Rekan JR
Sy jadi ingin tanya :

1. Apakah Test Bakat, juga tidak menjamin bahwa bakatnya adalah sesuai 
hasil test tsb?

Saya punya pengalaman pribadi sewaktu akan masuk perguruan tinggi, saat 
itu ikut bimbingan test tertulis selama 1 bln (Soal-soal MA, FI, KI & BI) 
+ Test IQ dan Bakat , setelah itu kemudian wawancara empat mata dengan MAW 
BRAWER (Alm) di ruangannya , di RS BOROMEUS - Bandung. Waktu itu MAW 
BRAWER adalah dosen Psychology UNPAR

MAW BRAWER sambil membaca hasil test saya, beliau dapat  mengetahui 
kelemahan-kelemahan dan keunggulan-keunggulan saya, sehingga beliau 
menyarankan saya untuk mengambil jurusan tertentu, agar sekolahnya 
berhasil dan hasil nya optimal.

Ternyata apa yang disarankan beliau benar, dan sampai saat sudah tua pun 
keunggulan dan kelemahan itu tetap seperti sewaktu lulus SMA.

2. IQ, EQ dan SQ
    Apakah EQ dan SQ dapat di latih , sehingga mencapai kadar yang 
harmonis? apakah ada ukurannya ? 
    misal IQ = 118, EQ = 50%(0 - 100), SQ = 70% (0 - 100)

3. Apakah benar persepsi saya bahwa segalanya , Alam dan seisinya itu 
sudah di tetapkan dari awal, proses dan akhirnya. 
    Sehingga semua peristiwa itu sudah menjadi suatau "PAKET" Misalnya :" 
Anak lulus sekolah" Prosesnya di belajar dsb sehingga ujung nya 
    lulus demikian pula sebaliknya. Jadi sebetulnya kita tidak bisa 
apa-apa kerna semua sdh ditetapkan akan tetapi karena canggihnya 
    program yang menciptakan kita , maka seolah-olah kita yang 
beraktifitas, kita yang berfikir dsb. 
   Jadi kita ini Robot yang di remote dan diprogram dengan sangat canggih
 

Mohon Pencerahan nya
Pura-puranya saya akan befikir dan menganalisa

Salam
Djoni Supriyadi



From:
Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
To:
[email protected]
Date:
27/10/2010 23:26
Subject:
[indonesia] Fw: Sarlito Wirawan: "Teori otak tengah sudah jelas penipuan"
Sent by:
[email protected]



Otak kiri, otak kanan, otak tengah, otak miring, otak-otak...

Salam,
CA

---------- Forwarded message ----------
From: imr® <[email protected]>
Date: Wed, 27 Oct 2010 13:32:19 +0000
Subject: [kuyasipil-tarbiyah] Fw: [M_S] Fw: [jurnalisme] Sarlito
Wirawan: "Teori otak tengah sudah jelas penipuan"
To: Tarb+ <[email protected]>


/ mailed by ObamaBerry® /

-----Original Message-----
From: "Johan Romadhon - MAAS Accounting, Tax, and Finance Consultants"
<[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 27 Oct 2010 13:12:00
To: milis alumni sma1semarang<[email protected]>; milis
muh<[email protected]>; milis sta
87<[email protected]>; milis stanners<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [M_S] Fw: [jurnalisme] Sarlito Wirawan: "Teori otak tengah
sudah jelas penipuan"

Sudahkah anda ikut tertipu? Mudah-mudahan tidak.
Sila dibaca,
JR
Sent from my Blackkerupuks®
powered by Gusti Allah

-----Original Message-----
From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 27 Oct 2010 01:36:49
To: news Trans TV<[email protected]>; kampus
tiga<[email protected]>; ppiindia<[email protected]>;
nasional list<[email protected]>; ex menwa UI
2<[email protected]>; HMI Kahmi Pro
Network<[email protected]>;
jurnalisme<[email protected]>; AJI
INDONESIA<[email protected]>;
technomedia<[email protected]>; netsains
sains<[email protected]>;
warta-lingk<[email protected]>; sastra
pembebasan<[email protected]>; Pers
Indonesia<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [jurnalisme] Sarlito Wirawan: "Teori otak tengah sudah jelas 
penipuan"


From: Anto Ryantori <[email protected]>
Date: Wednesday, October 27, 2010, 12:02 PM


















Aslmkm rekan-rekan ISMES, info berikut semoga bermanfaat.



