Mangkrak? Opo iki?

Salam,
CA

Source: http://bit.ly/aHMTJ6

--begins--
Hasil Penelitian Mahasiswa ITB Banyak Mangkrak

Jum'at, 24 September 2010 | 20:05 WIB

⁠Besar ⁠Kecil ⁠Normal

TEMPO Interaktif, Bandung - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung tak
punya banyak waktu untuk berkreasi mengembangkan hasil penelitian dan
rancangan alat buatan mereka. Akibatnya, banyak hasil penelitian dan
alat penemuan mereka mangkrak. Hal itu disebabkan mereka harus
mengejar waktu kuliah yang hanya 4 tahun untuk bisa jadi sarjana.

Menurut ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin ITB Surya Batara, setiap
tahun setidaknya ada 50 riset inovasi alat di jurusannya. Belum di
fakultas atau sekolah lain di ITB. "Kalau di kami, tema rancangan
alatnya selalu berbeda setiap tahun," katanya di kampus kepada Tempo.

Hasil riset itu berupa pengembangan alat sebelumnya atau inovasi baru
mahasiswa, misalnya mesin pemarut kelapa sekaligus pemeras santan.
Kebanyakan, mesin-mesin yang memudahkan pekerjaan masyarakat itu hanya
berakhir sebagai tugas kuliah atau skripsi.

"Sayang juga sebenarnya, tapi waktu kami habis buat kuliah," ujarnya.
ITB meminta agar mahasiswa hanya kuliah paling lama 4 tahun untuk
meraih gelar sarjana.

Selain itu, banyak mahasiswa yang enggan meneruskan atau mengembangkan
alat temuannya dan memproduksinya secara massal. Para seniornya yang
telah menjadi alumni, kata Surya, lebih memilih bekerja di berbagai
perusahaan. "Pernah ada yang mau dibantu oleh pusat inkubator bisnis
ITB, tapi orangnya nggak mau," katanya. Alhasil, ratusan rancangan
alat itu hanya menjadi bundel ilmiah yang mengisi penuh ruang
perpustakaan Teknik Mesin.

Wakil Rektor ITB Bidang Komunikasi dan Informasi Hasanudin Zaenal
Abidin mengakui hasil riset mahasiswa itu baru sedikit yang berguna
dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Pun dipakai oleh dunia
industri.

Menurut dia, riset atau alat kreasi mahasiswa biasanya hasil kerjasama
dengan dosen. Alat itu pun kebanyakan masih perlu pengembangan dan
penyempurnaan. "Industri cuma mau beli jadi, (merasa) rugi dia kalau
ikut membiayai riset," ujarnya saat ditemui terpisah di kampus ITB,
Jumat (24/9).

Hasanudin mengatakan, pemerintah harusnya mencontoh Singapura dalam
pemanfaatan riset dan inovasi mahasiswa serta dosen. Caranya dengan
memberi potongan pajak yang lebih tinggi dibanding dana yang diberikan
perusahaan bagi kampus.

ANWAR SISWADI
--ends--

-- 
Sent from my mobile device

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke