Kawan2 Anggota Milis Yth, Insiden perbatasan Indonesia-Malaysia di perairan Selat Malaka terjadi tepat 4-hari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan R.I. yang ke-65 tahun, yaitu pada tanggal 13 Agustus 2010. Tiga orang petugas Patroli Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) di tangkap oleh para petugas Polis Marin Diraja Malaysia, saat mereka sedang menangkap 5-kapal nelayan Malaysia yang sedang mencuri ikan di perairan Republik Indonesia.
Mengapa para pertugas KKP itu begitu saja menyerah untuk ditangkap oleh Polis Marin Diraja Malaysia? Penyebabnya adalah patroli KKP itu tidak direncanakan dengan baik, tidak ada koordinasi dengan TNI Angkatan Laut R.I., Kepolisian Air dan Udara (AIRUD Polri), Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) sebagai cikal-balan Penjaga Pantai Indonesia (Coast Guard). Patroli KKP juga tidak mebawa peralatan penentu posisi geografis yang sangat diperlukan, yaitu perangkat GPS yang sudah tersedia banyak Ponsel canggih (Smartphones). Ketika ditangkap oleh Polis Marin Diraja Malaysia, para petugas KKP itu tidak memiliki kekuatan apa-apa, baik persenjataan maupun teknologi yang memungkinkan mereka berdebat soal siapa yang melanggar perbatasan Indonesia-Malaysia, dan siapa yang berada pada posisi yang benar. Kapal Polis Marin Diraja Malaysia mempunya persenjataan lengkap dan juga peralatan teknologi lengkap, terutama perangkat GPS. Akhirnya ketiga petugas KKP itu ditangkap, dan sesuai prosedur orang yang ditangkap polisi Malaysia, mereka harus berganti baju memakai baju tahanan polisi Malaysia. Mereka diperlakukan sebagai tahanan dan pesakitan, sampai protes Pemerintah R.I. di dengar oleh Pemerintah Malaysia dan membebaskan kembali ketiga petugas KKP. Peritiwa ini sangat mempermalukan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Tetapi bagaimana Indonesia bisa berdebat dengan pihak Malaysia, kalaun kita tidak punya bukti tentang pelanggaran wilayah Indonesia, sebab kita tidak membawa perangkat GPS di kapal KKP. Dampak demonstrasi masyarakat Indonesia yang melempari Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, karena hanya melihat kenyataan dari proses penangkapan para petugas KKP, adalah terjadinya polemik yang panas antara kedua bangsa yang bertetangga dekat. Memang kita bisa berdebat, bahwa seharusnya Petugas KKP tidak boleh ditangkap, sebab mereka itu adalah petugas yang sedang menjalankan tugas mereka, bukan nelayan yang sedang mencari ikan. Tetapi di lautan luas, siapa yang kuat adalah yang akan menang. Kesimpulannya, para petugas KKP di masa depan harus lebih siap dengan koordinasai antar instansi dan dengan peralatan yang lengkap, persenjataan dan perangkat GPS yang sangat penting untuk mengetahui secara tepat koordinasi kapal-kapal di tengah lautan yang luas. Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara. Wassalam, S Roestam http://presidenku.com -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