"Teori otak tengah sudah jelas penipuan"

Dengan berpikir atau bertanya sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini
adalah penipuan. Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang
serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita


gampang sekali jadi sasaran penipuan. Inilah menurut saya yang paling
memprihatinkan dari maraknya kasus otak tengah ini.


Saturday, 18 September 2010

Di suasana Lebaran ini mestinya saya menulis sesuatu tentang


Lebaran,tepatnya tentang bermaaf-maafan, wabil-khusus tentang psikologi
maaf. Namun,draf tulisan yang sedang saya siapkan terpaksa saya sisihkan
dulu saking gemasnya mengamati perkembangan pseudo-science (ilmu semu)yang


sangat membahayakan akhir-akhir ini tentang otak tengah(midbrain).
Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif yang
menarik di tengah tengah banjirnya (lebih parah dari banjir Pakistan)

artikel dan siaran tentang Idul Fitri di hari-hari seputar Lebaran ini.

Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai relay
station untuk penglihatan dan pendengaran. Dia juga mengendalikan gerak


bola mata. Bagian berpigmen gelapnya yang disebut red nucleus (inti merah)
dan substantia nigra juga mengatur gerak motorik anggota tubuh. Karena itu
kelainan atau gangguan di otak tengah bisa menyebabkan parkinson.



Untuk keterangan lebih lanjut silakan berkonsultasi dengan dokter.

Namun, yang jelas, otak tengah tidak mengurusi inteligensi, emosi, apalagi
aspek-aspek kepribadian lain seperti sikap, motivasi, dan minat. Para


pakar ilmu syaraf(neuroscience) Richard Haier dari Universitas California
dan Irvineserta Rex Jung dari Universitas New Mexico, Amerika Serikat,
menemukan bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam


ukuran IQ tidak terpusat pada satu
 bagian tertentu dari otak, melainkan
merupakan hasil interaksi antar beberapa bagian dari otak.

Makin bagus kinerja antar bagian- bagian otak itu, makin tinggi tingkat
kecerdasan seseorang (teori parieto-frontal integration). Di sisi lain,


pusat emosi terletak di bagian lain dari otak yang dinamakan amygdala, tak
ada hubungannya dengan midbrain. Sementara itu aspek kepribadian lain
seperti minat dan motivasi lebih merupakan aspek sosial (bukan neurologis)


dari jiwa, yang lebih gampang diamati melalui perilaku seseorang ketimbang
dicari pusatnya di otak.

Sampai dengan tahun 1980-an (bahkan sampai hari ini) masih banyak yang
percaya bahwa keberhasilan seseorang sangat tergantung pada IQ-nya. Makin


tinggi IQ seseorang akan makin besar kemungkinannya untuk berhasil. Itulah
sebabnya banyak sekolah mempersyaratkan hasil tes IQ di atas 120 untuk
bisa diterima di sekolah yang bersangkutan. Namun, sejak
 Howard Gardner
menemukan teori tentang multiple intelligence (1983) dan Daniel Goleman
memublikasikan temuannya tentang Emotional Intelligence (1995), maka para
pakar dan awam pun tahu bahwa peran IQ pada keberhasilan seseorang hanya


sekitar 20–30% saja.

Selebihnya tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha,
ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial. Walaupun begitu,
beberapa bulan terakhir ini, marak sekali kampanye tentang pelatihan otak


tengah.

Bahkan rekan saya psikolog psikolog muda ada yang bersemangat sekali
mengampanyekan otak tengah sambil mengikutsertakan anak-anak mereka
kepelatihan otak tengah yang biayanya mencapai Rp3,5 juta/anak (kalau dua


anak sudah Rp 7 juta, kan) hanya untuk dua hari kursus.

Hasilnya adalah bahwa anak-anak itu dalam dua hari bisa menggambar warna
dengan mata tertutup. Wah, bangganya bukan main para ortu itu. Mereka

pikir setelah bisa menggambar dengan mata tertutup, anak-anak mereka
langsung akan jadi cerdas, bisa konsentrasi di kelas, bersikap sopan
santun kepada orang tua, bersemangat belajar tinggi, percaya diri, dan


sebagainya seperti yang dijanjikan oleh kursus-kursus seperti ini.

