dari milis sebelah...

1. Harta (ekonomi itu pokok kehidupan), jangan diserahkan kepada orang
kurang akal dalam pengelolaannya.

An Nisaa’ (Wanita) 4:5
Dan *janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya*,
*harta* yang dijadikan Allah sebagai *pokok kehidupan*. Berilah mereka
belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka
kata-kata yang baik.

> Pertanyaannya: Siapa yang mengelola dan menguasai ekonomi sekarang?


---------- Forwarded message ----------
From: OK Taufik <[email protected]>
Date: 2010/9/1
Subject: [ekonomi-nasional] Negeri Kaya yang “Miskin”
To: [email protected]


 Negara yg diurus dengan salah kaprah, rencana ini harus di tentang

Oleh *Singgih Widagdo*

Rencana PT PLN mengimpor 9 juta ton batu bara pada 2011 mempertegas bahwa
negeri ini dikelola dengan tidak benar, terutama sumber daya alamnya.

Restu Menteri BUMN terhadap rencana PLN menusuk hati rakyat yang jelas-jelas
secara filosofis pemilik kekayaan alam negeri ini. Apa pun alasan impor,
sulit diterima akal sehat. Kalau toh Dahlan Iskan, orang nomor satu di PLN,
tetap mengupayakan impor karena alasan tertentu, pemerintah mesti berjuang
menghentikan. Restu Menteri BUMN mengimpor batu bara sama saja menyamakan
batu bara dengan komoditas lain. Batu bara harus dipandang sebagai energi,
bukan sekadar komoditas dagang.

Keliru sekali keputusan impor batu bara disamakan dengan kebijakan serupa di
China dan India. Kedua negara itu punya tingkat kebutuhan batu bara di atas
tingkat produksi. Dengan impor dan bahkan memperluas jangkauan melalui
investasi tambang batu bara di negara kita, mereka dapat dibilang smart
mengelola energi dalam negeri. Sebaliknya, rencana kita impor dari Australia
membuktikan salah urus negara ini dalam mengelola energi.

Negara dengan kebijakan energi yang benar pasti mengedepankan batu bara
bukan sekadar sumber penerimaan (revenue driver), melainkan juga lebih
sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi (economic booster). Peningkatan
produksi diletakkan lebih untuk kepentingan pasokan energi nasional sebagai
sarana pertumbuhan ekonomi. Tanpa ini, mustahil kebijakan pro-growth,
pro-job, pro-poor terwujud.

Di samping itu, tingkat produksi seharusnya sama atau mendekati tingkat
kebutuhan batu bara nasional. Mari kita lihat negeri kita, dengan kapasitas
listrik 30.000 MW dan terseok-seok untuk menambah 10.000 MW. Semestinya kita
belajar kepada China yang punya 570.000 MW dan India dengan 137.000 MW.

Masing-masing berencana menambah 500.000 MW dan 140.000 MW sehingga wajar
mengimpor batu bara. Tahun 2011 China memproyeksikan mengimpor batu bara 105
juta ton, demikian juga India 78 juta ton. Mereka mengimpor karena alasan
kebutuhan batu bara mereka jauh di atas produksi nasional, yaitu 3 miliar
ton (China) dan 600 juta ton (India).

Bagaimana dengan Indonesia? Sesuatu yang dapat dikatakan konyol kalau impor
batu bara benar terwujud tahun 2011. Produksi tahun depan diproyeksikan 325
juta ton, jauh di atas tingkat kebutuhan nasional sekitar 75 juta ton.
Dengan angka ini, sulit memahami penggunaan devisa yang susah payah
terbangun untuk kebutuhan impor batu bara yang jelas diakibatkan kesalahan
mengurus SDA.

*Ketegasan ke depan*

Bagi penulis, seorang Dahlan Iskan pasti sosok yang berpikir panjang. Mantan
wartawan yang terdidik berpikir tajam, menulis dan bicara dengan fakta.
Dengan mengatakan impor, bukan itu tujuannya, tapi lebih rasa ”marah”
terhadap Republik yang dia cintai. Dengan perhitungan harga diterima di atas
kapal (free on board) ditambah ongkos angkut ke tujuan (freight cost),
sebagai Direktur Utama PLN, ia pasti tahu harga cost, insurance and freight
(CIF) itu jauh lebih tinggi dibandingkan menggunakan batu bara dalam negeri.
Belum lagi kualitas batu bara Australia hanya cocok di sedikit PLTU batu
bara milik PLN. Jadi, pernyataan impor harus dibaca sebagai sebuah kritik
tajam atau ”marah” kepada pemerintah.

Untuk mengelola batu bara lebih baik, banyak pekerjaan rumah yang harus
dilakukan. Pertama, pemerintah harus tegas kepada pelaku usaha pertambangan
batu bara yang tidak memprioritaskan kebutuhan batu bara nasional (domestic
market obligation/DMO). Apalagi ada upaya perusahaan menawarkan batu bara ke
PLN dengan spesifikasi jauh lebih jelek dari yang mereka ekspor, untuk
sekadar mendapatkan surat tolakan agar terhindar dari penalti pemerintah
(Kementerian ESDM). Dengan harga batu bara acuan yang dihitung atas dasar
tiga indeks Australia dan satu dari Indonesia (Indonesian Coal Index),
semestinya menjual batu bara ke PLN tidak jauh berbeda dengan harga ekspor.

Kedua, untuk mengelola DMO, semestinya dibentuk Badan Pelaksana Batu Bara.
Dengan badan ini, akan lebih fleksibel masuk ke masalah teknis. Badan ini
diharapkan mampu mengawasi dan mengendalikan efektivitas dan efisiensi
pertambangan batu bara, khususnya mengoptimalkan manfaat batu bara sebagai
energy value.

Ketiga, DMO bukan sekadar regulasi, melainkan sebagai manajemen rantai
pasokan (supply chain management). Elemen teknik dan infrastruktur ada di
dalamnya. Pemerintah harus menyiapkan infrastruktur seperti coal blending
terminal untuk mendukung pengelolaan DMO. Akhirnya, pengelolaan sumber daya
energi (batu bara) yang benar bukan dibangun untuk sekadar kepentingan
sebuah korporasi, bukan pula untuk satu generasi, melainkan untuk beberapa
generasi kedepan. Ujungnya satu, terbangun kesejahteraan rakyat.


--
Sent from my Computer®


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [email protected]
http://capresindonesia.wordpress.com
http://infoindonesia.wordpress.comYahoo<http://infoindonesia.wordpress.comyahoo/>!
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
   http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

<*> Your email settings:
   Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
   http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/join
   (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
   [email protected]
   [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
   [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
   http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke