“Lanjutkan Pencitraan. Biarkan
Ketidakadilan. Lho Tak Bisa Diintervensi!” 

 

Oleh
Cardiyan HIS

 


Tim perahu Naga Indonesia membuat hatrick
merebut 3 emas Asian Games ke 16, Guangzhou, Cina, dengan menundukkan olahraga
kebanggaan rakyat Cina langsung di kandangnya! Kehebatan tim perahu Naga 
Indonesia
memadukan antara kekuatan otot, otak  dan
dan ketulusan hati  putra-putra terbaik
Indonesia dari berbagai suku bangsa Indonesia ini sudah sepatutnya menginspirasi
SBY bahwa “Indonesia Bisa” (slogan kesenangan SBY sendiri lho!) untuk meniru
rekannya Presiden Cina dalam memerangi korupsi; memiskin para koruptor bahkan 
menghabisi
koruptor-koruptor di tiang gantungan dan atau regu tembak mati karena korupsi 
merupakan
kejahatan luar biasa yang telah memiskinkan rakyat.

 



“Katakan
Tidak pada Korupsi. Lanjutkan!”. Jargon inilah yang telah berperan sangat besar 
dalam memenangi
SBY pada Pilpres 2009-2014. Minimal telah memperdaya penulis sendiri untuk
memilihnya sampai yang kedua kalinya.

 

Jargon memang selalu mudah untuk
diteriakkan sekeras-kerasnya. Tetapi sangat sulit dilaksanakan dalam praktek.
Bagaimana janji Presiden SBY yang mau memimpin terdepan dalam pemberantasan
korupsi, tetapi ketidakadilan hukum dibiarkan berseliweran di depan mata. Mega
kasus Bank Century berlalu begitu saja, keadilan tercampakkan. Kasus rekayasa
pelemahan KPK melalui “Kasus Bibit-Chandra” sungguh sangat memalukan. Kasus 
“Rekening
Gendut” oknum-oknum Jenderal Polisi dibiarkan berlalu begitu saja sementara 
bunga depositonya dengan
leluasa terus dipetik mereka dari kebun bunga bank. Dan manakala  kasus 
terpidana Gayus Tambunan yang sedang
mendekam di tahanan Brimob Kelapa Dua, Bogor, bisa piknik ke Bali dan menginap 
di
hotel bertarif Rp. 10 juta/malam dengan dikawal seregu polisi juga dibiarkan,
habis sudah kesabaran kita. 

 

Ketidakadilan hukum di negeri tercinta
Indonesia ini secara sadar dibiarkan oleh SBY dengan dalih; “Presiden RI tak 
boleh
mengintervensi kasus hukum”. Dalih yang sangat naif sekali. Apa guna SBY 
menyatakan
dengan lantang mau memimpin terdepan dalam pemberantasan korupsi kalau cara
berpikir SBY tak boleh mengintervensi kasus hukum terus dijadikan pegangannya. 



SBY sebagai komandan bagi Kapolri dan Jaksa Agung sangat jelas bisa
mengintervensi kinerja kedua anak buahnya, karena SBY adalah Presiden RI atasan
langsung Kapolri dan Jaksa Agung. Bila kinerja keduanya memble SBY bisa
menjewernya, bahkan kalau perlu langsung memecatnya. Tapi yang terjadi sang
komandan yang nota bene jenderal TNI AD ini diam tak berdaya. Anak SD pun telah
tahu dan sangat paham dari buku pelajarannya,  bahwa HANYA PENGADILAN dan KPK 
yang tidak
bisa diintervensi oleh siapa pun termasuk oleh Presiden SBY. Eh, malah SBY
mengomentari vonis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas kasus
Misbakhun, mantan anggota DPR yang memalsukan jaminan  atas kredit di Bank 
Century. Nah ini baru namanya
intervensi atas pengadilan, jenderal SBY!



Sebagai salah seorang rakyat Indonesia yang sangat meyakini bahwa Indonesia ke
depan akan maju kalau pemerintah SBY menguatkan tiga pilar utama pembangunan
bangsa yakni Pendidikan, Kewirausahaan dan
Penegakan Hukum. Maka dengan merujuk
fakta-fakta di atas, saya sangat sedih dalam memandang Tanah Air Indonesia ke
depan begitu sangat suramnya. Indonesia dipastikan akan menjadi negara paling
korup nomor satu di dunia! Dan akibatnya sangat berkemungkinan menyimpan bom
waktu; Indonesia  menjadi salah satu
negara gagal di dunia!



Nasib Indonesia akan sangat suram karena salah satu pilar tadi yakni Penegakan
Hukum akan mandul. Investasi pendidikan yang sesungguhnya mulai ada trend
positif yakni naik menuju ke angka ideal 20% dari total APBN berdasarkan amanat
UUD 1945, akan menjadi sia-sia kalau koruptor dibiarkan merajalela. Begitu pula
para Wirausaha Sejati (Genuine Entrepreneur) yang
merupakan pembayar pajak terbaik, akan jungkir balik berakrobat untuk memutar
roda ekonomi, karena sehari-hari mereka harus mengeluarkan ekonomi biaya sangat
tinggi akibat ulah penguasa yang sangat korup, tetapi dibiarkan merajalela
tanpa ditindak. 



