) melalui suara masyarakat awam dan juga
posisi strategis lainnya seperti Islamisasi sistem dan pengarahan
manhaj Islam lainnya dengan syarat-syarat demokrasi, bukan dengan
syarat-syarat syari’at Allah. Hal tersebut membuka peluang orang-orang
bodoh nan licik untuk maju dan terbuangnya orang-orang yang faqih dan
bijak.

Sebagai solusinya, penulis buku tersebut mengusulkan ‘sistem fitrah”
yang terlepas dari tingkatan-tingkatan formal dan gelar/pangkat yang
tidak mungkin membuka peluang bagi para penjilat dan pak turut. Tidak
ada pula tempat bagi sosok ‘patung’ dan ‘berhala’. Kemudian, semua
keputusan terkait susunan struktur diambil berdasarkan keahlian
(profesionalisme) .

Pemberhalaan Akal Muthi’iyyah

Yang dimaksud penulis dengan Pemberhalaan Akal Muthi’iyyah ini ialah
manhaj haroki yang disusun pertama kali oleh Syekh Abdul Karim Muthi’,
pendiri Gerakan Pemuda Islam yang didirikan di
 Maroko di awal 70an. Menurut pandangan penulis, gerakan tersebut
didirikan di atas dasar manuver-manuver politik dan kibul yakin (
tipu-tipuan) .

Menurut DR. Farid Anshari, gerakan Islam di Maroko telah gagal. Beliau
menuliskan ringkasan sejarah gerakan Islam di Maroko untuk memberikan
kesimpulan kegagalan persatuan yang terjadi antara Gerakan Ishlah dan
Tajdid dengan gerakan Ikatan Masa Depan Islam. Gerakan tersebut gagal
dalam meberikan produknya yang Islami di tingkat tujuan (hadaf),
keterwakilan Islam dan kaderisasi, kemudian gagal juga dalam tingkat
syura itu sendiri.

Dalam konteks ini, DR. Farid menjelaskan : “Gerakan Ishlah dan Tauhid”
menduga bahwa ia adalah teladan terbaik dalam penerapan syura Islam
dalam internal gerakannya. Bahkan para pemimpinnya ada yang melihat
sebagai teladan terbaik di level Dunia Islam, apakah terkait dengan
membangun struktur organisasi, maupun dalam mengambil keputusan dan
sikap.

Saya
 menyakini –sebagai mantan salah seorang anggota Maktab Tanfidzi
(lembaga eksekutif), anggota Majlis Syura, dan mengemban tugas
organisasi lainnya seperti penangggung jawab aktivitas mahasiswa–
bahwa semua itu hanyalah waham (klaim) semata. Hakikat sebenarnya
adalah bahwa gerakan tersebut adalah organisasi yang paling piawai
dalam berdemokrasi dengan pengertian politik.

Yang saya maksudkan ialah demokrasi yang bisa menyihir dalam rangka
mengelabui masyarakat, lembaga syura, dengan mengatakan bahwa para
anggotanyakan sudah hadir, menyatakan pendapat dan telah melihat. Pada
kenyataannya mereka tidak melihat apa-apa, bahkan yang ikut syura
tidak mengetahui apakah hakikat atau khayalan.

Saya belum melihat seumur hidup apa yang ikhwah namakan dengan syura
ikhwah/qiyadah adalah syura yang sebenarnya, tapi adalah demokrasi.
Itupun mirip dengan permainan benang tukang sulap.

Pemberhalaan Mazhab Hambali dalam Gerakan Salafi

Setelah
 menjelaskan sejarah pergerakan Salafi di Maroko, DR. Farid Anshari
membahas apa yang ia namakan dengan “penjajahan konsepsi dan
penyimpangan prilaku” di kalangan Salafi.

Di antaranya : benturannya dengan batu karang mazhab. Di antara
kekeliruan besar manhaji kalangan Salafi di Maroko ialah pelecehannya
terhadap masalah karakteristik permazhaban. Hal tersebut membuat
kalangan Salafi gagal menjalankan proyek perbaikan, ditambah lagi
keberpalingannya dari mazhab Maliki dan penjajahannya atas prinsip
‘skala prioritas’.

Setelah itu, DR. farid menjelaskan sikap ghuluw (berlebihan/ ekstrim)
kalangan Salafi dalam merealisasikan persoalan ‘aqidah. Kesalahan
manhaji ketiga ialah, menghadapi tasawuf secara membabi buta, tanpa
membedakan bentuk, masalik (cara-cara yang ditempuh) dan tidak pula
mampu menjelaskan mana yang baik dan mana yang rusak.

Sedangkan kesalahan manhaji yang keempat ialah, membesar-besarkan
 bentuk-bentuk formal sehingga tampilan luar telah menjadi standar
mendasar bagi keselamatan agama pada kebanyakan mereka. Kemudian
beliau menjelaskan kesalahan manhaji yang kelima, yakni yang tercermin
dalam hubungan materi yang disyaratkan oleh sebagian negara bagian
Timur (Arab)

Risalah Untuk Gerakan Islam

Buku tersebut ditutup oleh DR. Farid dengan sebuah judul yang sangat
menarik, yakni Risalah Untuk Gerakan Islam. Dalam risalah tersebut
beliau menjelaskan : “Tidakkah datang masanya bagi gerakan Islam untuk
bertaubat kepada Allah, berpegang teguh pada Kitab-Nya, menghancurkan
patung-patungnya, melepaskan belenggu-belengguny a dan meniti jalan
Al-Qur’an? Apakah gerakan Islam siap kembali kepada keikhlasan
ibadahnya, kebaikan manhajnya, dan ketersebaran dakwahnya?

Apakah komunikasinya akan kembali kepada penerapan risalah Al-Qur’an,
akhlak Al-Qur’an dan prioritas menurut Al-Qur’an? Kemudian, apakah
kalangan Salafi akan
 kembali kepada salafush-shalehnya, kepada keikhlasan beragamanya,
mengenalkan manusia kepada Rabb mereka dan meninggalkan semangat
perpecahan dan kemunafikannya?

Kemudian, apakah kalangan sufi akan kembali kepada sumber minuman
aslinya, keindahan sifatnya, meninggalkan sifat berlebihannya serta
memperbaiki tingkatan keilmuannya dan kondisinya dan menampikan semua
itu berdasarkan kaedah-kaedah ilmu dan timbangan Al-Qur’an dan
Assunnah? (fj/iol)

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke