Dear All, 

Sejujurnya saya justru sangat mengkhawatirkan asumsi bahwa pemindahan ibukota 
akan memecahkan masalah kemacetan.....apalagi hal ini disuarakan oleh seorang 
Presiden yg punya kekuatan politis. 

Ada dua potensi kesalahan besar di sini 

Potensi kesalahan pertama adalah pemindahan ibukota pada saat ini (Mungkin OK 
saja di masa depan ketika kebutuhan dasar sebagian besar rakyat sudah 
terpenuhi, tapi tidak di saat ini). Dalam sejarah dunia pembangunan ibukota 
negara selalu jatuhnya JAUH LEBIH MAHAL daripada yang direncanakan, terutama 
karena selalu ada pertimbangan2 politis-simbolis di dalamnya. Padahal di saat 
ini kita sebenarnya sedang membutuhkan sangat banyak dana untuk infrastruktur 
niaga (pelabuhan, bandara, jalan2, subway, KA, fasilitas umum, bahkan perumahan 
rakyat di tengah kota dll). Hal2 ini jauh lebih bermanfaat bagi rakyat banyak 
daripada istana presiden baru, gedung DPR/MPR baru, kantor2 pemerintah baru, 
rumah2 baru utk pejabat, yang tentunya tidak bisa murahan....

Dan kalau pembangunan infrastruktur niaga itu dikonsentrasikan di 5-7 pusat 
pertumbuhan selain Jakarta (katakanlah Medan, Palembang, Surabaya, Balikpapan, 
Makassar, Manado dan mungkin Jayapura atau Kupang), maka kita akan memiliki 
lebih banyak "gula2 urbanisasi" daripada hanya punya Jakarta + ibukota baru 
itu. Sehingga jauh lebih berpotensi mengurangi tekanan penduduk ke Jakarta 
daripada kalau kita punya ibukota baru. Kota2 pusat pertumbuhan itupun bisa 
menjadi kota berdaya-saing internasional, sehingga berpotensi mewujudkan apa 
yang disebut "urban-led development"... Contoh negara yg menjalankan kebijakan 
ini adalah China (and to a lesser degree Korea), yang tidak memindahkan 
ibukota. -- studi Prof. Aprodicio Laquian dan Kyeongae Choe menunjukkan bahwa 
pertumbuhan. Ekonomi yg pesat serta pengurangan kemiskinan yg drastis di China 
antara lain disebabkan karena "urban-led development" ini...karena Deng Xiao 
Ping dengan tepat melihat bahwa nilai tambah sektor2 perkotaan per capita jauh 
lebih besar daripada nilai tambah sektor2 perdesaan/pertanian (hal ini jangan 
disalah artikan dengan mengabaikan perdesaan....sama sekali tidak! Karena 
dengan jumlah penduduk perdesaan yg lebih sedikit maka petani akan lebih 
sejahtera).

Kembali ke soal pemindahan ibukota, faktor sensitifitas masyarakat pun perlu 
mendapat perhatian (apalagi di alam demokratis seperti sekarang ini). Alokasi 
dana yang cukup besar--berapapun pasti akan cukup besar--untuk membangun 
"fasilitas sendiri" (apalagi pasti "mewah") akan mengundang kritik bahwa 
pemerintah tidak sensitif... 

Kita bisa lihat pada kasus rencana pembangunan gedung baru DPR senilai 1,6 
Triliun yang mengundang kritik yang sangat valid, terkait dengan prioritas 
pemerintah: membangun fasilitas sendiri atau membangun prasarana yg langsung 
dirasakan manfaatnya oleh rakyat???. 

Potensi kesalahan kedua adalah asumsi bahwa memindahkan ibukota akan otomatis 
memecahkan masalah kemacetan di Jakarta. TIDAK! Masalah kemacetan harus 
dipecahkan pada akar masalahnya: buruknya angkutan umum, tidak terpadunya 
sistem transportasi-tata-ruang, tidak nyamannya berjalan-kaki di kota 
(terabaikannya "urban design"), penggunaan ruang publik yang tidak pada 
tempatnya, rendahnya disiplin dalam penggunaan jalan dan ruang publik lainnya, 
banyaknya "side-frictions" pada jalan2 raya kita, signage yang tidak membantu, 
dan masih banyak yang lain (termasuk aspek tata-kelola)... 

Kalaupun masalah kemacetan akhirnya teratasi, saya yakin itu karena hal2 di 
atas dipecahkan--baik dalam jangka pendek maupun panjang--dan BUKAN karena 
ibukota dipindahkan. Kalaupun pemindahan ibukota ditujukan untuk mengurangi 
"pressure" urbanisasi kepada Jakarta...memperkuat "gula2" di 5-7 kota di 
Indonesia akan punya dampak pengurangan "pressure" yang jauh lebih besar 
daripada satu ibukota. Berapa banyak sih orang yang datang ke Jakarta untuk 
bekerja sebagai karyawan pemerintah pusat dibanding mereka yang datang karena 
mencari lapangan pekerjaan lain (termasuk melalui sektor informal)?

Kalaupun pemerintah mau menggunakan "kekuatan politik"...minta saja itu BUMN2 
untuk memindahkan kantor pusatnya ke lokasi2 yang lebih sesuai dengan bisnisnya 
(dan memindahkan kantor2 BUMN tidak akan membebani APBN sebagaimana memindahkan 
ibukota...).

Dan kalau ada persoalan tata-kelola yang secara urgent perlu dipecahkan adalah 
"kedekatan lobby" antara bisnis dan pemerintah yang menyebabkan para 
konglomerat cenderung "merapat" ke ibukota (serta membuka ruang KKN)

Semoga SBY dan pemerintah tidak melakukan "big planning blunder" sebagaimana 
diulas oleh Sir Peter Hall dalam "the Great Planning Disasters"....

Salam,

Wicak Sarosa

Sent from iCon's-mobile®

-----Original Message-----
From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
Sender: [email protected]: Fri, 3 Sep 2010 21:54:53 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota

Arah menuju perbaikan ketataruangan Indonesia semakin tampak. Dengan
pindahnya sebagian fungsi "pusat negara" ke daerah-daerah lain, maka
insya Allah Jakarta tidak macet lagi dan daerah-daerah lain pun akan
berkembang tanpa perlu "Kementerian Pemercepat Pembangunan" segala.
Sudah lama Jakarta maju sendiri dan daerah lain semakin tertinggal.

Demi keadilan dan pemerataan, ayo kita follow-up bersama!

Salam,
CA

Source: http://bit.ly/9vhxih

--begins--
Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota

Anwar Khumaini : detikNews

detikcom - Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya
buka suara soal wacana pemindahan Ibukota Jakarta yang akhir-akhir ini
mengemuka. Menurut SBY, Pemindahan ibukota memang merupakan salah satu
dari tiga opsi untuk mengatasi kemacetan yang makin menggila di
Jakarta.

"Kalau solusinya pertahankan Jakarta baik sebagai ibukota sekaligus
pusat pemerintahan, maka solusinya adalah mengatasi kemacetan Jakarta,
ini one option," kata SBY.

Hal tersebut dia katakan saat memberikan sambutan dalam buka puasa
bersama dengan pengurus dan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
di Jakarta Convention Center, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat
(3/9/2010).

Opsi kedua, menurut SBY, Indonesia bisa membandingkan dengan apa yang
dilakukan Malaysia. Ibukota Malaysia tetap berada di Kuala Lumpur,
tapi pusat pemerintahan berada di Putrajaya.

"Dipisahkan, cut off. Tetapi tentu ada komunikasi yang baik.
Berkembanglah PutraJaya," ujar SBY.

"Ketiga, sama sekali membangun ibu kota yang baru, the real capital,
the real govement center. Seperti Canberra, Brasilia, Ankara dan
tempat-tempat yang lain," sambung SBY.

Ketiga opsi tersebut, menurut SBY ada plus minusnya. Tapi harus
diputuskan. Kalau diputuskan, misalnya opsi kedua dan tiga, maka mau
tidak mau harus membangun pusat pemerintahan baru. Maka 10 tahun dari
sekarang baru bisa dilakukan berdirinya pusat pemerintahan yang baru
yang sudah terencana dengan desain yang bagus dan memenuhi
syarat-syarat sebagai pemerintahan yang baik.

"Saya sudah berpikir diam-diam, meskipun tidak setiap saat berbicara
di hadapn pers, karena ini fundamental itu diperlukan kesepakatan
bersama baik itu pemerintah, parlemen dan semua kalangan masyarakat,
mana yang kita pilih." terang dia.

Jika opsi kedua dipilih, misalnya menurut SBY, biarkan Jakarta
dipertahankan sebagai ibu kota, ekonomi, perdagangan dan semua
dibangun tempat yang baru sebagai pusat pemerintahan.

"Nah kalau kita membangun baru tentu well plan, well design, kemudian
kita hitung keindahan aspek lingkungan dan lain-lain. Kita barangkali
butuh waktu 5-7 tahun untuk membangunnya, itu by project," ungkap SBY.

SBY mencontohkan, pusat pemerintahan di Malaysia, Putra Jaya,
menghabiskan uang sekitar Rp 80 triliun. Jika Indonesia ingin
membangun seperti itu dengan cakupan yang lebih luas,  bisa saja.
Dananya bisa diambil dari APBN sebagian, sebagian partnership,
govement dengan publik, sebagian mungkin bisa melepas aset pemerintah
yang ada di Jakarta.

"Kemudian kita bangun yang baru. banyak opsi yang tersedia, tetapi
yang jelas. Kalau menjadi pilihan kita nanti saya akan  mendengar
masukan, rekomendasi dari semua pihak," papar SBY.

SBY berandai-andai, jika pemindahan ibukota benar-benar dilaksanakan,
tentunya 90 persen dibangun oleh pengusaha dalam negeri. Material yang
diimpor dibatasi tidak lebih 10 persen, selebihnya di dalam negeri.

"Oleh karena itu, ini masalah besar, masalah fundamental, jangan
berteriak tiap hari kemacetan-kemacetan tapi tidak berpikir besar.
Kita harus think big, kemudian melakukan sesuatu dengan seksama,"
harapnya.

"Saya mendengar sebulan ini silang pendapat entah kemana kita.
Kemananya nanti, yang penting konsepnya benar, idenya benar, desainnya
benar kita sepakat bahwa apa yang kita lakukan solusi untuk Jakarta ke
depan," tutup SBY disambut tepuk tangan hadirin.
--ends--

-- 
Sent from my mobile device

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
���fڕ�]jV����i���)ޮ�z�����j'Z�)f��^�z%��z�Z��"�Ʋjxjy��������K�Ț���zh�y��j�jwn�&�jv��*ڴ�ߢ����h����)b��ݢw������޶׫��i��nnw�������z�ߊW��h���b��'zȚ�w��

Kirim email ke