---------- Forwarded message ----------
From: imr <[email protected]>
Date: Tue, 2 Nov 2010 01:06:28 +0000
Subject: [milis kuyasipil euy] Fw: Bahkan seorang kartini pun harus
bayar palakan
To:
Cc: kuyasipil <[email protected]>

Hoekssss....

/ my BlackBerry® does it again /

-----Original Message-----
From: "imr" <[email protected]>
Date: Tue, 2 Nov 2010 00:42:48
Reply-To: [email protected]
Subject: Bahkan seorang kartini pun harus bayar palakan

http://cetak.kompas.com/read/2010/11/02/02514885/bahasyim.kartini.dan.korupsiBahasyim,
Kartini, dan Korupsi
Selasa, 2 November 2010 | 02:51 WIB
Oleh

Rhenald KasaliTerungkapnya pemerasan sebesar Rp 1 miliar yang konon
dilakukan mantan pejabat pemeriksa pajak Bahasyim Assifie kepada ahli
hukum senior Kartini Mulyadi (Kompas.com, 20 Oktober 2010) tentu
sangat mengejutkan. Kebetulan saya agak mengenal atau pernah bertemu
dengan keduanya.

Bagi saya, Bahasyim berbeda dengan para pejabat pajak pada masa lalu
yang pandai menyembunyikan kekayaannya, Bahasyim terlihat enteng
memamerkan apa yang ia miliki. Belanjanya pun terbuka.

Rumah di Menteng yang disebut-sebut koran, sudah lama ia tunjukkan
kepada kenalan-kenalannya. Akan tetapi, begitu disebutkan kekayaannya
mendekati satu triliun rupiah, semua orang pasti terbelalak. Sebegitu
mudahkah seseorang memupuk kekayaan?

Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah tindakan Kartini Mulyadi
yang menyerahkan uang satu miliar rupiah agar perusahaannya tidak
diganggu masalah pajak oleh terdakwa (Kompas.com, 30/9).

Mengejutkan bagi saya, karena ahli hukum yang satu ini adalah penjaga
peraturan. Bicaranya selalu soal peraturan dan integritas. Wajahnya
tidak mudah diajak tersenyum, apalagi kompromi.

Boleh dibilang, Universitas Indonesia di era Kartini Mulyadi sebagai
anggota dan ketua Majelis Wali Amanah lebih mengutamakan peraturan
tertulis daripada terobosan. Inisiatif dan kreativitas harus mengalah
agar semua berjalan di atas rel hukum yang benar. Ada yang setuju
karena patuh terhadap hukum adalah penting, tapi bagi yang ingin lari
cepat pastilah terhambat.

Sepasang penari

Ibarat tarian yang dimainkan sepasang suami-istri, maka korupsi pun
memiliki iramanya sendiri. It takes two to tango! Butuh dua pihak yang
saling bekerja sama seperti yang sering diucapkan Bang Napi di
televisi: ”Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat,
tetapi juga karena ada kesempatan!”

Ada pemeras saja tidak cukup. Pemerasan baru terjadi bila ada pihak
yang mau diperas.

Demikianlah negeri ini menangkapi para koruptor, baik karena
memperkaya diri sendiri maupun memperkaya orang lain. Yang satu
pemeras, yang satu lagi membiarkan diri diperas. Memang yang kedua
masih lebih banyak mengena para pejabat publik yang
menghambur-hamburkan uang negara seperti uangnya sendiri. Tetapi,
keduanya sama-sama merugikan negara dan turut mempertahankan budaya
korup yang ingin kita berantas.

Saya teringat suatu sore, seorang sopir truk pengangkut tanah yang
kami sewa—di yayasan yang saya kelola—tak berani pulang karena STNK
dan SIM-nya ditahan petugas polantas. Ia duduk termenung di kursi
kemudi, sementara sopir-sopir yang lain sudah beranjak pulang. Sewaktu
saya tanya, ia menjawab, ”Saya salah karena membuat jalan macet.
Tetapi, bapak polisi itu diajak damai dengan seratus ribu rupiah tidak
mau. Dia minta sejuta dan saya tidak punya. Ia lalu mengambil
surat-surat mobil saya.”

Apa yang mau bapak sopir lakukan?

”Saya tak punya uang. Boleh saya pinjam sama Bapak?” ujarnya mengiba,

Ia terlihat takut, tapi rela diperas. Tahu berbuat salah, tetapi
posisinya lemah.

Malam itu, saya mencari tahu siapa polisi yang mengambil surat-surat
sopir tadi. Sayangnya tak ada selembar surat pun yang ditinggalkan.
Saya lalu menelepon polsek dalam wilayah kami. Petugas jaga yang baik
hati mengenal surat-surat yang dimaksud, tapi polisi yang menahan
sudah pulang.

Saya katakan, saya minta malam ini dikembalikan atau saya menelepon
pimpinan mereka. Ia meminta waktu sejenak. Lima menit kemudian saya
diberitahu surat-surat sudah ada dan besok pagi siap diantarkan. Saya
kembali menegaskan, polisi melanggar hukum dan saya minta malam ini
juga agar sopir bisa mengambilnya. Ia pun menyerah.

Esoknya terjadi obrolan menarik di antara para sopir. ”Diajak damai
lima puluh ribu enggak mau, seratus ribu ditolak. Eh, akhirnya malah
cuma dapat kartu nama,” ujar mereka terkekeh-kekeh.

Malam itu saya memang hanya memberi sopir truk sepotong surat yang
saya tulis di belakang kartu nama. Saya menulis dengan penuh rasa
dongkol dan kasihan terhadap rakyat kecil yang lusuh dan sulit mencari
makan, lemah, dan buta hukum, tapi justru jadi sasaran pemerasan.

Adalah tugas kita melindungi sahabat-sahabat yang lemah. Namun, sebuah
tanda tanya besar tetap muncul di pikiran saya. Mengapa Kartini
Mulyadi, seorang ahli hukum, notaris terkenal, dan terbilang sukses
menjadi usahawan besar, dikenal tegas, rela diperas atau membayar demi
bebas dari kasus yang dihadapinya?

Apakah hukum benar-benar lemah dalam menghadapi korupsi? Kalau mereka
saja menyerah, apalagi rakyat biasa?

Perangi korupsi

Dalam karier saya, dua kali saya diperiksa petugas pajak. Buat dosen
seperti saya, tentu berat membayar denda pajak ratusan juta rupiah.

Saya pernah bertanya kepada seorang petugas pajak, apakah denda
seperti ini sudah wajar? Ia pun mengatakan, petugas pemeriksa sudah
menjalankan tugasnya dengan benar. Jadi, denda harus dibayar. Saya
pikir Ditjen pajak telah berubah. Jadi, mereka memang bekerja untuk
negara.

Demi patuh pada hukum, saya pun mencairkan tabungan dan menunda
pembangunan gedung PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang rencananya
dibangun istri saya lima tahun lalu. Sebagai bintang iklan dan pakar,
sewaktu mempunyai program televisi awal tahun 2000-an, nama saya jauh
melebihi penghasilan. Sedangkan biaya yang bersifat personal tak bisa
untuk mengurangi penghasilan terkena pajak.

Namun, terlepas dari segala kepahitan itu, ada satu hal yang harus
kita pegang bersama: korupsi harus berhenti hari ini juga. Kalau kita
mau bersama-sama menolak pemerasan, maka berhentilah ia seketika.
Namun, begitu dilayani, ia akan terus merangsek kehidupan ini,
menyedot hak-hak kaum miskin dan lemah dan membuat kita bodoh.

Seperti kata Gandhi, ”Pertama-tama mereka tak mempercayai Anda, lalu
menertawakannya, setelah itu menyerang Anda. Tetapi Anda akan tertawa
kemudian.”

 Rhenald Kasali Mantan Panitia Seleksi KPK
/ my BlackBerry® does it again /

------------------------------------

Media komunikasi kuyasipil
============================================================
http://kuyasipil.net/web/ < web kuyasipil
http://kuyasipil.net/web/wp-login.php?action=register < daftar

email command: [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected],
[email protected],
admin: [email protected]
============================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kuyasipil/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kuyasipil/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected]
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/


-- 
Sent from my mobile device

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke