Salam jumpa lagi, dan mohon ijin bersilaturahim via email ini. Kepulauan Indonesia memiliki 17.500 pulau (diantaranya 6000 pulau tidak berpenghuni) dan garis pantai 95.180 km, serta luas wilayah laut mencapai 5,8 juta km2, membutuhkan dana, tenaga dan ketekunan dalam menjaga kedaulatan wilayah negara berserta kekayaan sumber daya alamnya, termasuk ruang udara. Tingkat kewaspadaan tinggi guna menjaga wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) untuk pelayaran internasional, dan monitoring kondisi rawan bencana alam karena Indonesia berada pada wilayah Ring of Fire diatas 3 jalur tumbukan lempeng yg terus bergerak.
Pasca bencana tsunami di perairan Mentawai 25 Okt.2010 lalu, media cetak memberitakan pihak BNPB tidak memiliki peralatan tanggap darurat yang memadai, sehingga para relawan tidak leluasa bergerak dan bantuan logistik menumpuk di pelabuhan Sikakap, p.Pagai utara, terkendala oleh tidak ada jalur darat dan buruknya cuaca laut, sehingga butuh waktu 2 hari menembus lokasi terdampak tsunami. Cilakanya fasilitas Indonesia Tsunami Early Warning System (INA-TEWS) yg telah diresmikan Presiden SBY tgl 11 Nov.2008 (dua tahun lalu !), belum dapat beroperasi, karena sarana pendukungnya belum lengkap dan sistem komunikasi internal INA-TEWS (meliputi sensor, komunikasi satelit, CPU, sirene, etc) membutuhkan rentang waktu 15 menit sampai pada keputusan terjadinya tsunami. Padahal kasus gempa 7,2 SR di perairan Mentawai 25 Okt.2010 butuh 8~ 10 menit menjadi bencana Tsunami di pesisir pantai p.Pagai utara/selatan & p. Sipora. Dan kantor BMKG di Padang menerima laporan terjadinya tsunami 1 jam setelah gempa terjadi, atau 50 menit setelah bencana Tsunami meluluh lantakan sebagian besar pesisir pantai pulau-pulau tsb. Melalui email ini saya ingin menawarkan sistem deteksi dini alternatif dengan aplikasi komunikasi super singkat, mudah dipahami dan mengakomodasi kearifan lokal. Sering kita jumpai bangunan menara /mercu Suar (light-house) di lokasi strategis bibir pantai sebagai tanda (tanjung) daratan. Setahu saya di menara Suar hanya tersedia lampu extra terang menjangkau laut bebas agar bisa dilihat oleh para nelayan (merasa dekat daratan) saat malam menjaring ikan di laut. Pemikiran saya adalah revitalisasi menara Suar (= Suar+) berfungsi juga seperti BTS untuk komunikasi lokal pada kondisi normal sehari-hari, dan masuk bagian sistem INA-TEWS untuk deteksi dini bahaya bencana, serta mendukung operasi SAR saat tanggap darurat. Menara Suar+ dapat memberikan identifikasi lokasi (incl. koordinat GPS) via jaringan frekuensi radio pada nelayan di laut, pada malam memberikan tanda sinyal cahaya ke laut bebas, dan memberikan tanda sinyal cahaya (khusus) bahaya tsunami pasca gempa pada masyarakat sekitar menara Suar+, karena sinyal cahaya = bahasa mudah dipahami (adopsi traffic light), termasuk mengoperasikan sirene, radio broadcast dan lampu-lampu tanda jalur evakuasi. Bangunan menara Suar+ relatif tinggi & kokoh konstruksi tahan gempa dan terjangan tsunami, dengan menggunakan fasilitas komunikasi frekuensi public bandwidth 2,4 GHz kiranya dapat menjadi pemandu aktivitas SAR & relawan menuju korban terdampak bencana. Pertanyaannya, Listriknya dari mana untuk menjalankan multi-fungsi tsb ? Peluang pemanfaatan sumber daya alam lokal, yaitu radiasi matahari, angin dan tenaga ombak dapat menjadi sumber energi untuk membangkitkan daya listrik setempat guna memenuhi kebutuhan operasional Suar+. Tentu dilakukan manajemen distribusi listrik yg baik, a.l. menggunakan lampu hemat energi LED high lux, optimasi operasi perangkat elektronik, optimasi cooling system & sistem energy storage (battery), etc. Terkait konstribusi menjaga kedaulatan wilayah negara, Suar+ dapat berkolaborasi & sinergi dengan operasional Radar pantai (INDRA) dan wahana Pesawat Udara Nir Awak (PUNA = Unmanned Aerial Vehicle), Unmanned Surface Vehicle (USV), Unmanned Underwater Vehicle (UUV) / Submersible Vehicle, satelit orbital LAPAN, dan lainnya, guna mendukung penguatan sistem pertahanan nasional, termasuk pencegahan illegal fishing dan infiltrasi asing. Tak kalah penting adalah sosialisasi, edukasi dan pelatihan taktik kerjasama mitigasi bencana dan program pemulihan kehidupan & kegiatan ekonomi pasca bencana pada masyarakat setempat, termasuk pendidikan & pelatihan khusus bagi para petugas penjaga Suar+. Semoga mudah dipahami dan mohon koreksi perbaikan, jika keliru. Salam, Dodiek