Mungkin mereka mengira bahwa dengan menginvestasikan Rp3,5 juta untuk dua
hari kursus, orang tua tidak usah lagi bersusah payah menyuruh anak mereka


belajar (karena mereka akan termotivasi untuk belajar sendiri), tidak usah
membayar guru les lagi (karena otomatis anak akan mengerti sendiri
pelajarannya), dan yang terpenting anak pasti naik kelas, malah bisa masuk


peringkat. Inilah yang saya maksud dengan “berbahaya” dari tren yang
sedang berkembang pesat akhir-akhir ini.

Untuk orang tua yang berduit, uang sebesar Rp3,5 juta mungkin tidak ada
artinya. Namun, kasihan anaknya jika ternyata dia tidak bisa memenuhi

harapan orang tuanya. Selain bisa menggambar dengan mata tertutup
(sebagian hanya berpura-pura bisa dengan mengintip lewat celah penutup
mata dekat hidung), ternyata dia tidak bisa apa-apa.

Konsentrasi tetap payah, motivasi tetap rendah, dan emosi tetap


meledak-ledak tak terkendali. Pasalnya memang tidak ada hubungannya antara
otak tengah dengan faktor faktor kepribadian itu.

Namun, orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah membayar Rp3,5 juta
dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting, pakar otak tengah dari


Malaysia itu.

Kata Dr Ting, anak yang sudah ikut pelatihan otak tengah bukan hanya jadi
makin pintar, tetapi jadi jenius. Karena itu nama perusahaannya juga
Genius Mind Corporation. Malah bukan itu saja. Menurut Dr Ting, anak yang


sudah terlatih otak tengahnya bisa melihat di balik dinding, bisa melihat
apa yang akan terjadi (seperti almarhumah Mama Laurenz), bahkan bisa

mengobati orang sakit. Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan
Youtube-nya di internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka
KDRT pada anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti


atau dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiril
antaran tidak bisa melihat di balik tembok, meramal atau mengobati orang
sakit.***

Untuk menyiapkan tulisan ini, saya sengaja menelusuri nama David Ting di


Google. Ternyata ada puluhan pakar di dunia yang bernama David Ting dan
David Ting yang menganjurkan otak tengah ini ternyata bukan pakar ilmu
syaraf, kedokteran, biologi, atau psikologi. Dia disebutkan sebagai pakar


pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syaraf (neuroscience).

Maka saya ragu akan ilmunya. Apalagi saya hanya mendapati beberapa versi
Youtube yang diulang-ulang saja, beberapa tulisan kesaksian, dan


cerita-cerita yang sulit
 diverifikasi kebenarannya. Saya pun lanjut dengan
menelusuri jurnal-jurnal ilmiah online, siapa tahu tulisan-tulisan
ilmiahnya sudah banyak, tetapi saya belum pernah membacanya. Namun
hasilnya juga nol.



Maka saya makin tidak percaya.

Saya yakin bahwa teori David Ting tentang otak tengah hanyalah
pseudo-science atau ilmu semu karena seakan-akan ilmiah, tetapi tidak bisa
diverifikasi secara ilmiah. Sama halnya dengan teori otak kanan-otak kiri


yang juga ilmu semu atau astrologi atau palmistri (membaca nasib orang
dengan melihat garis-garis telapak tangannya). Masalahnya, astrologi dan
palmistri yang sudah kuno itu tidak merugikan siapa-siapa karena hanya


dilakukan oleh yang mempercayainya atau sekadar iseng-iseng tanpa biaya
dan tanpa beban apaapa. Kalau betul syukur, kalau salah yo wis.

Lain halnya dengan pelatihan otak tengah dan dulu pernah juga populer


pelatihan otak kanak-otak kiri.
 Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah
gedung pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan lain), sebuah
pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah yang judulnya
“Meningkatkan Kecerdasan Salat”. Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan


biaya (istilah mereka“biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke
masalah membohongi publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama
dua har iseorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan


bisa melihat di balik dinding seperti Superman.

Lagipula, apa hubungannya antara menggambar dengan mata tertutup dengan
jenius?

Einstein, Colombus, Thomas Edison, Bill Gates, Barack Obama, dan masih


banyak lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tetapi tak satu pun bisa
menggambar dengan mata tertutup.

Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya
sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini
 adalah penipuan.

Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan.
Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali
jadi sasaran penipuan.

Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknyakasus otak


tengah ini.

(*)SARLITO WIRAWAN SARWONOGuru Besar Fakultas Psikologi UI
----------------------------------------------------









































































[Non-text portions of this message have been removed]



-- 
Sent from my mobile device

-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan 
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt


Kirim email ke