Pengadilan hanya akan menjadi forum dagelan belaka. Koruptor sebagian besar
dibebaskan karena sejak awal memang direkayasa oleh jaksa dengan tuntutan hukum
yang sangat lemah dan kemudian batal demi hukum untuk divonis bebas oleh hakim
yang telah terbeli pula. Dan kalau pun ada yang dihukum, hanya vonis basa-basi
saja, vonis hukuman dibuat sangat-sangat ringan. Nasib maling ayam yang
digebukin sampai mati bahkan ada yang dibakar oleh rakyat sungguh tragis
dibanding nasib koruptor yang dipenjara di ruang yang lapang dan memiliki AC,
TV Flat, kasur empuk, kamar mandi pakai shower, bebas menggunakan HP dari ruang
nyaman penjara bahkan kalau perlu memimpin rapat bisnis termasuk jualan
narkoba, disini pula. Dan presedennya sudah banyak. Seperti sudah terbukti
sekarang pun banyak koruptor dihukum sangat ringan dengan masa percobaan bahkan
tanpa penahanan. Ini sama saja dengan bohong. Dan kalau pun jaksa melakukan
banding ke pengadilan yang lebih tinggi bahkan sampai ke Mahkamah Agung, ya
tetap dagelan juga. 





Jadi Indonesia sekarang persis Jepang 160 tahun yang lalu! Ketika upaya-upaya
Restorasi Meiji di Jepang mendapat banyak tantangan terutama dari para koruptor
dan pendukungnya. Indonesia tentu ingin maju menjelma seperti Jepang yang
modern sekarang ini, sebagai buah dari Restorasi Meiji yang diajarkan oleh Guru
Bangsa Jepang, Fukuzawa Yukichi,
sekaligus sebagai peletak dasar utama Jepang menuju Jepang yang modern sekarang
ini melalui perjuangan membangun Pendidikan,
Kewirausahaan dan Penegakan Hukum.



Jadi apa lagi pengharapan yang ada? Ya paling tidak,  kita harus menunggu dulu 
untuk sabar sampai sifat
peragu SBY berubah menjadi seorang jenderal TNI yang tegas siap berperang
melawan korupsi, sesuai dengan janjinya sendiri pada kampanye pemenangan Pemilu
2009-2014 sebagai Pembina Partai Demokrat, partainya SBY: “Katakan Tidak pada
Korupsi. Lanjutkan!”.  Tapi apakah kita
yakin mau menunggu keadilan hukum di Indonesia seperti keputus-asaan seorang 
SBY sendiri dengan
kata-katanya sendiri tentang sepakbola Indonesia;  bagaimana menunggu prestasi 
PSSI sampai Lebaran Kuda? 



Kita berharap SBY mengikuti langkah Presiden Cina yang memimpin di depan dalam
pemberantasan korupsi, sehingga banyak koruptor yang dihukum gantung atau
ditembak sampai mati. Dan lihat saja hasilnya; Cina menjelma menjadi negara
raksasa ekonomi nomor 1 di dunia dengan cadangan devisa lebih dari US$ 2.500
miliar! 

 

Kita, rakyat Indonesia tentu
menginginkan Indonesia maju, dan sesungguhnya Indonesia berpotensi juga untuk
menjadi negara adidaya. Buktinya? Kehebatan tim perahu Naga Indonesia yang
membuat hatrick merebut 3 emas Asian
Games ke 16, Guangzhou, Cina, dengan menundukkan olahraga kebanggaan rakyat
Cina langsung di kandangnya! Kehebatan tim perahu Naga memadukan antara kekuatan
otot, otak  dan  ketulusan
hati  putra-putra terbaik Indonesia dari
berbagai suku bangsa Indonesia ini sudah sepatutnya menginspirasi SBY bahwa 
“Indonesia
Bisa” (slogan kesenangan SBY sendiri lho!) untuk meniru rekannya Presiden Cina
dalam memerangi korupsi; memiskin para koruptor bahkan menghabisi 
koruptor-koruptor
di tiang gantungan dan atau regu tembak mati karena korupsi merupakan kejahatan
luar biasa yang telah memiskinkan rakyat.

 

Rakyat Indonesia akan protes sangat
keras. Rakyat Indonesia akan sangat marah luar biasa;  bila pemberantasan 
korupsi oleh SBY bukannya
maju malah mundur ke belakang, ke jaman korupsi di era Soeharto bahkan lebih
mundur lagi seperti ke jaman Pra Restorasi Meiji di Jepang 160 tahun yang lalu!


 

 



Kirim email ke