---------- Forwarded message ----------
From: Farid Gaban <[email protected]>
Date: 2010/8/14
Subject: [jurnalisme] Indonesia: Negara Bersumber Daya yang Tak Berdaya
To: [email protected]




Negara Bersumber Daya yang Tak Berdaya

Kompas | Sabtu, 14 Agustus 2010

OLEH DOTY DAMAYANTI

Indonesia adalah negeri ironi. Pertumbuhan ekonomi Papua selama
semester pertama 2010 minus 14,9 persen, hanya karena produksi PT
Freeport Indonesia turun. Pulau sebesar Papua bergantung pada satu
perusahaan ekstraksi tambang; yang meski produksinya tidak turun
sekalipun, tetap tidak membuat rakyat Papua menjadi sejahtera.

Dalam kasus lain, PT Perusahaan Listrik Negara gagal menekan biaya
produksi dengan mengganti bahan bakar minyak ke gas karena terminal
penerima gas alam cair terlambat dibangun.

Indonesia sangat beruntung memiliki sumber daya alam yang lengkap,
mulai dari minyak, gas, hingga mineral dan batu bara. Seluruh potensi
energi itu tidak hanya bisa mengumpulkan devisa, melainkan juga dapat
menghasilkan efek bergulir yang menggerakkan roda perekonomian
nasional.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah negara sudah memanfaatkan sumber
daya alam untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat? Sebab, meskipun
kontribusi sumber daya alam dalam pertumbuhan dan pendapatan per
kapita sangat besar, banyak ketimpangan yang dirasakan masyarakat.

Jonathan Pincus, peneliti dari Harvard Kennedy School, menyebut
Indonesia gagal memanfaatkan peluang yang terbuka dari globalisasi.
Hal itu ditandai dengan ekspor Indonesia masih didominasi sumber daya
alam dalam bentuk mentah, Indonesia tidak masuk dalam rantai produksi
global, dan investasi asing terkonsentrasi pada sektor pengurasan
sumber daya alam.

Ekspor produk manufaktur Indonesia periode 2003-2007 hanya tumbuh 6,4
persen, jauh ketinggalan dibandingkan dengan Malaysia yang tumbuh 7,9
persen atau bahkan Vietnam yang bisa tumbuh sampai 21,3 persen.
Terjadi kenaikan tingkat pengurasan sumber daya alam secara sangat
signifikan dalam kurun 2000-2007. Namun, hasil dari eksploitasi sumber
daya alam itu tidak maksimal digunakan untuk memperbaiki kesejahteraan
masyarakat.

Kontribusi sektor primer yang mencakup pertanian, perikanan,
pertambangan, dan kehutanan sangat dominan dalam menopang pertumbuhan
ekonomi negara-negara berkembang. Bisa dikatakan, sektor ini merupakan
modal awal dari pertumbuhan sebuah negara. Dengan hanya sedikit usaha
eksplorasi, hasil-hasil sektor primer ini dalam jumlah besar bisa
langsung menghasilkan uang hanya dengan dijual dalam bentuk mentah.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi negara-negara maju didorong oleh
sektor sekunder dan tersier, seperti industri manufaktur, perdagangan,
dan perbankan.

Namun, sebesar apa pun potensi sumber daya alam yang dimiliki suatu
negara, harus diingat bahwa ketiganya adalah sumber daya tidak
terbarukan. Maka, negara-negara yang memiliki sumber daya alam
berlimpah seperti Indonesia pun harus menyiapkan sektor sekunder dan
tersier sebagai penopang pertumbuhan. Hal ini yang sedang dilakukan
negara-negara produsen migas di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab,
Qatar, Bahrain, dan Dubai, yang sedang giat membangun industri
properti, maskapai penerbangan, dan jasa keuangan.

Modal dan teknologi menjadi syarat utama untuk bisa naik dari negara
berpendapatan rendah ke pendapatan tinggi. Sayangnya, sejak proyek
Kilang Bontang berdiri tahun 1978, kita tidak berani mandiri dari sisi
modal dan teknologi. Kita terus menggantungkan diri kepada pihak
asing.

Indonesia, yang merupakan pionir industri gas alam cair, tidak
memiliki satu pun fasilitas penerima gas alam. Akibatnya, setiap kali
terjadi kelebihan produksi dari Kilang Bontang ataupun Arun, gas lebih
banyak dijual ke luar. Bangsa lain yang menikmatinya. Kalaupun ada
yang dialokasikan ke pabrik pupuk di Bontang, jumlahnya hanya sedikit
karena subsidi untuk pupuk terbatas.

Konsep penguasaan sumber daya alam yang termaktub pada Pasal 33 Ayat 3
Undang-Undang Dasar, dalam praktiknya sudah sama dengan kepemilikan.
Lihat kasus Proyek Gas Alam Tangguh atau Donggi Senoro. Pada Proyek
LNG Tangguh, gas alam cair sebanyak 7,6 juta ton per tahun yang
diproduksi BP dialokasikan untuk diekspor ke China, Amerika Serikat,
dan Jepang. Adapun pada proyek Donggi Senoro, seluruh produksi gas
alam sebanyak 2 juta ton per tahun diekspor ke Jepang.

Dalam proyek Tangguh, negara bahkan berperan aktif dengan membuka
pasar gas ke China. Lobi bukan lagi ada di level bisnis, tetapi sudah
antarpemerintah karena tak kurang Perdana Menteri Inggris Tony Blair
sendiri yang berkirim surat ke Presiden Megawati. Inggris
berkepentingan karena BP adalah perusahaan migas yang berbasis di
negeri itu. Hasilnya, Indonesia kalah bersaing dengan penyuplai dari
negara lain, gas dijual dengan harga murah untuk jangka waktu kontrak
20 tahun.

Dalam proyek Donggi Senoro, negara membiarkan PT Pertamina dan Medco
menjual gas ke Jepang. Dari awal, cadangan gas yang berlokasi di
Kabupaten Luwuk, Sulawesi Tengah, itu dinilai terlalu kecil dan tidak
ekonomis untuk dikembangkan. Pemerintah membiarkan Pertamina dan Medco
mencari pendanaan sendiri untuk bisa memonetisasi cadangan tersebut.
Lagi-lagi Jepang yang memanfaatkan kesempatan, memberi pinjaman bunga
rendah dengan imbal balik kepemilikan saham terbesar di proyek kilang
dan membeli seluruh gas yang dihasilkan.

Kewajiban memasok ke dalam negeri sebagaimana yang disebutkan dalam
Undang-Undang Migas menjadi mandul karena pemerintah tak punya
komitmen untuk melaksanakannya. Patokan sebesar-besarnya 25 persen
yang disebut dalam undang-undang dan peraturan menteri menjadi jerat
yang membatasi pemenuhan gas ke dalam negeri.

Komitmen memang menjadi titik krusial apabila kita mau menggunakan
semaksimal mungkin potensi sumber daya alam untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Pemerintah setidaknya pernah menunjukkan komitmen
itu ketika dalam negosiasi tahun 2006 dan berhasil melakukan
pengurangan kontrak pengiriman gas ke Jepang mulai 2010.

Kita akan terus menjadi negara bersumber daya yang tak berdaya apabila
pemerintah tidak mengubah paradigma menjual sumber daya alam dalam
bentuk mentah hanya untuk mendapatkan devisa.

--
Ezda
=> S2D4 the World

"Plunge into the depths until you reach the truth." ~ Imam Ali (a)

-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke